
Hari minggu di markas Tiger sudah mulai bersih-bersih, menyiapkan dekorasi untuk ulang tahun Bian.
"Beruntung Bian semalam gak tidur di sini," ujar Alan sambil mengikat balon yang sudah di tiup.
"Hmmm, oh iya gue lihat tadi malam Bang Bian keluar dari rumah sakit. Kira-kira ngapain tu anak di sana?" tanya Jerry.
"Ngantar orang mungkin." Alan mengedikan bahunya tak tahu.
Dari arah depan, Tara berlari kencang ke arah teman-temannya. "Anjir si Bian di depan! Cegat woy sebelum masuk. Astaga! Panik nih gue, jangan sampai gagal rencana kita!" pekik Tara.
"Seriusan lo?"
"Gue gak lagi bercanda Ya Allah. Cepat, tuh gak dengar suara motornya?"
Mereka semua panik, Azam dengan cepat berlari ke depan untuk mencegah Bian.
"Woy Pak Bos, tumben pagi-pagi di markas?" tanya Bian tertawa kecil.
Azam berdehem dengan memasang wajah datar, ia dengan segera menutup pintu agar Bian tidak melihat keadaan di dalam. "Ngapain kesini?" tanya Azam.
Bian mengernyit. "Lah? Salah? Kan markas gue," ujar Bian.
Azam menggaruk tengkuknya. "Lo masih dapat hukuman dari gue, pokoknya jangan datang sebelum dapat perintah dari gue." Azam menatap Bian tajam, "Ingat ya, kesalahan lo banyak."
Bian tertawa renyah. "Ck! Ampun lah Bos, udah ah mau masuk gue," ujar Bian ngotot, namun Azam dengan cepat mencegatnya.
"Berani masuk gue kick dari bumi lo," ancam Azam melotot.
Bian mengerucutkan bibirnya. "Kalian lagi gak buat sesuatu di dalam kan? Ayo ngaku!"
Dor! Tiba-tiba terdengar letusan balon dari dalam.
"Hayoo bunyi apaan tuh? Bian menatap Azam menyelidik. Azam mendengus, menyeret Bian ke arah motornya.
"Pulang lo, berani datang ke markas tanpa gue suruh, gue kick dari dunia lo," ancam Azam lagi.
Bian mendengus. "Tanpa lo kick, gue juga bakalan pergi." Bian naik di atas motornya dan tersenyum cerah. "Azam makasih ya," ujar Bian tiba-tiba membuat Azam mengernyit.
"Makasih udah kenal dan baik sama gue, makasih juga udah jadi pemimpin yang baik. Jangan pernah berubah, tetap jadi Azam yang gue kenal. Jagain Tiger, gue sayang kalian semua," ujar Bian tulus. Ia menepuk pundak Azam yang terdiam. "Biarkan Kiana bahagia dengan orang pilihannya, ikhlaskan dia jangan pernah ganggu dia lagi."
"Apaan sih lo," sela Azam merasa aneh.
Bian menghidupkan motornya. "Azam, lo adalah seorang pemimpin dan sahabat paling baik yang pernah gue kenal."
Bian memakai helmnya. "Gue ultah hari ini, gak mau ucapin selamat?" tanya Bian.
Azam tersentak, sebelum akhirnya ia menggeleng. Ia berpura-pura lupa dengan ultah Bian untuk semakin menyempurnakan kejutan mereka.
"Gak papa, karena mungkin kata selamat ulang tahun Bian, gak bakalan sanggup kalian ucapkan." Bian tersenyum di balik helmnya. "Gue pamit pulang My Big Bos."
Bian mengendarai motornya keluar dari halaman markas meninggalkan Azam yang terdiam dengan perasaan tidak enak. Ia memilih masuk kembali ke dalam markas.
"Gimana? Udah pulang?" tanya Alan.
"Udah." Azam mengangguk.
"Udah selesai?" tanya Azam.
"Tinggal hias kue doang. Emh, mungkin jam tiga sore gitu udah bisa kita mulai kejutannya," ujar Alan, ia melihat jam yang sudah menunjukkan pukul 12:05. "Yang muslim kita siap-siap sholat dulu, ayok!"
Mereka semua mengangguk dan pergi ke masjid terdekat.
Waktu sudah menunjukkan pukul 15:04, semua telah siap. Kue tar juga sudah terletak di atas meja. Kiana, Alira dan Loli juga berada di sana karena ingin ikut merayakan ulang tahun Bian. Apalagi Loli yang sangat antusias.
"Udah siap?" tanya Alan.
"Loli udah gak sabar banget kasih kejutan buat Bian." ucap Loli dengan topo kerucut khusus ultah.
"Yaudah telpon Bian aja, kita siap di posisi masing-masing," ujar Alan pada yang lain.
Alan menyenggol lengan Azam yang sedari tadi terdiam. "Kenapa lo?" tanya Alan.
"Perasaan gue gak enak," ujar Azam jujur. Ia menghela napas dengan mata terpejam. "Senyum untuk Bian, jangan kaya gitu dong mukanya." ucap Alan.
Jeje mengambil hpnya dan bersiap menelepon Bian. "Kok gak aktif?" heran Jeje. Mereka semua menatapnya heran.
Jeje menelepon lagi. Nomor yang anda tuju..!
"Gak aktif," ujar Jeje. "Ini Bian gak mau balik prank kita kan? Jangan-jangan dia udah tau rencana kita?"
Mereka semua panik, perasaan Azam makin tidak tenang. Ia meraih hpnya dan menelpon Bian. "Sama nomor Bian tidak aktif. Gue jadi gak tenang," racau Azam.
Handphone Jene tiba-tiba berbunyi. Mereka memutuskan perhatian pada Jeje.
"Siapa Je?" tanya Alan.
"Nomor asing," ujar Jeje.
"Angkat Je," suruh Azam. Mereka mendekat ke arah Jeje agar bisa mendengar siapa.yang menelpon.
"Halo?" suara Jeje tanpa sadar bergetar saat berucap. Perasaan mereka tiba-tiba tidak enak.
"Kalian yang tenang ya," ucap orang di seberang sana. "Saudara Abian Satya Raksa mengalami kecelakaan tunggal dan telah meninggal dunia tepat pukul 15:00. Saya harap kalian segera ke rumah sakit Sebening kasih."
Deg!
Mereka terdiam di tempat. Ponsel Jeje jatuh ke lantai.
"Ini prank kan?" Suara Jeje bergetar. "HAHAHA SUMPAH GAK LUCU KALAU PRANK!"
Loli lemas. Gadis itu mencari ponselnya dan mencari kontak Bian. Namun satu notifikasi dari Bian membuat Loli tak bisa menumpu tubuhnya sendiri.
Biannya Loli 🍭
"Izin mencintai dari jarak yang tidak bisa di jangkau:) Jangan pernah lupa nama Abian Satya Raksa, Milkita😁
Aku pulang duluan ya cantik, dan yah perjuangan aku di dunia, di hentikan oleh takdir Tuhan."
****