Kiana Story

Kiana Story
Bab 81



Elsa mengamuk di rumahnya. Semua rencana yang ia susun telah berantakan. Dan cowok yang membantunya entah menghilang kemana.


"Sialan!" racau Elsa, kakinya masih sakit setelah insiden tiga hari yang lalu. Dan selama tiga hari ini, Elsa tidak masuk sekolah karena tak mau menanggung malu.


"Arggh! Reputasi gue hancur dalam sekejap! Semua gara-gara Kiana sialan itu!" maki Elsa. Matanya memerah karena emosi, tangannya terkepal di sisi tubuh. "Gue harus hancurin dia, yah apapun caranya gue gak boleh nyerah gitu aja."


"Karena dia udah buat gue malu, maka balasannya adalah mati." Bibirnya tersenyum miring. Elsa tidak akan menyerah begitu saja sebelum apa yang ia inginkan terpenuhi.


****


Keesokan paginya di sekolah, Kiana berjalan bersisian dengan Damar dan Wulan yang ngotot ingin mengantarnya ke kelas. Mereka melewati lapangan basket dengan santai, namun langkah Kiana terhenti kala seseorang berlutut di kakinya.


"Kiana aku mohon, lepasin aku sekarang. Aku capek di perbudak sama kamu lagi hiks...Tolong jangan ganggu hidup aku lagi Kiana."


Kiana memutar bola matanya malas saat tau itu adalah Elsa yang mulai drama lagi. Hum, mungkin keberaniannya sudah terkumpul hingga ia masuk sekolah hari ini.


"Minggir, nanti sepatu gue kotor," ujar Kiana, ia menyentak begitu saja kakinya hingga Elsa terjatuh.


"Elsa, mending lo pergi dulu dan gue harap jangan ganggu adik gue lagi," ujar Damar.


Elsa menatap Damar. "Kamu kok gitu kak? Kamu marah ya karena kejadian waktu itu? Kak, maafin aku, aku tau aku salah. Tapi, kejadian itu karena aku di suruh Kiana. Dia nyuruh aku buat jelekin nama aku sendiri, hingga kalian cap aku sebagai penjahat hiks... Padahal aku gak gitu, aku terpaksa Kak, kalau aku gak jahatin diri sendiri di tangga, Kiana bakalan hancurin orang-orang terdekat aku."


Kiana tercengang. "Lah, drama murahan lo masih lanjut? Gak malu apa?" tanya Kiana tak habis pikir. Mengapa ada orang seperti Elsa.


"Cukup Ki, mungkin aku diam aja dulu kamu ngancam aku terus, tapi sekarang enggak lagi. Aku capek, aku capek jadi korban kamu terus." jerit Elsa. Ia berdiri dengan air mata bercucuran. "Kamu selalu ngancam aku, makanya aku diam. Tapi untuk sekarang kamu udah keterlaluan. Sekarang aku bakalan bongkar semuanya, kalau kamu itu sebenarnya hanya playing victim kamu gak pernah berubah, kamu masih seperti yang dulu, Queen bullying dan nyiksa orang lemah!"


Jeritan pilu Elsa mengundang semua orang berkerumun menyaksikan kejadian itu.


Kiana terkekeh sinis dan bersedekap dada.


"Lo percaya sama dia Bang?" tanya Kiana pada Damar.


"Percaya sama aku Kak, wanita di samping kamu ini gak benar,"


"Elsa!" Damar membentak. "Jangan asal ngomong!"


"AKU GAK ASAL NGOMONG! KIANA CEWEK GAK BENAR! DIA MURAHAN, KAMU GAK TAU KALAU DIA SUKA MAIN SAMA OM-OM DI CLUB, AKU LIAT SENDIRI KALAU DIA DI SANA!"


Semua orang mulai membicarakan mengenai Kiana dan Elsa. Ada yang percaya dengan omongan Elsa, ada juga yang tidak dan memilih memihak pada Kiana.


"Buat kalian semua, terserah mau percaya Elsa ini atau gimana. Gue gak peduli! Because, gue manusia yang di ciptakan penuh akal sehat, jadi gak mungkin dengerin atau percaya sama ucapan binatang!" terang Kiana.


