
"KIANA!"
Si empu yang punya nama tersentak saat tangannya di cekal. Ia menoleh ke arah pelaku, ia mendapati Azam dengan napas tersengal-sengal. Cowok itu mengejar Kiana tadi.
"Hmm?" Alisnya terangkat sebelah membuat Azam menghela napas pelan.
"Pulang bareng gue, mau ya? Mommy kangen sama lo dan ingin ketemu lo." ajak Azam. Ia ingin memperbaiki hubungan mereka berdua.
Semenjak kejadian Azam menonjoknya, ia tidak pernah pulang ke rumah mertuanya. Kiana sekarang tinggal di apartemen pembelian Papi Zain. Apapun keputusan Kiana Zara dan Zain akan mendukungnya. Sepenuhnya memang salah Azam yang selalu menyakiti fisik Kiana.
"Gak mau, gue pulang sendiri aja," tolak Kiana datar. Ia sudah malas berurusan dengan Azam.
"Gue maksa. Ayo balik." Azam mulai menarik tangan Kiana lembut, namun Kiana tidak bergeming. "Gue traktir coklat sama es krim."
Kiana tersenyum sinis. "Gue tetep gak mau!" ujar Kiana dan melanjutkan langkahnya.
Azam menghela napas kasar. Kiana sudah membenci dirinya sekarang ini, tapi ia akan tetap berusaha.
"NENG KIANA," teriak Bian dari parkiran.
Kiana menatap Bian sejenak, sebelum tersenyum tulus. Dari semua teman Azam, entah kenapa Kiana lebih suka melihat Bian. Cowok itu bisa di bilang normal dalam hal pikiran, tidak ogeb seperti Azam.
"Gue lebih suka Bian dibanding lo, Zam." Kiana balik menatap Azam yang terkejut dengan ucapannya. "Bian orangnya pintar dan gak gob**k, beda sama lo yang udah borong semua sikap gak benar.
Bian tertawa mendengar ucapan Kiana. "Owalah anjay, gue lebih menggoda di banding lo, Zam!"
Azam mendengus kesal. Ia membuang pandangannya, mengacak rambutnya frustasi sembari mengatur napas yang memburu akibat cemburu.
"B-bian, anter gue pulang dulu yuk. Cepetan, gue udah gemetar nih," ujar Alan tiba-tiba. Cowok itu sudah duduk di jok belakang motor Bian. Tubuhnya masih gemetar akibat hantu yang ia tidak kenal masih terus mengikutinya.
"Ganggu suasana aja lo. Untung sahabat gue, kalau enggak udah gue buang di kuburan lo," sentak Bian. Ia masih kesal dengan Alan yang ngompol sembarangan hingga kena sepatunya. Alhasil Bian sekarang tinggal pakai sendal jepit yang ia ambil diam-diam di depan mushola saat sholat dhuhur tadi, entah milik siapa.
Sedangkan Alan sendiri, cowok itu sudah mengganti celananya dengan celana baru yang ia beli di koperasi. Dan jangan lupa, sejak tadi Alan terus memakai helm full face nya karena malu. Gila! Kejadian ia ngompol langsung tersebar di seluruh Antero sekolah bahkan jadi perbincangan di setiap grup kelas sampai para guru. Alan malu cuy! Image Alan jadi buruk.
"Ringga mana, Yan?" tanya Azam yang tidak melihat kehadiran sahabatnya itu.
Cowok itu terlihat tengah memakai helm sebelum berujar. "Nganter Alira mungkin. Eh bukan cuman Alira, tapi sama si permen." jawab Bian.
"Emang cukup?" tanya Kiana.
"Ringga pinjam mobilnya Jeje, terus motornya, si Jeje yang bawa ke markas."
Kiana menghela napas kasar saat orang yang menjemputnya belum juga sampai. Azam dengan setia masih berada di belakang Kiana.
"Ayok pulang." ajak Azam. Sebelum itu ia melepas jaket kebesarannya dan mengikatnya di pinggang Kiana.
Kiana hanya pasrah, mau tidak mau ia harus pulang bareng Azam. Kemudian ia naik di jok belakang motor Azam.
"Azam!"
Saat ingin menjalankan motor, Azam tersentak saat Elsa berdiri menghalangi jalan.
Kiana berdecak di belakang. Ia malas sekali melihat wajah sok polos itu.
"Azam, boleh antar aku pulang dulu? Tadi mau minta Ringga anterin, tapi dia gak tau di mana. Aku udah telfon juga tapi gak di angkat-angkat. Mau ya?" pinta Elsa.
"Kiana, lo turun dulu dan tunggu di sini. Gue mau antar Elsa dulu." ujar Azam.
Elsa tersenyum senang melihat Azam lebih memilih mengantar dirinya ketimbang Kiana.
Kiana turun dari motor dan melepaskan jaket yang di pasangkan Azam dan melemparkannya ke sembarang arah. Kemudian melangkahkan kakinya menuju gerbang. Ia merogoh ponselnya untuk memesan taksi online. Sangat malas melihat drama Azam dan Elsa, jika di lihat mereka memang pasangan yang serasi.
Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya taksi sudah sampai di depan gerbang sekolah. Tanpa menunggu lama ia segera naik ke dalam mobil itu.
Kiana menyuruh supir taksi untuk berhenti di depan warung bakso. Setelah membayar taksi, Kiana berjalan menuju warung di pinggir jalan. Ia memesan dua mangkuk bakso, satu porsi nasi goreng dan juga dua gelas es teh. Ah, ia sangat kelaparan, padahal tadi saat jam istirahat kedua ia sempat makan mie ayam di kantin.
Yah, Kiana tidak bisa jauh-jauh dari makanan.
"Banyak banget makannya, Neng," ujar sang penjual saat mengantar pesanan Kiana.
Kiana hanya tersenyum. "Biasa Mang, perut saya banyak penghuninya, jadi gak boleh kalau cuman makan sedikit," ujar Kiana cengengesan sembari mencepol rambutnya asal-asalan.
Pria paruh baya itu ikut terkekeh. Ia geleng-geleng kepala melihat pipi Kiana yang mengembung. Gadis itu terlihat imut. Beruntung sekali pria yang bersanding dengannya kelak. Pikir pria tua itu. Ia tidak tahu saja jika kecantikan Kiana sudah di sia-siakan oleh suami abal-abalnya.
Kiana menikmati makanannya dengan khidmat. Ia mengabaikan orang sekitar yang terang-terangan memuji pipi chubby nya saat mengunyah makanan. Yah, nasib orang cantik memang sudah begini. Pikir Kiana kepedean.
Setelah selesai makan dan membayar, Kiana melanjutkan langkahnya menyusuri trotoar. Kedua tangannya terlihat tengah membawa sesuatu. Ternyata Kiana membawa es Boba dan juga cilok yang ia beli di sebelah warung bakso tadi. Ternyata Kiana belum kenyang.
Di sela-sela mengunyah Boba, Kiana mengedarkan pandangannya hingga tatapannya tertuju pada wanita yang baru saja keluar dari mobil. Kening Kiana berkerut, ia memicingkan mata untuk memastikan jika ia tidak salah lihat.