
Rayyan menahan napas sejenak saat Kiana menepuk pundaknya. Cowok itu berdehem, ikut turun dari motor Vespanya dan menjauh sedikit dari Kiana.
Kiana membawa Rayyan ke apartemen milik Azam. Jujur dirinya bingung harus pulang kemana, mengingat hubungannya dengan Azam sudah tidak baik-baik saja. Dan besok ia akan mencari tempat kost untuk dirinya.
"Ayo masuk, gue obatin luka lo dulu," ujar Kiana, ia hendak menarik tangan Rayyan lagi, namun cowok itu langsung menggeleng cepat.
"Ah terima kasih. Tapi, sebaiknya saya langsung balik saja." Rayyan ingin cepat menjauh dari gadis di hadapannya.
Kiana berdecih malas. Cowok di hadapannya ini sok jual mahal, pikirnya.
"Gue paling gak suka di tolak ya," kesal Kiana. Gadis itu bersedekap dada dan menatap Rayyan datar. Gue obatin luka lo, atau gue peluk lo sekarang juga?"
Rayyan melotot dengan ancaman Kiana. Cowok itu terbatuk dan memalingkan wajahnya. "Ya Allah, bagaimana bisa ia terjebak dengan gadis berbahaya ini?" batin Rayyan.
Sedangkan Kiana, seringainya perlahan muncul. Sekarang ia tahu cara menjinakkan cowok aneh ini. Jujur saja, saat di perjalanan tadi, ia begitu kesal dengan Rayyan.
Hampir saja ia jatuh karena tidak bisa berpegangan. Bagaimana mau berpegangan, Rayyan baru di sentuh di jaket saja, paniknya sudah kayak di sentuh malaikat maut.
Bahkan jarak mereka berboncengan sudah seperti pasutri yang sedang berdebat. Ah, sungguh harga diri Kiana seperti di rendahkan oleh cowok ini.
"Emmh, baiklah. Saya izin masuk dan akan mengobatinya sendiri," ujar Rayyan pada akhirnya. Walaupun ia baru mengenal Kiana, namun ia sangat tahu jika gadis di depannya ini sangat nekat.
Kiana mendengus dan berjalan lebih dulu masuk ke dalam. Rayyan mengikuti dari belakang, jantungnya berdegup kencang saat ia duduk di kursi.
Sembari menunggu Kiana mengambil kotak obat, Rayyan membuka ponselnya dan mengabari orang rumah jika ia akan telat pulang. Karena sepulang dari sini, ia akan singgah di rumah Jojo terlebih dahulu.
"Minum dulu." Kiana datang tiba-tiba dengan membawa jus jeruk untuk Rayyan. Ia duduk di kursi yang kosong di samping cowok itu.
Rayyan beristighfar karena terkejut.
"Syukron ukhti," ujar Rayyan pada Kiana.
Alis Kiana terangkat sebelah. "Nama gue Angelina Kiana Putri. Lo boleh panggil gue Kiana, bukan ukhti," ujar Kiana.
Rayyan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. Ingin meluruskan kalimatnya namun tidak jadi. Ia ingin cepat-cepat pulang dari rumah gadis ini.
"Ah, boleh saya pinjam kotak obatnya?" Rayyan menunjuk kotak obat di pangkuan gadis dengan rok pendek itu, hingga sebagian paha mulusnya terekspos. Dari tadi, mati-matian Rayyan menahan tatapan matanya agar tidak salah arah.
"Biar gue yang obatin. Lo luka karena gue," ujar Kiana. Keningnya kembali mengerut, Kiana heran sejak kapan ia baik dengan orang baru?
"Tidak perlu. Saya bisa sendiri," Rayyan menolak dengan sopan. Ia tidak mau jika terlalu berdekatan dengan Kiana lagi, yang nantinya menimbulkan dosa untuk mereka berdua.
"Gue aja yang obatin, sini deketan." Kiana melototi Rayyan, ia paling jengkel jika di tolak.
"Tidak bisa Kiana, kita bukan mahram. Tidak baik jika kita terlalu berdekatan," ujar Rayyan dengan sopan.
"Sok suci lo," semprot Kiana. Ia memberikan kotak obat dengan kasar pada Rayyan. "Aneh, ada ya cowok seperti Rayyan sekarang?" pikir Kiana jengah.