"Dan buat lo Elsa, kita liat aja nanti, siapa sebenarnya yang murahan di sini. Gue atau lo!" Kiana pergi dari sana dengan malas. Elsa sepertinya minta di ceburin ke dalam kawah gunung merapi.


Wanita cantik yang melihat kejadian itu diam-diam menyeringai kecil, ia mengambil ponselnya dan menelpon seseorang.


"Siapkan pertunjukan penutup," ujarnya dengan seringai penuh rencana. "Tepat saat ulang tahun sekolah."


***


Beberapa hari kemudian...


Dies Natalis SMA Garuda yang ke -60 di gelar nanti malam. Pagi ini anggota OSIS sibuk menyiapkan segala keperluan untuk persiapan acara.


Kali ini sangat berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Karena sekolah tetangga juga di undang untuk memeriahkan acara tersebut.


Kiana, Alira dan Loli berjalan menuju kantin. Sekilas ia menatap pada lapangan out door yang sudah terhias sedemikian rupa dengan panggung megah di sana.


"Elsa buat ulah lagi Ki?" tanya Alira pada Kiana.


"Hmm, kurang kerjaan. Kemarin datang ke rumah, bawa poster editan foto gue yang gak senonoh buat di tunjukin ke Papa dan saudara gue," balas Kiana malas. Ia mengingat kejadian menjengkelkan kemarin.


"Terus mereka percaya?"


"Udah pasti gak percaya, mereka sudah berubah gak kayak dulu lagi,"


Alira mengangguk.


"Ohiya, nanti malam Loli mau pake gaun warna hitam, kalian ikutan ya, malas pake warna yang cerah-cerah," celetuk Loli.


"Boleh juga."


"Hm, nanti jam setengah tujuh malam gue jemput, kita satu mobil aja," ujar Kiana. Mereka sudah duduk di bangku kantin.


"Tumban gak bareng Kakak lo?"


"Mereka lagi ada urusan, buat panitia keamanan nanti malam. Apalagi acaranya, ada dari SMA lain," jawab Kiana.


"Baguslah, semoga acara nanti malam lancar," ucap Alira.


Mereka mengangguk dan memanggil Ibu kantin untuk memesan makanan.


Sedangkan di tempat lain, pria misterius yang di kenal dengan sebutan Mr. X itu menyeringai penuh rencana. Ia memainkan jarinya di atas meja hingga menimbulkan suara, bibirnya tak henti mengeluarkan seringai kejam.


"Game over," ujarnya setelah hasil yang di kerjakan oleh anak buahnya.


Pria itu mengalihkan pandangannya saat mendengar panggilan dari bawahannya.


"Bos, kacau, wanita itu berhasil melarikan diri. Saya sudah mengerahkan seluruh bodyguard untuk mencarinya."


"Bagaimana bisa lari hah?!" Matanya menghunus tajam.


Penjaga bari kita lalai Bos, dan saya sudah menghukumnya!"


"Bangsat! Cepat cari wanita itu sampai ketemu, jangan kembali tanpa membawa berita baik!"


"Siap Bos!"


Pria itu mengepalkan tangannya. Matanya terpejam memikirkan banyak hal.


Malam pun tiba, SMA Garuda sudah ramai dengan murid-murid dalam maupun dari sekolah tetangga yang kebetulan di undang. Anggota Srigala juga sudah terlihat di tempat, dengan Devan yang sangat tampan memakai setelan hitam juga di padukan dengan jaket kebanggaanyya.


Geng Tiger berjajar rapih di belakang kursi dengan wibawa yang memukau. Azam memimpin di tengah-tengah, ia duduk sejajar dengan Devan.


Di bangku depan juga terlihat Bram, Zain dan Zara juga jejeran donatur sekolah dan para guru.


Kiana, Alira dan Loli memilih duduk di bangku samping dekat anggota OSIS. Sesuai perjanjian, mereka kompak menggunakan dress berwarna hitam. Terlihat sangat anggun, bahkan dari awal masuk, ketiga gadis itu sudah menjadi pusat perhatian.


Sekretaris OSIS yang berperan sebagai MC mulai menjalankan acara sesuai yang di tetapkan. Penampilan dance di tampilkan sebagai acara penghibur sebelum masuk pada sambutan pemilik sekolah.


