Kiana Story

Kiana Story
Bab 22



Happy reading 🤗


"Gue tau telinga lo masih normal, jadi ucapan gue pasti lo dengar dengan jelas. Atau lo beneran gak dengar karena udah ketutup sama kotoran ya? Makanya rajin di bersihin, Lan. Bukan cuman muka sama badan aja yang lo urus, tapi telinga juga. Kalo perlu lubang hidung juga sekalian bersihin, takutnya lo nggak bisa napas."


Ucapan berani Kiana membuat Wulan dan Damar emosi. Tujuan mereka memang ingin memberi pelajaran pada Angelina.


Jika Angelina terkenal sebagai tukang bully kaum yang di anggap lemah, maka si kembar minus akhlak Damar dan Wulan terkenal tukang bully Angelina. Ya, menjatuhkan mental Angel adalah tujuan si kembar. Mereka tidak suka melihat Angel bahagia.


Bagi mereka, pembunuh seperti Angel harus hancur. Bahkan mereka menyesal karena menikahkan Angel dengan Azam, karena hal itu membuat Angel malah mendapat kasih sayang dari kedua mertuanya.


Plak!


"Berani ya lo sama gue?" Wulan menampar pipi Kiana hingga wajah gadis itu terbuang ke samping.


Kiana terkekeh kecil, ia mengangkat wajahnya dan menatap Wulan tajam. Berhubung mereka saat ini bertengkar di koridor kelas X tepat di depan tangga menuju lantai dua, maka banyak murid yang menyaksikan hal ini.


Apalagi sekarang sudah mulai mendekati jam tujuh, hingga murid-murid sudah banyak yang berdatangan. Tentu saja pertunjukan ini tak ingin mereka lewatkan.


Perdebatan Angel dan kakak kembarnya memang sudah tidak asing di mata murid SMA Garuda. Mereka tahu betul jika ketiga bersaudara itu tidak akur.


Namun kali ini ada hal yang berbeda dari sebelumnya. Terlihat Angel melawan si kembar, biasanya jika si kembar menghampirinya, Angel hanya akan membalas dengan kata-kata, tidak bermain tangan. Yang diinginkan Angel adalah Damar dan Wulan menganggapnya sebagai seorang adik, maka dari itu ia tidak melawan jika di serang oleh si kembar.


Kiana menyeka sudut bibirnya yang berdarah. Ia menatap Wulan dengan sinis sebelum balik menampar pipi kakak dari Angel.


"Gue juga punya tangan loh, jadi jangan heran kalau gue tampar balik." ucap Kiana sambil menyelipkan anak rambut ke belakang telinga, sebelum melenggang pergi menaiki tangga.


Damar mengepalkan kedua tangannya dengan kuat. Ia hendak menarik Kiana dan memberi balasan atas apa yang di lakukan kepada saudara kembarnya, namum hal itu tertahan saat tangannya di tepis kasar oleh seseorang.


Alira datang bersama Loli. Ia menatap Damar dengan tajam dan juga dialah pelaku yang menyentak tangan Damar.


"Maaf ya, tangan bau azab lo nggak boleh sentuh sahabat gue." Alira memang juara. Gadis dengan rambut di kuncir kuda itu menatap Damar dan Wulan remeh.


"Kalian pasti kenal julukan gue sama Angel di SMA ini. So, jangan main-main kalau nggak mau jadi korban Queen Devil selanjutnya." lanjut Alira, ia menatap ke arah tangga di mana Kiana tengah bersandar di dinding dan menatapnya bangga.


Damar dan Wulan kesal bukan main, untuk pertama kalinya Angel berani dengan mereka berdua. Bahkan gadis itu terang-terangan main tangan. Biasanya kerjaan gadis itu hanya mencari perhatian mereka.


"Cabut, Al. Berhadapan sama kuman kayak mereka bisa buat kita nggak sehat." ucap Kiana.


Loli si cewek pecinta permen itu langsung menggandeng tangan Alira dan membawanya pergi menghampiri Kiana.


