
Kiana berjalan dengan lesu ke kelas. Sesekali menguap dan mengucek mata, ya dirinya semalam begadang hanya buat nonton drakor sampai tembus jam empat pagi, dan hanya tidur satu jam setengah saja sebelum kembali bangun untuk berangkat ke sekolah. Ia berangkat bareng Papi Zain yang menuju kantor, Azam sendiri masih mandi saat dirinya berangkat.
"Masih ngantuk gue". ucap Kiana sambil mengucek matanya dan tiba-tiba...
Brukk!
Karena tidak memperhatikan jalan di depannya, ia sampai menubruk seseorang.
"Sorry," ucap orang yang ditabrak Kiana.
Kiana mendongak dan menatap cowok ganteng di depannya tanpa berkedip.
"Eh, seharusnya gue yang minta maaf. Maaf ya gue gak liat jalan tadi," ucap Kiana.
Cowok itu hanya mengangguk. "Boleh geser dikit, gue mau lewat," ucap cowok yang Kiana sendiri tidak tahu namanya.
Langsung saja ia sedikit menyingkir, hingga cowok itu berlalu pergi. Kiana menatap punggung tegap cowok yang sudah mulai hilang di balik tembok dengan tersenyum.
"Ganteng juga," gumam Kiana pelan dan kembali melanjutkan langkah menuju kelas.
Sesampainya di kelas, Kiana langsung menuju bangku yang ada di belakang, namun tiba-tiba tubuhnya hampir tersungkur saat kakinya tersandung sesuatu.
Kiana menghela napas kasar membalikkan tubuhnya dan menatap tajam ke arah cewek berponi yang sedang duduk di bangkunya.
"Maaf Kia, aku nggak sengaja. Tadi aku mau lurusin kaki aku, tapi kamu langsung lewat. Maafin aku, aku beneran nggak sengaja," ucap Elsa lirih sambil menunduk.
Kiana tak menjawab dan hanya menatap Elsa datar membuat Elsa semakin menunduk dengan takut.
"Sialan, kalau gue sampai nyium lantai. Gue pastiin lo gak akan aman," ucap Kiana dingin dan berlalu pergi ke tempat duduknya.
Elsa menunduk dengan mata berkaca-kaca. Dari arah pintu, Alira datang sambil bersedekap dada. Ia mulai menyadari tatapan teman sekelasnya tertuju pada Elsa, ia segera menghampiri gadis itu.
"Ada apa nih?" tanya Alira.
"Elsa nggak sengaja nyandung kaki Kiana. Untung aja Kiana gak jatuh," ucap Arin teman sekelasnya.
"Ohhh, si Elsa cari perkara ya?" Alira mencondongkan tubuhnya ke arah Elsa. "Betul nggak sengaja? Kok gue nggak percaya ya?" ucap Alira.
Alira memasang wajah tampak berpikir. Di tempatnya, Kiana hanya membiarkan Alira, ia sangat ngantuk sekali jadi malas melerai Alira yang ia sangat yakin akan memberi pelajaran pada Elsa. Katakan saja dirinya jahat, namun Kiana tidak peduli.
"Aku beneran nggak sengaja, Al. Aku nggak mungkin buat hal jahat kayak gitu sama Kiana. Apalagi dia istri sahabat aku," ucap Elsa pelan. Ia masih menunduk dengan tangan saling bertaut di depan perut.
"Utututu....Iya juga ya, kan lo anak baik jadi gak mungkin lakuin itu." Alira mengangguk-angguk. Kemudian ia mendorong tubuh Elsa hingga tersungkur ke lantai.
"Ups! Aduhh maaf ya gue juga nggak sengaja. Lo bisa bangun sendiri kan? Maaf ya, gue beneran gak sengaja. Lo tau kan, gue nggak mungkin buat hal jahat kayak gitu sama sahabat tunangan gue sendiri," ucap Alira meniru ucapan Elsa dan tak lupa ia menekan kata tunangan.
