Kiana Story

Kiana Story
Bab 42



Tiba di kantin, kiana cs langsung duduk di bangku kantin. Davian masih setia mengikuti mereka bertiga.


"Udah gue bilang, gue bakalan ngikutin lo terus. Percuma menghindar dari gue, Angelina Kiana."


Kiana terperanjat saat Davian berbisik di telinganya. Cowok itu juga mengacak rambutnya pelan sebelum duduk di sebrang berhadapan dengan Kiana.


"Maaf ya Kak, kehadiran lo ganggu banget. Mending pergi deh, lagian kejadian kemarin itu cuman permainan kita, minta nomor dan minta suap itu juga cuman lelucon. Nggak usah di ambil serius," ucap Kiana. Ia sangat risih sekali.


Davian tersenyum, cowok itu melipat tangannya di atas meja dan menatap Kiana intens. "Katanya lo mau buktiin gue gay atau enggak kan?" Davian memiringkan kepalanya. "Dan gue mau buktiin sama lo, kalau rumor itu nggak benar. Terbukti, kalau gue tertarik sama cewek, dan itu lo."


Kiana melotot. "Apa yang di bilang tadi? Tertarik? What the fu*k." batin Kiana.


"Kak kantin suka ya sama sahabat Loli?" Loli bertanya. Entah bagaimana ia memanggil Davian dengan sebutan Kakak kantin. Mungkin karena ia melihat Davian di kantin, jadi ia menyebutnya begitu.


"Kalau iya, lo mau bantuin gue dapetin dia?"


"Gila lo ya!" Kiana berseru.


Alira langsung menuntun Kiana untuk tenang kembali.


"Kak Davian maunya apa sih? Jangan buat sahabat gue risih ya, walaupun Kakak cowok, gue nggak takut. Siapapun yang buat sahabat gue risih, terancam dan tersakiti, bakalan berurusan sama gue." Alira angkat bicara.


Davian tersenyum dan menggeleng. "Oke, gue cuman mau makan bareng Kiana aja. Ya, udah gue bilang kan, nggak ada yang gratis di dunia ini. Dan anggap aja, dia mau balas kebaikan gue, karena udah bantuin dia memenuhi tantangan kalian kemarin."


"Kak itu hanya..."


"Udah Ra." Kiana menyuruh Alira diam. Kakak kelas mereka ini sangat keras, dan jika berdebat pasti tidak akan selesai.


"Oke, cuman makan kan. Ya udah, tapi setelah ini jangan ganggu gue lagi," pasrah Kiana membuat Davian tersenyum puas.


Tidak sia-sia dia bolos pelajaran, hanya untuk bisa bertemu dengan gadis di hadapannya ini. Gadis yang membuat ia tertarik pada pandangan pertama.


"Gue nggak bisa menjanjikan itu." gumam Davian.


"Sekarang lo mau makan apa? Biar gue yang pesan," tanya Davian.


"Aaa gumawo Kak Kantin, Loli nasi goreng a..."


"Gue nanya Kiana, bukan lo!" potong Davian. "Kalau mau pesan, pesan sendiri aja, gue bukan babu lo."


Loli mencebikkan bibirnya. Alira terkekeh kecil, ia suka sekalu melihat jika ada yang membuat Loli kesal.


"Gue bisa pesan sendiri Kak...." Belum selesai Kiana berucap, Davian sudah beranjak berdiri dan memotong ucapannya.


"Okey samain sama gue aja," ucap Davian dan langsung pergi ke stand nasi goreng.


"Lebaran idul adha kapan Ra?" tanya Kiana tiba-tiba.


"Masih lama, kenapa?"


"Gue mau korbankan tu cowok rese."


Alira menepuk pelan punggung tangan Kiana. Ia tahu jika sahabatnya itu sedang kesal. Kemudian Alira tertawa terbahak-bahak.


"Siapin diri, sepertinya Kak Davian tertarik sama lo, dan gue yakin dia bakalan ngikutin lo terus." ucap Alira.


***


Dengan langkah santai Azam berjalan menuju kantin. Jangan lupakan Elsa yang juga berada terus disisinya. Cewek itu menggandeng tangan Azam, dan Azam hanya diam saja tidak melarangnya. Membuat Elsa kegirangan dalam hati.


"Mas, inces laper nih sama anak inces juga. Ayo buruan Mas, anak dan istrimu butuh asupan." Jeje berujar dramatis.


