
Azam melangkah lebar dengan wajah datar. Tangannya terkepal di sisi tubuh, diikuti tatapan menghunus tajam pada cowok berseragam rapih yang berjalan di depannya.
Rayyan yang saat itu asik bersholawat sambil berjalan menuju ke kelas, di buat tersentak saat Azam menarik bahunya kasar.
Astaghfirullah..." Rayyan dengan spontan beristighfar karena terkejut. "Why?" Rayyan bertanya heran pada Azam yang tidak sopan menarik bahunya.
"Ikut gue," desis Azam, matanya menyorot tajam pada rayyan sebelum berjalan kembali.
Rayyan semakin mengerutkan keningnya, ia mengikuti Azam yang ternyata membawanya ke belakang sekolah.
Tiba di taman belakang, Rayyan berinisiatif bertanya pada Azam yang kini berdiri membelakanginya.
"Mau bicara apa.."
Bugh!
Belum juga Rayyan selesai berujar, bogeman mentah sudah mendarat di wajahnya, membuat Rayyan tersungkur ke tanah karena tak siap.
"Maksud lo apa datang bareng istri gue ke sekolah hah?!" Azam mencengkeram kerah kemeja Rayyan yang masih tersungkur di tanah.
"JADI COWOK JANGAN GATAL! KIANA ADALAH ISTRI GUE, DAN JANGAN DEKETIN DIA!" amuk Azam. Napasnya memburu, saat bayangan Kiana turun dari motor Rayyan.
Rayyan tercengang dan menatap Azam heran. Belum juga Rayyan membalas, Azam langsung melayangkan tinjuan lagi di wajahnya.
Bugh!
"Tampang lo aja yang sok alim, tapi aslinya lo sesat! Bilang aja kalau lo punya niat jahat sama Istri gue kan? Lo tergoda sama tubuh Kiana, makanya lo deketin dia!"
Azam menduduki perut Rayyan dan semakin mencengkeram kerah dengan kuat.
"Cih, gue gak akan tertipu sama tampang alim lo itu, aslinya lo itu bajingan!" Azam berdecih. "Kenapa hah? Kenapa harus Kiana yang lo deketin, kenapa gak cewek lain aja? Apa karena Kiana cantik, iya? Lo mau cari kenikmatan dari tubuh dia, makanya lo deketin..."
Bugh!
Rayyan tersulut emosi hingga balik menonjol wajah Azam dan balik mencengkram kerah kemeja ketua geng Tiger itu. Mata Rayyan menyorot tajam pada Azam.
"Jaga bicara anda!" desis Rayyan penuh penekanan. "Mulut anda sangat murahan bahkan lebih dari kata murahan."
Azam terkekeh sinus. "Kenapa emosi? Berarti omongan gue bener, kalau lo tergoda sama tubuh istri gue."
Bugh!
"Demi Allah, saya tidak habis pikir dengan jalan pikiran anda yang rendah! Bagaimana bisa anda berujar seperti itu dengan gampang?" Emosi Rayyan tidak terkendali. "Kiana tidak serendah itu, hingga semua laki-laki yang dekat dengannya akan tergoda dengan tubuhnya!"
"Bullshit!" ucap Ringga dengan menyentak tangan Rayyan kasar.
Keduanya kini berdiri dan saling mencengkram kerah satu sama lain.
"Jauhin Kiana," ujar Azam datar. "Dia istri gue!"
Rayyan terkekeh kecil. "Itu sekarang, tidak tahu besok masih istri atau sudah mantan." ucap Rayyan dengan berani.
Azam semakin menatapnya tajam. Sebelah tangannya yang terkepal siap menghantam wajah Rayyan lagi, namun Rayyan langsung sigap menahannya.
"Saya sangat benci kekerasan. Sungguh. Ilmu bela diri yang di ajarkan pada saya, di tuntut untuk di gunakan membantu orang lain," ujar Rayyan datar. "Tapi kali ini, anda berhasil membuat saya ingin menghabisi mulut kotor anda itu dengan tangan saya sendiri!"
Azam berdecih, ia mengambil posisi untuk menyerang Rayyan lagi, namun ternyata Rayyan memiliki insting yang kuat, hingga ia bisa mengunci pergerakan Azam.
"Demi Allah Azam, baru kali ini saya ingin menghabisi orang, dan orang itu adalah anda!" Rayyan menahan tangan Azam di belakang, sedangkan sebelah tangannya mengunci leher Azam hingga ia tidak bisa bergerak.
"Lo pikir lo bisa ngalahin gue hah?!" Azam berusaha menjatuhkan Rayyan, namun pertahanannya cukup kuat sehingga susah Azam jatuhkan.
"Sekali lagi anda berbicara seperti tadi, seolah-olah Kiana bukan perempuan baik-baik, saya tidak bisa membayangkan apa yang akan saya lakukan pada anda," peringat Rayyan.
"Kiana istri gue! Suka-suka gue mau bilang dia apa! Bahkan kalaupun gue bilang dia ****** itu terserah gue!"
Bugh!
Rayyan memukul tengkuk Azam, selama ia hidup di dunia, baru kali ini berkelahi dan tidak bisa mengendalikan emosinya.
"Saya berharap, kamu bisa berubah jika kamu benar-benar tulus pada Kiana. Dan jika kamu masih bersikap seperti ini, saya berdoa semoga Kiana kelak mendapatkan pasangan yang lebih baik, yang bisa menjaga dan menghormatinya. Saya permisi, Assalamualaikum." Rayyan menghela napas berat sebelum meninggalkan Azam seorang diri yang masih emosi di tempat.