Elsa hanya menunduk dengan air mata menetes membasahi wajahnya. sangat lemah sekali, pikir Alira.
Alira kemudian berjongkok menyamakan tingginya dengan Elsa. Wajahnya kini sudah berubah menjadi datar seketika.
"Jangan main-main sama gue kalau lo mau hidup aman." Alira menepuk pipi Elsa pelan. "Dan satu lagi, jadi cewek jangan gatel. Maksud lo apaan spam chat sama Ringga, minta di temenin di rumah? Gatel banget sumpah. Lo lupa atau pura-pura lupa kalau Ringga itu tunangan gue hah?"
Elsa terisak. "Maaf Al, tapi Ringga juga sahabat aku. Aku butuh dia dan aku juga butuh Azam," jawab Elsa pelan.
Perkataan dari Elsa membuat Alira naik pitam dan langsung menjambak rambut Elsa. Keadaan kelas menjadi hening, tidak ada satu orangpun yang mau ikut campur dengan tindakan Alira.
"Sialan, gatel banget sih! Mau gue bantu garukin pake kulit durian hah?" ucap Alira dengan melotot garang.
Elsa semakin menangis. "Sakit Al," lirih Elsa saat merasakan jambakan Alira tidak main-main.
Alira terkekeh sinis. "Sayangnya gue gak peduli. Makhluk titisan ulat bulu kayak lo emang pantas diginiin." ucap Alira, ia melepaskan rambut Elsa dan menamparnya.
"Itu buat lo yang udah macam-macam sama sahabat gue," ucap Alira sambil berdiri.
Tanpa disadari Alira, dikelasnya ada Azam dan Ringga yang sedang menatapnya tajam. Mereka menyaksikan semua yang di lakukan Alira dari awal hingga akhir.
"AIRA!" teriak Ringga membuat Alira menoleh dan terkejut.
Plak!
Satu tamparan mendarat di pipi cewek cantik itu, membuat yang mendengar jadi meringis. Sedangkan Azam sudah membantu Elsa berdiri. Elsa langsung saja memeluknya dengan begitu erat.
Suara gaduh itu membuat Kiana terbangun dari tidurnya. Matanya menyorot tajam ke arah Alira yang tengah memegang pipinya.
"MAKSUD LO APAAN NAMPAR ELSA HAH?!" Ringga terlihat marah.
Alira terkekeh kecil dan balik menatap Ringga dengan tajam. "Dia emang pantes dapat tamparan dari gue. Cewek modelan kayak dia emang pantes..."
Kiana berdiri di depan Alira dengan menatap Ringga tajam.
Plak!
"Itu buat lo yang udah nampar sahabat gue."
Bugh!
"Itu buat lo yang udah bentak Alira."
Semua orang terkejut dengan tindakan Kiana yang berani menampar dan menonjok perut Ringga.
"Kiana, lo apa-apaan sih?" Azam ikut bicara. "Alira emang pantes di tampar, dia udah kasar sama Elsa."
Kiana terkekeh sambil menggaruk keningnya. "Mending kalian keluar deh, jangan sampe gue bogem juga kalian semua," sentak Kiana.
"Nggak! Lo harus minta maaf dulu sama Ringga, dan Alira juga harus minta maaf sama Elsa," ucap Azam.
Alira terkekeh renyah dan merangkul bahu Kiana yang tengah bersedekap dada. Murid-murid yang menyaksikan langsung bergidik ngeri saat melihat dua gadis dengan julukan Queen Devil itu.
"Al, di suruh minta maaf tuh," ucap Kiana pada Alira.
"Dihh ogah banget."
"Sahabat gue nggak mau minta maaf, dan gue juga nggak mau. Soalnya gue nggak salah, dan untuk kejadian Alira tadi, dia hanya mau memberi sedikit pelajaran buat Elsa, biar dia nggak gatel jadi cewek," ucap Kiana, rasa kantuknya hilang dengan perdebatan ini.
Ringga mengepalkan tangan dengan kuat dengan segera ia mengangkat tangannya ingin menampar Kiana, namun seakan peka dengan keadaan, Kiana mencekal tangan Ringga dan menepisnya dengan kasar.
