
Kiana menatap Davian malas yang masih asik membuka mulutnya. Namun Kiana belum juga menyuapkan makanan.
"Keburu di masukin lalat mulut gue Ki," ucap Davian kesal. Sedari tadi ia menunggu dengan mulut terbuka, namun Kiana malah tak kunjung menyuapinya.
Kiana menghela napas. "Sekali ini aja," ujarnya datar.
Davian mengangguk cepat. "Di tambah dua, tiga atau sampai habis juga gue mau kok."
Kiana langsung mendelik. "Keenakan dong lo." Ah sepertinya hidup aman, damai dan tentram yang Kiana harapkan, tidak pernah terwujud.
Dengan perasaan dongkol, Kiana mengarahkan sendok yang sudah berisi makanan ke depan mulut Davian. Kiana sadar jika sekarang ia dan Davian menjadi pusat perhatian, namun Kiana bersikap bodo amat. Lagi pula ia hanya ingin sekali menyuapi Kakak kelas cerewet ini agar ia bisa makan lagi dengan tenang.
Davian tersenyum bangga. Ia sudah siap menerima suapan Kiana, namun semua itu terhenti saat sendok itu di sentak oleh seseorang hingga berakhir terpental entah kemana.
Prang!
Bukan hanya sendok yang melayang, namun piring yang masih terisi penuh oleh nasi goreng sudah berpindah tempat ke lantai.
Kiana terkejut, ia menatap ke arah pelaku.
"Azam?" Kiana mengangkat sebelah alisnya menatap Azam yang tampak kesal.
Azam menatap Kiana tajam, sebelum akhirnya mengalihkan pandangan pada Davian yang memasang wajah datar.
"Maksud lo apaan gah?!" Davian bertanya dingin. Keadaan kantin menjadi senyap seketika.
Azam mendengus kasar. Ia mencengkeram kerah baju Davian. "Seharusnya gue yang nanya kayak gitu, maksud lo apaan minta suap sama istri gue?" Azam menatap Davian tajam. Ia juga menekan kata istri, agar semua orang dengar jika Kiana adalah istrinya.
Bukannya takut, Davian malah terkekeh. Ia menyentak tangan Azam dari kerahnya kemudian bersedekap dada.
"Suka-suka gue lah. Kenapa? Keberatan lo?" Davian mengangkat sebelah alisnya dan tersenyum remeh pada Azam.
Tangan Azam terkepal. Napasnya memburu dan tanpa di duga, satu bogeman mendarat mulus di wajah tampan Davian.
Bugh!
Davian sedikit terhuyung ke belakang namun tidak sampai tersungkur karena ia masih bertahan di sudut meja.
"Keberatan lah bangsat! Gue yang suaminya aja belum pernah di suapin sama Kiana, lo yang orang asing main nyosor gitu aja!"
Kiana mengerjapkan mata berkali-kali. Ia terbengong dengan tingkah Azam saat ini.
"Kayaknya ada yang jilat ludah sendiri nih." Alira berujar, cewek itu masih duduk sambil menikmati minumannya.
"Lo kan udah punya sahabat tercinta lo itu. Siapa sih namanya, Elsa? Dan dia biasanya suapin lo kan? Bahkan saat lo udah nikah sama Kiana. Jadi jangan marah dong kalau Kiana nyuapin cowok lain juga." Davian berucap dengan tenang, ia mengusap pelan sudut bibirnya yang pecah dan mengeluarkan darah akibat bogeman dari Azam.
Davian berkata seperti itu karena ia juga sedikit tahu mengenai hubungan Kiana dan Azam. Hubungan mereka sudah tersebar seantero sekolah. Bahkan sikap Azam yang lebih care ke Elsa juga sudah menjadi pemandangan biasa bagi SMA Garuda.
Napas Azam memburu. Ia ingin menghancurkan wajah kakak kelasnya ini sekarang juga. Sebelum mau menyerang Davian lagi, Azam menoleh pada Kiana yang diam dengan wajah datar.
Wajah Azam memelas saat pandangan mereka bertemu. Argh! Azam ingin sekali membawa Kiana pergi, namun sebelum itu ia harus memberi pelajaran dulu pada cowok di depannya.
Azam menarik sudut bibirnya dan tersenyum miring. "Gue emang cowok bajingan dengan bersikap kayak gitu, itu semua karena gue benci sama Kiana." ucap Azam sambil menatap tajam Kiana.
"Tapi, dia nggak boleh dekat sama cowok lain selain gue!'' lanjut Azam membuat semua orang tersentak.
"Bajingan lo Zam!" pekik Kiana tidak terima.
Azam tersenyum miring menatap Kiana. "Lo selamanya cuma milik gue, Ki. Nggak ada seorangpun yang bisa rebut lo dari gue."
"Busett! Percaya diri banget lo!" ucap Alira.
"Gue nggak suka kalau istri gue di deketin...."
"ANJENG PAK BOS, Di DEPAN ADA DEVAN SAMA ANGGOTA INTI SERIGALA!"
