Kiana Story

Kiana Story
Bab 15



Lain dengan ketiga gadis yang sudah pergi, Azam dan teman-temannya tengah mengusap wajah yang terkena semprotan dari Alira.


"Bangsat!" maki Azam kesal.


Elsa mengucek mata dan menoleh pada Azam. "Zam, mata aku perih." adu Elsa pada Azam.


Azam menghela napas panjang. "Jangan di kucek, nanti matanya merah." peringat Azam. "Ke toilet aja gih, terus basuh sama air."


Elsa mengangguk kemudian ia mengangkat wajahnya dan melihat ke arah dua sahabat perempuannya.


"Aku pergi dulu, itu udah ada Nina sama Ami." pamit Elsa, Azam mengangguk begitu juga dengan yang lain.


"Hati-hati jalannya, Sa." Ringga menepuk pucuk kepala Elsa saat gadis itu akan pergi.


Elsa tersenyum cerah dan mengangguk sebelum berlalu pergi menghampiri kedua temannya. Murid lain juga sudah kembali ke urusan masing-masing. Sedangkan inti dari Tiger masih betah di parkiran.


"Bini lo berubah drastis, Zam." ucap Bian sambil menyugar rambut. "Dan tunangan lo, kejam banget, Ga." lanjut Bian sambil menatap Ringga.


Alan mengangguk. "Mata gue perih banget njirr, kalau buta gue minta tanggung jawab tuh. Gue suruh jadi pacar satu Minggu baru tahu rasa dia." ucap Alan si fakboy kelas lele.


"Bilang apa lo?" sahut Ringga membuat Alan terkekeh.


"Canda aelah. Tapi kalau dia mau gak papa juga sih, dari pada jadi tunangan nggak di anggap sama lo." ucap Alan membuat wajah Ringga semakin datar.


"Ambil aja." ucapnya sambil mengedikan bahunya. "Itupun kalau lo bisa." lanjutnya.


"Lan, kita berdua cosplay jadi pebinor yok! Lo rebut Alira, gue rebut Angel. Beuhh apalagi neng Angel semakin geulis, makin terpesona gue." ucap Bian disertai tertawa. "Dan lagi nih ya, dia udah berubah banget. Kalau dulu matanya hanya tertuju sama Azam, sekarang udah nggak lagi hahaha. Angel kayak mau ngasih lampu ijo sama cowok lain. Udah capek kali ngejar Azam yang nggak bisa di gapai." ucap Bian sambil merangkul bahu Alan.


Alan mengangguk seolah menyetujui. "Yoklah, dari pada di sia-siain sama si paketu dan si bapakhara, mending buat kita berdua aja." ucap Alan semangat.


Bapakhara adalah sebutan Geng Tiger pada Ringga, karena pria itu bendahara di geng Tiger. Sebutan itu berawal dari Bian, ia mengatakan jika Ringga itu laki-laki, tidak mungkin di sebut "Bundahara" maka dari itu Bian mengganti menjadi "Bapakhara". Ada-ada saja kelakuan Bian.


Azam dan Ringga saling lempar pandang sebelum menatap datar ke arah Bian dan Alan.


"Mau mati?" tanya keduanya membuat Bian dan Alan meringis.


"Sante dong, sante." ucap Bian sambil menggerakkan tangan di depan dada.


Dari arah belakang mereka, seorang pria bertubuh besar dengan perut buncit sedang berkacak pinggang dan menatap horor ke arah mereka. Waktu pembelajaran telah di mulai, namun mereka masih asik nongkrong di parkiran.


"Apa telinga kalian sudah di makan semut sampai nggak dengar bel masuk?" teriak pria buncit membuat pandangan ke empat cowok itu mengarah padanya.


"Eh pak Jamet." ucap Bian nyengir. "Sante aja dong, Pak. Teriak-teriak gitu nggak bisa buat Bapak dapat bini." lanjut Bian membuat guru killer itu kesal.


"Mau saya jahit mulut kamu hah! Sembarangan kalau ngomong!" Marah pria itu pada Bian.


