
Assalamu'alaikum warohmatullahi wabarokatuh... hallo sahabat semua, apa kabar hari ini? Siapa nih yang udah kangen dengan cerita Kiana?? Pada nungguin cerita ini dong pastinya heheh maafkan ya othor nya kepedean π π π ... Yoklah kita lanjut ceritanya dan selamat membaca π€
*
*
*
*
Di sela-sela mengunyah Boba, Kiana mengedarkan pandangannya hingga tatapannya tertuju pada wanita yang baru keluar dari mobil. Kening Kiana berkerut, ia memicingkan mata untuk memastikan jika ia sedang tidak salah lihat.
Wanita yang tengah masuk ke butik terkenal itu adalah Ningsih. Ibu tiri Kiana di kehidupan sebelumnya. Melihat wanita itu membuat tangan Kiana terkepal kuat. Wanita itu adalah tersangka utama dari kehancuran hidupnya. Dan wanita itu menikmati uang yang seharusnya milik dirinya.
Kiana tidak bisa membiarkan. Ia harua merebut kembali hak yang seharusnya miliknya dan juga ia harus menghancurkan Ningsih untuk balas dendam atas kematian Ayahnya, kehancuran rumah tangga orang tuanya dan juga kacaunya hidup Kiana.
Kiana tersenyum miring, namun tak bisa di cegah jika matanya sudah berkaca-kaca akibat menahan rasa sesak. Kiana akan menghancurkan siapapun yang sudah mengusiknya. Ningsih tidak akan lolos dari cengkraman nya.
Kiana tersenyum miring dan membuka cup es Boba untuk mengambil es batu yang akan ia kunyah. Matanya terus tertuju pada butik terkenal yang ada di depan sana.
Tak lama kemudian Ningsih keluar dengan beberapa paper bag dengan logo khas, ia masuk kedalam mobil, namun sebelum mobil berjalan, sebuah taksi berhenti dan seorang gadis memakai seragam yang sama dengan Kiana menghampiri mobil Ningsih. Kebetulan pintu mobil yang belum tertutup, Kiana bisa melihat jika keduanya berpelukan.
Kiana berdecih. "Pantas aja, ternyata satu spesies toh." ujar Kiana saat melihat Ningsih dan Elsa berpelukan.
"Tunggu aja kehancuran kalian karena berani mengusik ketenangan gue," lanjut Kiana saat melihat mobil itu telah pergi.
Kiana menghela napas dan beranjak berdiri. Sebuah motor sport yang sangat familiar berhenti di depannya membuat Kiana terkejut sejenak.
"Ngapain di sini Kia? Mau ngemis? Azam udah gak biayain hidup lo? Nah kalau gitu mending pisah aja, terus sama gue aja," ujar cowok itu setelah melepas helmnya.
Kiana memutar bola matanya malas. "Bukan urusan lo," ketus Kiana.
"Ketus banget calonnya gue," godanya lagi.
"Calon dengkulmu Devan!" ucap Kiana.
Devan hanya terkekeh gemas dengan jawaban Kiana.
"Ikut gue sekarang, gue mau ajak lo ke suatu tempat." ucap Devan sambil menggandeng tangan Kiana menuju motornya.
Kiana hanya diam dan menurut pada Devan. Karena dirinya tidak mau berdebat dengannya.
"Pegangan, gue takut lo jatuh." ucap Devan.
"Hmmm." balas Kiana.
***
Saat ini kedua remaja itu tengah duduk selonjoran di pasir pantai. Kebetulan jika tempat mereka bertemu tadi berdekatan dengan pantai jadi Devan mengajak Kiana ke sini untuk menikmati sapuan angin laut di sore hari.
"Lo udah makan?" tanya Devan pada Kiana.
"Belum," balas Kiana cepat.
"Masa sih?" Devan mengerutkan keningnya. Matanya memicing menatap sudut bibir Kiana. Lantas ia terkekeh dan mengulurkan tangannya mengusap sambal cilok di sudut bibir Kiana.
Hal itu membuat gadis itu melotot.
"Lo rakus juga ya. Pantas aja tubuh lo udah bulat kayak gini, apalagi tuh, pipi lo udah kayak bakpao," ujar Devan membuat Kiana memberengut kesal dan memukul bahu Devan yang duduk di sebelahnya.
Keadaan menjadi hening. Kiana yang sibuk memikirkan ingin mengemil apa, ya karena ia merasa belum kenyang, sedangkan Devan sibuk memperhatikan wajah Kiana dengan intens.
"Semakin lama, gue semakin liat mendiang pacar gue di diri lo, Ki." ujar Devan tiba-tiba memecah keheningan antara keduanya.
"Eh?" Kiana tersentak. Ia menoleh dan menatap Devan yang sekarang terlihat murung.
