Kiana Story

Kiana Story
Bab 47



Kiana mencuci tangan sembari bercermin. Ia bercermin bukan untuk memperhatikan penampilannya, melainkan menatap satu bilik bagian ujung yang sedari tadi menjadi titik fokusnya.


Bibirnya menyeringai kala pintu bilik itu terbuka, menampilkan sosok perempuan berponi dengan wajah yang lugu. Ya lugu di mata orang lain, namun bangsat di mata Kiana.


Kiana mengambil tissue untuk mengeringkan tangannya. Ia berbalik dan bersandar di pinggiran wastafel. Kiana bisa menangkap wajah terkejut dari gadis itu saat menyadari kehadirannya.


"Hai muka lapis," sapa Kiana. Bibirnya tersenyum kecil. "Kaget ya dengan kehadiran gue?"


Gadis yang masih terkejut itu langsung tersadar. Ia berdehem pelan dan balik menatap Kiana.


"Siapa juga yang kaget," balas gadis itu cuek. wajahnya langsung datar. Perubahan mimik wajah yang terbilang cepat.


"Alesan aja lo." Kiana tertawa mengejek, ia bersedekap dada dan menatap tajam ke arah gadis yang tak lain adalah Elsa.


"Muka aja yang sok polos, aslinya mah lebih parah ya tingkah lo!" imbuh Kiana.


Elsa balik menatap Kiana. "Maksud kamu apa bilang kayak gitu?" balas Elsa tidak terima.


"Maksud gue?" Kiana menunjuk dirinya sendiri. "Ya maksud gue cuman mau ngomong fakta aja sih. Seriusan gue ngomong fakta bukan asal ngoceh aja!"


Tangan Elsa terkepal. "Mulut kamu minta di tampar ya?!" kesal Elsa. "Jangan main-main sama aku Kiana! Kamu nggak ada apa-apanya dibanding aku. Aku Ratunya Tiger, pawang aku banyak termasuk suami kamu!"


Bukannya takut, Kiana malah tertawa lagi. Ia menyugar rambutnya yang tergerai sebelum berjalan mendekati Elsa. Tatapan intimidasi ia tujukan pada Elsa, membuat gadis itu sedikit gemetar, namun ia tutupi. Elsa tak mau terlihat lemah di depan Kiana. Apalagi sekarang mereka cuman berdua, tidak di tempat umum.


"Ratunya Tiger hmm?" Kepala Kiana manggut-manggut. Ia berhenti satu langkah di depan Elsa yang sudah terpojok di dinding. Kiana memperhatikan penampilan Elsa dari atas sampai bawah.


"Tiger mungut sampah di mana sih? Kepedean banget," ujar Kiana. Ia menatap jijik Elsa. "Nggak malu mengklaim diri sendiri sebagai ratu geng terkenal, padahal nggak pernah di angkat. Sok-sokan berkuasa dan banggain diri karena banyak pawang. Hadehh, belum juga Geng Tiger gue buat nunduk di hadapan gue, dah ma**us lo!" lanjut Kiana.


Elsa semakin di buat emosi.


"Lo itu cocoknya jadi ratu di kaum muka lapis. Yah, jenis kaum yang halal di bantai." Kiana melanjutkan ucapannya.


"Jaga ucapan kamu, atau aku bakalan buat kamu nangis karena berani sama aku! Jangan lupa, kalau aku sahabat tersayang suami kamu, aku yakin kamu bakalan dapat tindakan kasar lagi sama Azam! Bukan hanya Azam, tapi geng Tiger dan juga...Kakak kamu," ujar Elsa, ia mengangkat dagunya tinggi-tinggi di depan Kiana.


Kiana memasang wajah sok ketakutan.


"Ihhh atut," cibir Kiana. Tangannya terangkat dan telunjuknya bergerak di depan wajah Elsa.


"Muka lo ada berapa lapis sih? Review ke gue dong. Selusin ada nggak? Atau lebih dari selusin? Wow, apa nggak berat bawa muka sebanyak itu?" Kiana masih terus mengatai Elsa.


Salah sendiri, gadis di hadapannya ini menyulut emosinya jadi ya, Kiana ladenin. Jika mungkin sekarang ini adalah Angelina, mungkin Elsa sudah babak belur atau berubah jadi gelandangan. Namun yang sekarang adalah Kiana, ia lebih suka menyerang orang dengan kata-kata. Tapi jangan salah, ia juga bisa menyerang orang dengan kekuatan, namun hal itu akan terjadi jika mereka sudah melewati batas.


Flashback..


Tadi saat dari rooftop, dan sedikit drama bunglon nya Azam, bel masuk berbunyi. Jadi Kiana memutuskan untuk kembali ke kelas. Dan saat di jalan ingin ke kelas, Kiana mendengar percakapan Elsa dan juga Damar kakak kandung Angelina. Di mana Elsa dengan wajah sok sedih memfitnah Kiana di depan Damar.


