
Kiana menghela napas sambil menyandarkan punggung di sandaran sofa. Ia memejamkan mata sejenak sambil memijat pelipisnya.
Capek juga, padahal ia hanya berbicara sedikit dengan keluarganya tadi. Entahlah, sifat mereka membuat Kiana kesal sendiri, bisa-bisanya berperilaku seperti itu pada anak sendiri. Apa mereka tidak tahu, jika Angel yang lebih tersiksa dengan semua ini.
Mereka berperilaku, seperti mereka saja yang lebih kehilangan, padahal Angel yang seharusnya merasakan itu. Bayangkan saja, dia lahir bertepatan dengan kematian Ibunya. Ia juga tidak bisa melihat wajah sang ibu secara langsung.
"Nggak ada otak banget. Yakin gue, pas pembagian otak, itu keluarga di skip. Makanya gak bisa mikir." gerutu Kiana kesal. "Gue satuin sama Azam aja deh, langsung komplit tuh. Udah nggak ada otak, nggak ada hati. Fiks, cocok kompak banget mereka." lanjut Kiana membayangkan sifat Azam yang sama seperti sifat keluarganya.
"Huft..."
Bahkan memikirkan sifat mereka membuat Kiana capek dan haus. Ia menatap minuman di meja yang tidak di sentuh sama sekali. Kiana langsung meminum jus jeruk itu hingga habis dua gelas.
Bersyukur belum di sentuh oleh keluarganya tadi. Kalau sudah di sentuh, mana mungkin Kiana mau meminumnya. Bukannya jijik, tapi Kiana jaga-jaga saja. Takutnya malah tertular sifat nggak ada akhlaknya.
"Loh, Keluarga kamu udah pulang?" tanya zara yang baru saja datang.
Kiana mengangguk. "Barusan Mom."
Zara mengangguk mengerti. Ia tidak bertanya mengenai apa yang di perbincangkan Kiana dan keluarganya tadi, karena Zara merasa itu privasi mereka.
" Oh iya, Azam belum balik ya?"Zara bertanya sambil duduk di sofa sebrang Kiana. "Dasar anak itu bandel banget sih! Mommy capek banget omelin Azam yang nggak bisa berubah." Zara menghela napas, sedikit kesal dengan sikap putranya.
"Tunggu negara api menyerang, baru dia berubah kali Mom." ucap Kiana, kemudian keduanya tertawa bersama.
Suara deru motor memasuki indra pendengaran Kiana. Bukan hanya satu, namun seperti ada beberapa motor. Kiana menoleh ke arah pintu masuk, bertepatan dengan si pengendara tadi yang masuk.
"Mommy Zara, yuhuuu Bian ganteng datang." teriak Bian.
"Bian kebiasaan banget suaranya, kayak orang utan saja." ucap Zara menatap Bian dan menggelengkan kepalanya.
Bian nyengir, dan menyalami tangan Zara di ikuti yang lainnya.
"Assalamualaikum, Tan." ucap Ringga saat menyalami tangan Zara.
Zara tersenyum. "Wa'alaikumsalam. Gitu dong kayak Ringga, ucap salam bukan teriak-teriak." ucap Zara tersirat menyinggung Bian.
Bian tersenyum mendengar perkataan Zara. Ia segera duduk di sebelah Zara begitu juga dengan Alan yang ikut duduk di sebelah Zara. Jadi posisi Zara sekarang berada di tengah dua cowok itu.
"Hallo Tante." sapa Elsa ikut menyalami tangan Zara.
"Eh Elsa, duduk dulu." suruh Zara.
Elsa tersenyum manis dan mengangguk. Ia melihat sekitar, tempat yang kosong tinggal di sebelah Kiana, ia memilih duduk di sebelah gadis itu. Membuat Ringga, Alan dan Bian menatap waspada. Takut jika Elsa di serang oleh Angel.
"Hai Angel, ini aku bawain kamu cemilan. Aku nggak tau kamu suka apa. Jadi aku asal pilih aja." Elsa menyerahkan paper bag pada Kiana. "Maaf ya, aku nggak jenguk kamu waktu di RS, bisanya sekarang mumpung hari Minggu." lanjut Elsa mengambil duduk di sebelah Kiana seperti orang akrab.
