
Senyuman miring tercetak jelas di bibir merah merona wanita itu. Tangannya memegang gelas bening yang berisi setengah cairan wine yang terasa panas di tenggorokan saat di teguk.
Alunan musik Dj menggema di telinganya, seolah ikut merayakan kemenangan wanita itu. Di sekelilingnya banyak wanita dengan pakaian kurang bahan menari dengan jajaran pria hidung belang seperti tidak punya urat malu lagi.
Pergantian tahun tinggal menghitung menit, senyuman wanita itu semakin mengembang lebar.
"Tahun baru penuh kemenangan," gumam Elsa dengan meneguk habis minuman itu dan sesekali meliukkan tubuhnya mengikuti alunan Dj.
"Kiana...End!" Elsa tertawa, wanita itu membiarkan tubuhnya di jamah laki-laki brengsek yang berdiri di sebelahnya.
"Mau bersenang-senang dengan ku, cantik?" tanya pria berumur itu pada Elsa dengan kedipan mata nakalnya.
"Not bad, lagipula ini adalah malam yang penuh kebahagiaan. Ayo saling memuaskan." Elsa mengedipkan matanya.
Suasana hatinya yang baik, kala bayangan tubuh Kiana terhempas saat ia tabrak tadi. Maka dari itu, ia harus membagi kebahagiaannya pada orang lain.
"Ayo sayang, kau akan ku puaskan sampai pagi." ujar pria itu menuntun Elsa ke suatu ruangan yang tersedia di club. "Kita akan merayakan pergantian tahun baru dengan mendesah nikmat satu satu sama lain. Bukankah itu menyenangkan?"
"Of course Daddy," balas Elsa genit.
****
Alira kacau saat mendengar kabar hilangnya Kiana. Bahkan semua orang juga ikut cemas dengan keadaan Kiana.
Mereka sudah mencari Kiana dari siang tadi hingga sekarang sudah menunjukkan pukul 23:45 malam. Bahkan Devan, Sari dan anggota Srigala ada di situ untuk mencari Kiana.
"Gimana Pi? Masa Kiana gak ketemu? Lapor polisi aja cepet!" Alira khawatir teramat dengan Kiana.
"Polisi gak bakalan nerima laporan kita, belum dua puluh empat jam sayang," balas Dul dengan mengusap rambut Alira.
Loli berdiri di samping Jeje dan memeluk cowok itu dengan isak tangis. "Loli takut Kia kenapa-napa je," ujar Loli, Jeje mengusap rambut gadis itu. "Jangan sedih, semua bakalan baik-baik saja. Kiana pasti ketemu."
Tidak jauh berbeda dari mereka, kini Bram juga khawatir dengan keadaan putrinya.
"Pa, Wulan khawatir, gimana kalau Kiana kenapa-kenapa?"
"Tenang sayang, kita tunggu informasi dari orang suruhan Papa."
Semuanya berawal dari Damar yang datang ke rumah Alira untuk menjemput Kiana. Alira tentu saja bingung, karena Kiana tidak menampakkan batang hidung di rumahnya sedari pagi.
Damar terkejut, ia juga mengatakan kalau Kiana tidak bisa di hubungi. Keduanya tambah panik, hingga mengabari semua orang untuk menanyakan apa mereka melihat Kiana.
Hingga Devan dan Sari datang dengan membawa pesan teror yang mengatakan jika Kiana dalam bahaya. Saat itu juga, mereka turun tangan melacak keberadaan gadis itu melalui ponselnya, namun tidak membuahkan hasil.
"Lima menit lagi pelepasan," ujar Davian tiba-tiba setelah melihat jam di pergelangan tangannya.
Mereka semua terdiam di halaman depan rumah Alira, niat ingin melepas tahun baru bersama, namun kejadian tak di inginkan ini malah terjadi.
Hingga letusan kembang api yang mulai menghiasi langit malam membuat mereka terkejut.
"Happy new year." ujar Davian dengan tersenyum tipis.
****
Di lain tempat, di sebuah ruangan yang sangat gelap, hanya cahaya sinar rembulan di jendela yang menjadi titik cahaya di ruangan itu.
Ada sebuah ranjang yang di tempati gadis yang tidak sadarkan diri. Di sebelahnya, cowok berpakaian hitam sedang mengamati gadis itu.
"Happy new year," ujarnya, jari telunjuknya membelai lembut wajah gadis yang terlelap itu.
***
Sekarang sudah tanggal empat januari dan sudah selama itu Kiana belum juga di temukan. Semua orang suruhan mereka tidak bisa melacak keberadaan Kiana.
Keluarga Kiana, dan para sahabat merasa terpuruk. Alira dan Loli banyak diam begitu juga dengan Damar dan Wulan.
Elsa berdiri di pijakan tangga tengah dan menatap sahabat Kiana yang tengah duduk di kursi yang tersedia di koridor dengan wajah sedih.
Elsa tersenyum penuh kemenangan. Ternyata pria misterius yang membantunya itu sangat pandai menyembunyikan Kiana. Ah, Elsa berharap jika gadis itu di lenyapkan sekalian saja.