Dengan gerakan cepat, Kiana memutar tubuhnya dan menendang tulang kering Ringga hingga si empunya meringis.
"Akhhh... Sialan!" marah Ringga.
Kiana tersenyum miring. "Mau baku hantam sama gue? Kuy lah gue ladenin, berhubung tangan gue udah lama nggak gebukin orang," ucap Kiana dengan pandangan remeh menatap Ringga.
"Lagian lo jadi tunangan tega amat nampar Alira, jadi gue gak bakal terima dengan kelakuan lo sama sahabat gue!" imbuh Kiana.
Alira yang mendengar itu jadi terharu, ia langsung menubruk tubuh sahabatnya dan memeluknya dengan erat.
"OMEGAT! ADA APA NIH RAME-RAME, LOLI KETINGGALAN BERITA APA Nih?" Loli yang baru datang ke kelas diikuti Bian dan Alan di belakangnya.
"Kalian lagi ribut ya? Woah, ini Loli kasih permen Milkita biar jadi seru, soalnya ada rasa susunya," ucap Loli dengan pedenya, Loli membagi permen ke mereka berempat membuat ia mendapatkan tatapan datar.
Bian yang melihat tingkah Loli langsung menarik cewek itu dan membekap mulutnya agat tidak bicara ngawur lagi.
Loli memberontak hingga tangan Bian terlepas dari mulutnya. "Ihh tangan Bian bau!" ucap Loli sambil mengusap hidung dan mulutnya.
Bian terkekeh gemas. "Gue lupa cuci tangan,"
"Ihh Bian Jorok banget! Huaaa Bunda!" Loli berteriak histeris, Bian dan Alan segera menyeret cewek cerewet itu keluar kelas.
Kiana menghela napas saat melihat tingkah Loli. Ia kembali menatap Azam dan Ringga.
"Mending kalian keluar aja, bentar lagi masuk," ucap Kiana, namun mereka tak beranjak.
"Ringga dan Azam keluar aja. Elsa nggak apa-apa kok, tadi juga aku yang salah," ucap Elsa melepas pelukannya dari Azam.
"Mereka harus minta maaf, Sa." ucap Azam membuat Kiana mendengus.
"nggak papa Zam, mereka nggak salah. Aku yang tadi nggak sengaja sandung kaki Kiana," ucap Elsa mengusap lengan Azam berusaha menenangkan. kemudian ia juga menarik tangan Ringga agar berhenti berhadapan dengan dua devil itu. Azam dan Ringga adalah pelindung Elsa, dan Elsa sangat senang akan hal itu.
"Lo terlalu baik, buat dua iblis kayak mereka." ucap Ringga kesal. Ia tidak habis pikir mengapa ada orang sebaik Elsa. Ditindas berkali-kali, namun masih mau bersikap baik.
"Iblis ya? Emang sih gue sama Kiana iblis. Iblis penghancur titisan ulat bulu kayak cewek itu!" Alira menunjuk Elsa, namun Kiana langsung menarik tangan Alira.
"Jangan tunjuk-tunjuk dia, Al. Nanti babunya ngamuk. Nggak liat tuh, muka mereka udah kayak mau meledak aja," ledek Kiana terkekeh kecil.
Azam memperhatikan wajah Kiana dalam, sebelum ia memalingkan wajah dan berdecak kasar. Perasaan macam apa ini? Ada yang salah dengan perasaannya kali ini saat memandang Kiana.
****
**Nahloh ada apa dengan perasaan Azam kali ini ya? Kira-kira ada rasa sama Kiana atau ada hal yang lainnya lagi?π€
Dan menurut kalian Elsa itu seperti apa orangnya?
Oh iya masih bingung nih dengan visual, Kira-kira ada yang mau bantuin aku buat nyari gambar nggak ya....
Jangan lupa komentar sebanyak-banyaknya ya guys dan semoga kalian suka dengan cerita ini terimakasih banyak π€