"Beri tepuk tangan buat grup dance sekolah kita. Wahh, mereka sangat berbakat bukan?" MC membawa acara dengan baik dan santai. "Selanjutnya untuk memeriahkan acara pada malam ini, Kakak kelas kita yang tentu sangat ganteng, akan membawakan sebuah lagu. Kita saksikan penampilan dari Davian!"


Kiana menatap ke panggung dan melihat Davian yang akan tampil. Yeah, ia tahu jika cowok itu sangat pandai dalam hal tarik suara.


Di kelas yang kosong, Elsa berdiri di depan Rios yang duduk di meja. Perempuan itu menatap Rios malas.


"Rencana apa lagi hah? Rencana yang gagal, gagal dan gagal terus? Lo mau mainin gue, iya?!" seru Elsa kesal. Semua rencana yang di berikan Rios selalu gagal.


"Rencana terakhir dari gue, kalau gagal lagi, lo boleh bunuh gue," terang Rios. Ia tersenyum miring dan memberikan flashdisk pada Elsa.


"Gue udah edit video Kiana yang gak senonoh, lo sambungkan di proyektor di panggung biar semua orang lihat. Dan yeah, pada saat itu juga Kiana hancur," ujar Rios.


"Gue udah pakai cara ini tapi gagal."


"Karena lo ngeditnya bod**. Kali ini percaya sama gue, demi lo, gue sewa editor mahal buat durasi satu menit video itu. Jadi setelah sambutan pemilik sekolah, lakuin rencana itu dan lo menang. Gue yakin, saat itu juga Kiana akan hancur dan di pandang rendah. Dan lo mulai acting untuk memperkeruh suasana."


Elsa akhirnya percaya saat Rios menggenggam tangannya dan tersenyum miring. Elsa pergi dari sana menuju panggung, ia menuju panitia acara yang bertugas mengotak-atik laptop yang sudah tersambung dengan proyektor yang menampilkan video perkembangan sekolah dari tahun ke tahun.


"Emh, Rudi, aku mau kasih ucapan selamat ulang tahun buat sekolah kita. Boleh kamu tampilkan ini? Aku udah bilang sama ketua OSIS kok," ujar Elsa bohong dan memberikan flashdisk kepada Rudi.


Tanpa curiga, Rudi mengambilnya. Lagi pula hanya ucapan selamat ulang tahun sekolah kan. "Siap, habis ini gue tampilkan," ujar Rudi.


Elsa tersenyum dan mengangguk. "Makasih banyak Rudi. Aku balik duduk lagi ya," ujar Elsa, ia beranjak pergi dari sana dan duduk di kursi bagian tengah. Ia tak sabar menyaksikan video yang akan di tampilkan.


Wulan menghampiri Kiana. Ia menarik tangan gadis itu menuju ke depan, tanpa menunggu persetujuan.


"Ngapain Kak?" tanya Kiana.


"Di panggil Papa." Mereka berdua akhirnya duduk di depan, di samping Papa Bram.


"Cantik banget kamu sayang." Bram mengusap rambut Kiana yang tergerai. "Coba hitung mundur dari lima, ada kejutan buat kamu," ujar Bram dengan tersenyum misterius membuat Kiana tidak paham.


"Tadi ada bisikan, kalau salah satu siswa kita mau menampilkan video ucapan selamat ulang tahun SMA Garuda. Wah, baik hati sekali. Jadi, mari kita saksikan," ujar Mc.


Semua pandangan terpusat ke depan, penasaran dengan video ucapan yang di maksud. Elsa bersedekap dada di tempat dan tersenyum penuh kemenangan.


Video mulai berputar, sedikit bikin tertawa karena awalan video malah jedag-jedug. Namun, di detik ke lima, semua orang tercengang saat suara ******* dari sound terdengar jelas. Para laki-laki mulai berbicara yang tidak-tidak.


Anggota OSIS bergegas menghampiri untuk mengakhiri, namun di cegah oleh bodyguard yang entah kapan ada di situ. Video terus berputar, seiring dengan senyuman lebar Elsa, ia beranggapan jika rencananya kali ini berhasil.


Namun, terkadang berharap terlalu tinggi itu tidak baik. Seperti Elsa yang kini tubuhnya sudah menegang. Salah! Di sana bukan Video Kiana, melainkan videonya.


