
Kiana menopang sebelah tangannya di pembatas balkon, sedangkan sebelah lagi tengah memegang secangkir cokelat hangat yang sesekali ia seruput.
Keadaannya sudah mulai membaik, tidak sepanas tadi malam hingga ia tidak bisa sekolah hari ini. Beruntung tadi malam Azam tidak adu mulut dengannya karena Kiana yang tidur di kasur. Mungkin cowok itu sudah di beri sedikit hati, hingga tidak tega melihatnya yang sedang sakit harus tidur di sofa.
Sedari tadi ia tengah memperhatikan Azam yang di hukum oleh Zain mengenai masalah Elsa. Di mana Azam yang lebih memilih Elsa dibanding Kiana.
Dari mana Zain mengetahui semua itu? Ya pasti ia mempunyai banyak mata-mata di SMA Garuda. Sejak mengetahui itu Zain tidak tinggal diam, walaupun telat mengetahuinya, namun bukan berarti Azam bisa lepas dari hukuman. Maka dari itu, di siang hari yang terik, di mana Azam baru saja pulang sekolah, sudah di cegat oleh Zain yang masih berpakaian formal. Pria itu memutuskan pulang hanya untuk menghukum Azam.
Zain menyuruh Azam push up, dengan kedua kaki Zain berada di atas punggung anaknya. Sedangkan ia sendiri tengah duduk di kursi sebelah tubuh Azam, hal itu memudahkan kakinya untuk ia letakkan di punggung Azam.
"Capek, Pi. Udah ah, Azam belum minum nih. Seret banget tenggorokan," ucap.Azam yang sudah kelelahan. Baru pulang sekolah langsung di hukum seperti ini.
"No! Tiga puluh dua kali lagi. Ayo cepat, makanya jangan berulah son. Gue paling nggak suka ya, kalau mantu kesayangan gue disakiti sama lo," ucap Zain sinis. Ia sangat menyayangi Kiana semenjak menjadi menantunya, dan tentu saja perlakuan kasar Azam terhadap Kiana membuatnya geram.
Azam mendengus jengkel. "Gue berasa kayak anak tiri disini," decak Azam, walaupun begitu tetap kembali melakukan hukuman yang di berikan Zain dengan perasaan dongkol.
Tinggal sepuluh kali lagi, Azam berhenti sejenak sambil menyeka keringat. Ia mendongak untuk membiarkan angin menerpa wajahnya, namun tanpa sengaja matanya tertuju ke arah balkon, tempat Kiana berdiri sekarang.
"Dia udah sehat?" gumam Azam saat melihat Kiana yang tidak selemah tadi malam.
Azam tersenyum dan melambaikan tangannya yang di balas kerutan di dahi oleh Kiana. Setelahnya Azam tersenyum kecut saat Kiana memilih masuk hingga Azam tidak dapat melihatnya lagi.
Zain melihatnya dari awal, kemudian bibirnya tersenyum miring sambil memukul kepala Azam.
"Satu hal yang tidak bisa hilang dari keturunan Nugraha. Bucin. Jika sudah mencintai seseorang, maka tai ayam pun, di rasa seperti cokelat. " Zain tertawa sambil berdiri. "Selamat menikmati rasanya di cuekin sama orang yang di cintai. Bye, Papi mau manja-manja sama Mommy dulu."
Zain tertawa mengejek pada Azam sebelum lari ngibrit ke dalam rumah, meninggalkan Azam yang kesal setengah matang.
Lain dengan Azam, kini Kiana sedang mengambil tas dan menyampirkan di bahu. Ia menatap ke layar hp, membaca pesan dari Alira. Siang ini, Kiana menghubungi Alira untuk menemaninya melakukan sesuatu.
"Lo beneran udah sehat kan, sampe manggil gw keluar? Udah minum obat?"
Kiana bercermin sejenak setelah selesai membaca pesan dari Alira yang terus saja khawatir dengan keadaannya. Setelahnya ia beranjak keluar kamar dan mendapati Zain yang tengah bermanja-manja di lengan Zara.
Kiana terkekeh, mertuanya ini sungguh lucu sekali.
"Mom, Pi, Kia izin keluar sebentar ya sama Alira," ucap Kiana meminta izin.
"Loh, kamu kan masih sakit sayang," ucap Zara yang dibalas gelengan pelan oleh Kiana.
"Udah mendingan, Mom. Udah minum obat juga tadi. Kia bentar aja keluarnya kok, nggak bakalan lama," ucap Kiana berusaha meyakinkan jika ia sudah baik-baik saja. Lagipula hanya demam biasa saja.
Zara mengangguk sambil tersenyum. "Hati-hati di jalan, ya. Bilang sama Alira jangan ngebut bawa mobilnya," peringat Zara, walaupun ia masih sangat khawatir dengan keadaan menantunya, tapi ia tetap mengijinkan Kiana keluar rumah.
"Iya, Mom. Kalau gitu Kian pergi dulu," balas Kiana, hampir saja ia langsung pergi tanpa bersalaman. Untungnya ia langsung ingat dan bergegas bersalaman dengan mertuanya.
"Minta izin sama Azam juga ya. Nggak baik istri keluar tanpa persetujuan dari suami," ucap Zara saat Kiana mencium punggung tangannya.
"Iya Mom, nanti Kia izin sama Azam," ucap Kiana, kini ia beralih mencium punggung tangan Zain.
"Ada uang nggak? Perlu Papi kasih black card atau mau yang cash?" tanya Zain baik syekali. Sungguh mertua able, udah ramah, asik, dermawan lagi.
"Makasih Pi, yang kemarin Papi kasih masih ada, masih banyak lagi. Jadi Kiana langsung pergi aja ya."
Kiana menolak tawaran Zain, bukannya apa, namun uang yang Zain transfer ke rekeningnya kemarin masih banyak. Ia tidak enak juga jika main ambil setiap tawaran Zain. Nanti yang ada orang-orang akan mengatainya yang tidak-tidak.
Setelah berpamitan dengan kedua mertua, Kiana bergegas keluar rumah. Ia mendapati Azam yang tengah duduk di kursi sambil mengatur napas. Cowok itu mandi keringat, bahkan kaus hitam polosnya sudah bercetak di badan, hingga tubuh atletisnya terpampang jelas.