Kiana Story

Kiana Story
Bab 49



Kiana berjalan melewati koridor sekolah bersama dengan Alira yang berada di sebelahnya. Tak lupa Alira yang saat ini sedang menggandeng tangannya dan terlihat sedang menatap Kiana dengan pandangan sendu.


"Ki, are you okey?" tanya Alira dengan menghentikan langkahnya dan memegang kedua bahu Kiana.


"Hmmm... aku baik-baik saja Ra. Cuma hati ini kenapa rasanya sesak sekali." ucap Kiana dengan mata berkaca-kaca.


Ia sangat tahu perasaan siapa ini, ini adalah perasaan si pemilik tubuh yang ia tempati saat ini. Dan ia sangat membenci perasaan ini. Angel pemilik tubuh begitu sangat mencintai Azam, namun Azam sangat kelihatan perhatian kepada sahabatnya yang bernama Elsa.


"Gue tau, lo cinta sama Azam Ki. Tapi lo pikir-pikir lagi deh! Dia selalu aja nyakitin lo Ki!" ucap Alira sambil mengguncang tubuh Kiana, ia tidak mau sahabatnya di sakiti lagi.


"Gue capek Ra, gue pengen pisah aja sama Azam. Tapi, gue masih mikirin perasaan kedua orang tuanya. Mereka sangat sayang sama gue!" ucap Kiana diiringi dengan derai air mata.


Alira yang melihat Kiana menangis segera mengusap air mata yang ada di pipi gadis itu. Ia dengan segera memeluk sahabatnya dan menenangkannya.


"Pasti ada jalan buat masalah ini Ki, lo yang sabar ya." Pinta Alira dengan sedih.


Kiana mendongakkan kepalanya menatap Alira dengan tersenyum. "Thanks Ra, lo selalu temenin gue selama ini." ucap Kiana.


"Lo itu sahabat gue Ki, nggak usah ngomong gitu."


Alira dan Kiana saling melempar senyum kemudian kembali melanjutkan langkah menuju parkiran sekolah.


Langkah Kiana terhenti saat melihat pemandangan yang ada di depannya. Bahkan Alira dan juga para murid yang belum pulang ikut di buat bingung dengan adanya dua ambulance terparkir rapih di depan gerbang lengkap dengan tim medis.


Mereka mulai bertanya-tanya, siapa yang sakit atau ada kejadian apa hingga dua mobil ambulance itu ada di sini.


"Ki, lihat sana." Alira langsung memutar tubuh Kiana agar menatap ke arah mobil hitam yang baru datang di ikuti beberapa motor sport yang di mana pengendaranya memakai jaket kulit dengan lambang yang sama.


"Pa-papi?" kaget Kiana dengan kehadiran Zain yang baru keluar dari mobil. Setelan jas hitam dan juga kaca mata hitam yang bertengger di hidung mancungnya membuat mata para kaum hawa di buat tidak bisa berkedip.


"Geng Serigala juga, Ki," ujar Alira lagi sambil menunjuk gerombolan motor besar yang sudah terparkir di sebelah mobil Zain.


"Drama apa lagi nih?" gumam Kiana.


Loli yang berada di sebelahnya, kini matanya terpukau melihat waja Zain. Lantas gadis itu menggoyangkan lengan Kiana.


"Ki, mertua kamu gak lagi open istri kedua? Loli mau daftar soalnya," celetuk Loli membuat Alira mendengus pelan.


"Belum daftar, lo udah di bacok Mommy Zara duluan kali, Li," balas Kiana membayangkan wajah Mommy Zara kalau tahu Papi Zain cari istri kedua.


Loli cemberut. "Pupus sudah harapan Loli. Padahal Loli sudah mencium aroma-aroma dollar, beuh kalau jadi istri keduanya Uncle Zain, Loli langsung buat istana permen terbesar di dunia. Tapi sayang, itu cuman jadi khayalan Loli aja," ujar Loli tambah murung.


Kiana terkekeh dengan tingkah Loli. Kemudian ia tersenyum ke arah Zain yang sudah berdiri di depannya. Bukan hanya Zain, tapi Devan dan juga teman-temannya.


Para petugas dari dua ambulance ikut mendekat sembari membawa brankar.


"Mana pasiennya Pak?" tanya salah satu dari petugas ambulance itu.


"DIA!"


"Hah?"


Keadaan menjadi hening setelah dua suara pria terdengar secara bersamaan. Kiana mengerjap berkali-kali kala dua telunjuk mengarah padanya.