Ucapan Azam terpotong dengan suara melengking Jeje dan Bian yang baru masuk kantin. Hal itu membuat semua mata tertuju pada mereka.
"Sial! Mereka nyerang?" tanya Ringga.
"Santai, gue nggak seorang pengecut dengan nyerang sekolah kalian."
Suasana menjadi hening seketika saat Devan datang bersama dengan sahabatnya. Ada satu cewek berpenampilan bad juga bersama mereka. Itu adalah Sari tunangan Devan.
Dalam benak mereka bertanya-tanya, mau apa musuh bebuyutan Tiger itu datang kesini.
"Ngapain lo kesini? Mau ngajak tawuran? Azam bertanya sinis.
Devan terkekeh kecil. "Santai bro, jangan ngegas dong." Devan mendekati meja Kiana yang kini diam bagai patung.
"Apa lagi ini Ya Tuhan?" ucap Kiana sedikit tertekan.
"Hai," sapa Devan pada Kiana, tak tanggung-tanggung Devan menarik Alira agar keluar dari bangkunya. Hingga Devan bisa duduk di sebelah Kiana.
Kiana tidak membalas. Alis gadis itu terangkat saat pandangannya tertuju pada Sari yang sudah duduk di hadapannya. Cewek itu juga melakukan hal yang sama dengan Devan, ia menarik kerah belakang Azam agar menyingkir hingga ia bisa duduk tenang dengan wajah datarnya.
"Plis, sekolah gue nggak lagi buka jasa penampungan sampah, jadi mending kalian pergi deh," ucap Azam, ia menatap tajam ke arah Devan. "Dan lo, ngapain deketin istri gue anjir!"
Azam tersulut emosi lagi. Ia hendak menghajar Devan namun tangannya terhenti saat Devan menggeleng dan terkekeh kecil.
"Kalem, gue datang baik-baik dan nggak ada niat nyari ribut." Devan tersenyum. "Gue tau, lo kenal baik sifat musuh bebuyutan lo yang sopan ini. Gue nggak akan nyerang sebelum minta izin dulu."
Yah itulah Devan. Jika ingin tawuran atau apapun ia akan meminta izin atau tidak memberitahu jika ingin menyerang.
Setelah itu Devan menoleh pada Usman yang nampak memegang kantung plastik. "Bawa sini, Man," perintah Devan yang langsung di turuti oleh Usman.
Devan menaruh bungkusan itu di depan Kiana. "Nih buat lo. Kasian cokelatnya nganggur di rumah, gue keinget lo, jadi gue kesini deh buat ngasih ini." Devan mendekati telinga Kiana, mengundang tatapan tajam Azam dan Davian.
"Cokelat khusus buat cewek spesial seperti lo." bisik Devan lirih.
Kiana menoleh pada Devan dan tersenyum tipis padanya. Kemudian ia menoleh pada Sari lagi.
Sari menatap Kiana dengan wajah datar khas andalannya. Kiana sangat tahu betul siapa Sari ini. Ketua ekskul karate, bad girl dan juga cewek misterius.
Devan mendelik. "Enak aja, bayar sendiri sana, gue bukan bank berjalan lo ya."
Sari mengedikkan bahunya. "Sayangnya gue anggap lo bank berjalan gue." Sari tersenyum miring dan menyugar rambut pendek sebahunya.
"Nyusahin lo. Kenapa pake acara ikut sih?" Devan di buat kesal, ia merogoh kantong seragamnya dan memberi uang untuk membeli makanan Sari.
"Bodyguard Papi ngikutin lo. Mereka ada di depan, kalau mereka tau lo nemuin cewek, lo tau sendiri apa yang bakalan terjadi. So, cepat selesaikan urusan lo dan kita balik," ucap Sari.
Semua orang bengong mendengar pembicaraan antara keduanya. Apa begitu interaksi antara tunangan itu?
Devan menghela napas. Sial! Pergerakannya selalu di awasi oleh orang suruhan Papinya.
"Belum juga gue bantai tu tua Bangka," ucap Devan kesal. Hubungan antara ia dan Papinya memang kurang baik.
"Lo cuman mau kasih ini kan? Btw makasih dan kalau boleh nggak usah ngasih lagi. Gue nggak mau hutang Budi sama orang," ucap Kiana.
Davian yang awalnya kesal, kini kembali menatap Kiana. Ia mengulas senyum tipis.
"Bukan cuma mau ngasih cokelat buat lo sih. Tapi gue juga ada perlu sama suami kucing lo ntuh." Devan menunjuk Azam dengan dagunya. Setelahnya sebuah botol plastik bekas air mineral mendarat di kepalanya.
"Sialan lo! Gue Singa bukan Kucing!" sentak Azam, ia menarik kerah baju Devan agar menjauh. "Jauh-jauh dari istri gue!"
Mata elang itu saling menatap tajam. Devan masih dengan pembawaan tenangnya. Cowok yang merupakan ketua Serigala itu merogoh sakunya, mengeluarkan sebuah amplop berwarna hitam dan ia serahkan pada Azam.