Videonya di club bersama pria hidung belang, hingga videonya yang mencelakai Kiana.


"Woah, apa ini?" Zain terkejut di tempat. "Apa ini video dari siswi kita? Ini tidak bisa di tolerir! Sekolah saya tercemar dengan kehadiran siswi seperti ini!"


"Njir si Elsa!"


"Ku pikir Elsa baik ternyata!"


"Playing victim banget!"


"Eh bentar, itu Papa gue habis main sama dia! Sialan banget pantes Mama gue banyak diam sekarang!"


Jantung Elsa berdegup kencang. Ia lari ke depan untuk menghentikan video itu.


"Lah, dia yang main di gudang sama Pak Soleh!"


"Rendahan banget njir!"


"Eh itu, dia fitnah Kiana astaghfirullah!"


Keadaan menjadi riuh dengan video itu. Elsa menangis di atas panggung, dan menyuruh Rudi untuk menghentikan semuanya. Namun Rudi hanya menggeleng dengan bibir tersenyum.


Bagaimana bisa sekacau ini?


Video itu menampilkan semua kegiatan Elsa yang tak senonoh, juga di mana Elsa menabrak Kiana, menjatuhkan diri sendiri dari tangga dan juga kejahatan lainnya.


Kini Elsa di pandang rendahan.


"STOP! ITU BUKAN GUE, INI EDITAN! BUKAN GUE! PASTI INI ULAH KIANA YANG MAU JATUHIN GUE!" jerit Elsa, bahkan ia tidak menggunakan aku-kamu lagi.


Wulan naik ke atas panggung, menarik rambut Elsa dan menamparnya. "Ternyata kau dalang dari penculikan Kiana waktu itu!" desis Wulan.


"Dan sekarang kau masih berani menuduh Kiana? Apa kau tidak punya urat malu hah? Oh, gue lupa, wanita murahan seperti lo gak punya urat malu." Wulan mendorong Elsa, dan berdiri di samping Kiana.


"Saya orang terpelajar dan mengerti dalam hal ini. Dan video itu asli, bukan hasil editan atau apapun itu," ujar Rudi angkat bicara.


Elsa menggeleng cepat. "Gak itu editan! Pasti lo udah di bayar Kiana kan buat jebak gue? Iyakan, pasti Kiana bayar pake tubuh dia, iyakan?"


Ada pesan di ponselnya. Pesan dari Mr. X itu.


"Sesuai rencana. Elsa hancur di depan semua orang dan kau, bisa tersenyum penuh kemenangan."


"Bang," panggil Kiana pada Damar.


Damar tersenyum dan menggenggam tangan Kiana. Ia menuntun Kiana untuk menghampiri Elsa.


"Hiks... Mereka fitnah aku, itu bukan aku. Pasti ini ulah Kiana, dia mau jelekin nama aku," ujar Elsa pilu.


Wajah Damar tak ada ekspresi. Ia berjongkok dan mencengkram dagu Elsa. "Bit**," desisnya. "Gue jijik sama lo! Gue jijik pernah suka sama wanita menjijikkan kayak lo Elsa! Dan sekarang, nikmatin kehancuran hidup lo, karena berani usik ketenangan adik gue," ujar Damar, ia tersenyum miring.


"Kak..." Elsa menatap Damar tidak percaya.


Seringai Damar semakin ketara. Ia mendekati telinga Elsa dan berbisik. "Yes it's me."


"Lo tega buat gue kayak gini hah?" Elsa berteriak frustasi.


Damar kembali berdiri dan menggandeng tangan Kiana.


Azam terdiam bagai patung di bawah sana sudah pasti ia terkejut dengan semua ini.


"ELSA SIALAN!" jerit Azam. Ia naik ke panggung dan menampar Elsa membuat perempuan itu terjatuh lagi. "LO JAHAT SA! SELAMA INI GUE SELALU BAIK DAN BELAIN LO, TAPI APA BALASAN LO? LO BUAT HIDUP GUE HANCUR! KENAPA GUE BARU SADAR SEKARANG KALAU LO BUSUK HAH?"


Azam luruh ke lantai. Ia memukul-mukul kepalanya. "Elsa bangsat! Kenapa gue harus bod**? Kenapa gue harus belain lo hah? Kenapa gue harus milih lo ketimbang Kiana?"


