
Tiba di kantin, Alira mendapati Kiana bersama inti Tiger kecuali ketua mereka yang tidak ada di situ. Ah Alira ingat, saat menuju ke kantin, ia melihat siluet Azam entah dari mana dan juga bersama Elsa.
"Kalian bolos juga?" tanya Alira saat sudah duduk di sebelah Kiana. Ia duduk berhadapan dengan Ringga yang merupakan tunangannya. Sedangkan Loli, sudah pasti duduk di antara Bian dan Jeje.
"Free class kita," saut Bian yang nampak tengah makan bakso.
Alira mengangguk mengerti. Ia memanggil Ibu kantin untuk memesan makanannya dengan Loli.
"Kenapa gak masuk Kia?" tanya Alira pada Kiana.
"Males. Masih pagi gue udah ketemu demit," balas Kiana acuh.
Mereka semua tau siapa yang dimaksud Kiana. Siapa lagi kalau bukan Elsa.
"Apa pusing ya Ki, tinggal baku hantam aja sih kalian." ujar Alan yang duduk di sebelahnya.
Kiana hanya terkekeh. Kemudian ia menatap Alan yang tengah berbicara sendiri.
"Gak usah heran gitu Kia, tuh si Alan lagi di tempelin hantu," ujar Bian. Ia sudah tidak asing kalau melihat sahabatnya itu berbicara sendiri.
"Bukan hantu, Yan, tapi setan awhh!" Alan meringis dan mengusap kepalanya. "Hobi banget ni setan kdrt sama gue," gerutu Alan berbicara kesal pada hantu gadis yang berdiri di sebelahnya.
"Aku bukan setan Alan! Lama-lama kamu ngeselin ya," ujar hantu itu yang hanya Alan yang bisa mendengarnya.
"Kalau bukan hanyu terus saha? Makhluk astral? Sama aja elah!" ketus Alan.
"Belum juga aku buka mata batin kamu. Biar tau rasa kamu," omel hantu itu sembari bersedekap dada. Jika di perhatikan, hantu itu sangat cantik hanya saja wajahnya pucat. Rambutnya hitam sebahu, bibir mungil dan hidung mancung. Juga jangan lupakan iris matanya yang hitam legam.
"Jangan ya Len, gue semprot pake air bawang putih lo, biar lenyap," balas Alan ngeri. Bisa mati dia jika melihat banyak hantu yang paling ia takuti.
Loli ngeri melihat Alan seperti orang gila berbicara sendiri. Ia segera memeluk lengan Bian dan menyembunyikan wajahnya di bahu cowok itu.
"Udah gak usah takut. Selagi itu hantu gak ganggu kita, jadi santuy aja." ujar Bian berusaha menenangkan Loli.
"Ni si Loli kayaknya udah jadi pohon pelakor, bukan bibitnya lagi," ucap Jeje.
"Lo cemburu Je?" tanya Bian mengangkat sebelah alisnya.
Jeje bergidik. "Gue hajar juga lo Yan, kalau ngomong kek gitu," ujar Jeje. Ia lebih suka menggoda Bian atau siapa saja, asal jangan di goda balik. Jeje akan ngeri sendiri.
"Lo tau namanya Lan?" Ringga bertanya pada Alan saat mendengar kata Len.
"Hu'um. Namanya Alena, makhluk astral yang amnesia. Dia gak tau kapan dia mati dan apa penyebabnya, gila sih, malah minta tolong gue buat nyari kuburannya kalau gak jasadnya," sungut Alan, ia mendelik kesal ke hantu Alena yang tengah mengerucutkan bibirnya.
"Gara-gara ni hantu, gue kehilangan lima pacar gue dalam dua hari. Ya kali, gue lagi kencan malah pacar gue di gangguin dan jadi ngeri ketemu gue. Nyebelin emang ni hantu," lanjutnya membuat hantu Alena menunduk.
"Alan salahin aku? Jahat banget. Aku gangguin pacarmu itu karena kamu gak mau bantuin aku." Hantu itu mulai menangis membuat Alan terkejut. "Aku pergi dulu, mungkin dua hari kedepan gak bakalan gangguin Alan lagi."
"Lo nangis eh kok ngilang? Len! Alena woy makhluk astral, setan, hantu kembarannya kunti, lo kemana?" Alan mengedarkan pandangannya mencari sosok hantu Alena.
"Hantu bisa ngambek juga ya," ujar Ringga yang nampak kebingungan.
"Hmm gue cabut duluan ya, Caca chat gue," ujar Alan sambil berdiri.
"Yang nomer ke enam Lan?" tanya Bian yang di balas acungan jempol oleh Alan.
"The best banget bestie gue," balas Alan tertawa. Kegabutan Bian yang membuat Alan lucu sendiri. Sahabatnya itu tau semua pacar-pacarnya.
