Kiana Story

Kiana Story
Bab 13



Azam mengatur deru napas yang memburu karena kesal. Ia menatap Kiana dengan penuh kebencian.


"Rasain nih." Dengan kurang ajarnya, Azam melilit seluruh tubuh Kiana dengan selimut hingga menyerupai kepompong. Bahkan Kepala Kiana tidak terlihat karena ikut terbungkus selimut.


Kiana memekik tertahan dengan ulah Azam. Belum berakhir di situ, Azam mengangkat tubuh Kiana yang terbungkus selimut ke arah balkon kamarnya.


"Gue lempar dari sini, bagus deh kayaknya." ucap Azam, ia mengangkat tinggi-tinggi tubuh Kiana di dekat pembatas balkon.


"Azam bajingan, turunin gue!" suara Kiana terdengar samar dan terus memberontak.


"Tidur di luar, hama seperti lo nggak pantas di kamar gue." ucap Azam dan menjatuhkan begitu saja tubuh Kiana di lantai balkon sebelum masuk ke dalam kamar.


Kalau saja tidak terbalut selimut tebal, tidak kebayang bagaimana sakitnya tubuh Kiana yang di jatuhkan begitu saja.


Azam memang tidak punya hati. Ia membaringkan tubuhnya di ranjang dan bersikap bodoh amat dengan Kiana yang kini tengah berusaha membuka lilitan selimut di tubuhnya. Yang mungkin saja sudah terasa sesak.


"Azam bangsat! Kurang ajar lo!"


****


Matahari sudah terbit dari ufuk timur. Angin berhembus pelan semakin menambah suasana pagi semakin sejuk.


Pagi ini suasana jalanan tampak padat. Jelas, jika sekarang hari Senin. Hari di mana orang-orang sibuk dengan kegiatan masing-masing. Mulai dari pelajar yang pergi ke sekolah ataupun pekerja yang ke kantor.


Di bangunan megah tempat keluarga Nugraha tinggal, Kiana sedang kalang kabut dan heboh sendiri di kamar.


Dirinya tengah berdiri di depan cermin sambil mengoleskan salep pada luka di wajahnya dengan gerakan cepat karena di kejar waktu. Penampilannya jauh dari kata rapih. Kemeja yang belum terkancing dan juga dasi yang hanya bertengger di bahu.


Setelahnya Kiana lari kembali ke sudut ruangan untuk mengambil sepatu dan membawanya ke ranjang. Ia mulai mengenakan kaus kaki sebelum memakai sepatu. Setelah itu ia mengambil tas yang ada di sofa, dan memakainya di pundak.


Kiana menghela napas sejenak, kemudian menatap jam yang sudah melingkar di pergelangan tangan. Sudah pukul 06:45.


"Anjir bisa telat gue." panik Kiana, ia bergegas keluar dari kamar dan menuju lantai bawah.


"Sial." Ia terlambat bangun karena ulah Azam yang kurang ajar semalam. Kalau saja Kiana bisa tidur nyaman tadi malam, ia mungkin tidak akan kesiangan seperti ini.


Beruntung peralatan sekolah sudah ia siapkan, jadi ia tidak perlu rempong pagi ini untuk mencari-cari.


"Pagi Mom, maaf ya Kiana telat bangun." ucap Kiana sambil berjalan ke ruang makan.


"Loh, Azam nggak bangunin kamu?" tanya Zara yang tengah duduk sambil menikmati secangkir teh.


Ruang makan tampak sunyi, karena Zain sudah pergi ke kantor. Sedangkan Ipin sudah ke sekolah TK. Begitu juga dengan Azam, cowok itu sudah pergi lebih dulu.


"Aduh Mom, bakalan jadi segitiga kepala Kiana kalau dia bangunin aku." jawab Kiana sambil mengambil asal roti di atas meja. "Aku pamit Mom, udah telat." lanjut Kiana sambil meneguk air putih yang tersedia di meja, entah milik siapa.


"Papi mana, Mom?" tanya Kiana dan semakin panik saat jam sudah menunjukkan pukul 06:49.