Rayyan menghela napas sejenak sebelum mengobati luka di pelipisnya. Semua pergerakannya di tatap sinis oleh Kiana yang duduk sembari bersedekap dada di sampingnya.
"Terima kasih banyak, saya pamit pulang dulu." Rayyan meletakkan kotak obat di meja dan berniat untuk pamit setelah selesai mengobati luka di pelipisnya.
Kiana menatap Rayyan sejenak, ia tersenyum tipis karena merasa lucu melihat bola mata Rayyan yang bergerak kesana-kemari untuk menghindari tatapan matanya.
"Lo gak sopan ya, gue udah capek-capek bawain minum, tapi lo gak minum," ujar Kiana.
Rayyan berdehem, ia mengambil gelas berisi jus jeruk itu dan meneguknya.
"Maaf dan terima kasih Kiana. Kalau begitu saya pamit pulang. Assalamualaikum," ujar Rayyan setelah meneguk habis minumannya.
Ia berdiri dan hendak pulang tapi suara Kiana menghentikan langkahnya. "Tunggu!"
"Kenapa?" Rayyan bertanya.
Kiana bersedekap dada dan menatap Rayyan dari atas sampai bawah. "Lo cowok paling aneh yang baru gue temuin," ujat Kiana.
Rayyan mengerutkan keningnya. "Apa tingkahnya sangat aneh?" batin Rayyan.
"Tapi gue suka liatnya," lanjut Kiana membuat Rayyan melotot sampai terbatuk sejenak dan memalingkan wajahnya.
"Ya Allah, perasaan apa ini?" batin Rayyan.
"Saya pamit dulu. Assalamualaikum." Rayyan berjalan cepat menuju motornya.
Kiana tertawa kecil melihat tingkah Rayyan. "Gue dapat mainan baru," gumam Kiana. Ponselnya berbunyi membuat ia langsung melihatnya.
Azam : "Gue gak bisa pulang karena gue lagi temenin Elsa di rumahnya."
Kiana memutar bola matanya malas. Ia hanya membaca tanpa ada niatan membalas pesan dari suaminya itu.
"Gue gorok lo sama Elsa baru tau rasa Zam!" desis Kiana dan hendak masuk ke dalam.
Namun, pandangannya tertuju ke benda hitam di lantai dekat kursi yang di duduki Rayyan tadi. Kiana mengambilnya dan memperhatikan benda itu.
"Gelang?" gumam Kiana. Ia membolak-balikkan benda itu, dan seketika ia teringat dengan benda yang Rayyan pegang saat pertama kali cowok itu masuk sekolah.
Ia mengedikkan bahunya dan membawa benda itu. Sepertinya tidak sengaja jatuh saat cowok itu pergi tadi.
****
"GEGE ITU MINUMAN GUE ANJIR, NGAPAIN LO HABISIN?"
"YA ANJIR, TERUS GUE MINUM APA HAH? AMBILIN GUE DI BAWAH CEPAT GE! KALAU KAGAK, GUE BUNUH SI JARONG!"
"GUE BAKAR SI ANABEK KALAU LO BERANI NYENTUH KESAYANGAN GUE!"
"YA MAKANYA CEPAT GANTI MINUMAN GUE TUAN GERALD YANG TERCEMONG!"
Fyi Jarong adalah nama ikan ****** kesayangan Gege. Dan Anabek adalah nana anak Bebek peliharaan Jojo.
Rayyan yang baru masuk ke dalam kamar Jojo hanya bisa geleng-geleng kepala mendengar teriakan Jojo dan Gege.
"Assalamualaikum," ujar Rayyan membuat semua pandangan mengarah padanya.
"Wa'alaikumsalam. Gue pikir lo gak jadi kemari," ujar Kaino yang tengah main game sembari duduk bersandar di ranjang Jojo.
"Kenapa lama Ray, lo gak di tahan sana Tante girang kan?" celetuk jojo. Gege tertawa dan melempar Jojo dengan bantal.
"Ngelawak lo! Belum juga tuh Tante deketin si Ray, udah kebakar duluan," imbuh Gege.
"Lah, emang mereka iblis?" tanya Jojo.
"Hm, iblis penggoda iman mungil lo," timpal Atla, cowok berwajah datar itu tengah duduk di sofa dengan bocah perempuan berusia sembilan tahun tengah berbaring di pahanya sembari memainkan ponsel.
Itu adalah Jini adik perempuan Jojo.
Jojo berdecak. Atla itu kalau ngomong selalu sinis padanya.
