Kiana Story

Kiana Story
Bab 19



Alira sangat menolak jika Kiana diberi permen oleh Loli. Sahabatnya tidak boleh makan permen pokoknya, tetapi obrolan mereka sungguh bisa menghibur. Kiana sudah tidak sedih lagi seperti tadi.


"Mending kita shopping aja, gue yang bayarin deh, mumpung Papi lagi baik hati nyuruh gue buat menghabiskan uangnya." ucap Alira.


"Si Om emang lain dari yang lain deh." ucap Loli terkekeh. "Loli aja sampai mau di beliin pabrik permen sama Om, katanya sih uangnya udah nggak tau mau di pake ngapain lagi." lanjut Loli.


Kiana tercengang. "Emang Papi lo kerja apaan, Al?" tanya Kiana penasaran.


"Ngepet kali, Loli tahu, pasti Om Dul jaga lilin, terus Alira yang jadi babi nya." ceplos Loli membuat Alira mendelik ke arahnya.


"Sembarangan kalau ngomong suka bener." ucap Alira sambil tertawa. "Ya kali ngepet, Papi gue punya tambang emas di kota S, terus juga punya kapal pesiar dan ada lagi sih, cuma gue nggak tau apa." Alira mengedikkan bahunya.


"Sultan dong Papi lo." ucap Kiana.


Alira terkekeh. "Lebih sultan keluarga Azam kali, siapa sih yang nggak kenal dengan keluarga Nugraha. Keluarga terkaya di Kota ini." ucap Alira. "Tapi sayangnya sih, anak cowoknya nggak punya otak. Lo nggak ada niatan nyuruh mertua lo buat beliin otak yang waras?" tambah Alira.


Kiana tertawa terbahak-bahak. "Nanti deh, gue bilangin Papi Zain buat beliin otak limited edition khusus buat Faris."ucap Kiana.


"Faris? Ciee punya panggilan kesayangan nih ye." ucap Loli menggoda Kiana sambil menyenggol bahu gadis itu.


Kiana langsung memutar bola matanya jengah. "Berlebihan lo." ketus Kiana sambil berdiri. "Dahlah balik kelas kuy, udah bel juga." lanjut Kiana sambil menarik tangan kedua sahabatnya.


"Eh bentar-bentar." ucap Loli menahan mereka. Gadis berbando motif itu tengah sibuk mengecek sesuatu di kantung. "Loh kok permen Loli nggak ada sih? Tadi perasaan Loli taruh di sini deh." ucap Loli gusar.


"Huaaa, Bunda! Permen Loli ilang!"


Gadis itu merengek seperti anak kecil, membuat Kiana tercengang, sedangkan Alira hanya mendengus kasar. Dia sangat tahu sifat sepupunya itu.


"Ketinggalan di kelas kali." ucap Kiana berusaha menenangkan. "Kalau nggak ada, beli di kantin lagi aja. Nanti gue temenin."


"Lagian perkara permen doang lo udah kayak bocah SD aja." cibir Alira. "Dah balik, nanti gue sama Kiana temenin ke kantin."


Loli mengangguk dengan bibir mengerucut. Kiana merangkul bahu Loli dan menggeleng pelan. Ia tidak habis pikir dengan sifat Childs Loli Milkita.


"Lo suka banget ya sama permen?" tanya Kiana sambil menuruni tangga.


"Loli sama permen udah satu paket kali. Liat aja dari namanya. Loli Milkita. Padahal yang gue denger dari Mami, Aunty sangat nggak suka banget bahkan sangat menjauhi yang namanya permen. Tapi pas ngidam ni anak, Aunty malah pengen makan permen terus, bahkan sampai minta di beliin pabriknya. Jelas Alira.


"Orang ngidam mah gitu, hal yang mereka nggak suka jadi mereka suka pas masa ngidam." ucap Kiana.