"Ihhh... Loli takut, nanti kalau Loli sakit kena kuman. Loli nggak di kasih makan permen lagi sama Bunda. Huaaa! Ayo kita pergi Alira." racau Loli, seperti biasa gadis Childs itu akan heboh sendiri.


"Cabut guys." ajak Kiana ia berdiri di tengah dan menggandeng bahu kedua sahabatnya. Matanya mendelik ke arah murid-murid yang ia yakini kelas XI dan XII itu langsung berlari pergi.


Ah, Kiana jadi tidak sadar, jika sifatnya akan berubah seperti ini. Di kehidupan sebelumnya, Kiana terlampau santai. Kecuali adu bacot dengan Ibu tirinya. Jika di sekolah, tak ada yang berani berurusan dengannya karena Kiana punya pawang yaitu Devan.


Namun sekarang, Kiana berdiri di sini untuk membalas orang-orang yang mengusik ketenangannya.


"Al, laper nih ke kantin dulu yuk." ajak Kiana. "Adu bacot di pagi hari ternyata menguras tenaga." sambungnya lagi.


Alira terkekeh dan mereka bertiga pergi ke kantin. Tidak memperdulikan jika sebentar lagi bel masuk berbunyi.


Kejadian tadi tak luput dari pandangan anggota Tiger. Bahkan Bian tersentak melihat Kiana menampar balik Wulan yang merupakan saudara kandungnya.


"Yakin gue, pipi si Wulan tercetak cap lima jari Kiana." ucap Bian bergidik sesaat. Balasan tamparan Kiana lebih kencang tadi itu. "Makin terpesona gue sama neng Kiana. Gila, gue paling demen cewek yang kayak gitu. Beuhh gue jadiin pac...eh, nggak jadi deng." Bian nyengir saat merasakan aura seram di sebelahnya.


"Cabut." ucap Azam dingin dan berlalu lebih dulu. Bian dan Alan langsung mengikuti sang ketua, meninggalkan Ringga dan Elsa.


"Elsa, jauhi Alira mulai sekarang." ucap Ringga pada Elsa yang berdiri di sebelahnya. "Mereka semakin bahaya buat lo." sambung Ringga.


Elsa hanya mengangguk singkat pertanda mengerti, dan mereka segera pergi menuju kelas. Sebelum itu Ringga mengantarkan Elsa ke kelasnya terlebih dahulu. Barulah dirinya menuju kelasnya sendiri.


***


Waktu berjalan begitu cepat tidak terasa bel pulang sekolah telah berbunyi. Inti dari geng Tiger dan juga beberapa anggota sudah menaiki motor masing-masing keluar dari lingkungan sekolah. Azam memimpin di depan, diikuti sekitar sepuluh motor anggota yang lain. Mengenai Elsa, gadis itu tidak pulang bersama mereka karena sudah di jemput supir pribadinya.


Para murid yang lain juga sudah pulang entah naik kendaraan pribadi atau angkutan umum.


Sedangkan di tempat lain, Kiana menghampiri Alira yang berdiri di depan pintu kelas yang sudah sunyi. Sebenarnya mereka sudah dari tadi keluar, namun karena Kiana melupakan handphonenya di laci meja jadi mereka kembali lagi untuk mengambilnya.


"Nggak ada yang ketinggalan lagi?" tanya Alira memastikan, yang di balas gelengan oleh Kiana. "Mau balik bareng gue?"


"Nggak deh, gue naik taksi aja. Btw si permen mana?" tanya Kiana mencari keberadaan Loli.


"Nunggu di parkiran dianya." Alira menunjuk ke arah Loli yang sedang jongkok di sebelah mobil untuk berteduh agar tidak terkena cahaya matahari.


"Ihh... Lama banget sih, Loli capek tau nungguin kalian." ucap Loli dengan kesal.


Menurut Alira, jika saja Loli bukan sepupunya mungkin sudah menjadi korban bully selanjutnya.


*****