Azam sangat kacau. Damar menatapnya datar.


"Sekarang hidup gue hancur gara-gara lo! Kenapa gue harus ketemu sama manusia biadab seperti lo Elsa!"


Azam terlihat menyesal akan semua ini. Ia baru mengetahui kalau Elsa mau dangan sana-sini. Kiana menatapnya tanpa ekspresi. Sungguh beruntung mereka sudah bercerai.


"Gak! Gue gak salah!" Elsa ikut menjerit.


Ia menatap sekeliling, semua orang menatapnya jijik.


"Game over Elsa!" Suara familiar itu membuat Elsa langsung menoleh. Ia mendapati Rios yang tersenyum miring.


"LO?!" matanya melotot. Elsa berdiri dan menghampiri Rios. "LO JEBAK GUE HAH?"


"Kok tau sih?" Rios tertawa terbahak-bahak, sebelum tersenyum mengejek pada Elsa. "Bod**," ujarnya membuat Elsa tersulut emosi.


"Rios sialan!" Ia hendak memukul Rios, namun dengan sigap cowok itu menahan tangan Elsa.


"Jangan main-main kalau gak mau balik di mainin," ujar Rios. "Lo sendiri yang percaya sama orang baru kayak gue. Liat? Lo hancur di tangan lo sendiri."


Kiana tidak paham dengan semua ini. "Apa ini ulah Mr. X yang membantunya? Dan apakah itu Rios?" memikirkan itu membuat Kiana menjadi pusing sendiri.


"Woah, seperti yang gue duga, celetuk Davian, ia bertepuk tangan. "Menakjubkan."


"Gue butuh penjelasan," ujar Kiana. Ia bingung dengan semua ini.


Damar dan Wulan menggenggam tangan Kiana. "Peran pelindung bayangan telah selesai," ujar Wulan membuat Kiana semakin tidak paham.


"Harapan kamu tahun ini terpenuhi. Hidup aman, tenang dan damai, kamu bisa merasakannya karena Elsa dan Azam tidak ada lagi."


"Kalian?" Kiana menatap tak percaya.


"Hmm, masih ada kejutan lagi, mengenai perusahaan yang kamu inginkan," ucap Damar. Jantung Kiana berdegup kencang saat mulai menyadari satu hal.


"Apa maksud kalian?" tanya Kiana.


"Kami butuh kejujuranmu nanti," imbuh Papa Bram.


Elsa sudah di pegang oleh Bodyguard Bram.


"Makanya, jangan pernah menyentuh keluarga saya jika tidak mau hancur."


"GUE BENCI KALIAN SEMUA! GUE BENCI LO KIANA! LO UDAH HANCURIN HIDUP GUE DAN AZAM! GUE JUGA BENCI SAMA LO, KARENA LO UDAH BERANI MEMANIPULASI KEADAAN!" jerit Elsa.


"Diam! Mulutmu bau," ujar Rios. "Sekarang kau tidak bisa berbuat apa-apa lagi karena kau telah tamat!"


Elsa sungguh tidak menyangka, hidupnya berakhir sekarang. Dan ia tidak menyangka, jika pergerakannya selama ini sudah di pantau oleh mereka.


"Anj***!" pekik Elsa.


"Lo yang anj***! " saut Alan dan Jeje bersamaan.


"Lo bukan Angel yang dulu atau lo memang sebenarnya bukan Angel?" tanya Azam, ia harus memastikan segalanya. Pertanyaan yang selalu muncul dalam benaknya harus ia temukan jawabannya.


"Apa perduli lo Zam? Apa peduli lo kalau gue sebenarnya Angel asli atau bukan?" tanya balik Kiana dengan kilatan kemarahan di matanya.


"Jelas gue peduli, di mana Angel yang dulu? Benak gue selalu bertanya siapa lo sebenarnya? Lo Angel asli atau bukan? Gue menyesal atas segala perilaku buruk gue ke dia dan gue mau mengakui kesalahan gue ke dia. Tapi gue ragu apa Angel masih ada di dunia ini?"