"Gue mau jujur sama lo, Ki. Lo tau kan kalau gue tertarik sama lo? Gue tertarik sama lo karena gue lihat mendiang pacar gue ada sama diri lo, gue tertarik sama lo karena gue ngerasa nyaman dan gue ngerasa kalau dia masih hidup. Dan semua karena lo. Gue setiap ketemu lo, gue anggap lo bukan Kiana istri musuh gue, tapi gue anggap lo sebagai Kiana pacar gue. Lo bisa bilang gue bajingan atau apapun, karena udah samain lo sama orang lain."
"Tapi gue mohon, lo jangan menjauh ataupun menghindar dari gue karena ngerasa gak nyaman. Gue mohon Kia, kehadiran lo sekarang buat gur seperti punya semangat hidup lagi. Gue yang dulunya pengen nyusul dia mati, sekarang mulai sadar. Gue mohon ya Kia." Devan menatap Kiana teduh membuat Kiana mati-matian menahan debaran jantungnya. Bagaimana pun, ia sudah menjalin hubungan selama dua tahun dengan Devan. Dan itu bukanlah waktu yang singkat.
"Ya jelas gue bakalan ngerasa gak nyaman. Gak ada orang yang mau di anggap sebagai orang lain, Devan," ujar Kiana.
Devan terkekeh miris. "Iya sih, tapi gue udah bilang tadi, lo boleh anggap gue bajingan atau apapun. Tapi tolong jangan menjauh dari gue ya. Jangan menghindar ataupun gaj mau ketemu gue lagi."
Kiana berdehem sejenak. Ia balik menatap Devan. Menunggu pria itu kembali berujar.
"Lo tau gak, saat lihat lo pertama kali dan lihat tingkah lo, gue sempat berfikir jika Kia gue operasi plastik setelah kecelakaan itu, tapi gue kembali sadar. Gue yang lihat dia menghembuskan napas terakhir di rumah sakit, dan .... dan gue juga yang lihat dia udah terbujur kaku dalam peti sebelum di kebumikan."
Devan menunduk. Matanya berkaca-kaca jika mengingat mendiang sang pacar.
"Ikhlaskan dia Van, mungkin dia udah tenang," ujar Kiana. Dalam hati ia membenarkan kalimatnya, iya Kiana sudah tenang karena bisa terlepas dari cengkraman ibu tirinya.
Devan mendongak. Ia menatap mata Kiana. "Jangan-jangan lo beneran pacar gue?" tanya Devan tiba-tiba membuat Kiana gugup.
"Jangan-jangan jiwa lo bertransmigrasi kayak cerita novel yang pernah Usman baca?" tanya Devan lagi membuat Kiana tersedak ludahnya.
"H-ah? Ngaco lo! Mana ada ceritanya jiwa yang bertransmigrasi kayak gitu," balas Kiana berusaha terlihat biasa-biasa saja. Padahal ia sudah gugup setengah mati.
"Iya juga sih. Yang kayak gitu cuman ada di cerita fiksi," ujar Devan murung. Ia terlalu berharap.
Kiana berdehem. " Tapi kalau beneran gue jiwanya pacar lo yang bertransmigrasi gimana?" Anjir! Kiana mengutuk mulutnya sendiri yang spontan berujar seperti itu.
Devan diam sejenak sebelum tersenyum miring. Ia menatap Kiana dengan pandangan yang sulit di artikan. "Gue bakal berjuang untuk dapat cinta dan kepercayaannya kembali," balas Devan tegas.
Kiana tertawa canggung dan memukul lengan Devan. "Gue bercanda kali, jangan di bawa serius hahaha."
Devan mengangguk. "Tapi gue berharap itu benar," ujar Devan yang tak di respon apa-apa sama Kiana. Gadis itu memilih diam begitu juga Devan. Mereka sibuk dengan pemikiran masing-masing.
"Kia," panggil Devan yang tak tahan dengan keadaan hening.
"Hmm?"
"Mau ke rumah terakhir pacar gue?" tawar Deva.
"Lo mau ajak gue mati? Gak dulu deng, dosa gue masih banyak," balas Kiana cepat membuat Devan mendengus dan menjitak kepala gadis itu.
"Gob*** banget sih. Argh! Bahkan sikap ogeb lo mirip dia," racau Devan. Semua uang ia lihat pada Kiana sangat mirip dengan mendiang pacarnya.
Kiana meringis pelan. Ya Tuhan, bahkan sikap go***** di bawa-bawa.
"Ayo! Kita ziarah ke makam dia," ajak Devan lagi. Ia menyuruh Kiana berdiri.
"Senyum bentar deh," pinta Devan membuat Kiana mengernyit. "Buat apa?"
"Senyum aja ayo," ujar Devan. Karena tak mau berlama-lama akhirnya Kiana menurut.
"Ngadep sana lagi," suruh Devan lagi agat Kiana yang masih mempertahankan senyumannya. Suara jepretan kamera membuat Kiana tersentak.
Ternyata ada Usman yang mengambil fotonya dengan Devan. Entah sejak kapan cowok itu ada di sana.
"Buat dokumentasi Ki," ujar Devan. Ia mengacungkan jempol ke arah Usman dan menarik tangan Kiana menuju motornya.
