Kiana Story

Kiana Story
Bab 28



Kiana mengerucutkan bibir dan berjalan menuju meja Davian dan mengambil duduk di depannya. Tindakan Kiana menyita perhatian penghuni kantin termasuk geng Tiger.


Azam terus menatap tajam ke arah Kiana dengan tangan terkepal di atas paha, memperhatikan setiap gerak gerik yang akan di lakukan istrinya.


"Ehem," Kiana berdeham dan berhasil mengalihkan perhatian Davian.


Kiana meringis dan menoleh pada Alira dan Loli guna mengakhiri hukuman kali ini. Tetapi Alira dan Loli membalas menatapnya dengan horor pertanda ia harus segera melakukan hukumannya.


"Ada perlu sama gue?" Davian buka suara dengan alis terangkat sebelah.


Kiana di buat gugup mendengar ucapan Davian. Ingin sekali ia menghilang dari pandangan Davian saat ini juga.


"Lo... Cewek tadi kan?" tanya Davian lagi yang dibalas anggukan kaku oleh Kiana. "Mau apa kau menemui ku?"


Kiana membuang napas secara perlahan guna menetralkan rasa gugupnya saat ini. Ia mengambil ponsel dari kantong almamater miliknya.


"Gini, gu...gue minta nomor lo sama minta di suap!" Kiana berucap cepat dengan mata terpejam.


Di dalam hati ia mengutuk Alira dan Loli. Tunggu saja, ia akan memukul kepala mereka dengan black card Papi Zain.


Keadaan kantin hening seketika. Suara Kiana terdengar tidak jelas karena terlalu cepat. Namun Davian mendengar dengan jelas.


"Buat apa? Maaf, gue nggak sembarang kasih nomor gue sama orang yang baru gue kenal," ucap Davian santai.


Kiana berdecak kesal di dalam hati. Ia juga tidak mau meminta nomor cowok seperti ini. Sungguh memalukan sekali!.


"Jangan geer dulu, gue di suruh temen gue. Plis deh, gue cuma minta nomor lo dan minta di suap aja sih, udah itu aja gak lebih." ucap Kiana.


Davian mengedikkan bahunya. "Bukan urusan gue," balasnya cuek.


"Buruan kasih deh, kalau udah, gue nggak akan gangguin lo lagi." ucap Kiana dengan kesal.


"Bangsat," maki Kiana pelan. "Gini deh, gue denger rumor tentang lo. Tapi gue mau buktiin itu semua bener apa nggak. Lo beneran suka sesama cowok?"


Pertanyaan Kiana membuat Davian menatapnya dengan lekat.


Kiana berdeham lagi. "Gini, kalau lo beneran bukan seperti yang di rumorkan, lo harus bantu gie. Tapi kalau nggak mau bantu, fiks rumor itu bener kalau lo...." ucapan Kiana terpotong.


"Kosong delapan...Cepat ketik. Ck! berikan Hp lo," potong Davian, ia merampas ponsel Kiana dan mulai mengetik nomornya.


Senyum kemenangan terbit di bibir Kiana. Ia menoleh pada Alira yang tengah mengangkat jari jempol ke arahnya. Saat ingin menatap Davian lagi, pandangan Kiana terhenti pada Azam suaminya.


Mata Azam menyorot tajam padanya, Kiana mengangkat sebelah alis membuat napas Azam semakin memburu.


"Udah selesai," ucap Davian sambil memberikan hp kepada Kiana.


"Satu lagi. Suapin gue," ucap Kiana, ia menatap bakso di mangkok. "Tuh bakso lo aja. Cepat deh, gue udah malu banget nih," lanjut Kiana dengan jujur.


"Lo ribet banget sih," gerutu Davian, walau begitu ia tetap menusuk satu bakso dengan garpu dan mengarahkan ke depan mulut Kiana. Davian hanya ingin cepat selesai saja. Malas sekali menjadi pusat perhatian.


"Makan cepat, lagian kalau mau buktiin gue seperti yang dirumorkan apa tidak, mending sini bibir lo, biar gue cium," ucap Davian santai, berbeda dengan Kiana yang langsung melotot kaget dan langsung memakan bakso dengan pipi mengembung.


Kalimat terakhir Davian terdengar jelas di telinga penghuni kantin, hal itu membuat semua orang terkejut. Tak berselang lama, suara gebrakan meja dan juga pecahan kaca terdengar menggema.


Di meja Tiger, Azam terlihat sangat marah dangan jarinya yang berdarah. Azam meninju mangkok bakso milik Bian dengan napas memburu dan matanya menyorot tajam pada Kiana.


****


Gimana dengan Bab ini gaess ada yang dukung Azam apa Davian?? Di tunggu komentar kalian yah... terimakasih🙏