Kiana Story

Kiana Story
Bab 59



Bian hari ini akan pergi ke rumah Azam. Sudah dari tadi sore ia menghubungi Azam namun tak kunjung di angkat. Jadi Bian putuskan untuk datang ke rumah Azam malam ini untuk menyampaikan sesuatu hal yang penting.


Hanya butuh waktu dua puluh menit akhirnya Bian sampai di depan rumah Azam. Ia segera melepas helm nya dan berjalan masuk ke dalam rumah itu.


"Azam ada dimana?" tanya Bian kepada Mang Joko.


"Tuan Azam sedang berada di kamar." jawab Mang Joko.


"Baiklah terima kasih," jawab Bian dengan tersenyum. Dari semua anggota Tiger, hanya Bian yang mempunyai sifat ramah seperti ini. Sedangkan yang lain? Bagaikan ice kutub yang keras menunggu akan kedatangan matahari yang bisa mencairkannya.


Setelah itu Bian segera menaiki tangga untuk menuju kamar Azam. Namun, langkahnya terhenti ketika mendengar suara teriakan seorang gadis dari dalam kamar milik Azam. Ia kini melupakan sesuatu bahwa temannya kini sudah menikah, ia tidak seharusnya pergi ke sana.


Tapi, suara teriakan itu membuat Bian segera mempercepat langkahnya. Seketika saat itu juga ada perasaan khawatir yang menyelimuti dirinya. Bian jelas tau pemilik suara itu. Itu suara Kiana.


Di bukanya pintu kamar Azam dengan cepat. Di sana, Bian melihat tubuh Kiana tergeletak di lantai dengan darah yang mengalir di tubuhnya.Sedangkan Azam, hanya diam mematung melihat istrinya yang tak sadarkan diri.


Bian yang melihat itu langsung berlari menghampiri tubuh lemah itu. Hatinya terasa teriris melihat kondisi Kiana yang sekarang. Bahkan lantai itu sekarang banyak terdapat pecahan kaca bertaburan dimana-mana. Membuat Bian harus berhati-hati saat akan menggendong tubuh Kiana.


Azam yang melihat kehadiran Bian yang tiba-tiba langsung menggendong tubuh Kiana membuat amarahnya langsung menyelimuti dirinya.


Tatapannya menajam. Rahangnya mengeras. "Jauhkan tanganmu dari tubuh istriku Bian." titah Azam dengan suara dinginnya. Tatapannya semakin menajam melihat Bian yang telah berani menyentuh miliknya.


"Kita gak punya banyak waktu. Kita harus membawa Kiana ke rumah sakit." ujar Bian. Sungguh, Bian merasa khawatir dengan keadaan Kiana saat ini.


"Jangan sentuh istriku Bian, atau ku patahkan tanganmu!" suara tegas itu membuat Bian langsung meletakkan tubuh Kiana ke atas sofa yang tak jauh dari tempatnya berdiri.


Azam langsung menghampiri tubuh Kiana yang tak sadarkan diri itu tanpa sepatah kata apapun. "Maafin gue Kiana." batin Azam.


"Apa yang sebenarnya terjadi Zam, dan apa yang telah lo lakukan?" tanya Bian.


"Gue gak sengaja ngelakuin ini, gue kelepasan." jawab Azam.


"Berapa kali lo udah nyakitin Kiana? Setelah kejadian ini gue pastiin Kiana bakalan pergi dari hidup lo."


"Maksud lo apa ngomong kaya gitu?" tanya Azam sambil mencengkram kerah baju Bian.


"Lo udah keterlaluan Zam, mending lo lepasin Kiana setelah ini biar dia bahagia." ucap Bian.


Azam tidak menghiraukan perkataan Bian, Ia berjalan menuju pintu keluar. Berbarengan dengan itu, ia bertemu dengan orang tuanya dan juga Ipin yang baru kembali.


"Loh Zam, habis tawuran di mana lu? Sampe muka berdarah gitu?" tanya Zain heran.


Zara menghela napas melihat tingkah laku suami dan anaknya. "Kenapa ada darah Zam? Kamu habis berantem? Eh tunggu, kamu baru turun dari kamar kan? Bentar..."Mommy Zara tampak mencerna sesuatu. Ia menatap bergantian Azam dan lantai atas. "AZAM JANGAN BILANG KAMU BERANTEM SAMA KIANA? KAMU GAK APA-APAIN MANTU MOMMY KAN?" Zara bertanya histeris.


Zain langsung menarik tangan Zara. "Samperin mantu kita cepat yang, ni kayaknya anak kira bikin ulah lagi," ujar Zain yang langsung menarik tangan Zara menuju lantai atas tepat kamar Kiana.


Azam hanya terdiam dengan tingkah kedua orang tuanya, entah apa yang akan terjadi jika mereka mengetahui kondisi Kiana yang sekarang ini dan itu semua karena ulahnya.


Azam menatap Ipin yang kini tengah memotret dirinya.


"Ngapain lo foto gue cik?" tanya Azan heran.


"Mau Ipin vilalin di ig, telus tag teman-teman abang, bial meleka tau kalau abang itu suka clbk," ceplos Ipin membuat Azan mengernyit.


"Clbk? Gak nyambung ni bocah tengik." Azan menggeleng heran.


Seakan sadar ada yang janggal dari ucapannya, Ipin termenung sesaat. "Itu maksud Ipin yang kekelasan dalam lumah tangga itu loh," ujarnya menatap Azam polos.


"KDRT ******, BUKAN CLBK! KALAU CLBK ITU MAH CINTA BELUM KELAR! BEDA JAUH DARI KEKERASAN RUMAH TANGGA!" teriak Azam frustasi.


"Nah itu maksud Ipin." ujar Ipin cengengesan.


Sedangkan di dalam kamar, Zain dan Zara kaget melihat ada Bian dan melihat kaca yang pecah dan yang lebih membuat mereka syok adalah saat melihat keadaan Kiana.


"Astaghfirullah hal adzim, Kiana." Zara berlari cepat menghampiri tubuh Kiana yang terbaring di sofa.


"Apa yang terjadi?" tanya Zain pada Bian.


"Saya tidak tau om, saya sampai di sini Kiana sudah dalam kondisi seperti ini." jawab Bian apa adanya, dirinya juga bingung karena Azam melarangnya untuk menggendong Kiana.


Zain mengepalkan kedua tangannya dengan kuat. Matanya berkaca-kaca melihat kondisi Kiana saat ini. Dengan segera ia berjalan dan menggendong tubuh Kiana dan membawa ke rumah sakit. Di ikuti Zara dan Bian.


Memberi pelajaran pada Azam akan ia lakukan setelah Kiana mendapatkan perawatan nanti. Zain kali ini akan memberikan hukuman paling berat untuk putranya karena berani melukai Kiana untuk kedua kalinya.


****