Motor Devan berhenti di pemakaman umum di ibu kota. Sebelum itu, Devan singgah di toko bunga untuk membeli bunga mawar putih. Bunga yang Kiana lebih suka di banding mawar merah.
"Ayo," ajak Devan. Cowok itu berjalan lebih dulu di ikuti Kiana dari belakang. Mereka melewati jejeran makam hingga berhenti tepat di sebuah makam yang tanahnya masih membumbung. Tanda jika itu adalah makam yang masih di bilang baru.
"Hai Kia-nya Devan," ujar Devan yang sudah berjongkok di sebuah makam. "Aku jenguk kamu lagi. Kamu apa kabar? Udah ketemu sama malaikat ya? Gimana, malaikatnya ganteng melebihi aku gak?" Devan terkekeh kecil dan mengusap nisan itu dengan lembut.
"Aku rindu Kia, rindu banget sama kamu," lirih Devan ia tersenyum dan meletakkan bunga mawar putih itu di atas gundukan tanah. "Ini buat kamu, cantik kan? Iyalah cantik, orang bunganya buat orang yang cantik juga."
Kiana berdehem. Ia menatap makam itu dengan pandangan berkaca-kaca juga sedikit merinding. Makam yang terpampang jelas namanya di kehidupan sebelumnya.
"Kok serem sih," gumam Kiana. Ia ikut berjongkok di sebelah Devan. Kiana merinding karena bisa-bisanya ia berziarah ke makam sendiri.
"Oh iya aku sampai lupa. Ini, aku gak dateng sendiri. Aku bareng cewek yang nama sama sikapnya mirip sama kamu banget. Hahaha bahkan aku sampai jatuh cinta sama dia karena ngerasa kalau dia itu adalah kamu," ujar Devan menatap Kiana yang ada di sebelahnya.
"Kia, ini rumah terakhir pacar gue. Di kecelakaan hingga koma di rumah sakit sampai akhirnya menghembuskan napas terakhir. Dia cewek yang buat gue bisa tau arti cinta dan kenyamanan sesungguhnya," ujar Devan. Kiana bisa melihat tatapan cinta yang amat dalam dari sorot mata Devan saat mengatakan kalimat itu.
Kiana tertegun. Ia di buat bimbang dengan keadaan. Kemudian Kiana balik menatap gundukan tanah itu. Ia mengusap pelan tanahnya.
"Gue sebenernya sedikit merinding karena ziarah ke makam sendiri. Tapi gue juga sedih dengan keadaan Devan yang sekarang ini. Gue pikir gue masih bisa kembali ke tubuh gue yang asli, tapi itu gak bakalan terjadi. Hahaha dan buat lo tubuh gue yang cantik, maaf ya gue gak bisa nempatin lo sampai akhir, karena takdir yang tiba-tiba buat jiwa gue pindah tempat." Batin Kiana, ia mengulas senyum tulus hingga setetes kristal bening mengalir di pipinya.
"Balik Van, gue kayaknya udah di cari sama orang rumah," ujar Kiana. Ia menyeka air matanya yang membasahi pipi tembemnya. kiana tak tahan menatap makam sendiri lebih lama lagi.
Devan mengiyakan. Apalagi sekarang sudah sore. Sebelum itu Devan mengecup singkat nisan salib itu dan berpamitan. Semua itu tak luput dari pandangan Kiana. Kiana paham, jika Devan sangat tulus mencintainya. Namun Kiana juga harus sadar jika ia dan Devan sudah terlalu jauh untuk bersatu kembali.
Devan sudah mempunyai tunangan dan juga Kiana sudah mempunyai suami. Dan yang menjadi halangan terbesar keduanya adalah keyakinan. Kini keyakinan Kiana dan Devan sudah berbeda.
"Ayok balik," ajak Kiana. Ia berjalan lebih dulu di ikuti Devan di belakangnya.
Devan berjalan di belakang Kiana sambil memainkan ponselnya dengan bibir tersenyum tipis.
Berhasil terkirim. Devan tertawa tanpa suara. Ia tak sabar menunggu balasan dari seberang sana.
Di lain tempat, tepatnya di markas Tiger. Azam sudah uring-uringan karena tak menemukan Kiana. Ia juga belum mengabari kedua orang tuanya karena ia takut jika mereka akan turun tangan maka mampus lah hidupnya.
Ponselnya bergetar tanda pesan masuk. Azam berdecak sesaat karena ia merasa terganggu. Namun setelah berpikir beberapa menit, Azam langsung bergegas mengecek hp nya. Siapa tahu jika itu pesan dari Kiana Kan?
Dan yah, tebakan Azam tidak meleset. Memang tentang Kiana, namun yang menjadi masalahnya adalah orang yang mengirim pesan itu.
Pesan itu dikirim oleh Devan, dengan mengirim sebuah foto yang membuat Azam melebarkan kedua matanya.
"BANGSAT!!!"
****