Seperti ini kata-kata yang Elsa lontarkan pada Damar.


"Kak Damar, Elsa emang jahat ya? Sampe Kiana ngatain Elsa murahan dan wajib di bunuh. Padahal Elsa gak apa-apain Kiana, tapi dia malah nampar dan nendang Elsa, dia juga ngatain Elsa dengan bahasa-bahasa kasar terus. Elsa takut hiks.... Elsa takut sama Kiana."


Ah ingin sekali Kiana menghantam Elsa saat itu juga, namun ia harus menahan diri karena ada Damar di situ. Bukannya apa, jika Kiana langsung menerjang Elsa saat itu juga, sama aja ia membenarkan kata- kata Elsa di depan Damar.


Elsa memanfaatkan rasa suka Damar padanya untuk menghancurkan Angelina.


Flashback off..


"Singkirkan tangan kamu dari wajah aku! Najis tau!" Elsa menyentak jari telunjuk Kiana yang sedari tadi berputar di depan wajahnya.


Kiana berdecih dan mengusap telunjuknya dengan cepat, seolah tengah membersihkan kuman. "Si najis bisa ngomong najis juga ya?" ucap Kiana. Iris matanya menajam menatap wajah polos bangsat Elsa.


"Kamu yang najis! Bahkan kata najis gak cukup buat mendeskripsikan diri kamu!" sentak Elsa tak mau kalah.


"Hustt, najis jangan marah-marah nanti najisnya tambah ribuan kali lipat," cibir Kiana, ia berujar dengan nada yang sempat ia dengar di tiktok.


"Kiana!'' jerit Elsa, ia kesal dengan cewek di hadapannya saat ini.


"Elsa, lo salah karena berani cari masalah sama gue. Gue harap lo nggak lupa dengan julukan gue di sekolah ini. Gue Queen Devil, nggak ada yang bisa lepas dari cengkraman gue. Dan lo!" Kiana menunjuk Elsa dengan tajam, "Udah tertulis permanen di blacklist Queen Devil, yang artinya nggak ada pengampunan sebelum terbantai."


Jangan salah, Kiana itu bisa kejam jika sudah berhadapan dengan manusia bersifat seperti Elsa ini. Terlebih, jika Elsa sudah mengusik ketenangannya dengan membuat hubungan Angelina dan kakak kembarnya semakin merenggang.


Dan ya, sekarang Kiana yang ada di tubuh Angel, ia tidak akan diam saja sebelum membalas mereka dengan apa yang telah mereka lakukan pada Angel, termasuk Azam sekalipun. Kiana tidak semudah itu memaafkan Azam, walaupun cowok itu mau berubah menjadi anak kecil sekalipun.


Yah anggap saja, apa yang Kiana lakukan adalah bayaran untuk tubuh Angel. Karena kalau tidak ada tubuh ini, ia yakin jika dirinya sudah melayang jadi hantu penasaran.


"Kamu pikir aku takut?" Elsa tertawa mengejek. "Sayangnya enggak. Yang ada, aku yang akan buat kamu hancur! Kamu itu beban, pengganggu dan murahan!"


"Siapa yang lo maksud?"


"Kamu Kiana!"


"Oh, gue pikir lo lagi absen sifat sendiri."


Beruntung keadaan toilet sepi, hanya ada mereka berdua, jadi tak ada orang yang mengetahui pertengkaran ini.


"Kiana! Lihat aja, aku akan buat kamu hancur sekarang juga!" ujar Elsa kesal.


"Sebelum itu, gue yang bakalan buat lo hancur Elsa!"


Napas Elsa memburu. Walaupun ia sedikit heran, mengapa sifat Kiana sekarang sangat berbeda, biasanya jika berdebat begini, ia sudah kena tampar atau kena siram. Namun sekarang ia malah dapat tamparan dan siraman pedas sampai nembus usus.


"Aku yang lebih dominan di banding kamu. Lihat aja, sekarang kamu akan hancur lagi, seperti yang terjadi sebelumnya." Elsa bergegas mengambil handphone di kantong almamater. Ia tersenyum mengejek pada Kiana.


Kiana yang paham dengan tindakan Elsa, lantas memilih mundur dan duduk di atas wastafel. Kakinya ia silangkan, begitu juga tangannya yang bersedekap. Yah, Kiana hanya ingin menonton sedikit drama murahan dari gadis di hadapannya.


"Kamu gak mau ngomong apa-apa dulu sebelum kak Damar dan Azam nampar kamu lagi?" tanya Elsa.


"Ada. Gue cuman mau bilang, dramanya harus senatural mungkin ya. Kalau nggak natural, lo bakalan dapat sangsi di akhir dari gue," ucap Kiana santai.


****