Alan bergidik, makhluk berbatang itu membuat ia merinding. "Sialan kalian, ngeri gue dengernya." Alan mengusap lengannya yang tiba-tiba merinding. "Awas ya sampe kebablasan beneran saling suka, gue gorok lo berdua. Baru gini aja gue udah jijay," lanjut Alan.


Bian tertawa. Karena posisinya di tengah, ia menggandeng bahu Alan, sedangkan Jeje cowok ganteng namun sayangnya bersikap banci itu masih setia melingkarkan tangannya di lengan Bian.


"Tenang Beb, Aa nggak bakalan kebablasan kok," ujar Bian, ia mengedipkan sebelah matanya membuat Alan dengan spontan mendorong Bian.


Karena tidak siap, Bian dan Jeje tersungkur ke lantai. Sedangkan Alan sudah kabur sambil menggerutu. Geli sekali mendengarnya.


"Aduhh sakit pantat semok inces." Jeje meringis. Kemudian laki-laki itu mulai dramatis memegang perutnya. "Aduhh anak inces nggak papa kan? Ya Allah, kalau inces sampai keguguran, inces lempar ke kerumunan Tante girang tuh si Alan!" ujarnya menggebu-gebu.


Bian menoleh. Ia juga sedikit meringis saat pantatnya mencium lantai. Sial! Pantat perawan Bian sudah di nodai oleh lantai. Oke semakin ngawur saja.


"Anak lo berkembang biak di mana?" tanya Bian dengan alis terpaut.


Jeje berdiri, tak lupa menarik Bian agar berdiri juga. Walaupun berperilaku perempuan, kekuatan Lakik Jeje sungguh kental. Terbukti hanya di tarik saja, Bian sudah langsung berdiri tegak.


"Ngaco lo!" Bian tertawa, kemudian dua cowok itu kembali saling merangkul menuju kantin.


Lain dengan mereka, kini Elsa terlihat tengah menatap heran ke arah Ringga.


"Zam, Ringga kenapa?" tanya Elsa pada Azam. "Tumben kok nggak nyapa aku. Aku ada salah ya sama Ringga, sampe dia marah?"


Azam menoleh dan menggeleng. "Ringga nggak marah sama lo. Cuman lagi kesel aja nggak liat tunangannya," balas Azam seadanya. Ia menepuk rambut Elsa pelan.


Elsa diam dengan pemikirannya sendiri. Membuat Azam menoleh. "Kenapa diam? Lo nggak seneng Ringga sama Alira?" Mata Azam memicing.


Elsa tersentak dan gelagapan. "A..ah, enggak kok, aku seneng, seneng banget malah. Cuman ya gitu, ngerasa ada yang kurang aja gitu. Biasanya kan Ringga selalu ada buat aku," ucap Elsa murung.


Azam menggeleng pelan. "Kan masih ada gue, Sa. Sahabat lo bukan cuma Ringga, tapi gue dan anggota Tiger yang lain."


****


Kiana di buat geram dengan makhluk tampan di depannya. Ya Tuhan, mengapa ia bisa terjebak dengan cowok yang di rumorkan gay ini?


"Ayo cepat suapin gue," titah Davian yang entah sudah ke berapa kali.


Kiana mendengus. "Lo punya tangan kan? Jadi gunain," sinis Kiana, ia memilih menyantap nasi gorengnya.


Alira dan Loli hanya bisa diam saja dengan menikmati makanan mereka. Sudah malas mendengar adu bacot Davian dan Kiana sedari tadi.


Davian menatap Kiana tajam. "Lo nggak liat gue lagi main game?" Davian mengangkat tangannya, seolah ingin memperlihatkan jika ia tengah sibuk bermain game. Andai Kiana tahu, jika sebenarnya itu hanya alibi Davian. Hpnya mati dan ia hanya pura-pura memiringkan saja.


"Nggak peduli Kak," balas Kiana acuh.


Davian menggeram tertahan. Setelahnya ia langsung menarik piring nasi goreng Kiana membuat gadis itu terkejut.


"Dulu lo minta suap, gue turutin. Sekarang gantian, suapin gue. Kalau enggak, gue nggak bakalan biarin lo makan dengan tenang." Davian mulai mengancam lagi. Salah Kiana sendiri karena sudah menarik perhatiannya di awal, jika tidak, mungkin Davian tidak akan berperilaku seperti ini.


