
Azam saat ini sedang duduk di ruang keluarga bersama kedua orang tuanya. Suasana dingin sangat terasa disana. Azam duduk berhadapan dengan Zara dan Zain.
"Hari ini Kiana sudah dibolehkan pulang." ucap Zara memulai pembicaraan.
Azam mendongakkan kepalanya, ada binar bahagia mendengar bahwa Kiana sudah boleh pulang. Dan itu artinya Kiana akan pulang kerumahnya lagi dan tinggal bersamanya kembali.
"Tapi, sayangnya Kiana tidak mau tinggal disini lagi." imbuh Zara dengan raut sedih.
"Maksud Mommy?" tanya Azam bingung.
"Yah, Kiana sekarang tinggal di rumahnya sendiri dan itu semua karna ulahmu." ucap Zara dengan menatap Azam tajam.
"Lo udah sia-siain dan sakitin Kiana Zam, dan gue gak terima atas semua itu!" ucap Zain
Azam terdiam tidak berani menatap kedua orang tuanya. Dirinya memang sudah kelewatan jadi dirinya siap menerima akibatnya.
"Siapin diri kamu Zam, besok akan ada pertemuan keluarga. Dan apapun keputusan Kiana Mommy akan dukung dia, Mommy kecewa sama kamu Zam," Zara bangkit berdiri dan pergi meninggalkan ruang keluarga sambil menangis.
"Papi juga kecewa sama lo Zam, lo udah lukain hati dan fisik mantu kesayangan papi."
"Pi, tolong bantu Azam biar bisa sama Kiana terus." mohon Azam.
"Terlambat Zam, gue udah kasih lo kesempatan satu kali. Tapi enggak ada kesempatan lagi buat kali ini, gue orang pertama yang akan pisahin kalian berdua." ucap Zain kemudian bangkit dan berlalu pergi meninggalkan Azam di sana sendirian.
Azam menghela napas, wajahnya jadi datar dan pandangannya menajam."Kiana is mine. Gak ada yang bisa pisahin Azam dari Kiana." cowok itu menyeringai.
****
Kiana menarik napas dalam-dalam. Kini ia sedikit gugup. Ia gugup saat nanti berhadapan dengan sang nenek, ia bingung harus bersikap seperti apa. Bagaimana jika gelagatnya aneh dan membuat sang nenek tahu jika dirinya bukan Angelina asli? Ah Kiana tak mampu membayangkan. Ia belum siap jika rahasia yang ia sembunyikan itu terkuak sekarang.
Kiana berjalan menuruni anak tangga menuju lantai bawah dan bertepatan dengan itu ia bertemu saudaranya.
"Ck! Kalau tau bakalan ketemu sama anak sial ini gue turun nanti aja!" ujar Wulan dengan wajah datar.
"Kenapa Wul-Lo! Ngapain lo di sini?" Ah, ternyata bukan hanya Wulan, tapi Damar juga.
"Kenapa? Gue sekarang tinggal disini." Kiana bersedekap dada dan menatap si kembar datar. Ia sedikit heran, apa Damar dan Wulan tak sekolah?
Wulan dan Damar terdiam. Ternyata yang di bilang Papanya benar adanya jika Kiana akan tinggal satu atap bersama mereka.
"Hmm, awalnya gue mau makan, tapi sekarang udah gak napsu." ujar Wulan membuat Kiana berdecih.
"Udah pergi sana, hush!" balas Kiana malas.
Wulan memasang wajah kesal. "Kalau bukan karna nenek, gue udah usir lo dari rumah gue!" pekik Wulan. "Ayo Mar, makin darting gue liat anak sial ini," lanjut Wulan, ia membimbing Damar meninggalkan Kiana.
"Ini rumah gue juga ogeb! Jangan sok-sokan ngomong mau ngusir gue." ujar Kiana sedikit kencang agar Wulan mendengarnya.
"Cot bacot! Lo cuman anak sial dan pembunuh jadi lo gak berhak atas rumah ini."
"IYAIN AJA, BIAR NENEK LAMPIR GAK EMOSI!" balas Kiana.
"ANJING LO ANAK SIAL!"
"IYA THANK YOU GUE TAU GUE CANTIK," balas Kiana tidak nyambung.
Kiana bisa melihat jika Wulan hendak turun untuk menghampirinya, namun Damar menahannya. Kiana menggeleng pelan. Hubungannya dan keluarganya semakin berjarak.
"Sudah diam, Papa tidak mau jika nanti kalian bertingkah seperti ini di depan Nenek," Bram buka suara setelahnya.
"Baik Pa."
*****
"Angel sayang, nenek sangat merindukanmu."
Kiana tersenyum kaku kala sang nenek memeluknya dengan sayang. Tangannya terangkat membalas pelukan sang nenek.
"Aku juga rindu nenek." ucap Kiana.
"Bagaimana keadaanmu? Apa masih ada yang sakit?" tanya sang nenek.
"Baiklah, lalu bagaimana dengan perasaanmu kepada suamimu? Apa kau akan kembali memaafkannya?" tanya nenek dengan wajah serius.
"Aku sudah lelah nek, aku ingin segera lepas dari semua ini." ucap Kiana dengan raut wajah yang terpancar kemarahan.
"Baiklah, nenek setuju dengan keputusanmu. Nenek akan membantumu." ucap nenek dengan tersenyum tulus.
"Terimakasih banyak nek," ucap Kiana dengan mata berkaca-kaca.
