Kiana Story

Kiana Story
Bab 65



Di parkiran Kiana bertemu dengan Azam. Mereka hanya diam dan saling pandang.


"Azam!"


Lantas Kiana menoleh ke sumber suara. Berbeda dengan Azam yang masih terus menatap Kiana. Ternyata itu Elsa, namun yang membuat Kiana terkejut adalah wanita di sebelah Elsa. Itu Ningsih, Ibu tirinya di kehidupan sebelumnya.


"Oh hai Kiana, kalian gak masuk kelas?" tanya Elsa lembut.


Kiana berdecak sinis. Amarahnya meluap melihat wajah dua orang itu. Ingatlah jika Ningsih adalah musuh bebuyutan Kiana.


"Bukan urusan lo," sinis Kiana. Ia menatap tajam ke arah Ningsih.


"Azam, kenalin ini aunty aku. Yang pernah aku bilang itu loh. Kamu ingat gak? Yang aku bilang Nyonya Wijaya itu," ujar Elsa riang.


"Cih, wanita pungut gitu di bilang Nyonya Wijaya," sinis Kiana. Ia menatap malas ke arah Elsa dan Ningsih.


"Maksud kamu apa ngomong seperti itu?" tanya Ningsih. Jelas sekali ia tersinggung.


"Ya gue ngomong fakta. Lo itu hanya penjilat, yang dengan beraninya masuk ke keluarga Wijaya dan berlagak jadi penguasa! Padahal diri lo di bawah standar keluarga Wijaya asal lo tau!" amuk Kiana. Ia menatap penuh benci ke arah Ningsih yang balik menatapnya tidak suka.


"Jaga ucapan kamu ya! Kamu orang asing dan gak tau apa-apa tentang saya dan keluarga saya! Jadi jangan bicara sembarangan seperti ini pada saya! Saya bisa saja melaporkan kamu ke polisi!"


Kiana tersenyum miring. "Cih, gini kalau ngomong sama orang yang gak tau diri," ujar Kiana. Ia harus mengatur emosinya dulu.


"Kiana, lo jangan ngatain aunty Elsa kayak gitu. Lo orang asing, berani banget ngomong kasar sama orang yang lebih tua!" ujar Azam.


"Oh, sayangnya gue gak perduli. Rasa hormat gue hanya untuk orang yang pantas di hormati." ujar Kiana.


Ningsih menahan diri agar tidak menampar Kiana. Gadis itu sungguh kurang ajar di matanya. Untuk menjaga image nya, Ningsih harus menahan diri.


Kemudian ia menatap Azam dan tersenyum. "Kamu Azam ya? Elsa sering cerita tentang kamu pada saya. Ternyata kamu sangat tampan dan mapan. Jika saya lihat-lihat kamu sangat cocok dengan Elsa. Pasangan yang sangat serasi," ujar Ningsih membuat Azam tersenyum senang.


"Tante bisa aja," ucap Azam.


"Ohiya ini, saya mau minta tolong sama kamu ya Zam, tolong jagain Elsa, soalnya belakangan ini kondisi tubuhnya kurang fit, dia mudah capek dan Tante takutnya Elsa drop. Bisa kan?" Ningsih menatap Azam penuh harap. Di sebelahnya Elsa sudah senyum-senyum sendiri.


"Baik Tan, saya akan jaga Elsa." balas Azam membuat Ningsih tersenyum lebar begitu juga dengan Elsa.


"Azam ayo antar aku ke kelas. Kayaknya aku udah telat banget deh," ujar Elsa.


Azam mengangguk dan pergi mengantar Elsa dengan senang hati.


"Oh iya, kamu istrinya Azam ya?" Ningsih menarik perhatian Kiana hingga gadis itu balik menatapnya malas.


Kiana terkekeh. "Oh, lo tenang aja, sebentar lagi gue akan resmi bercerai dengan Azam. Jadi Elsa bisa gantiin posisi gue." ucap Kiana sambil menyenggol bahu Ningsih dan memilih pergi ke kantin. Ia sudah malas masuk ke kelas.


Alira dan Loli dibuat cemas karena Kiana belum juga hadir di kelas padahal jam pertama sudah berlangsung.


Namun rasa cemas itu langsung di gantikan raut kesal saat tau jika gadis itu hanya asik di kantin dan mengirim foto pada Alira. Ah Alira rasanya ingin menyentil ginjal sahabat tersayangnya itu.


My bastie


"Bolos aja Al, gue tunggu di kantin. Ajak si permen juga. Gak usah khawatir, ketinggalan satu mata pelajaran gak bakalan buat otak lo bod**."


Alira memutar bola matanya malas. Ia mencondongkan tubuhnya dan menepuk pundak Loli yang duduk di bangku depannya.


"Tangan Lira gatel ya, gak bisa diam dari tadi," omel Loli sambuk membalikkan tubuhnya.


Alira berdecak. Ia menatap Pak jamal yang sedang menulis di papan tulis. Setelah itu Alira beranjak berdiri di sebelah bangku Loli.


"Kita bolos. Gak usah takut, gue tau otak lemot lo gak nyampe kalau pelajaran kayak gini," ujar Alira membuat Loli cemberut. Alira terlalu jujur, pikir Loli.


"Itu Pak Jamet loh, Loli takut. Lira tau sendiri galaknya kayak apa," Ujar Loli. Ia ikut menyebut Pak Jamal dengan sebutan Jamet karna tampilan poni guru itu. Rambut tipis tapi poni panjang dengan tatanan miring. Yah Loli ikut panggilan Bian.


Alira tersenyum miring. "Gampang itu," ujarnya membuat kening Loli mengerut. Setelahnya ia terpekik saat Alira mencubit perutnya.


"Awh perut Loli! Lira ih kok cu---"


"Astaga, lo sakit perut? Apa gue bilang jangan banyak makan permen, sakit kan," ujar Alira memotong ucapan Loli.


"Ada apa ini?" Pak Jamal bertanya dengan tajam. Ia tak suka ada keributan di jam pelajarannya.


"Lira nyubit awhh..."


"Pak sepupu saya sakit perut. Saya izin bawa ke UKS ya, takutnya tambah parah," sela Alira lagi membuat Loli menatapnya polos.


"Siapa yang sakit? Loli kan---"


"Udah sakit banget ya? Yaudah ayo, bisa di amuk aunty Nia gue kalau lo kenapa-napa." Dalam hati Alira mengumpat sikap polos Loli.


Setelah sedikit drama yang Alira buat untuk keluar kelas, akhirnya mereka bebas juga. Alira juga harus ekstra sabar menghadapi rentetan pertanyaan Loli yang Alira pikir tidak ada guna di jawab.


"Ihh kata Lira kita ke UKS, kok sekarang malah ke kantin? Lira bohong ya, pantes bau dosa numpuk Lira sampe ke penciuman Loli."


Sabar Alira sabar. Jangan sampai Alira mendorong sepupunya ini dan membullynya. Ah jangan lupakan jika Alira adalah Queen Devil dan tukang Bully di SMA Garuda beserta besti nya siapa lagi kalau bukan Kiana. Namun sekarang lagi hiatus dulu hahah.