
Semua orang yang melihat kejadian dimana Kiana menolong Elsa hanya bisa terbengong heran.
"Lain kali kalau jatuh kayak tadi, langsung bangun, bukannya diam dan malah nunduk kayak pengemis aja. Btw ini bukan kayak di Drakor ya. Di mana lo jatuh, ada cogan yang nolongin lo." ucap Kiana, ia mengusap bahu Elsa dan tersenyum tipis.
Elsa menatap Kiana takut-takut. Ia sedikit terkejut karena Kiana tidak memberi kontak fisik dengannya kali ini. Sungguh keajaiban, jujur saja, setiap hari di sekolah dia tidak pernah absen untuk memberi dirinya pelajaran karena berani dekat-dekat dengan Azam.
"Makasih Angel."
"Panggil gue Kiana mulai dari sekarang." Kiana menepuk pelan pundak Elsa.
Alira yang heran dengan segera menarik tangan Kiana dari pundak Elsa.
"Kia, lo ngapain malah bantuin dia sih? Bukannya tampar atau jambak aja. Kalau lo lupa, dia masih gatel sama lakik lo!" protes Alira yang nampak tidak suka dengan apa yang di lakukan Kiana. "Lo aneh tau nggak!"
Kiana hanya diam tidak ambil pusing perkataan Alira. Ia sendiri bingung harus bersikap bagaimana. Kiana sangat paham maksud Alira.
"Ini masih pagi Al, gue lagi mager nyari masalah. Lagian buat apa gue kasar sama dia? Mengenai dia gatal sama Azam, gue nggak peduli. Mau dia ulat bulu atau cacing kepanasan, bodoh amat deh." jawab Kiana seadanya. "Udah kuy ke kelas! Capek gue berdiri mulu." lanjut Kiana, ia langsung berjalan begitu saja meninggalkan Alira dan kerumunan siswa yang terheran dengan kejadian ini.
"Itu beneran Angelina?"
"Edan, yang di omongin tadi beneran nggak sih? Njirr gue kayak dapat lampu ijo buat dapetin dia."
"Idihh bangun dari mimpi lu, ya kali Angel mau sama manusia kayak elo."
Masih banyak lagi komentar dari para netizen yang berada di koridor. Alira hanya diam di tempatnya sambil menatap tajam ke arah Elsa.
"Jangan lo pikir, lo bisa bebas dari gue ya. Di mata gue, lo itu tetep orang yang wajib gue singkirkan." ucap Alira dan mendorong bahu Elsa dengan jari telunjuknya sebelum berlalu begitu saja.
Elsa menunduk dalam, sedangkan para murid lain sudah bubar dan masuk kembali ke kelas masing-masing.
Dari arah belakang, Azam and the geng ikut melihat apa yang terjadi dari awal sampai akhir. Sebenarnya Azam dan Ringga ingin menghampiri Elsa yang tengah berhadapan dengan Kiana dan Alira, namun Bian dan Alan menahannya karena mereka ingin melihat apa yang akan di lakukan Kiana.
"Lo nggak papa?" tanya Azam setelah tiba di depan Elsa.
Elsa menggeleng kecil dan mengangkat wajah. Ia tersenyum manis ke arah Azam.
"Aku nggak apa-apa kok, cuman ini aja tangan yang sedikit sakit karena jatuh." ucap Elsa.
"Nanti biar gue marahin mereka." ucap Azam.
"Eh jangan, mereka nggak salah kok. Tadi aku yang nabrak mereka, jadi nggak perlu di marahin." ucap Elsa.
"Lo jadi orang jangan terlalu lemah, Sa. Biasakan jadi kuat, nggak selamanya Azam dan Ringga belain dan jagain lo terus." Bian angkat bicara dengan tatapan tidak suka mengarah ke Elsa.
"Bian!" peringat Azam.
Bian hanya pasrah dan memilih diam dari pada mencari masalah. Alan yang melihat itu langsung merangkul bahu Bian dengan terkekeh kecil.