"Gue pernah bilang ke lo, penyesalan terbesar adalah ketika lo menyadari kesalahan tapi orang yang lo sakiti sudah gak ada di dunia ini," Tutur Kiana. Dunia memang kejam, dimana Azam sudah sadar akan kesalahannya pada Angel asli tapi sayang sekali Angel asli sudah tidak ada di dunia ini.


"Apa itu berarti Angel yang asli sudah meninggal?" tanya Azam dengan mata berkaca-kaca, lalu Kiana menganggukkan kepalanya yang berarti jawabannya adalah "iya"


"Lalu lo siapa, gak mungkin lo kembaran Angel karena Angel gak punya kembaran," ucap Azam dengan nafas memburu dan air mata yang sudah menggenang di pelupuk matanya.


"Gue Kiana Indah Putri, jiwa gue menempati tubuh Angel lalu jiwa Angel sudah meninggal, dan lo yang udah bunuh dia!" ujar Kiana sambil menatap Azam tajam.


"G..gue yang bunuh dia?" tanya Azam.


"Iya, setelah menikah lo benturin dia ke kaca, dan saat itulah Angel meninggal," jelas Kiana.


"Apa itu benar, kamu sebenarnya bukan putriku?" tanya Bram dengan raut wajah sedih dan binar mata yang menyiratkan rasa keterkejutan dan kesedihan.


Kiana menatap orang yang berada di depannya kemudian menghela napas pelan, sudah saatnya ia mengatakan segalanya.


"Iya, saya bukan anak anda," jawab Kiana. Ia tidak akan menutupi hal ini lagi, lagian ia sudah menyelesaikan segala urusannya di sini. Jika keluarga Angel asli tidak menerimanya Kiana bisa pergi. Untuk biaya hidup, urusan belakangan.


"Kamu bohong kan sayang, kamu anak Papa kan. Tolong jangan bercanda sayang." ujar Bram, ia enggan mempercayai perkataan Kiana.


"Saya tidak bercanda, saya adalah Kiana Indah Putri. Jiwa saya masuk ke raga anak anda," balas Kiana, sebenarnya ia tidak tega untuk mengatakannya tapi ia harus agar masalahnya bisa langsung selesai.


"Berhenti bilang omong kosong, jangan buat semuanya makin rumit." ucap Alira, ia masih tidak percaya apa yang di katakan Kiana.


"Mungkin bagi kalian ini omong kosong. Pertama kali aku bangun di raga Angel, aku juga menyangkal kebenaran bahwa aku mengalami transmigrasi jiwa. Andai Angel tidak menemui aku dan ngasih ingatannya, aku tetap gak akan percaya akan apa yang terjadi." ujar Kiana.


"Jangan mengada-ngada sayang, ayo jujur pada kami."


"Aku tidak mengada-ngada, memang itu adalah kenyataannya. Apa kalian gak curiga akan segala perubahanku dalam waktu singkat?" tanya Kiana.


Sementara seluruh orang yang berada di sana bagai di tampar kenyataan.


"Angel memutuskan untuk pergi, ia sudah tidak sanggup menahan penderitaan di dunia ini." ujar Kiana.


Semua orang menangis histeris. Betapa berdosanya mereka semua pada Angel. Pengabaian, penghinaan, kesakitan yang terus mereka ukir tanpa memikirkan bahwa orang juga punya batas untuk menanggung penderitaan masing-masing.


"Maaf Kiana, kami benar-benar menyesal telah mengabaikan Angel dan menyakitinya begitu dalam." ujar Bram mewakili keluarganya untuk meminta maaf, ia benar-benar telah menyesal.


"Gue juga menyesal Kiana, gue yabg paling banyak menorehkan luka pada Angel dan gue benar-benar merasa bersalah. Andai waktu bisa diulang kembali, gue gak akan melakukan hal bod** itu. " ujar Azam.


Sementara Kiana yang mendengar tersenyum miris. "Jangan minta maaf sama gue karena gue bukan Angel. Dan untuk lo Azam, lo manusia paling brengsek yang pernah gue kenal." ujar Kiana sambil menatap semua orang di sana dengan pandangan tajam.


Azam terdiam, perbuatannya memang tidak pantas di maafkan.


"Gue akan pergi dari sini, semua urusan gue di sini udah selesai." ujar Kiana lalu melangkahkan kakinya untuk meninggalkan panggung.


Tapi itu semua hanya angan karena tangannya di tahan oleh Papa Bram.