"Ini maksudnya apa? Aku nggak sakit loh, Pi," ujar Kiana meminta penjelasan pada Zain. Bagaimana bisa dua ambulance datang hanya untuk dirinya yang tidak sakit apa-apa.


Zain menatap Kiana dengan lembut sembari mendekat dan menangkup wajah Kiana, dengan mengusap lebam di pipinya bekas bogeman Azam tadi.


Zain menggeram pelan melihat pipi mantu kesayangannya meninggalkan bekas merah keunguan.


"Mantu Papi harus ke rumah sakit, nih, wajah mantu Papi lebam kena tonjok kan? Pokoknya Kiana nurut aja ya, Papi udah siapin dokter spesialis kulit terbaik buat obatin wajah Kiana," ujar Zain dengan lembut.


Zain punya banyak mata-mata di sekolah ini. Dan betapa terkejutnya ia saat ada orang yang melaporkan jika menantunya kena tonjok oleh cowok yang notabenya adalah suaminya sendiri.


Zain langsung dilanda khawatir, bahkan ia langsung meninggalkan rapat dan menyuruh asistennya agar mengirim ambulance segera ke sekolah.


Kiana masih terdiam. Wajahnya menatap heran ke arah Zain. Lelucon macam apa ini?


"Pi, ini berlebihan banget tau nggak. Aku hanya kena tonjok, lagian udah agak mendingan kok, jadi suruh balik aja tuh ambulance nya," pinta Kiana. Ia bisa melihat wajah para petugas yang sama terkejut saat tahu jika pasien yang mereka jemput hanya kena tonjok.


"No! Gak bisa, pokoknya harus ke RS dulu," Kekeh Zain, ia hendak menarik tangan Kiana ke arah ambulance yang ia siapkan.


Namun Devan dengan cepat menahan tangannya.


"Maaf Om, tapi Kiana harus naik ambulance yang udah saya siapkan," ujar Devan denhan sorot mata tajam. Sama halnya dengan Zain, Devan juga punya banyak teman di sekolah ini yang ia suruh untuk mengawasi Kiana.


Dan betapa terkejutnya ia saat tahu jika Kiana di tonjok oleh Azam. Saat itu Devan langsung di buat emosi, tanpa pikir panjang ia menyuruh Usman untuk menelfon ambulance agar segera ke SMA Garuda.


"Enggak! Ambulance suruhan saya yang lebih dulu datang, jadi Kiana bakalan naik itu ke rumah sakit," ucap Zain tidak mau kalah.


"Gak boleh gitu Om, Kiana harus naik ambulance suruhan saya!"


"No!No!NO! Enak banget lo! pokoknya mantu saya harus naik ambulance bareng saya!"


"Dengan saya Om!


"Gak boleh, Kiana harus naik ambulance bareng saya!"


"Baku hantam ayok Om!"


"Kuyy saya tidak takut!"


"STOP!" pekik Kiana yang di buat frustasi dengan tingkah memalukan dua laki-laki berbeda generasi itu.


Pekikan Kiana berhasil membuat dua laki-laki itu terdiam. Berbarengan dengan itu, Azam datang dengan membantu memapah Elsa yang nampak lemah diikuti sahabatnya dan juga Ringga.


"Papi, Devan?" Kening Azam mengerut kala melihat Papi dan juga musuh bebuyutannya ada di sini. Ia juga di buat tambah bingung dengan keberadaan dua mobil ambulance di depan.


Kiana menghela napas gusar. Kerasukan jin apa mereka ini? Ah, demi apapun Kiana malu sekali dengan kejadian ini.


Tak beda jauh dengan mereka semua, Elsa pun ikut mengerutkan keningnya. Ia menatap ambulance dan Zain secara bergantian. Bibirnya tersenyum kecil saat netranya bertubrukan dengan Zain. Elsa menyalah artikan keadaan.


"Loh ada ambulance? Padahal Elsa gak apa-apa kok Om, kok sampe di bawain ambulance kayak gini? Elsa juga cuman kena tampar dikit dan Elsa juga udah bisa jalan. Jadi gak perlu repot-repot di datengin ambulance. Apalagi sampe Dua," ujar Elsa dengan begitu percaya diri.


Alira spontan tertawa terbahak mendengar kalimat kepedean Elsa. Sedangkan Kiana hanya tersenyum smirk. Ia jadi ingin memberi satu contoh lagi pada Elsa, bagaimana posisi ratu itu sebenarnya.