
Elsa memperhatikan bangunan yang terlihat tak terawat di depannya dengan pandangan senang. Azam sedang mengajaknya mampir ke markasnya.
"Ayo masuk," Azam menggenggam tangan Elsa dan menuntunnya masuk ke dalam. Banyak anggota yang berkumpul dengan seragam yang berbeda-beda.
"Welcome boss, eh ada Elsa juga nih." ucap salah satu anggota.
Elsa tersenyum manis saat semua mata tertuju padanya.
Azam berdecak kasar menatap Bian dan keadaan markas yang kotor. Jika ada Bian di markas jangan harap ruangan itu akan bersih.
"Ringga mana?" tanya Azam, ia membersihkan sampah yang berserakan di sofa sebelum menuntun Elsa untuk duduk.
"Lagi ada urusan sama Alira."
Azam hanya mengangguk mengerti mendengar jawaban dari salah satu temannya.
"Ada kamar gak di sini?" tanya Elsa mengalihkan pembicaraan.
"Ada, kamu mau ke sana? Yaudah ayo aku antar. Nanti sorean aja kita balik. Aku ada urusan bentar di sini." Azam berdiri dan menarik pelan tangan Elsa.
"Gue ke kamar dulu sama Elsa, jangan berisik dia mau istirahat." lanjut Azam memperingati.
Mereka semua hanya mengangguk dan kembali melanjutkan aktifitasnya ada yang bermain biliar dan ada juga yang di tugaskan untuk pergi berbelanja.
"Ah gue ketinggalan ya?" ucap Tara yang baru datang.
"Telat lo," ujar Bian. "Pak bos udah di kamar sama dedemit."
Tara duduk di samping Alan. "Ngapain tuh, buat Pak bos kecil ya?" tanyanya bingung.
"Mana gue tau," sengit Bian.
"Oh iya, ini punya siapa ya? Gue dapat di depan. "Tara mengeluarkan sebuah kertas berwarna putih.
Alan mengambilnya dan membaca kertas itu dengan kening berkerut. "Abiaksa, di diagnosa menderita kanker otak dan sudah memasuki stadium dua," ujar Alan setelah membaca kertas dengan logo rumah sakit.
"Abiaksa? Kayak gak asing?" ceplos Bian.
"Bentar, itu bukannya nama yang pernah Loli bilang ya? Dan juga nama yang buat gue di tolak sama Loli?"
Alan mengangguk. "Bukannya itu tokoh fiksi, tapi ini?" heran Alan.
"Keperluan cerita mungkin," imbuh Jeje setelah membaca kertas itu juga. "Yang jadi pertanyaannya, siapa Author cerita ini?"
"Njir jangan bilang Author Nya berada di sini? Bian menggulung lengan bajunya. "Gue harus cari nih, enak aja gara-gara cerita itu gue di tolak sama Loli."
"Lo mau apain kalo ketemu?" tanya Jerry pada Bian.
Bian menjawab dengan menggebu-gebu. "Gue gak apa-apain, cuman nyuruh matiin karakter Abiaksa atau gak gue suruh bunuh diri aja Author nya biar gak bisa lanjut ceritanya," ujar Bian.
"Gila lo," ujar Alan. "Dendam kok sama Author yang gak salah apa-apa. Seharusnya yang harus lo tindak lanjuti itu Loli, jelasin ke dia buat gak terlalu bucin sama fiksi," lanjut Alan.
Bian berdecak kesal. "Ck! Kayak gak tau si permen aja lo. Keras kepalanya ngalahin batu," ucap Bian.
"Ngenes amat hidup lo Yan, kalah sama tokoh fiksi hahaha," ujar Jeje dengan meledakkan tawanya.
****
Ke esokan harinya, Kiana di antar oleh sopir ke sekolah. Ia tidak pergi bersama saudaranya karena kedua Kakaknya tidak pergi ke sekolah.
Saat tiba di sekolah, Kiana melihat lima orang yang sedang berlari sambil terus mengucapkan kalimat, "Kita selalu salah, Azam yang paling benar'' begitu terus sepanjang jalan. Mereka memakai topi kerucut dan juga papan nama bertuliskan "Pacar Popo Barbie ni bos"
Tak kebayang bagaimana malunya mereka berlima, apalagi banyak yang melihat bahkan ada yang merekam dan di sebarkan di medsos. Apalagi keadaan mereka yang setengah telanjang memperlihatkan perut kotak-kotak yang mampu membuat siswi atau gadis yang melihat langsung berbinar senang. Asupan mata di pagi hari kata mereka.
"Cape gue njir," ujar Alan mengipasi wajahnya dengan papan nama yang ia gunakan tadi.
"Bukan lo doang Bang, gue juga sama." Jerry ikut mengipasi tubuhnya. "Tara, tisu itu dong," pintanya pada Tara.
Saat ini mereka berada di kantin sekolah untuk istirahat. Jam sudah menunjukkan pukul 07:15, mereka memilih bolos karena kecapean.
