
Azam memejamkan mata menahan rasa sesak di hati, kala melihat fotonya bersama Bian di hp. Azam merindukan Bian, sangat. Kepergian Bian terlalu tiba-tiba, yang mana Azam belum menyiapkan diri untuk kehilangan.
Setelah resmi bercerai dengan Kiana, kini hidup Azam sudah berubah. Azam tidak lagi sebebas dulu, semua pergerakannya selalu di awasi oleh kedua orang tuanya. Dari sini ia semakin membenci Kiana.
Sudah dua hari berlalu setelah kepergian Bian. Entah bagaimana keadaan sekolah besok. Terlebih, sekolah di liburkan selama dua hari. Itu semua atas perintah Papi Zain, ia juga memerintahkan agar murid SMA Garuda datang berkumpul bersama di masjid dekat rumah Bian, untuk yasinan bersama juga berdoa semoga Bian diterima di sisi Allah SWT.
Pagi menjelang, udara terasa dingin menusuk kulit saat tak ada pancaran hangat dari sang mentari. Di sana, di atas langit, awan tebal menutupi matahari yang ingin mengerjakan tugasnya.
Keadaan mendung dan sedikit berangin, membuat Kiana mengeratkan jaket hitam yang membungkus tubuhnya.
"Dingin banget?" tanya Damar yang baru saja turun dari motor. Kakak beradik itu baru saja tiba di sekolah.
"Menurut lo?" Kiana menatap Damar sinis. "Udah gue bilang naik mobil aja, lo malah ngotot ngajak naik motor. Gak tau kalau pagi ini udaranya dingin banget." omel Kiana kesal.
Pagi tadi di rumah, Kiana ingin naik mobil saja di banding motor, berhubung udaranya dingin bahkan ia sudah menggigil. Namun Damar mengajaknya dan memaksa agar naik motor bersamanya. Awalnya Kiana meminta di antar supir saja, namun Damar yang emang ingin bersama dirinya dengan nekat mengambil semua kunci mobil dan membuangnya di halaman belakang.
Alhasil, masih pagi supir dan pekerja di rumah sibuk mencari keberadaan kunci yang Damar buang.
"Lo gak peka banget sih jadi adek. Udah lama kan kita nggak pergi naik motor bareng," balas Damar membuat Kiana mendengus.
"Tapi kan bisa naik mobil bersama, yaelah Kak Wulan noh ketinggalan di rumah sendiri." ketus Kiana.
"Jangan ngambek dong, gue minta maaf deh ya." pinta Damar memelas.
"Jemput Kak Wulan dulu baru gue maafin," ucap Kiana pada akhirnya.
"Oke deh gue bakal jemput dia,"
"Gitu dong, yaudah gue ke kelas dulu ya Bang." pamit Kiana.
"Iya, jangan nakal ya."
"Iya, cepetan pergi sono," usir Kiana sambil melambaikan tangan dan berjalan masuk.
Di parkiran Azam melihat Kiana yang berjalan seorang diri dan berniat menghampirinya.
"Mau kemana Zam?" tanya Alan saat melihat gelagat Azam yang sedikit mencurigakan.
"Gue cabut duluan ke kelas." pamit Azam.
Azam berjalan menyusul Kiana dan setelah langkahnya sejajar dia dengan segera menghadang langkah Kiana.
"Gak ada kerjaan banget sih lo," ketus Kiana.
Azam tersenyum miring. "Pagi mantan istri gue," ujar Azam.
"Apaan sih lo, minggir gak!" amuk Kiana.
"Jangan harap lo bisa lepas dari gue," ujar Azam sambil mencengkram tangan kiana dengan kuat.
"Lepasin tangan gue, Zam!"
"Kalau gue gak mau, lo mau apa?" tanya Azam.
"Oke kalau itu yang lo mau," ujar Kiana sambil menginjak kedua kaki Azam bergantian hingga membuatnya meringis dan melepaskan tangan Kiana.
"Rasain tuh!" ucap Kiana dan berlalu meninggalkan Azam.
Azam mengepalkan kedua tangannya geram. Ia tidak terima diperlakukan seperti ini oleh Kiana. "Tunggu pembalasan gue Kiana," gumamnya pelan dan berjalan menuju kelasnya.
****
Dari jam pertama pelajaran, Kiana dan Alira di buat kelimpungan karena tidak menemukan keberadaan Loli. Gadis itu tadi hanya ingin ke toilet namun tak kunjung kembali.
"Gue khawatir sama dia Kia," ujar Alira.
"Kita cari," ujar Kiana. Guru biologi baru saja keluar kelas, Kiana langsung bergerak menarik tangan Alira untuk mencari Loli.
Mereka juga menanyakan pada siswa-siswi lain.
"K..kak Kiana," panggil adik kelas pada Kiana. Ia sedikit takut-takut menghadap pada Kiana.
"Apa? Kalau gak penting mending pergi deh. Kita lagi sibuk." ucap Kiana ketus, sedikit kesal saat ada yang menghalangi jalannya.
Ucapan cewek itu membuat Kiana dan Alira melotot. Tanpa mengucapkan sepatah katapun, mereka berdua langsung bergegas menuju toilet. Dari jauh terlihat banyak kerumunan di depan toilet. Ada suara Loli yang terdengar.
"KAMU PENYEBAB KEMATIAN BIAN! KAMU PENJAHAT! KAMU MURAHAN DAN PENGHANCUR! MANUSIA SEPERTI KAMU GAK PANTAS DI DUNIA INI! LEBIH BAIK KAMU YANG MATI, BUKAN BIAN!"