Setelahnya Alan cabut untuk menemui pacarnya. Sedangkan yang lain mulai melanjutkan makan kembali. Kecuali Kiana yang hanya diam sembari memperhatikan jari manisnya yang tersemat cincin pernikahan.
"Eh kalian udah dengar ada pembangunan istana permen di sebelah taman kota? Loli gak sabar buat datang ke sana. Pokoknya Loli harus jadi orang pertama yang masuk, pas udah buka," ujar Loli antusias.
"Permen mulu pikiran lo," ujar Bian sambil mengusap nasi goreng yang belepotan di sudut bibir Loli.
"Permen adalah dunia Loli," ujarnya bangga. "Pokoknya kalian harus bawa Loli ke sana. Eh, ulang tahun Loli tiga bulan lagi, pokoknya Loli mau ulang tahun di rayain di sana," pintanya.
"Ck! Nanti gue beliin lo istana deh, Li," ujar Bian membuat Loli berbinar.
"Istana permen?"
"Bukan, tapi Istana lumpur hahahah." Bian tertawa kencang membuat Loli cemberut.
"Bian mah, seharusnya Bian bilang gini, iya nanti gue beliin istana permen yang banyak buat lo, biar lo seneng. Gitu. Seharusnya Bian ngomong gitu. Aaaa kalau gitu Loli jadi keinget sama my bebeb Abi," pekik Loli.
"Abi?" Semua mata mengarah pada Loli dengan penasaran kecuali Alira.
"Cowok fiksi yang dia suka sampe gak sadar diri," ujar Alira menjawab kebingungan mereka. Alira tau semua tentang sepupunya.
"Suka kok sama cowok fiksi," ujar Jeje dengan menggelangkan kepalanya.
"Ih dari pada Jeje suka kok sama cowok juga. Nanti kalau nikah gimana? Jeje mau adu pedang?" ceplos Loli.
"Loli!" Alira dan Kiana melotot pada Loli.
Loli meringis saat Jeje menyentil keningnya. "Sok polos lo padahal otak lo plus-plus kan?" tuduh Jeje membuat Loli menatapnya bingung.
"LOLI!"
"Loh Sarah?" Itu adalah teman sebangku Loli saat masih di kelas IPS juga temannya jika ingin menghalu tokoh fiksi.
"ABI UDAH UPDATE LI! BAHKAN AUTHORNYA DOUBLE UP! LO UDAH BACA BELOM? AAA SI ABI MAKIN MERESAHKAN LI, GUE GAK TAHAN BANGET SAMA SIKAP MANISNYA, PENGEN TUKAR POSISI SAMA MILKITA," pekik Sarah dengan suara cemprengnya.
"Beneran? Loli belum baca. Ayoo kita baca bareng, bentar Loli minum dulu." Loli menyelesaikan makannya dan beranjak berdiri.
"Makan dulu Loli," titah Kiana membuat Loli menggeleng.
"Loli kenyang hehe. Loli pergi dulu babay," ucap Loli.
Alira geleng-geleng. Sudah biasa sikap Loli yang akan antusias jika menyangkut cerita yang ia baca.
"Gila sepupu lo Al," ujar Jeje.
"Gila ya Je?" Bian bertanya pada Jeje. Menatap Jeje dengan pandangan yang sulit di artikan.
"Gue tau rahasia lo Je," ujar Bian pelan yang hanya di dengar oleh Jeje. Membuat jeje tersentak.
"Lebih gila lo Je," balas Alira tajam. Ah Jeje lupa jika Alira akan tidak terima jika ada yang mengatai Loli apalagi Kiana.
Kiana nampak ingin berdiri untuk pergi, namun ia urungkan niatnya saat seorang cowok berseragam rapih datang dengan sebuah tupperware berwarna biru di tangannya.
"Assalamualaikum," ujarnya
"Wa'alaikumsalam."
"Eh Pak ustad apa kabar Pak?" ceplos Bian pada Rayyan.
"Yang jadi imam sholat Isya semalam gak sih Yan? Yang baca surah Ar-rahman itu?" tanya Kene membuat Bian mengangguk. Kebetulan mereka tadi malam sholat di masjid komplek perumahan Rayyan.
"Anjir terpesona gue sama suara lo," ujar Jeje. "Hati-hati Ray, Jeje kayaknya tertarik sama lo," sahut Bian tertawa.
"Sembarangan lo." sungut Jeje.
"Mau ngapain lo?" tanya Ringga.
Rayyan mengangkat Tupperware di tangannya. "Saya mau mengantarkan kue titipan Umi, buat Kiana." Rayyan mengutarakan maksudnya.
"Buat gue?" tanya Kiana dan menerima pemberian Rayyan.
Rayyan mengangguk tanpa menatap Kiana maupun Alira. "Iya, Umi juga bilang semoga kamu suka sama kuenya," ujarnya.
