
"Loh ada ambulance? Padahal Elsa gak apa-apa kok Om, kok sampe di bawain ambulance kayak gini? Elsa juga cuman kena tampar dikit dan ini juga udah bisa jalan. Jadi gak perlu pake ambulance. Apalagi ini sampe tiga," ujar Elsa dengan pedenya.
Alira spontan tertawa mendengar kalimat kepedean Elsa. Sedangkan Kiana hanya tersenyum smirk. Ia jadi ingin memberi satu contoh lagi pada Elsa, bagaimana posisi ratu itu sebenarnya.
"Yang bilang ambulance ini buat lo siapa?" tanya Zain heran. Hal itu semakin membuat Alira dan Kiana tertawa puas, apalagi melihat wajah Elsa yang memerah malu.
"Kalau bukan buat Elsa, terus buat siapa Om?'' tanya Elsa pelan. Ia meremas jarinya di depan perut karena malu.
"Ya buat mantu gue lah, siapa lagi," sarkas Zain sembari bersedekap dada.
Elsa memejamkan mata menahan rasa kesal.
"Sial! Kiana lagi!" batin Elsa.
"Ta-tapi, Kiana kan gak sakit Om? Dan di sini Elsa yang sakit, karena kena bully," cicitnya lagi, ia bisa merasakan sapuan pelan tangan Azam di pundaknya.
"GAK SAKIT LO BILANG?" Bukan hanya Zain yang bersuara, melainkan double D juga.
"Lo buta ya, sampe gak liat bekas lebam di wajah mantu gue?" tanya Zain sinis. Ia tidak suka melihat wajah sahabat perempuan anaknya.
Air mata Elsa mengalir. Ia terlampau kesal karena Kiana mendapatkan perlakuan manis seperti ini.
"Cuman lebam kan Om? Dan Kiana juga masih bisa jalan. Beda sama Elsa yang gak bisa. Tubuh Elsa rasanya lemah banget, ini aja berdiri berkat bantuan Azam."
"Ya terus? Lo pikir gue peduli? Sorry ya, lo gak sepenting Kiana, jadi percuma ngomong kek gitu sama gue!" balas Zain lagi, tangannya kini tiba-tiba gatal ingin menyumpal mulut Elsa dengan emas batangan. Oh no! Itu terlalu berharga!!
"Pi!" tegur Azam saat merasakan jika Elsa sudah terpojokkan.
Zain hanya mendengus dingin, ia hanya menatap sekilas ke arahnya. Ia sudah terlanjur kecewa dengan tingkah anaknya kali ini, sudah kedua kalinya ia menyakiti menantu kesayangannya.
"Pi, suruh pulang aja ya, Kiana jadi malu nih. Masa kena tonjok dikit kayak gini langsung di bawain ambulance," ujar Kiana memelas.
"Tapi Ki..." ujar Tiger terpotong oleh ucapan Kiana.
"Kia lapor Mommy nih," ancam Kiana. Hanya Mommy Zara yang bisa menghentikan Zain.
Zain terkekeh. "Lapor aja, palingan Mommy ada di pihak Papi," balas Zain.
Azam hanya menghela napas pasrah, apapun yang terjadi setelah ini ia akan menerimanya. Memang dirinya yang salah sudah menyakiti Kiana berulang kali. Seperti pada awal pernikahan ia membenturkan Kiana ke cermin, dan sekarang tangannya kini telah menonjok istrinya sendiri.
****
Kini masalah ambulance telah kelar. Namun Kiana malah di buat pusing lagi karena tiga laki-laki itu kembali berdebat hanya masalah ingin mengompres lebam di wajah Kiana. Bukan hanya masalah mengompres, namun mereka juga saling berusaha untuk menutupi tubuh Kiana agat tidak terkena cahaya matahari. Apalagi sekarang mereka masih berdiri di depan gerbang.
"Ribet banget ya, kalau jadi lo Ki," ujar Alira. Ia menggeleng melihat Papi Zain menendang bokong Devan dan Davian.
"Gue aja gak abis pikir dengan kejadian ini," balas Kiana.
"NANDO BAWAIN MANTU SAYA PAYUNG CEPAT! KALAU PERLU PAYUNG YANG BERLAPIS EMAS!"
"SRIGALA BUAT FORMASI PAKE JAKET KALIAN BUAT NUTUPIN CAHAYA MATAHARI BIAR GAK KENA KIANA!"
"WOY DUA BOTAK AMBILKAN AIR DINGIN SAMA KAIN SEKARANG!"
Kiana hanya bisa menepuk jidat dengan tingkah tiga laki-laki itu. Dan yang lebih parah, Papi Zain ikut-ikutan.
Rasanya Kiana ingin menghilang saja. Sepertinya hidupnya ke depan akan jauh dari kata tenang.
"Ki," panggil seseorang dari arah samping.
Lantas Kiana menoleh, ia mendapati Azam. Wajah Kiana langsung datar seketika. Ia masih mengingat jelas bagaimana kepalan tangan Azam mendarat di pipinya.
"Ngapain? Mau nonjok gue lagi?" tanya Kiana datar.
"Gue kelepasan Ki. Lagian itu salah lo juga, dan anggap aja balasan buat lo yang gak pernah berubah. Hobi banget bully orang, apalagi sampe buat mental korban down." Azam menghela napas kasar. "Satu hal yang lo harus dengar, gue gak nyesel nonjok lo tadi. Itu balasan karena berani bully Elsa."
Kiana terkekeh geli. "Lucu banget sih lo." Kepalanya menggeleng. "Gimana ya reaksi lo kalau tau sifat Elsa yang sesungguhnya? Hmm, mungkin bakalan ngemis maaf sama gue."
Azam berdecih. "Gak akan pernah, lagian Elsa itu cewek baik jauh berbeda dengan lo."
"Oke," ujar Kiana tersenyum. "Gue udah tandai kata-kata lo barusan. Hati-hati loh, jilat ludah sendiri itu gak enak."
****
Di arah lain seorang cowok sedang memperhatikan kiana dengan pandangan yang sulit di artikan. Ya, dia adalah Rayyan. Dirinya menyaksikan semuanya dari awal sampai akhir.
Rayyan tidak paham lagi. Apa tidak salah masuk sekolah? Dalam sehari ada saja kejadian di luar akal sehatnya.