
Devan menghentikan mobil mewahnya di depan gerbang rumah Kiana. Cowok itu melepas seat belt dan berlalu lebih dulu keluar untuk membukakan pintu mobil Kiana. Namun ia kalah cepat, Kiana sudah keluar lebih dulu dengan beberapa paper bag berbagai merk di tangannya.
"Thanks ya Van, maaf banget udah ngerepotin lo, mulai dari waktu, uang saku sama bensin hehe." Kiana nyengir sesaat membuat Devan menegang.
Cowok itu mengerjap berkali-kali sebelum berdehem. "You're welcome Kia. Jangan segan-segan morotin gue, seenggaknya lo mau rasain kekayaan gue juga dan bukan hanya si cewek tomboi itu."
Kiana menggeleng pelan. "Jangan sia-siain Sari, Van, nyesel lo nanti. Lagian kalau gue perhatiin, Sari itu baik kok, cuman ya, orangnya jutek dan kasar aja." Kiana hanya ingin yang terbaik untuk Devan, bagaimanapun, ia dan Devan pernah menjalin hubungan yang lama.
"Ngapain jadi bahas dia sih? Masuk rumah gih," suruh Devan.
"Gue masuk dulu ya, sekali lagi terima kasih." Kiana melambaikan tangannya ke arah Devan sambil berjalan masuk, ia berpapasan dengan Damar tepat di pintu kecil gerbang.
"Bagus ya jalan sama cowok gak bilang-bilang." ucap Damar sambil mengacak rambut Kiana.
Kiana hanya menyengir dan berlalu masuk ke dalam rumah.
"Makasih ya, udah anterin Kiana pulang." ucap Damar pada Devan yang masih di depan.
"Sama-sama, gue balik dulu." pamit Devan.
Damar mengangguk dan kembali masuk ke dalam rumah.
****
"Kia?" panggil Damar saat ini mereka ada di ruang tamu.
"Iya bang?"
"Harapan lo di tahun baru apa?" Tanya Damar.
"Harapan gue hidup tenang, aman dan damai." jawab Kiana.
"Hanya itu?"
"Huum bang, apalagi yang gue harapkan sekarang, kumpul bersama kalian adalah kebahagiaan gue." ucap Kiana tulus.
Damar dan Wulan tersenyum dan mereka memeluk Kiana dengan erat.
****
Elsa tersenyum penuh kelicikan setelah selesai menerima telepon dari pria misterius yang membantunya. Gadis itu segera bersiap-siap dan mengambil kunci mobilnya untuk menuju tempat yang di beri tahu oleh rekannya.
Tiba di sana, Elsa menatap sekitar jalan yang nampak sepi, hanya ada pepohonan di pinggir jalan yang menghiasi. Mungkin untuk bangunan-bangunan ada sekitar lima ratus meter di depan.
Gadis itu mencengkram stir mobil dan menggigit bibir bawahnya. Ia menatap sekitar dan menunggu aba-aba dari cowok misterius.
"Ck! Mana sih? Cape banget gue nungguin," decak Elsa yang tak mendapati keberadaan Kiana. Padahal kata pria misterius itu, ia sudah mengirim pesan teror pada Kiana agar menuju tempat ini.
"Jangan bilang gue di bohongin sama tu cowok?" Mata Elsa berkilat tajam. Gadis itu mengalihkan perhatian saat ponselnya berbunyi. Ia mengambil dan melihat siapa yang menelpon. Itu adalah pembantunya.
"Nona, dia hampir melarikan diri, untung saja saya dengan cepat menangkapnya."
Elsa mengeraskan rahangnya. "Jika dia berhasil melarikan diri, siap-siap aja kepala lo gue tebas!" ancam Elsa membuat tubuh pembantunya menegang di seberang sana. "Jaga ruangan itu baik-baik!" Elsa langsung mematikan panggilan secara sepihak.
Helaan napas kasar terhembus, Elsa menatap sekitar lagi dan menunggu kehadiran Kiana. Hingga lima puluh meter di depannya, ada seorang gadis yang baru saja turun dari taksi dan nampak melihat sekitar seperti mencari sesuatu.
Elsa tersenyum penuh kemenangan. "Bodoh," runtuknya pada Kiana.
Elsa mulai menyalakan mesin mobilnya, menginjak gas dan rem lebih dalam dan bersiap menabrak Kiana, sesuai dengan rencana mereka.
"Saatnya Elsa!" Suara pria misterius itu terdengar.