"Papi udah berangkat, soalnya mau ke luar kota. Terus supir juga lagi antar Ipin ke sekolahnya." jawab Zara. "Kamu bawa mobil sendiri aja ya, itu pake mobil Mommy." tawar Zara membuat Kiana melotot.


Kiana tidak bisa naik mobil dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Anu Mom, ada motor aja nggak? Aku nggak bisa bawa mobil." jujur Kiana yang malah gantian membuat Zara terkejut.


"Hah? Nggak salah kamu?" heran Zara. Ia sangat tahu jika menantunya ini tau mengendarai mobil.


Ini sungguh sulit. Karakter Kiana dan Angel sungguh berbanding terbalik, dan lihat sekarang mereka malah bingung dengan tingkahnya.


"Mom, gimana ada motor gak, kalau ada kuncinya aku pinjam ya. Kiana lagi buru-buru." ucap Kiana berusaha membuat Zara tidak bertanya lagi.


Melihat Kiana yang tampak sangat panik karena akan terlambat. "Ada motor Papi, tapi motornya gede kayak punya Azam." jawab Zara.


"Iya itu aja, Mom. Cepetan ambil kuncinya dong Mom, aduhh Kiana udah telat." paniknya lagi. Zara segera pergi mengambil kunci di kamar, sedangkan Kiana ikut kembali ke kamar untuk mengganti rok sekolahnya dengan celana panjang warna hitam. Tak lupa menyambar jaket denim di belakang pintu dengan asal. Itu jaket kesayangan Azam setelah jaket geng motor, namun Kiana bodoh amat ia sedang buru-buru.


Kiana kembali turun ke bawah dan menunggu Zara, tak lama kemudian yang di tunggu datang dan memberikan kunci motor pada menantunya. Kiana menerima kunci itu dengan senang hati dan berjalan ke garasi rumah untuk mengeluarkan motor CBR 250R milik Papi Zain.


"Kamu beneran bisa bawanya? Kalau jatuh gimana?" Zara tampak panik melihat Kiana tengah menyalakan mesin motor.


"Tenang aja, Mom. Lagian Kiana kan pacar ketua geng, jadi bawa motor gede kayak gini mah gampang." jawab Kiana berusaha membuat Zara tidak khawatir.


Pacar yang Kiana maksud sudah tentu Devan ketua geng Srigala, namun sepertinya Zara salah tangkap dan mengira jika pacar yang di maksud Kiana adalah putranya Azam.


"Yaudah, Kiana berangkat dulu Mom." ucap Kiana sambil menggulung rambut sebelum memakai helm full face milik Zain tentunya. "Shaloom, Mom." lanjut Kiana untuk pamit namum Zara malah melotot mendengarnya.


"Hah?" Sepertinya Mommy Zara linglung.


Kiana yang menyadari langsung berdeham dan meringis sesaat. Dia keceplosan lagi. "Maksudnya, Assalamualaikum, Mom." ucap Kiana kembali.


Malang sekali nasib Kiana. Sudah menjadi istri dadakan dari orang yang nggak ada akhlak, dan juga malah bertransmigrasi ke tubuh gadis yang beda keyakinan dengannya.


"Oh iya, wa'alaikumsalam."?


Setelah berpamitan, Kiana langsung melepaskan kopling dan menarik gas, mulai mengendarai motor besar itu membelah jalanan ibu kota.


Beruntung Kiana hapal jalan menuju SMA Garuda dan juga jaraknya tidak terlalu jauh dari rumah Azam.


Bangunan di SMA Garuda sudah terlihat, Kiana mengurangi kecepatan motornya hingga berhenti di depan gerbang sejenak. Ia menatap jam kembali. Pukul 06:58. Beruntung Kiana tidak terlambat. Gerbang di tutup pukul tujuh pas, dan sekolah masuk pukul tujuh lewat lima menit.


Kiana kembali mengendarai motor untuk masuk ke halaman sekolah. Penampilan Kiana sangat menonjol membuat ia menjadi pusat perhatian.


*****