Kiana dan Alira menerobos kerumunan dan mendapati Elsa yang sudah duduk di lantai dengan berderai air mata dengan Loli yang berdiri di depan gadis itu. Lantas mereka berdua di kedua sisi Loli.
"Jangan salahin aku hiks... Aku gak tau apa-apa. Bian pergi karena takdir, bukan karena aku hiks... Jangan jahatin aku Loli, aku gak salah." Elsa menangis tersedu-sedu.
Siswa lain hanya memperhatikan.
"Kamu pantas di salahkan Elsa?" jerit Loli. Ia terbayang video Bian saat menceritakan kisah hidupnya. "Karena keluarga lo, Bian hancur dan Bian pergi jauh! Itu semua karena lo!"
Loli menarik rambut Elsa agar gadis itu berdiri. Elsa terpekik, ia mendesis dingin, jika saja tidak banyak orang yang menyaksikan ia sudah membalas bocah tengil ini. Namun Elsa harus menahan diri agar image nya tidak buruk.
Plak!
"Astaga!" kaget Kiana dan Alira saat Loli menampar Elsa.
"Kamu harus hancur, seperti yang kamu lakuin sama Bian! Loli benci sama manusia sepertimu! Bahkan kamu gak pantas di sebut manusia. Kamu seharusnya di sebut binatang menjijikkan," ujar Loli. Mereka semua terkejut melihat Loli, Emosi gadis itu terlihat sangat berbeda.
"Hiks...Loli sakit... Aku gak salah. Jangan ngomong kasar terus, aku takut hiks..." Air mata Elsa mengalir deras. Ada yang iba dengan gadis itu, namun tak ada berani membantu.
"Elsa," Panggil Azam yang baru tiba. Bukan hanya Azam tapi ada anggota Tiger yang lain dan juga Damar dan Wulan.
Kiana menatap Abangnya. "Mau nolongin dia?" tanya Kiana.
Damar menggelengkan kepalanya dan tersenyum senang.
Kiana mendekati Elsa dan menjambak rambutnya. "Rasa sakit ini gak seberapa dengan apa yang Bian rasa." Plak! Satu tamparan melesat keras di pipi Elsa membuat mereka meringis di tempat. "Dan tamparan ini gak bisa nebus dosa lo pada Bian."
Tidak sampai disitu Kiana kembali menendang tulang kering Elsa hingga gadis itu terduduk di lantai. Pekikan kesakitan Elsa sangat menyenangkan di dengar oleh Queen Devil.
"Lihat, gak ada yang bantuin lo. Pawang yang lo bangga-banggain pun gak bisa nolong, padahal gue siksa lo di depan mereka," ujar Kiana.
"Ambil air buat gue," suruh Kiana pada satu siswa yang langsung di turutinya. Setelah itu ia kembali dan memberi satu ember air pada Kiana yang langsung di siramkan ke tubuh Elsa. "Tangan gue udah gatal buat hancurin hama kayak lo. Anggap aja ini adalah salam pembuka di permainan kita," ujar Kiana dan tersenyum manis setelahnya.
"Kiana ini udah keterlaluan," ujar Azam.
"Kia," panggil Damar.
Azam hendak maju membantu Elsa, ia merasa kasihan, namun tubuhnya menegang saat mendengar ucapan Jeje.
"Kalau lo nolongin Elsa, gue bakal keluar dari Tiger. Gue gak mau bertahan dengan orang yang lindungi penjahat di sini," ujar Jeje.
"Gue juga ikut keluar. Mual gue lama-lama liat mukanya si Elsa," imbuh Alan juga.
Kiana tersenyum miring. "Ada yang hancur nih," ceplos Kiana.
Elsa mengepalkan tangannya kesal. Sial!
Kiana melempar ember kosong pada Elsa. Terlihat kejam memang namun ia bodo amat. Manusia seperti Elsa tidak pantas di perlakukan secara baik-baik.
"Hiks tolong, sa..sakit hiks... Kiana jahat, tolong Elsa..." racau Elsa terlihat menyedihkan.
Tanpa ada yang menyadari, jika ada yang sibuk dengan ponselnya, jarinya terlihat lihai mengetikkan sesuatu, setelahnya bibirnya tersenyum miring dan kembali bersikap biasa saja.
Tak lama kemudian, ponsel Kiana bergetar. Ia langsing mengambil dan mengeceknya. Mata Kiana membulat saat melihat pesan dari nomor asing lagi.
+6285xxxxx
"Pertunjukan yang sangat cantik my girl, ah tapi lebih bagus lagi jika kau menyayat wajah murahan itu dengan belati yang tajam, dan jangan lupa jahit bibir penuh dustanya itu dengan kejam itu akan sangat seru, terima kasih sudah memberi pertunjukan yang memuaskan π"
Kiana langsung menatap sekitar, mencari keberadaan orang yang telah mengirim pesan, dan ia yakin jika orang itu ada di sini.
"Kenapa Kia? Kamu nyari siapa?'' Damar bertanya khawatir pada Kiana.
Kiana menggeleng, ia masih celingak-celinguk mencari siapapun yang memegang ponsel. Namun tidak ada, hingga pandangannya tertuju pada satu titik, cowok yang berdiri di belakang anggota Tiger yang terlihat tengah tersenyum menatap ponselnya. Kiana bisa melihatnya dengan jelas, walaupun sedikit tertutupi tubuh siswa lain.
"Davian," ujar Kiana tertahan.