"Pastinya Kiana bakal suka sama kuenya." sahut Alira.
"Kalau gitu, saya pergi dulu," ucap Rayyan namun Kiana mencekal lengannya. Kebetulan Rayyan berdiri tak jauh dari tempat duduknya.
Rayyan melotot dan tak sadar menatap Kiana lama. Sudah Rayyan katakan, ia akan lemot jika berhadapan dengan Kiana.
"Thanks ya. Bilang sama Umi, gue suka banget sama kuenya." ujar Kiana dengan tersenyum manis membuat Rayyan mengerjap.
"Ah iya sama-sama. Kalau begitu saya pergi dulu assalamualaikum." ujar Rayyan dengan cepat. Ia melepaskan tangan Kiana dan pergi.
"Wa'alaikumsalam."
Kiana terkekeh. Ia bisa melihat jika Rayyan tengah mengusap telinga, tengkuk dan juga pipinya. Dari tingkahnya, seperti orang salah tingkah bahkan Rayyan hampir menabrak kursi membuat Kiana geleng-geleng.
"Lo sedekat itu sama dia Ki?" tanya Ringga menyelidik.
"Biasa aja," respon Kiana acuh.
"Pernah liat cowok plin-plan, goblok bin tolol gak?" tanya Bian pada semua. Tak ada yang menjawab hingga Bian melanjutkan ucapannya.
"Azam, cowok terbego yang mau jadi babunya Medusa alias Elsa." lanjut Bian.
Kiana mengerutkan keningnya. "Dari inti Tiger, gue liat lo gak suka banget sama Elsa! Why?"
Bian terdiam, namun tangannya terkepal.
"Secret," balasnya singkat. Kiana tidak bertanya lagi. Ia tidak mau Bian merasa risih jika ia bertanya terus.
Kiana sangat yakin jika Bian ada masalah pribadi dengan Elsa.
"Udah lanjut makan. Lo juga lanjut makan Je, atau lo mau Mas ganteng suapin huh?" Bian menggoda Jeje membuatnya tersedak saat minum.
"Bangsat lo Yan, jijik gue dengernya!" pekik Jeje dengan suara beratnya membuat Bian tertawa.
Bugh!
"Anjing!" Bian membekap mulutnya saat Jeje memukul belakang kepalanya.
"Lo ketularan Azam ya Je, jadi lo kdrt sama gue," sungut Bian.
"Ngapain lo nutup mulut gitu?" tanya Jeje. Ia memukul belakang kepala bukan depan.
"Ingus gue keluar anjir. Gue mau bersin tapi lo malah mukul pala gue," runtuk Bian. Ia berdiri dan mengambil banyak tisu. "Gue ke toilet dulu," pamitnya membuat Jeje tertawa.
"Jorok lo Bian haha."
Kiana mengerutkan keningnya menatap Bian. Ia merasa ada yang janggal, namun setelah itu ia mengedikkan bahu. Mungkin hanya perasaannya saja.
****
Di sebuah ruangan dengan cahaya yang remang. Nampak seseorang tengah duduk di atas meja sambil memainkan belati yang terdapat noda darah.
Bibirnya menyeringai seram dan menatap cowok berjaket hitam yang berdiri di depannya.
"Lo yakin bakalan hancurin dia?" tanya cowok berjaket hitam itu pada temannya.
Orang yang tengah memainkan belati itu tersenyum miring dan menyugar rambutnya.
"Of course, karena dia sudah berani mengganggu kesayangan gue." orang itu menjilat bibir bawahnya dan semakin menyeringai. "Kehancuran adalah balasannya."
Cowok berjaket itu menghela napas. "Dia orang terdekat..."
"Gue nggak peduli. Dia tetap akan hancur dengan cara manis yang udah gue rencanakan," selanya membuat cowok berjaket itu hanya bisa diam.
Ia tahu, banyak rencana licik yang sudah tersusun di otak temannya itu. Dan ia yakin tak ada yang bisa lolos.
"Lo baru tau fakta ini kemarin. Gak mau di selidiki lagi sebelum lo mulai bertindak?" cowok berjaket itu bertanya lagi.
Yang di tanya hanya terkekeh kecil namun sorot matanya langsung menghunus tajam. Ia melempar belatinya dengan cepat, melewati samping wajah cowok berjaket itu bahkan sedikit menggores pipinya sebelum menancap pada seekor kelinci putih yang tergantung di dinding di belakang cowok itu.
"Lo kenal gue dengan baik Rios. Gue gak akan bertindak kalau buktinya belum jelas," ujarnya membuat Rios menahan napas sejenak.
Ia lupa dengan kemampuan temannya ini. "Ah, gue lupa kalau gue lagi berhadapan dengan siapa." ujar Rios membuat cowok itu terkekeh.
"Ini permainannya akan seru. Dan lo akan terpukau dengan rencana gue."