
"Kiana" gumam Rayyan. Cantik sekali namanya. Pikir Rayyan sejenak, sebelum kembali menggeleng untuk menghapus pikiran gilanya.
"Eh lo murid baru kan?" Seorang cowok menghampiri Rayyan. Ia melihat kejadian tadi.
"Iya, saya murid baru, jelas Rayyan.
"Anu, mumpung gue baik, gue cuman mau peringatin aja sih, buat keamanan dan ketentraman lo di sekolah ini. Mending jangan cari masalah sama dua cewek tadi," ujar cowok itu membuat Rayyan mengerutkan keningnya tidak mengerti.
"Maksudnya? Saya tidak paham."
Cowok itu berdecak dan menggandeng bahu Rayyan. Ia ikut menatap punggung tiga gadis yang sudah mulai menjauh.
"Dua orang itu di kenal dengan sebutan Queen Devil, yaa kalau Loli sih nggak termasuk. Yang pertama itu Kiana, dia nyeremin kalau marah njir, suka bully orang, sekali ngomong pedas banget, jujur, gue cowok tapi agak ngeri kalau lihat mereka berdua. Apalagi Alira, njir, dia pernah bully cewek centil sampe berakhir pindah sekolah," jelas cowok itu. Ia seperti mengetahui banyak tentang dua cewek itu.
Rayyan heran, apakah pembawaan cowok itu memang begitu? Padahal ia tidak meminta untuk di jelaskan mengenai siapa dua gadis itu.
"Nah itu aja, pokoknya dari mereka bertiga, cuman Loli yang auranya positif. Hati-hati, jangan nyari masalah sama mereka berdua kalau mau hidup tenang di sini. Kiana menantu pemilik sekolah dan Alira anak donatur di sini, ya jadi lo pikirkan aja gimana lanjutnya.
Cowok itu menepuk pundak Rayyan dua kali. "Udah itu aja, cape gue ngomong," cerocosnya lalu tertawa. Sebut saja dia Ucok, ia memang suka sekali memperingati murid baru agar tidak bermasalah dengan dua ratu iblis itu.
"Ah iya, terima kasih penjelasannya," ucap Rayyan. "Oh iya, saya Rayyan El Fatih, salam kenal."
Ucok tersentak kaget mendengar nama belakang Rayyan. Ia tahu benar bahwa nama itu juga termasuk jajaran orang kaya di kota ini.
"Cakep batt nama lo. Nama gue malah Ucok doang." Ucok tertawa. Sedangkan Rayyan tertawa kecil.
"Udah gue ke kelas duluan ya, ingat hati-hati sama mereka, apalagi sama Angelina Kiana Putri, mau lo cowok kalau dia kesal ya dia tonjok," cerocosnya lagi.
Rayyan mengerutkan keningnya. "Apa perempuan semenakutkan itu?"
***
Rayyan menempati kalas XI IPA 1. Cowok itu di terima hangat oleh teman barunya. Oh, lebih tepatnya para perempuan yang tidak berhenti mengagumi ketampanan Rayyan.
Rayyan hanya bisa meringis dan berusaha tenang. Ia sesekali tersenyum kala murid cowok menyapanya. Ternyata kelas ini tidak buruk menurut pandangan awal Rayyan. Dari tampilan penghuni kelasnya tak ada yang berpenampilan bad, mereka terlihat seperti kutu buku semua.
"Morning guys, gue di suruh anterin buku kalian nih," ujar Ucok, cowok yang tadi bertemu Rayyan. "Kerjain evaluasi bab empat, soal perhitungan kata Bu Nina," lanjut Ucok setelah meletakkan buku paket di atas meja.
"Bu Nina nggak masuk Cok?" tanya salah satu cowok di kelas itu. Cowok berkaca mata dengan penampilan sangat rapih.
"Nggak tau gue, Cul, tanya sendiri aja gih, gue cuman di suruh anterin ni buku sama menyampaikan tugas yang tadi," balas Ucok. Ia hendak keluar menuju kelasnya, namun tatapan matanya tertuju ke bangku tengah urutan belakang.
"Loh masuk di kelas ini lo Ray?" ucap Ucok, Rayyan mengangguk dan tersenyum.
"Anjirr lah, kelas orang pintar ini mah, hebat lo bisa masuk di sini," ucap Ucok. Kelas IPA 1 memang berisi anak-anak berprestasi di bidang akademik.
"Alhamdulillah," balas Rayyan. Memang saat memilih kelas IPA, ia di beri tes terlebih dahulu, saat tes yang di berikan guru mampu ia lewati tanpa hambatan, akhirnya Rayyan bisa masuk di kelas ini.
Ucok mengacungkan dua jempolnya. "Gue balik ke kelas dulu bye! Selamat menikmati rumus fisika di hari pertama masuk." Ucok melambaikan tangannya dan berlalu keluar menuju kelas IPA 3.
Rayyan menggeleng pelan. Ucok adalah tipikal cowok friendly. Ketua kelas mulai membagikan buku paket per meja dan mulai mengerjakan tugas yang baru di berikan.
Rayyan berdoa terlebih dahulu pada sang maha pemurah. Kemudian cowok itu sedikit terkekeh menertawakan otak kecilnya yang baru saja masuk sudah di sambut dengan rumus fisika.
Di sisi lain.....
"Uang amplopnya jangan lupa ya, inces mau pake buat beli skincare," ucap Jeje membuat seisi kelas XI IPS 2 bersorak.
Saat ini mereka jamkos. Maka dari itu Jeje yang merupakan anak ganteng namun sayangnya bersikap kayak perempuan membuat kegilaan hingga seisi kelas geleng-geleng kepala. Sudah biasa mereka menyaksikan kegilaan dari laki-laki tersebut.