"Nih seragam lo pada," ujar Tomas yang baru datang dengan membawa plastik berisi seragam mereka berempat.
"Kok lo bisa di sini?" tanya Alan.
"Di suruh Bang Azam anterin seragam kalian yang baru buat ganti, gue juga lagi jam kosong, jadi bisa kesini," balasnya.
"Bang Bian mana?" tanya Tomas saat tak melihat kehadiran Bian.
"Ke toilet tadi," balas Jeje yang baru saja ikut nimbrung.
"Njir, ada roti sobek juga lo Je," ucap Tomas sedikit kaget. "Keliatan cowok lo kalau kayak gini."
"Mesum lo liat-liat tubuh Inces," ujar Jeje dramatis.
"Ck! Normal yuk Je, bisa yuk. Kasian tu batang nganggur, kalau lo letoy terus kayak gini. Badan lo sempurna Je, lo juga ganteng, jadi manfaatin. Tadi aja banyak yang histeris liat lo telanjang dada," ujar Alan. Ia ingin sekali Jeje manjadi laki-laki sejati.
"Insya Allah," balas Jeje seadanya.
Alan berdecak kesal dan meneguk air mineralnya hingga tandas. "Sekarang Azam mana?" tanya Alan pada Tomas.
"Kagak tau gue, dia gak bilang apa-apa ama kita." Tomas mengedikan bahunya. "Oh iya, minggu depan kan kalian ulangan, selesai itu kita adain pesta gimana?" tanya Tomas.
"Udah mau ulangan aja," ujar Jeje menghela napas pelan. "Jadi keinget doa Bian semalam gue, katanya dia mau menghilang sebelum ulangan, biar gak cape mikir soal."
"Bian sama dengan sesat," imbuh Alan membuat mereka tertawa.
"Eh bentar-bentar, besok 14 November kan?" tanya Jeje tiba-tiba saat mengingat sesuatu.
"Hmm, kenapa emangnya?" tanya Alan balik.
Brak!
"ANJIR!"
Mereka terkejut saat Jeje memukul meja.
"Kenapa lo bangsat! Kaget gue, untungnya ini jantung gak loncat keluar," ujar Alan kesal.
****
Sedangkan di tempat lain, tepatnya di kelas XI IPA, Kiana tengah terdiam sambil menggigit bibir bawahnya. Ia tidak fokus mendengarkan guru yang tengah menjelaskan rentetan angka di depan sana.
"Kia, lo paham gak?" tanya Alira sambil menyenggol bahu Kiana membuatnya tersentak kaget.
"Kaget gue." Kiana mengusap dadanya sendiri.
"Lagian lo ngapain bengong. Tuh sampe keringetan gini, kenapa sih?" Alira mengambil tisu di laci yang ia bawa dari rumah, kemudian mengusap keringat Kiana.
Kiana nampak ragu berbicara. "Gue kayaknya di teror deh Al," ucap Kiana membuat Alira melotot dan hendak berteriak, namun Kiana dengan sigap menutup mulutnya.
"Jangan teriak," peringat Kiana.
"Gue kaget elah. Coba jelasin apa yang lo alamin," suruh Alira.
"Pas gue masuk gerbang tadi, ada yang lemparin gue batu yang kebungkus kertas. Awalnya gue acuh doang, tapi pas lemparan ketiga, gue akhirnya ambil kertasnya dan baca. Ada tulisan Penjahat harus mati dengan tinta merah. Gue gak yakin, itu tertuju buat gue atau salah sasaran mungkin." Kiana tak yakin dengan kejadian tadi pagi.
"Keluarga lo tau kejadian ini?" tanya Alira.
"Enggak, lo yang pertama tau." Kiana mengerutkan keningnya. "Jangan cerita ke siapa-siapa dulu, kita harus cari tahu siapa dalangnya. Dan gue curiga sama Elsa yang lagi jadi anak emas di depan sana. Lo tau kan, musuh kita di sekolah ini cuman dia," lanjut Kiana sambil menatap sinis Elsa yang tengah menjawab soal matematika yang di berikan guru di depan. "Pencitraan," batin Kiana.
"Kalau beneran dia dalangnya, lo bakalan liat gue bully dia sampe gila. Ah gak deng, kalau modelan dia, sampe mati gue jabanin," ujar Alira dengan tangan terkepal.
"Kita selidiki identitas Elsa," ujar Kiana, kemudian ia teringat sesuatu. "Gue keluar dulu."
"Kemana? Gue ikut, jangan bilang lo bolos dan ninggalin gue di sini."
"Nyari Bian, ada urusan bentar," ujar Kiana. "Gak usah ikut, gue gak akan lama kok."
Alira mengerucutkan bibirnya. "Ikut dong Kia," pinta Alira merengek.
Kiana mendengus. "Gak cocok lo bersikap kayak gitu." Kiana menampol wajah Alira sebelum berdiri dan minta izin untuk keluar kelas, meninggalkan Alira yang tengah kesal.