Kiana memejamkan matanya. Ingin sekali ia melempar Kakak kelasnya ini ke sungai Amazon, biar ikan piranha dan penghuni sungai yang lainnya punya teman baru.


"Oke. Sekali ini aja ya Kak. Dan tolong setelah itu, jangan gangguin gue. Gue risih banget kalau lo tau."


Davian tersenyum tipis. Ia menyodorkan nasi gorengnya dan melipat tangan di atas meja. Ia mencondongkan tubuh agar bisa menikmati suapan dari gadis yang menarik perhatiannya itu.


"Aaa." Davian membuka mulutnya, menanti suapan pertama dari Kiana.


Kiana menggeram. Ia menyendok kasar makanan itu. Alira terkekeh di sebelahnya, ia mengusap punggung Kiana. "Sabar beb," ucap Alira .


Kiana meletakkan sendoknya kasar kemudian meminum jus jeruknya sambil mengedarkan pandangan.


Dan tanpa sengaja pandangannya tertuju ke arah bangku kantin di pojok. Di mana seorang cowok duduk bersama temannya sambil menatap ke arahnya. Alis Kiana terangkat saat tatapan matanya bertubrukan dengan mata cowok yang pernah membuatnya kesal.


Rayyan El Fatih. Hampir tiga puluh detik mereka bertatapan. Rayyan dengan wajahnya yang tampak terbengong, dan Kianaa yang khas dengan wajah triplek.


Rayyan tersadar, ia langsung memutuskan kontak mata mereka sambil mengerjapkan matanya berkali-kali. Manik cokelat itu seperti menghipnotis dirinya agar tidak mengalihkan pandangan. Ia meraih botol air mineral di sebelahnya kemudian meneguknya dengan cepat, sambil dalam hati terus mengucap istighfar.


Wajah cowok itu sedikit memerah sampai telinga, namun masih terlihat jelas karena kulit wajahnya yang putih.


"Astaghfirullah hal adzim..." Rayyan terus mengucapkan kalimat itu terus menerus dalam hati. Ia kebablasan bertatapan dengan perempuan yang bukan mahramnya. Apalagi sampai selama itu.


Kiana tersenyum miring dan terkekeh kecil melihat tingkah Rayyan yang ketara sekali jika salting. "Cowok aneh," gumamnya dan kembali bersikap bodoh amat.


Seringai gadis itu terlihat menyeramkan namun memukau. Raut wajah datar dengan tatapan tajam itu bagai harta karun yang tidak bisa di lewatkan.


"Iris cokelat memukau, tapi....menakutkan," gumam Rayyan. Ia bergidik ngeri apalagi saat sadar jika Kiana masih tersenyum miring padanya.


Rayyan bisa menangkap gerak bibir Kiana yang seperti mengatakan jika ia adalah cowok aneh. Namun bagi Rayyan, bukan ia yang aneh, tapi gadis itu.


" Kita balik sekarang aja ya, saya merasa tidak enak badan," ucap Rayyan. Ia tidak sepenuhnya berbohong. Tubuhnya seperti kaku dan juga keringat dingin mulai bercucuran. Ia seperti orang yang habis di kejar anjing gila.


"Sakit lo habis di tatap Queen Devil?" Ucok tertawa mengejek, ia minum terlebih dahulu sebelum beranjak berdiri untuk membayar pesanan mereka.


"Yok, padahal gue mau kenalin orang-orang berpengaruh di SMA Garuda ini sama lo, ya jaga-jaga aja sih, biar lo nggak berurusan sama mereka. Terutama Azam, anak pemilik sekolah, ketua geng Tiger dan juga suami Kiana. Ah, sama teman Azam juga..."


"Azam Alfarizi Nugraha, Suami Angelina Kiana, nah itu orangnya." Ucok menunjuk pada cowok yang baru masuk ke kantin bersama seorang gadis berponi dengan wajah imut dan polos. Rayyan menatap Azam lama, setelahnya ia menatap Kiana yang nampak kesal dengan tingkah kakak kelas di hadapannya.


"Suami? Gadis itu sudah bersuami?"


Nahloh Elsa masih aja nempel... Gimana reaksi Azam ya ngeliat Kiana nyuapin Davian??? πŸ€”πŸ€”πŸ€”πŸ€”