Kini semua pandangan tertuju pada Kiana, begitu juga dengan Zara yang ikut menatap Kiana. Mereka tahu bagaimana sifat gadis itu jika berhadapan dengan Elsa, yang notabenenya adalah sahabat Azam. Mereka semua tahu, Angel sangat tidak menyukai Elsa.
"Sa.." peringat Ringga.
Kiana mengangkat sebelah alisnya dan menatap Elsa yang terus tersenyum lebar.
"Thanks.." Kiana berucap sambil mengambil pemberian Elsa dan melihat isinya. Seketika matanya berbinar saat melihat ada cokelat di dalamnya. "Mood booster gue. Tau aja lo kalau gue lagi pengen makan cokelat." lanjut Kiana, rasa kesal terhadap keluarga Budiman tadi kini telah hilang karena melihat cokelat.
Cokelat makanan kesukaan Kiana. Ia tidak menyadari jika semua orang menganga melihat tingkahnya yang di luar dugaan.
Dari arah luar, Azam baru saja datang dengan motor merah kesayangannya. Pandangan mata tertuju ke arah motor-motor yang terparkir.
"Di sini ternyata, pantas aja nggak ada di markas." gumam Azam dan berjalan masuk ke dalam rumah.
Hal yang pertama ia lihat adalah sahabat dan Mommy yang terdiam di ruang tamu membuat kening Azam berkerut.
"Ada apa nih?" tanya Azam heran.
"Eh Azam, dari mana aja lo? Baru aja gue mau tanyain ke Mommy." ucap Bian setelah melihat kehadiran Azam.
"Markas." jawab Azam singkat.
"Hai, Azam." sapa Elsa saat Azam menatapnya.
"Bareng siapa ke sini?" tanya Azam pada Elsa.
"Bareng Ringga, dia jemput aku tadi." jawab Elsa masih terus tersenyum.
Kiana memandang Azam dan Elsa secara bergantian. Kemudian pandangannya tertuju pada Azam. "Lembut sekali suara Azam saat berbicara dengan Elsa. Sedangkan dengan dirinya sendiri, kalau bukan dingin ya ngegas." batin Kiana.
"apa lo liat-liat?! sentak Azam.
Nah kan, baru bilang udah ngegas. "Najis banget ngeliatin lo!" ucap Kiana dan berdiri menjinjing paper bag pemberian Elsa.
"Mau kemana, sayang?" tanya Zara ikut berdiri.
"Mau cari Ipin, Mom. Kiana mau makan cokelat bareng dia aja. Lagian saya kayaknya nggak ada urusan dengan mereka." ucap Kiana dan menatap sinis ke arah Azam. " Kia, ke sana dulu Mom." pamitnya dan langsung pergi begitu saja dan mencari keberadaan Ipin.
Semua yang ada di ruang tamu menatap punggung Kiana yang mulai menjauh dengan bingung.
"Itu beneran Angel?" Alan tidak bisa menyembunyikan rasa herannya.
"Wajahnya sih iya, tapi sikapnya sangat meragukan" timpal Bian mengusap dagunya. "Gila aja sih, tumben banget dia nggak kaor-kaor pas lihat Elsa." lanjut Bian mengutarakan keheranannya.
Zara mengusap tengkuknya yang tidak gatal. Ia juga sedikit heran dengan sikap Mantunya itu. Zara sangat tahu betul bagaimana sifat seseorang Angelina, dari jeleknya sampai baiknya Zara tahu semuanya.
"Kalian ngobrol dulu ya, Tante mau ke sana dulu." ucap Zara, ia menepuk pundak Azam sekilas.
"Mom Zara, buatin jus buat Bian ya." pinta Bian saat Zara sudah berlalu pergi.
"Iya, nanti di anterin Bibi." balas Zara.
Di ruang tamu tersisa Azam dan para sahabatnya. Azam mengambil tempat duduk di sebelah Elsa, tepatnya di tempat Kiana tadi.
"Istri lo aneh banget Zam." ucap Alan.
Azam mengedikkan bahunya. Memilih menyandarkan punggungnya di sandaran sofa. "Bukan istri gue."
Mereka semua tertawa kencang kecuali Azam.
*****