"Duduk sini Ray, minum dulu yuk, minum." Gege membersihkan tempat di sebelahnya.
"Lo mau nyuruh Ray minum kaleng kosong hah? Gila lo!" Kaino melempar Gege dengan miniatur pesawat.
Gege hanya nyengir. Jojo mendorongnya lagi dan menyuruhnya berdiri. "Udah sana ke bawah, ambilin kita minum Ge. Buruan!"
"Lah kok nyuruh?" Gege komplen.
"Jangan bangkitkan jiwa sangar gue ya, gue buang di rawa-rawa lo! Buruan ambilin minum!" Jojo mengangkat lengan baju hitamnya dan melotot pada Gege.
"Duh, atut ama jiwa meongnya Mas Jojo," ejek Gege, sok- sokan takut.
Jojo emosi, ia mau menyerang Gege namun Rayyan langsung melerainya.
"Udah, gak capek berantem terus? Saya aja capek liatnya," ujar Rayyan. Jojo dan Gege memang suka sekali membuat ulah.
"Tuh dengerin ustadz nya gue," ujar Gege, ia menjulurkan lidahnya pada Jojo.
Jojo melotot. "Lo kristen ogeb." Gege hanya nyengir. Cowok itu memilih turun ke bawah untuk mengambil minum.
Rayyan duduk di ranjang dan menghela napas. Jojo ikut duduk di sampingnya.
"Kenapa lo? Bingung gitu mukanya," tanya Jojo. Ia merangkul pundak Rayyan.
Rayyan menggaruk tengkuknya. "Tasbih saya, kayaknya jatuh di rumah gadis itu deh," ujar Rayyan. Saat tiba di rumah Jojo, ia sempat mencari tasbihnya yang entah ada di mana. seingatnya pulang sekolah itu masih ada, sampai di tempat Kiana. Kemungkinan, tasbihnya tidak sengaja jatuh di situ.
Kalimat yang Rayyan ucapkan terdengar biasa saja, namun semua mata langsung tertuju padanya.
"Anjir Ray, gadis saha?" tanya Jojo. Kaino langsung mendekat, kepo juga.
Atla pun penasaran, ia menatap ke arah Rayyan dan menunggu lanjutan cerita dari sahabatnya itu.
Rayyan berdehem. "Emh, teman di sekolah baru saya," balas Rayyan. Keningnya mengerut saat melihat kelakuan Kiana yang jujur saja membuat ia bergidik ngeri.
"Iya saha Ray? Lo udah punya tambatan? Cantik kagak? Baik kagak? Sholehah kagak?" Jojo menyerangnya dengan banyak pertanyaan.
Oh tentu saja. Rayyan dekat dengan perempuan oy. Mereka sudah pasti kaget.
"Atau jangan-jangan Sholehot Ray?" celetuk Atla.
Rayyan menggeleng kecil, sedikit tidak paham dengan maksud pertanyaan sahabatnya.
"Eh bentar, ini jidat lo kenapa di plester? Jatuh lo?" Jojo menunjuk luka di pelipis Rayyan.
"Oh ini? Hanya luka kecil," balas Rayyan.
Jojo mengamati wajah Rayyan. "Gue nanya luka doang, kenapa muka lo merah Ray?"
Rayyan melotot. Cowok itu berdehem saat merasakan wajahnya kembali memanas saat mengingat wajah Kiana.
"Emh, ti-tidak apa-apa. Ah, saya izin mandi ya Jo, mau sholat ashar." Rayyan beranjak berdiri dengan cepat. Ia mengusap tengkuknya dan berjalan mencari kamar mandi.
"Itu jalan keluar Ray! Toilet di sebelah situ," ujar Jojo.
Rayyan berdehem lagi. Ia tersenyum canggung dan berjalan menuju kamar mandi Jojo.
"Aneh sih Ray, gelagatnya kayak bocil lagi jatuh cinta," ujar Kaino.
Di dalam kamar mandi, Rayyan membasuh wajahnya di wastafel. kemudian menatap pantulan wajahnya di cermin. Matanya terpejam, berusaha menghalau segala macam pikiran mengenai Kiana.
"Gadis itu sangat berbahaya," gumam Rayyan. Baru bertemu dengan Kiana, namun Rayyan sudah merasa ngeri dengan tindakan bar-bar gadis itu. "Menghindar adalah pilihan yang tepat."
Rayyan <> Kiana