
Kiana mengambil hoodie abu-abu di dalam lemari dan memakainya. Gadis itu juga mengikat rambutnya secara asal sebelum mengambil ponsel yang tergeletak di meja rias.
Ia menoleh sekilas ke ranjang, terlihat Azam yang tengah tertidur pulas. Gadis itu mengedikkan bahunya acuh, Azam langsung tidur setelah makan malam. Mungkin kelelahan setelah mendapatkan hukuman dari Zain tadi siang, dan juga malam ini ia mendapat hukuman dari Zara agar mencuci semua piring kotor dan membersihkan dapur tanpa bantuan dari siapapun.
Sedangkan Kiana tadi hanya melihat dan duduk manis di ruang keluarga sambil menonton film kartun bersama Ipin.
Kiana terkekeh mengingat itu. Kedua mertuanya begitu sangat menyayanginya. Hal ini yang membuat ia tidak tega meninggalkan keluarga Nugraha. Tetapi, ia hanya mengikuti takdir yang digariskan Tuhan kedepannya.
Setelah tubuhnya terbalut hoodie dan celana training hitam, ia melangkah keluar kar dan tak lupa menutup pintu dengan perlahan.
Kiana menuruni satu persatu anak tangga dan menyalakan hp sekedar melihat jam. Sudah pukul 20:36 malam. Kiana kembali mematikan hp dan menyimpan di saku.
Setelah selesai menuruni tangga ia berpapasan dengan Zara yang tengah membawa secangkir kopi.
"Loh sayang, mau kemana malam-malam begini?" tanya Zara.
Kiana tersenyum. "Aku mau izin ke supermarket di depan ya Mom, nggak lama kok. Kia cuma mau beli cokelat sama es krim, soalnya stok udah habis," jawab Kiana.
"Udah malam sayang. Mommy suruh Bi Sumi aja yang beli, daripada kamu keluar sendiri," ucap Zara. Nampak sekali jika ia tidak mengizinkan Kiana pergi.
"Nggak papa kok, Mom. Kia cuman bentar, lagian masih jam segini, jalanan masih ramai," ucap Kiana lagi.
"Keras kepala banget sih, mantu Mommy." Zara mencubit gemas pipi menantu kesayangannya itu. "Yaudah kalau gitu, panggil Azam buat nemenin kamu. Mommy nggak mau kamu pergi sendiri, bahaya."
"Kia sendiri aja Mom, nggak papa kok. Lagian Azam udah tidur, mungkin kecapean tadi jadi babu." Kiana tertawa setelahnya, diikuti Zara yang tiba-tiba mengingat nasib putranya yang jadi babu mendadak malam ini.
"Salah sendiri nyakitin mantu Mommy," ucap Zara.
"Sayang, kopi aku mana ihh! Lama banget sih!"
Suara Zain terdengar membuat Zara tersentak. Ia sampai lupa dengan kopi yang diinginkan suaminya.
"Papi udah manggil tuh. Kia pergi ya, Mommy nggak usah khawatir, nanti Kia bakalan balik tanpa lecet sedikitpun." Kiana mengedipkan sebelah matanya dan langsung berlalu pergi. Ia melambaikan tangannya ke arah Zara yang menatapnya horor.
Kiana terkekeh. Mertuanya sungguh posesif. Bukan hanya mertua, namun sahabatnya juga. Kalau Alira tahu jika ia sering makan cokelat dan jajanan manis lainnya, sudah pasti gadis cantik itu akan mengomel tiada henti.
Kiana melangkah menyusuri jalanan yang masih ramai. Ada kumpulan remaja yang bermain gitar sambil bernyanyi di salah satu rumah. Mereka bukan pengamen, namun memang kebiasaan mereka setiap nongkrong seperti itu. Ada juga bocah-bocah yang masih bermain kejar-kejaran sambil dipantau orang tuanya.
Memang di kawasan elit ini, masih ramai di jam-jam seperti sekarang, biasanya juga Ipin akan ikut bermain kejar-kejaran dengan teman-teman seusianya.