"Anjing!" maki Azam emosi.
****
Kiana menelungkupkan kepalanya di atas meja kelas. Gadis itu menghela napas sejenak sebelum notifikasi ponsel membuat ia mengambil hpnya dengan malas di dalam laci.
Kiana melebarkan senyumannya setelah membaca isi pesan itu. Pesan itu berisikan bahwa saat ini dan detik ini juga dirinya dan Azam sudah resmi bercerai.
Semua itu tak lepas dari campur tangan Papi Zain. Dengan uang maka semuanya akan jadi mudah.
"Akhirnya gue udah terbebas." pekik Kiana dengan girang.
Kiana menghela napas lagi dan menyimpan ponselnya. Ia mendongak, menatap keadaan kelas yang sunyi. Loli dan Alira sedang berada di kantin.
"Kiana." Panggilan itu membuat Kiana menoleh.
Ia berdecak saat melihat siapa yang memanggilnya. "Perlu apa?" tanya Kiana ketus pada Elsa.
"Kamu jauh-jauh dari Azam dong. Aku pacarnya Azam dan dia milik aku. Dan bilang juga sama temen kamu yang satu itu buat jauhin Ringga. Kalian berdua itu gak pantas bersanding dengan Azam dan Ringga! Mereka terlalu berkualitas buat sampah murahan seperti kalian!" ujar Elsa.
Kiana menggelengkan kepalanya. "Ucapan lo kebalik Sa. Yang ada, gue dan Alira terlalu berkualitas buat Azam dan Ringga. Satu hal yang perlu lo tau, gue udah resmi bercerai dengan Azam. Jadi, lo bisa bebas sama dia. Gue dan Alira ibarat berlian berkelas, banyak yang rebutan buat dapetin gue dan Alira walaupun kita cuma diam di tempat dan gak ngapa-ngapain."
Kiana mencondongkan sedikit tubuhnya ke arah Elsa yang berdiri di samping meja ya.
"Beda sama lo, sampah murahan yang berlagak bak berlian. Malu-maluin tau gak! Bahkan kata sampah aja masih kurang buat jabarkan diri lo!"
Elsa mengepalkan tangannya kesal. "Kamu bakalan hancur Kiana! Azam, Ringga dan geng Tiger bakalan takluk di bawah kendali aku! Dan kamu! Kamu bakalan jadi manusia paling menyedihkan di dunia ini. Bahkan untuk hirup udara aja, kamu gak bakalan mampu."
"Lo nantangin gue?" Kiana mengangkat sebelah alisnya.
"Kita liat aja nanti!" Elsa tersenyum smirk. Ia menumpukan tangannya di pinggiran meja dan mencondongkan tubuhnya ke arah Kiana.
"Gue gak takut." ucap Kiana.
"Kiana, Kiana. Kamu salah karena berani bermain sama aku dan Tante aku. Kamu gak tau seberapa liciknya kita dalam bertindak," ujar Elsa dengan wajah angkuhnya.
"Lo salah besar karena nantangin gue, jika lo licik maka gue beribu-ribu kali lipat lebih licik dari lo. Bahkan hanya dengan jentikan jari, gue bisa hancurin dua Medusa sekaligus kalau gue mau. Tapi itu terlalu mudah, kematian tanpa penyiksaan gak cocok buat kalian berdua."
Napas Elsa memburu, tangannya semakin erat mencengkram pinggiran meja. Ia kesal dengan Kiana demi apapun.
Satu sifat yang membuat Kiana menang banyak. Menurut Kiana, jika lawan mudah tersulut emosi, maka hal itu bisa jadi celah untuk menghancurkan.
"Kiana kamu.." Elsa hendak menampar Kiana, namun sebelum itu terjadi, Kiana sudah menahannya lebih dulu.
"Gini banget ngadepin muka banyak. Gue jadi bingung mau nampar muka yang mana dulu," ujar Kiana menatap Elsa malas. Ia mencengkram pergelangan tangan Elsa dengan senyuman iblisnya.
"Gue kayaknya udah lama gak patahkan tangan orang, hmm, terakhir kali waktu kelas satu ya kalau gak salah?" Dari ingatan Angelina yang Kiana dapat, jika Angelina pernah mematahkan tangan korban bully nya yang sifatnya hampir sama seperti Elsa sekarang yang bermuka dua dan ingin menjadi orang yang di nomor satukan di Tiger. Bukan hanya tangan yang patah, Angel memang membully tak kenal ampun bahkan mempermalukannya di depan umum. Besoknya, gadis itu tak masuk dan di nyatakan pindah sekolah.
"Kamu pikir aku takut." Elsa melotot tak takut membuat Kiana tersenyum miring.
"Nanti aja deh, gue lagi malas terlibat drama dengan skenario murahan yang lo buat," ujar Kiana, menyentak begitu saja tangan Elsa.
Elsa memilih pergi dari kelas Kiana dengan perasaan dongkol.
Ponsel Kiana berbunyi, menampilkan pesan dari nomor asing.
+6285226****: Calm dear, mereka yang menyakitimu akan di balas lebih kejam lagi. Kamu tidak perlu mengotori tanganmu.
Kiana membulatkan matanya saat membaca pesan tersebut. Orang ini sudah jelas berada di pihaknya. Orang yang terbukti tidak akan membiarkan Kiana di sakiti. Kini Kiana beralih ke nomor asing kedua.
+6285363****: Let's start this game. Darah dan nyawa adalah bagian penutupnya.
Kiana menatap sekeliling kelas dengan waspada. Ia merasa jika sedang di pantau seseorang.
"Apa ini?" gumamnya dengan degup jantung yang menggila.