Seperti sekarang, Jeje cosplay jadi pengantin abal-abal. Penghuni kelas juga ikut andil dalam kegilaan Jeje, mereka mengatur meja di depan dan tak lupa menaruh kursi seperti pelaminan.
Yang menjadi pasangan Jeje adalah Bian. Cowok tampan bagian dari Inti Tiger sekaligus di juluki matahari itu juga tak akan luput membuat lelucon.
"Banyakin uang amplopnya, mau gue pake selingkuh nanti haha," timpal Bian tertawa. Cowok itu memang gemar menyebar senyuman dan sikapnya yang hangat, maka dari itu ia di juluki matahari. Bahkan guru-guru mengakui itu.
"Heh! Nggak boleh selingkuh ya, inces ikat nanti," balas Jeje membuat seisi kelas tertawa lagi.
"Jangan iket Mas dong beib." Bian berucap dramatis, membuat Jeje spontan menendang cowok itu hingga jatuh ke lantai.
"Anjengg jijik gue!" pekik Jeje, suara cowoknya keluar, lagi-lagi berhasil membuat mereka tertawa.
"Goda terus Yan, biar jadi Lakik sesungguhnya tuh si Jeje," ucap Mio, ketua kelas.
"Pantat gue njing!" Bian berteriak, cowok itu beranjak sambil meringis. "Durhaka lo sama suami Je, gue kutuk jadi kuyang ma**** lo," semprot Bian membuat Jeje memasang lagak ketakutan.
"Mas jahat! Masa istrinya di kutuk jadi kuyang sih, kutuk jadi sayang aja dong biar bahagia dunia akhirat," balas Jeje. Laki-laki berperilaku perempuan itu melompat dari meja yang menjadi pelaminan pernikahan abal-abal tadi, kemudian menggandeng Bian.
"Ayok kita minta uang amplopnya. Enak aja datang ke pernikahan inces nggak ngasih apa-apa," ujarnya. " Nanti kita bagi rata, inces 70% Mas Bian sisanya."
"Rata pantatmu," sela Bian, ia memukul kepala cowok setengah jadi itu. "Nggak adil, gini aja, gue 100% lo sisanya."
"Owanjing! Kalau gitu lo beneran mau bangkitkan jiwa lakik inces." Jeje balas memukul kepala Bian membuat cowok itu meringis. Pukulan Jeje bukan main sakitnya.
Azam menggeleng pelan dengan tingkah sahabatnya itu. Tidak di markas atau sekolah, Bian dan Jeje ada saja tingkahnya. Bahkan sampai beredar rumor jika kedua cowok itu mempunyai hubungan, dan hal itu langsung saja di bantah Bian. Enak saja dia di gosipkan mempunyai hubungan dengan kaum berbatang yang sama dengannya.
"Teman lo tuh," ucap Ringga sambil mendorong bahu Azam yang duduk di sebelahnya. Kebetulan mereka berdua satu meja, dan juga sedari tadi memperhatikan tingkah absurd sahabatnya.
"Gue nggak punya temen yang gak waras kayak mereka," balas Azam cuek. Cowok itu terlihat tengah menatap layar ponsel yang menampilkan room chat dirinya dan juga Kiana. Decakan kecil lolos dari sela bibir pria tampan itu saat Kiana tidak membalas pesannya. Sepertinya cewek itu perlu di kasih pelajaran. "Awas aja, gue kurung di apartemen baru tau rasa lo," gumam Azam, ia mematikan ponselnya dan menaruhnya kasar di atas meja hingga menimbulkan suara.
"Kenapa lo?" tanya Ringga, ia tahu jika cowok di sebelahnya tengah kesal.
"Kiana," balasnya singkat, membuat Ringga ber oh ria sambil manggut-manggut mengerti.
"Masalah apa lagi?"
"Dia nggak balas chat gue, padahal lagi online." Azam menghela napas panjang, sebelum mengalihkan pandangannya ke arah hp saat benda pipih itu berbunyi. Azam tersenyum miring, ia berpikir jika itu adalah Kiana. "Nyatanya tu cewek nggak bisa jauh-jauh dari gue."
Ia mengambil kembali benda canggih itu dengan semangat, namun setelah itu ia berdecak dan menghela napas panjang saat mengetahui jika yang mengirim pesan itu adalah Elsa bukan Kiana.
Elsa: " Zam, kalau udah istirahat, jemput aku di kelas . Mau yaaa? Soalnya sahabat aku ada urusan sama ekskul mereka. Ajak Ringga juga, aku mau pergi bareng kalian berdua.
"Udah di balas sama dia?" tanya Ringga, keningnya mengerut saat melihat ekspresi wajah Azam.
"Belum. Elsa yang mengirim pesan, katanya jemput dia di kelas istirahat nanti," balas Azam, ia meletakkan kembali ponselnya.
"Lo bareng dia aja, soalnya gue mau jemput tunangan gue" balas Ringga membuat Azam menatapnya langsung.
"Gue nggak salah dengar?" Azam mengangkat sebelah alisnya.
Ringga menggeleng pelan. "Emangnya salah gue jemput tunangan gue buat ke kantin bareng?"
"Nggak salah sih, ya, cuman kedengaran aneh aja pas denger lo ngomong gitu," ucap Azam. Ia kenal sekali Ringga, "Lo udah suka sama Alira?"
Ringga terkekeh. "Cuman cowok buta yang gak akan suka sama cewek cantik dan sempurna kayak Alira."
"Dan lo nggak jemput Kiana?" tanya Ringga.
"Nggak! Gue entar bareng Elsa aja ke kantin." jawab Azam.