Pria itu adalah guru killer SMA Garuda. Pak Jamaludin namanya, namun Bian lebih sering memanggilnya Pak Jamet, karena tatanan poni rambut guru itu.


"Jangan di jahit Pak. Di cium aja, Bian mau kok." Bian merubah nada suaranya seperti banci kaleng, membuat Pak Jamet semakin melotot kesal.


"Kok keliling dunia sih? Ngagk asik Bapak nih! Keliling surga dong." Bian masih terus nembuat Pak Jamet kesal.


Hingga pada akhirnya, guru killer itu memungut krikil dan melemparkannya ke arah empat cowok itu.


"Masuk sekarag atau saya tidak akan berhenti melempar kerikil ini pada kalian!" ancam Pak Jamet, memang mengurus ke empat brandalan itu sungguh membutuhkan stamina yang banyak.


****


Kiana menghela napas sambil memperbaiki seragam sekolahnya. Kemudian ia menatap pantulan wajahnya di cermin yang tersedia di dalam toilet.


Ini adalah awal. Awal di mana Kiana harus memerankan tokoh Angel yang terkenal dengan atittude buruknya di sekolah ini. Entah bagaimana kedepannya, yang jelas Kiana harus menyiapkan diri.


"Keadaan tubuh gue gimana ya?" Sebenarnya, pertanyaan itu selalu berputar di benak Kiana. Ia penasaran bagaimana keadaan dirinya, begitu juga dengan kabar Devan sekarang.


"Lama banget Kia, mau jadi penunggu toilet?" seperti biasa, Alira akan menceramahinya.


Kiana langsung menoleh dan melihat Alira yang tengah bersedekap dada.


"Ini udah selesai. Yuk balik." Kiana menarik tangan Alira untuk menuju ke kelas mereka. "Si Loli mana?" tanya Kiana, setelah tidak mendapati kehadiran sepupu Alira saat keluar dari toilet.


"Dia pamit ke ruang kepsek." jawab Alira.


Kiana mengangguk saja, kemudian kedua gadis itu kembali melangkah menyusuri koridor. Keadaan koridor kelas XI yang ramai, mendadak menjadi hening saat kedua gadis cantik itu melintas. Bahkan mereka langsung menyingkir, seolah memberi jalan pada Alira dan Kiana.


Bruk!


"Awww..."


Langkah Kiana dan Alira langsung terhenti saat mendengar seorang gadis jatuh tersungkur di depan keduanya. Karena tidak sengaja di senggol siswa lain saat berusaha untuk memberi jalan pada dua gadis yang terkenal dengan julukan iblis cantik.


"Mau jadi suster ngesot Lo?" tanya Alira datar, gadis itu bersedekap dada dengan wajah angkuh.


Gadis yang jatuh itu langsung mengangkat kepala untuk menatap ke arah Kiana dan Alira.


"Loh, si cewek gatel ternyata." Alira terkekeh sinis saat melihat wajah gadis itu yang ternyata adalah Elsa.


"Oh, pelanggan ojeknya Azam tadi pagi ya? Baru sekarang gue liat mukanya." ucap Kiana sambil ikut terkekeh kecil.


Meraka saat ini sudah menjadi pusat perhatian semua orang. Elsa menunduk karena malu, ia berharap jika dua sahabatnya cepat datang dan membawa ia pergi dari sini.


Kiana kemudian berjongkok di depan Elsa. Semua murid mulai menyaksikan, kira-kira apa yang akan Kiana lakukan pada Elsa sekarang. Apalagi mereka semua tahu, seberapa bencinya seorang Angel pada Elsa.


"Lo beneran mau jadi suster ngesot? Ayo berdiri, seragam lo udah kotor tuh." ucap Kiana pada Elsa.


Semua orang yang berada di situ tercengang, saat melihat Kiana yang membantu Elsa berdiri. Begitu juga dengan Alira, dia pikir sahabatnya itu akan menjambak atau paling tidak memberi sedikit sentuhan kasar pada Elsa, mengingat jika gadis itu masih kegatelan pada suaminya Azam.


Hallo gaes, jangan lupa komen sebanyak-banyaknya ditunggu pokoknya. Terimakasih🙏