"Maafin aku ya, aku emang lemah dan nggak bisa jaga diri sendiri. Jadi malah ngerepotin kalian." ucap Elsa lirih dengan kepala menunduk dan tangan saling bertaut di depan perut.
"Diam ogeb!" ucap Alan pada Bian.
Azam menghela napas dengan pelan meraih tangan Elsa untuk di genggam.
"Jangan dengerin omongan Bian. Gue antar ke kelas." ucap Azam kemudian menarik tangan Elsa menuju kelas.
Elsa tidak menolak, ia tersenyum menatap genggaman tangannya dan Azam. Apalagi saat melihat Ringga yang ikut mengantarkan dirinya ke kelas XI IPA 3 yang merupakan kelasnya dan sekaligus kelas Kiana dan Alira.
Sedangkan Alan dan Bian sudah lebih dulu ke kelas XI IPS 2 yang merupakan kelas mereka.
"Azam dan Ringga milik aku selamanya." gumam Elsa disertai senyum merekah di bibirnya.
****
Di kelas, Kiana menjatuhkan kepalanya di atas meja. Ia tiba-tiba mengantuk dan ingin tidur.
Alira ikut duduk di sebelahnya dan menaruh tas di laci. Ia mengamati Kiana yang masih menelungkup kan wajahnya.
"Ngantuk lo?" tanya Alira yang hanya di balas deheman saja oleh Kiana.
"Ke UKS aja gih, tidur di sana aja. Nanti pas istirahat gue bangunin." suruh Alira membuat Kiana mengangkat kepalanya.
Kiana menguap sebentar sebelum menggeleng. "Nggak deh, gue nggak mau ketinggalan pelajaran." ucap Kiana.
Alira terkekeh mendengarnya. "Bisa ae lo ngomong gitu. Pas guru masuk aja malah tidur atau nggak ngelamun Azam." ucap Alira mengumbar aib buruk.
Kiana yang mendengar hanya bisa meringis pelan. Memang sepertinya tidak ada hal positif di dalam diri seorang Angelina, semuanya negatif. Dan sial sekarang Kiana malah terjebak di dalam tubuhnya.
"Jangan terlalu jujur deh Al, gue jadi malu dengernya." ucap Kiana.
Alira langsung menggandeng bahu Kiana.
"Biar lo bisa sadar, Kia. Selama ini lo hanya fokus ngejar Azam, Azam dan Azam. Sampai lo itu lupa sama masa depan lo sendiri, sebenarnya gue nggak ngelarang lo ngejar dia sih, kerena sekarang dia itu posisinya udah jadi suami lo. Tapi gue cuman kesel aja, apalagi sifat Azam yang kayak gitu sama lo, bawaannya gue mau tonjok mukanya!" ucap Alira panjang kali lebar dan sampe lupa tarik napas juga mungkin.
"Gue udah mulai sadar sekarang, Al. Gue nggak akan ngejar Azam lagi. Bener kata lo, gue terlalu fokus buat dapetin dia sampe gue lupa sama diri gue sendiri." ucap Kiana.
"Kia, jangan tersinggung ya, gue ngomong kayak gitu, cuman nggak mau lo kenapa-napa aja." ucap Alira yang takut jika Kiana tersinggung dengan semua ucapannya.
Kiana terkekeh. "Enggak lah. Lagian yang lo omonhom ada benarnya juga." ucap Kiana yang membuat senyum Alira mengembang.
"Ini baru sahabat gue yang pinter." Alira memeluk Kiana membuat gadis yang dia peluk malah terkekeh geli.
Semua murid di kelas sedikit mencuri pandang ke arah dua gadis itu. Mereka memang terkenal dengan attitude buruknya yang suka menindas orang, namun di balik semua itu, keduanya mempunyai ikatan persahabatan yang sangat kuat, bahkan murid lain iri melihatnya.
"Ngapain liat-liat, mau gue tusuk matanya?" ucap Alira melotot pada teman sekelasnya membuat mereka langsung kicep dan membuang pandang.
****