Kiana bisa merasakan kehangatan dari pelukan nenek Asri ini. Kiana tersenyum lebar. Matanya tanpa sengaja menatap ke arah si kembar dan juga Bram yang sedari tadi menatap ke arahnya dan sang nenek yang masih berpelukan.
Kiana memejamkan matanya tak tahan menatap mereka. Ia yang awalnya ingin menghancurkan semua yang sudah membuat Angel sengsara harus di buat ragu akibat satu keinginan Angel yang ingin keluarganya kembali menyayanginya dan tidak salah paham dengannya lagi. Kiana ingin memperbaiki hubungan keluarga ini untuk mewujudkan keinginan Angel.
Kiana menatap Bram yang ikut menatapnya. Kiana tersenyum tulus dan hal itu membuat Bram terpaku dan langsung mengalihkan pandangannya.
"Sekuat apapun dia bertindak seolah-olah membenci gue, tapi di lubuk hatinya dia pengen meluk gue. Ketara banget dari pandangan matanya tadi. Hahah, gimanapun gue ada, itu karna hasil dari benihnya," batin Kiana saat melihat Bram.
"Dan mengenai si twins. Buat kak Damar, gue harus bongkar kebusukan Elsa dulu dan buat Wulan nanti deh gue pikirin. Soalnya ini berhubungan dengan Davian, gila sih, tu cowok yang suka sama gue, malah gue yang di benci. Aneh banget remaja zaman sekarang." lanjutnya menggerutu dalam hati.
"Ya sudah, kita ke meja makan sekarang." lanjut Asri, ia menggandeng lengan Kiana yang berhasil membuat saudaranya cemburu.
"Wulan sini sayang," panggil sang nenek. Wulan tersenyum dan membiarkan Asri menggandeng tangannya. Tanpa Asri sadari jika Kiana dan Wulan saling menjulurkan lidah di belakang.
"Anak sial," ujar Wulan pelan pada Kiana.
"Nenek lampir diam lo," balas Kiana sengit.
"Siapa anak sial yang berubah jadi nenek lampir?" Ah sial, ternyata nenek mendengar percakapan mereka berdua.
"Ah anu nek---" Kiana melotot pada Wulan.
"Itu.... Itu yang kita maksud kak Damar Nek iya hahah kak Damar. Bener kan Kia?" Wulan balik melotot kemudian dua gadis itu menatap Damar di belakang.
"Gue juga yang kena, dasar kalian." dumel Damar kesal.
Bram membantu Ibunya duduk, sedangkan Kiana dan Wulan masih tertawa melihat wajah kesal Damar.
"Kembaran lo mukanya kayak habis kena sial," ujar Kiana.
"Kakak pertama lo tuh, mukanya kayak habis---eh anjir ngapain lo ngomong sama gue?" Wulan yang awalnya masih tertawa kini langsung mendelik pada Kiana. Begitupun dengan Kiana, kemudian dua gadis itu langsung membuang pandangan ke arah yang berbeda.
"Najis banget," gumam Kiana ia duduk di sebelah nenek sedangkan Wulan sudah duduk di sebelah Damar berhadapan dengan Kiana.
Asri tertawa kecil. "Kalian saudara. Tidak baik saling bermusuhan seperti ini. Apa kalian mau Bunda sedih saat melihat anaknya tidak akur?" Asri kemudian menatap Bram. "Kamu juga, seharusnya sebagai seorang ayah harus menjaga ikatan persaudaraan anak-anak kamu, bukan malah jadi api yang berakhir membuat sesama saudara saling membenci. Kamu sudah dewasa Bram, Kepergian Sani itu karena takdir Allah, bukan karena Angel."
Hening.
"Bagaimana jika kamu di posisi cucu Ibu, saat Ibu melahirkan kamu dan nyawa Ibu tidak tertolong. Keluarga membenci dan mengatai kamu sebagai pembunuh dan anak sial, bagaimana perasaan kamu?"
"Ibu---" napas Bram tercekat. Ia tak mampu membalas maupun membayangkan apa yang sang Ibu katakan.
Kini Asri menatap Damar dan Wulan yang sudah menunduk. "Begitu juga dengan kalian berdua. Kalian selalu menyalahkan Angek karena kepergian Bunda. Kalian berdua selalu mengatakan kalau Angek penyebab kalian tidak mendapatkan kasih sayang Ibu lagi. Lantas bagaimana dengan Angel?"
"Nenek sedih melihat kalian bermusuhan seperti ini. Nenek sedih saat mendengar anak nenek memukul cucu nenek saat marah. Nenek sedih saat tahu cucu nenek merudung cucu nenek yang lain."
"Nenek," ujar Kiana dan twins bersamaan. Bram dan si kembar tertampar dengan ucapan sang nenek.
Ah, Kiana tidak menyangka jika sang nenek akan berujar seperti itu sekarang. Padahal kata-kata yang neneknya bilang tadi sudah Kiana pikirkan dan siapkan untuk mengatakannya langsung pada Bram dan si kembar.
"Ibu sebaiknya kita makan----"
"Maaf Tuan, di depan ada tamu, katanya ingin bertemu dengan Tuan." ujar pelayan memotong ucapan Bram.
"Sudah datang," gumam Bram. "Suruh masuk saja Bi," lanjutnya yang langsung di turuti oleh Bibi.
"Siapa itu?" tanya Asri.
Kira-kira siapa yang datang itu ya????