Bertepatan dengan Kiana tiba di sebrang, sebuah motor sport yang di kendarai cowok memakai jaket hitam berhenti di depan supermarket. Cowok itu melepaskan helmnya sebelum akhirnya menggantikan dengan topi hitam dan juga masker, sebelum masuk ke dalam supermarket.
Kiana berjalan sekitar dua puluh meter lagi sebelum akhirnya tiba di depan supermarket. Tak mau berlama-lama, ia langsung bergegas masuk dan mencari jajaran rak tempat cokelat berada.
Kiana tersenyum, ia sudah tidak sabar untuk segera mendapatkan cokelatnya dan pulang ke rumah.
Namun saat tiba di depan rak yang memang merupakan tempat cokelat berada, senyum Kiana perlahan luntur di gantikan dengan mata melotot kaget.
"Ini supermarket nya mau bangkrut atau gimana sih, kok cokelatnya nggak ada," kesal Kiana saat tak mendapati satu cokelat pun. Serius, satu saja tidak ada, dan hal itu membuat nya kesal.
Dengan segera ia memanggil pegawai supermarket dan menanyakan hal ini. Ia di buat kesal saat mengetahui jika cokelat di sini sudah di borong oleh seseorang.
"Maruk banget yang borong cokelatnya, nggak bisa apa belinya dikit aja, dan sisain yang lain. Cih, gue doain yang beli semua cokelatnya sakit gigi," gerutu Kiana. Moodnya kini menjadi jelek, gadis itu tidak memperdulikan jika menjadi pusat perhatian karena menggerutu tidak jelas.
Di ujung rak yang tertata rapih berbagai macam popok bayi maupun lansia dengan berbagai ukuran, seorang cowok berjaket hitam sedang berdiri sambil bersedekap dada. Ia sedari tadi mengamati Kiana dengan kening berkerut, sebelum tepukan di bahunya membuat ia terkejut sesaat namun tidak membuatnya menoleh.
"Cokelatnya udah gue masukin ke mobil. Lo nggak mau balik? Mau menetap di sini?" tanya cowok berpawakan tinggi dan juga rambut acak-acakan.
Cowok yang ditanya hanya diam dan terus menatap ke arah Kiana. Karena di abaikan, temannya mengikuti arah pandang sang sahabat.
"Loh, itu bukannya cewek yang waktu itu bubarin tawuran geng kita? Yang namanya mirip dengan Bu Bos kan? Istrinya Azam?" cowok bernama Usman bertanya pada Devan.
Devan mengangguk. "Dia kayaknya pecinta cokelat juga. Mirip sama Kia," gumam Devan dengan napas tercekat. Ia merindukan sang kekasih. "Raut wajahnya pas kesal juga mirip Kia, Man. Gue rindu sama dia, kenapa sih dia tega ninggalin gue?"
Usman terdiam. Ia tahu jika sang sahabat merindukan kekasihnya yang sudah meninggal. "Ikhlasin Bos, Kia udah tenang di sana."
"Iya, dia udah tenang, tapi enggak dengan gue. Gue gak bisa tenang Man, dia pergi tanpa tahu kesalahan fatal yang udah gue perbuat. Lo tahu sendiri, gue paling nggak bisa nutupin sesuatu sama dia. Baru kali ini." Devan terlihat frustasi. Ia merasa sangat bersalah.
"Dan cewek itu, dia udah buat gue kepikiran terus." Devan menatap pada Kiana yang terlihat tengah mengambil asal Snack dan menaruhnya di dalam keranjang. Bibir gadis itu mengerucut. "Gue lihat Kia dalam diri dia. Gu-gue, gue tertarik buat deketin dia, Man."
Usman melotot. "Gila lo? Istri orang itu, Bos." Usman menggeleng tak habis pikir.
"Gue tau." Devan mengangguk, ia menjilat bibir bawahnya dan tersenyum kecil. "Nanti gue bakal deketin dia baik-baik dan minta izin sama suaminya. Biar sopan."
Usman hanya bisa menatap horor seorang Devan, dirinya tidak bisa berkomentar apapun tentang masalah ini.
****