"Bahagianya diriku," ujarnya bersenandung senang.
Bukan hanya Elsa, semua orang juga terkejut.
"KIANA!"
Saudara kembar itu langsung menerjang tubuh Kiana dan memeluknya dengan erat.
"I..ini beneran kamu kan?"
"Aku lagi gak berhalusinasi kan?"
"Lepasin, gue gak bisa napas!"
"Hiks... Kemana aja hm? Kenapa ngilang tiba-tiba, gue takut banget." Wulan menangis di leher gadis itu.
Kiana tersenyum kala pandangannya tertuju pada sahabatnya yang menatapnya dengan terkejut sekaligus bahagia.
"Gue baik-baik aja kak, udah gak usah nangis, lagian gue udah di sini." Bukannya berhenti, tangisan Wulan semakin kencang. Ia semakin memeluk Kiana erat.
"Jangan gitu lagi ya," pinta Wulan.
"Gak akan Kak," ujar Kiana.
"Janji?"
"Janji," ucap Kiana agar Wulan berhenti menangis.
"Aaaa Bayi devil gue!" Selepas Wulan melepaskan pelukannya. Alira langsung memeluk Kiana dengan haru.
"Kemana aja? Lo buat geger semua orang. Sumpah gue nangis terus selama lo ilang. Dan sekarang lo udah ada di depan kita tiba-tiba gini, gak lucu hiks."
"Udah, kenapa pada cengeng gini sih, sekarang mending biarin gue duduk dulu, pegel ini kaki," ucap Kiana kesal.
Mereka menuntun Kiana untuk duduk. "Jelasin semuanya Kia, lo kemana aja selama ini? Siapa yang menculik lo? tanya Alan beruntun.
Kiana terdiam mendengar pertanyaan itu. Ia menggigit bibir bawahnya dan menggeleng. "Gue gak tau," ujar Kiana.
Ia mulai menjelaskan kejadian awal ia di teror dengan kata penculikan Alira hingga berakhir di jalan sunyi itu. Mereka tentu saja terkejut apalagi Alira, karena pada saat itu ia hanya ada di rumah dan tidak pernah di culik.
"Jadi lo di tabrak atau gimana?" tanya Alira penasaran.
"Gue gak tau, pas mobil udah mau nabrak, gue gak ngeliat apa-apa lagi. Kayaknya gue pingsan deh, dan pas bangun malah udah ada di ruangan yang mewah banget. Dan kayaknya gue gak jadi ketabrak deh. Soalnya gak ada bekas luka di tubuh gue.
Mereka diam mendengar penjelasan Kiana. Elsa yang berada di sana tentu saja terkejut.
"Terus lo di apain aja di ruangan itu? Si penjahat itu gak kasarin lo kan? Gak nyiksa lo? Gak nampar? Gak mesum dan yang paling penting dia ngasih lo makan kan?" tanya Alira beruntun lagi.
"Satu-satu tanyanya Lira. Kasian Kiana udah kayak di todong wartawan aja." ujar Loli kesal.
"Gue gak di apa-apain. Makanan gue teratur bahkan enak-enak. Gue gak tau ini penculikan atau gimana. Selama di sekap di ruangan itu, gue kayak lagi nginep di hotel gitu. Kebutuhan gue terpenuhi tau gak. Sampe pelayan dan Dokter bolak-balik masuk buat periksa keadaan gue, aneh gak sih?" Kiana menceritakan semua yang di alaminya.
"Lo serius?"
"Yakali gue bohong. Gue sempat nanya sama pelayan yang biasa masuk ke ruangan itu, soal siapa di balik kejadian ini, tapi gak di jawab. Mereka malah pergi ninggalin gue."
"Lo gak pernah keluar dari ruangan itu?" kali ini Damar bertanya.
"Enggak pernah. Gue cuman lihat dari jendela yang menghadap langsung sama taman bunga. Gue gak tau itu di mana. Dan tadi pagi pas gue bangun, gue kaget udah banyak pelayan yang siapin seragam sekolah sama perlengkapan lainnya. Katanya udah waktunya gue ke sekolah dan terbebas dari tempat itu."
"Pas ke sini, lo liat keadaan rumah atau jalannya?" tanya Jeje.
Lagi-lagi Kiana menggeleng. "Pas mau keluar, mata gue malah di tutup pake kain hitam. Dan di buka pas sampai di depan gerbang."
"Aneh banget. Ada ya penculikan kayak gitu?' Alira heran di ikuti mereka semua.
"Kalian aja bingung, apalagi gue yang ngalamin." ucap Kiana. "Kalau penculikannya kayak gini, gue mau lagi deh. Gantung banget gak sampe seminggu, padahal gue berharap sebulan atau lebih," ujar Kiana cemberut. Jujur saja, Kiana sangat senang di ruangan itu, ya walaupun ada rasa sedikit bosan karena gak bisa keluar.
Dan yeah, setelah mengatakan itu, Kiana langsung mendapatkan tatapan horor dari semua yang ada di situ. Sedangkan Kiana hanya cengengesan.