Kiana menghela napas saat tak menemukan keberadaan Bian. Ia berniat kembali ke kelas, namun tidak jadi saat melihat Bian baru saja keluar dari toilet.
"Bian," panggil Kiana
Bian yang hendak kembali ke kelas lantas menoleh ke sumber suara.
"Eh Kiana, ada apa?" tanyanya.
"Ada waktu nggak? Gue ada perlu sama lo," ucap Kiana membuat Bian terdiam sejenak.
"Ada perlu apa nih? Kayaknya serius banget," ujar Bian dengan senyum khasnya.
"Ikut gue Yan," ajak Kiana, ia membawa Bian ke roftoop. Tiba di sana, mereka berdua duduk di sofa usang yang tersedia.
"Mau ngomong apa Ki?" tanya Bian memulai percakapan.
Kiana menghela napas sejenak sebelum menatap Bian serius. "Mengenai Elsa," ujar Kiana membuat Bian mengerutkan keningnya.
"Ngapain bahas dia?" tanya Bian.
"Yan, lo mau kan jujur sama gue, mengenai masalah lo sama Elsa? Gue tau, gue orang asing dan gak berhak ikut campur masalah lo. Tapi kali ini aja, Yan, gue perlu tau siapa Elsa lebih dalam lagi." Kiana terdiam sejenak. "Lo tau kan, sebelum menyerang, kita harus tahu mengenai musuh kita dulu."
"Gak perlu gue jelasin, pasti lo udah tau kalau gue sama Alira punya masalah apa sama Elsa, jadi gue harap lo mau bantuin gue, dengan cukup lo jelasin masalah lo sama Elsa, Yan."
"Perlu banget ya Ki, gue ceritain?" tanya Bian nampak ragu.
"Plis Yan," pinta Kiana memelas.
Bian menghela napas panjang sebelum akhirnya mengangguk. Cowok itu menatap lurus ke depan, sebelum akhirnya memilih memejamkan matanya.
"Elsa adalah sumber kehancuran gue," ujar Bian membuat Kiana membulatkan mata. "Lo tau kan, seberapa gak sukanya gue sama dia. Karena dia, hidup gue berantakan."
Bian mengepalkan tangannya, Kiana yang menyadari lantas menggenggam tangan Bian.
"Elsa dan keluarganya adalah musuh terbesar hidup gue Ki," lirih Bian. Ia menoleh pada Kiana.
"Elsa, anak dari selingkuhan orang tua gue." Bian terkekeh miris. "Lo tau, Bunda gue selingkuh sama Papa Elsa, dan Papa gue selingkuh dengan Mama Elsa. Hubungan toxic bukan? Gue aja heran, kenapa gak nyatu aja? Tapi mereka gak jawab. Dan yah, hubungan gila itu berjalan hingga sekarang."
"Keluarga Elsa itu licik semua. Mereka cuman mau morotin uang orang tua gue, dan yah, emang orang tua gue aja itu goblok karena cinta, hingga mau aja di bodohin."
"Dan sifat Elsa sendiri?" tanya Kiana.
Elsa awalnya polos banget, dan gue gak terlalu benci sama dia. Tapi pas SMA ini, sifat turunan orang tuanya mulai muncul. Dan dari situ gue sadar, buah jatuh gak jauh dari pohonnya."
"Bahkan Elsa lebih licik lagi. Dia manipulatif dan banyak muka, apalagi di depan orang tua gue, Kia."
"Bian," panggil Kiana pelan. Baru kali ini ia melihat cowok humoris itu sangat menyedihkan saat bercerita. "Sini peluk gue." Kiana merentangkan tangannya, Bian mempunyai masalah namun ia bisa menutupi semua itu dengan tingkah konyolnya.
Bian langsung menubruk tubuh Kiana. "Gue benci dia, gue sangat benci keluarganya. Gue gak suka liat manusia banyak muka di dunia ini. Andai bunuh orang gak dosa, mungkin gue udah bunuh Elsa dari dulu. Tapi gue takut kena azab nantinya."
"Husst, lo tenang aja, gue yang bakalan balas dia. Elsa musuh gue juga, dan gue bakalan hancurin dia buat lo." Kiana mengusap punggung Bian.
"Gak takut dosa Ki?" tanya Bian.
"Urusan dosa belakangan Yan," ujar Kiana membuat Bian terkekeh.
"Kia?" panggil Bian.
"Ya?"
"Boleh gue minta sesuatu sama lo?" tanya Bian.
"Apa?" tanya Kiana.
"Jagain Loli buat gue ya, gue percaya sama lo."
"Lo ngomong gitu kayak orang mau pergi aja," ujar Kiana terkekeh.
Bian ikut terkekeh. "Satu lagi permintaan gue," ujar Bian. Ia melepaskan pelukannya dan menatap Kiana. "Kalau lo nanti punya pasangan dan punya anak, dan anaknya laki-laki, namanya harus terselip nama gue. Pokoknya itu harus.
Kiana kembali terkekeh dengan ucapan Bian dan kemudian mengangguk tanda setuju.