"Tujuan gue baik datang kesini. Nggak mau cari ribut," ucap Devan dengan bersedekap dada. "Buruan baca. Karena gue punya sopan santun, jadi gue buat surat izinnya. Ya, gue harap lo dengan baik hati ngasih gue izin."
Kening Azam berkerut. Ia menatap tajam ke arah Devan yang tengah tersenyum miring.
Keadaan kantin masih senyap. Mereka ikut penasaran dengan surat apa yang di berikan pada Azam. Kecuali inti geng Serigala, mereka sudah tau isi surat itu.
Dengan cepat, Azam membuka amplop itu, mengeluarkan secarik kertas yang terlipat-lipat. Keningnya berkerut saat tulisan dengan tinta hitam itu tertulis rapih di atas kertas putih itu.
**SURAT IZIN JADI PEBINOR.
Di mohon kepada suami dari Angelina Kiana Putri, sebut saja namanya Azam miaw.
Saya Devandra Hattala Saputra dengan penuh sopan santun ingin meminta izin pada suami sah dari Kiana, agar kiranya memberi saya izin mejadi pebinor di hubungan kalian berdua.
Dan jika suami sah dari Kiana berbaik hati memberi izin, saya akan mempertimbangkan untuk ngajak tawuran geng sebulan tiga kali.
Sekian terima kosong.
Saya yang bertanda tangan di bawah ini**:
Devandra Hattala Saputra, selaku musuh bebuyutan dari Azam Alfarizi Nugraha.
Kedua mata Azam membulat saat membaca deretan kalimat yang di tulis Devan. Ia menatap tajam ke arah Devan yang tengah tersenyum tipis.
Azam mencengkram surat gila itu hingga kusut. Setelahnya ia membuangnya kasar ke lantai.
Atmosfer di kantin tiba-tiba membuat tubuh merinding. Aura pekat terasa menyesakkan.
"SOPAN LO NULIS KAYAK GITU HAH!" Azam berseru keras. Bagaimana bisa ada orang seperti Devan di dunia ini.
"Gue sopan kali, Zam. Buktinya gue minta izin dulu, nggak main di belakang lo," balas Devan masih santai.
Semua orang saling melirik. Kiana ikut penasaran, memangnya apa isi surat yang di berikan Devan hingga berhasil membuat Azam semarah itu.
Davian berlaku demikian. Ia yang penasaran langsung mengambil surat yang di buang Azam kemudian membacanya. Davian menganggukkan kepalanya paham.
Langsung saja Davian memanggil cewek berpenampilan cupu yang berdiri di dekat stand makanan. Dengan ragu cewek itu mendekat dengan wajah menunduk.
"A..ada apa Kak?" tanyanya takut-takut.
"Bagi pulpen sama kertas cepat." ucap Davian ia menjulurkan tangannya. Kebetulan jika cewek itu membawa tas.
"I..iya Kak." Dengan cepat cewek berkaca mata dan rambut di kepang dua itu mengambil pulpen dan kertas untuk Davian.
Davian mengambilnya. Ia meletakkan di atas meja dan mulai menulis deretan kata di kertas putih itu.
Kiana mengernyitkan dahinya. Ia dibuat diam dengan raut wajah bingung.
Setelah selesai, Davian memberi kertas itu pada Azam yang saat itu hampir membogem Devan
"Apaan lagi nih?'' Azam mengambil kertas itu dengan kasar.
"Surat izin juga," balas Davian singkat.
Azam menatapnya tajam, sebelum akhirnya membaca tulisan Davian yang terlihat seperti cakar ayam.
**SURAT IZIN JADI ORANG KETIGA.
Atas izin Tuhan dan restu suami sahnya. Saya Davian Andrian Permana, anak tunggal kaya raya, hasil pertempuran satu malam Papi Delon Permana dan Mami Monica, ingin meminta izin pada Azam selaku suami sah dari si cantik Angelina, agar sekiranya mau mengizinkan saya menjadi selingkuhan dari istrinya sendiri.
Sekian terima dollar**.
Mata Azam kembali membulat. Apa-apaan ini? Dua cowok ogeb meminta izin menjadi orang ketiga di hubungan ia dan Kiana?
"Ngajak baku hantam nih!" Azam menggerakkan lehernya ke kanan dan ke kiri hingga menimbulkan suara. Tak lupa meregangkan otot-otot tubuhnya.
Detik selanjutnya, sebuah tendangan mendarat di dada Devan, dan juga bogeman mendarat di pelipis Davian. Pelakunya adalah Azam, suami sah Kiana yang sudah terlampau emosi.
"ANJENG KALIAN BERDUA! BISA-BISANYA MINTA IZIN BUAT JADI PERUSAK RUMAH TANGGA GUE!"
****
**Gimana perasaan kalian kalau ada yang minta izin kek gitu ke suami sendiri?
Double D emang meresahkan ya**><