Tubuh Kiana menegang saat mobil mewah itu semakin dekat dan siap menghantam tubuhnya begitu saja hingga...bruk! Kiana tidak lagi melihat apa-apa lagi selain kegelapan.
Tiga puluh menit sebelum itu....
Kiana sudah siap menuju rumah Alira untuk menemani gadis itu membeli sesuatu. Sebenarnya Alira ingin menjemputnya, namun Kiana menolak dan mengatakan jika ia akan menghampiri gadis itu saja.
"Dek, gue antar ya," ujar Damar. Ia sudah siap dengan jaket dan celana robek di bagian lutut.
"gak usah, gue bisa sendiri. Lagian lo juga ada urusan kan?" ucap Kiana keduanya berjalan menuju pintu keluar dengan Kiana yang sibuk menelpon Alira.
"Udah sama gue aja ya, perasaan gue gak enak nih." ujar Damar menahan pergelangan Kiana.
"Nggak deh bang, gue udah pesan taksi. Dan gue bakalan baik-baik aja." Kiana melepaskan genggaman Damar dari tangannya.
"Yaudah iya, tapi harus hati-hati ya, kabarin kalau ada apa-apa," ujar Damar.
Kiana menghela napas setelah Damar akhirnya memilih pergi naik motor lebih dulu dan meninggalkan dirinya. Kiana menyibukkan diri dengan ponsel untuk menghubungi Alira yang sampai sekarang belum juga di angkat.
Ia menghela napas, Kiana berjalan menuju depan gerbang dan tersentak kaget saat sebuah batu di lemparkan ke arah kakinya. Kiana mendengus dan mengambil batu itu dan ternyata terdapat sebuah kertas. Dengan penasaran Kiana bergegas membacanya.
Segera ke jalan xxxx kalau mau temanmu selamat
Tulisan dengan tinta merah. Kiana mengerutkan kening tak paham, ponselnya berbunyi menampilkan nomor asing yang mengirim sebuah foto. Mata Kiana melotot saat melihat jika itu adalah foto Alira yang tidak sadarkan diri dengan posisi terikat. Jadi ini sebabnya Alira tidak bisa di hubungi?
Datang sendiri dan jangan laporkan masalah ini pada siapapun jika kau ingin sahabatmu selamat.
Tubuh Kiana gemetar dan tidak bisa berfikir jernih hingga taksi pesanannya datang. Ia bergegas masuk dan menyuruh supir menuju alamat di kertas itu. Ia khawatir pada Alira.
Di perjalanan, Kiana terus menuntut agar lebih cepat lagi. Ponselnya kembali berbunyi, Devan yang menelpon. Belum juga Kiana mengatakan hallo ia langsung di sela oleh suara panik Devan.
"Kiana jangan ke mana-mana! Tetap di rumah!"
"Kiana lo dengar gue kan?"
"Hallo Kiana! Arghh sial! Kiana jangan kemana-mana gue sama Sari otw ke rumah lo sekarang! Pokoknya jangan keluar bahkan ke teras aja!"
"Yang cepat bawa mobilnya Devan!"
Kiana tidak mengerti dengan ucapan Devan. Ia terlalu panik pada Alira.
"Devan gue... tit!" belum selesai berbicara ponsel Kiana tiba-tiba mati.
"Arghh gue panik sumpah!"
Taksi yang di tumpangi tiba di jalan sesuai alamat di kertas.
Kiana turun dan hendak membayar taksi itu namun mobil biru itu sudah pergi melaju tanpa menunggu bayaran. Kiana sudah memanggilnya berulang kali, namun tak ada tanda-tanda taksi itu berbalik.
Kiana menghela napas, ia menatap sekitar mencari keberadaan Alira atau mungkin orang yang menculiknya. Namun tak ada.
"Keluar lo kalau berani! Jangan jadi pengecut! Lepasin temen gue!"
Tak ada balasan. Jalan ini sangat sunyi, dan hanya ada satu mobil merah yang Kiana yakini itu kosong karena ia tidak bisa melihat jika ada pengemudinya di dalam.
Kiana terlalu panik hingga tidak bisa berfikir jernih. Ia terus celingak-celinguk berharap mendapatkan titik terang di mana Alira.
Hingga suara mobil mengalihkan perhatiannya. Bukannya mau bodoh seperti di film-film, namun nyatanya Kiana tak sempat menghindar pada saat mobil merah itu sudah siap menghantam tubuhnya. Mata Kiana terpejam, ia tidak merasakan apa-apa lagi semuanya gelap.