Loli hanya diam saja dari tadi. Ia badmood karena kehilangan permen. Ketiga gadis itu sudah berjalan di koridor kelas XI, melewati deretan kelas IPS. Sedangkan kelas IPA berada di ujung sana.


Seperti biasa, murid lain akan memberi jalan saat melihat Kiana dan Alira melintas. Julukan Queen Devil yang melekat pada keduanya, membuat mereka disegani. Dan kehadiran Childs Loli, membuat mereka bertiga nampak begitu bersinar.


Di sebelahnya ada Bian yang sedang merangkul pundak Azam sedangkan tangannya yang sebelah tengah memegang tungkai permen lollipop, yang sesekali di nikmati olehnya.


Sedangkan di belakang ada si ice prince plus si mulut boncabe alias Ringga, yang berjalan bersisian dengan si buaya selokan yang terus menggoda murid cewek yang ia lihat, siapa lagi kalau bukan Alan.


"Wuihh, neng Angel tuh." ucap Bian sambil menunjuk Kiana dengan lolipop yang sudah tipis di tangannya.


Azam sudah dari tadi melihat kehadiran Kiana yang sedang mencubit pipi Loli.


"Kiana." ucap Azam tiba-tiba. "Dia lebih suka di panggil gitu sekarang." lanjut Azam lagi.


Bian tersenyum. "Cantik juga tuh namanya. Makin terlope-lope gue... Aww!" Bian meringis saat kakinya diinjak oleh Azam.


"Makanya jalan yang bener, kena injak kan, rasain." ucap Azam membuat Bian kesal.


"Main tebak-tebakan yok, kira-kira neng Kia mau menatap Azam lagi atau kagak." ucap Alan dari belakang. Cowok itu menyugar rambutnya dengan memasang senyum sejuta pesonanya.


Yang terus diam hanya Ringga. Cowok dengan almamater yang hanya tersampir di bahu itu hanya memasang wajah datarnya.


Bian terkekeh. "Gue yakin udah enggak. Di mata Kiana udah nggak ada si bos lagi. Udah capek kali selama ini berjuang tapi nggak pernah di lirik." ucap Bian dengan nada menyindir Azam.


Langkah para cowok terhenti tepat di depan kelas XI IPS 2. Kiana dam Alira ikut berhenti, bukannya mau berhenti karena melihat kehadiran Azam dan teman-temannya, namun karena ingin mengantar Loli, berhubung gadis itu satu kelas dengan Azam.


"Hallo Neng cantik. Bismillah jodohnya babang Bian." goda Bian pada ketiga cewek itu.


Alira bersedekap dada dan menatap Bian tajam, setelah itu ia beralih menatap ke arah Ringga yang merupakan tunangannya. Keduanya saling tatap tanpa ekspresi.


"Bian mau jadi bibit pebinor ya. Ihh, masa godain milik orang, ketara banget kalau nggak laku." ceplos Loli membuat Bian melotot.


"Bibirnya minta di hajar ni cewek." ucap Bian sambil menunjuk Loli dengan lolipop yang dia makan.


Melihat lolipop itu membuat Loli melotot. "Ihh, itu bukannya permen Loli? Kok ada sama Bian sih? Bian nyuri ya." tuduh Loli pada Bian. Wajahnya kesal dan langsung mengadu pada Kiana. "Kia, itu permen milik Loli. Huaaa! Loli mau permen." rengeknya lagi dengan menghentakkan kakinya di lantai.


"Lah ini punya lo? Gue nggak tau, gue dapat di atas meja. Yaudah gue ambil aja, berhubung gue nggak punya rokok, jadi makan permen aja." ucap Bian santai.


Hal itu membuat Loli kesal dan memukul bahu Bian. "Loli aduin Bunda nih. Cepat ganti permen Loli!" ucap Loli dengan garang.


"Anjir lah, ni cewek kasar banget deh." kesal Bian di sela meringis karena Loli terus memukulnya tanpa ampun. Hingga Bian mengambil keputusan untuk segera melarikan diri ke dalam kelas.


****