"Bisakah kamu jangan pergi, Papa mohon. Karena Papa gak sanggup kalau gak melihat kamu, setidaknya meski kamu bukan Angel tapi wajah kami bisa mengingatkan Papa pada Angel." pinta Bram dengan suara purau.


Kiana menundukkan kepalanya, ia sedang menimang keputusan untuk tetap bersama keluarga barunya atau tidak.


"Papa benar-benar merasa bersalah dan kata maaf pun, Papa rasa itu terlalu mewah atas perilaku buruk Papa dulu. Bisakah kamu tinggal bersama kami Kiana, Papa berharap kamu mau." imbuh Bram.


"Baiklah."


"Terima kasih," ujar Bram lalu memeluk Kiana diikuti Damar dan Wulan.


"Pantesan aja lo ngebet banget menginginkan perusahaan itu.Ternyata itu adalah milikmu," ucap Damar serius.


"Apa yang seharusnya milikku, harus kembali lagi padaku," ujar Kiana membuat semua orang tersenyum.


Sementara Azam yang melihat keharmonisan keluarga Budiman tersenyum tipis. Saat Azam akan berbalik pergi, perkataan Kiana berhasil menghentikan niatnya.


"Berhenti, Azam." ujar Kiana setelah itu melepaskan pelukan dari keluarganya lalu menghampiri Azam.


"Setelah semua yang lo perbuat, lo mau pergi gitu aja?" ucap Kiana yang sudah berada di depan Azam sekarang.


"Lo mau gue gimana lagi?" tanya Azam.


"Lo penyebab utama Angel meninggal." ujar Kiana dengan nafas memburu. "Angel sangat bod** harus mengejar pria brengsek seperti lo!" lanjut Kiana dengan menatap Azam penuh kebencian.


Sementara Azam hanya bisa diam, ia tidak mampu untuk membalas semua perkataan Kiana padanya.


"Bahkan dia sampai harus meregang nyawa karena pria brengsek seperti lo!" hardik Kiana sambil mendorong dada Azam dengan tatapan tajam yang menusuk.


Semua yang melihat pertengkaran itu berusaha melerainya. Alan dan Jeje menjauhkan Azam dari Kiana. Sementara Damar menahan tangan Kiana agar tidak bisa mendekati Azam.


"Tenang Kiana, gue tau lo emosi. Tapi lebih baik, kita semua selesaikan secara kekeluargaan. Gak pakai kekerasan." ucap Damar menengahi, agar tidak sampai adanya korban kekerasan.


"Gimana gue gak pakai kekerasan, dia sumber penderitaan Angel. Oke fine, kalau emang dia gak suka sama Angel. Tapi bisakan, dia nolak secara baik-baik."


Azam yang mendengar perkataan itu, kembali di tampar kenyataan seberapa bejat perilaku buruknya dulu. Ternyata benar, ia sumber kesakitan semua orang.


"Gue minta maaf atas semua yang telah gue perbuat pada Angel, gue menyesal." Azam menunduk sambil menangis.


Keluarga Budiman menatap Azam dengan pandangan iba. Meski Azam penyebab utama kematian Angel, tapi melihat Azam menyesal seperti sekarang. Membuat mereka tidak tega untuk menghakimi Azam lebih lanjut.


"Saya maafkan kamu. Saya berharap, kamu tidak melakukan hal seperti itu lagi Azam. Dan saya harap, kamu bisa berubah. " ujar Bram lalu menepuk pundak Azam, sehingga Azam mendongakkan kepalanya.


"Gue juga berharap begitu, Abang dan Kiana juga kan?" tanya Wulan, lalu melihat ke arah saudaranya yang kini juga menganggukkan kepalanya.


Azam menggigit bibirnya, ia terharu dengan keluarga ini masih mau memaafkannya atas kesalahan besar yang telah ia lakukan sehingga membuat salah satu anak dan saudara mereka meninggal.


"Terima kasih," ujar Azam dan berlalu meninggalkan tempat itu.


Kiana menghampiri kedua Kakaknya dan kembali memeluknya dengan erat, di susul Bram, Alira dan Loli.


Tugas Kiana sudah selesai dan mereka semua memulai semua dari awal dengan kebahagiaan.


End...