
Kiana mengambil alih piring di tangan Zara dan segera memakannya, kebetulan sekali ia sangat begitu lapar. Karena jatah sarapan paginya di makan habis oleh Azam.
"Yaudah, Mommy mau ke kamar dulu. Barang-barang kamu udah ada di kamar Azam. Itu kamarnya ada di lantai dua." ucap Zara sambil mengusap rambut Kiana.
"Keluarga baik semua, tapi kenapa Azam beda ya? Gak ada baik-baiknya sama sekali. Curiga gue kalau dia itu anak pungut." gumam Kiana dan kembali melanjutkan makan sampai habis.
Setelah selesai ia meletakkan piring di meja dan meraih gelas air, meneguknya hingga tersisa setengah. Kiana bersendawa pelan dan menepuk-nepuk perutnya yang sedikit membuncit karena kekenyangan.
"Akhirnya, anak gue dapat nutrisi juga." ucap Kiana pelan. Anak yang di maksud adalah cacing-cacing di perutnya.
****
Kiana mengerjapkan matanya berkali-kali dan mulai meregangkan otot-otot tubuhnya. Ia menatap sekeliling dan mendapati dirinya masih berada di ruang keluarga. Ia mengingat jika dirinya ketiduran saat selesai makan.
"Eh, udah bangun ya? Padahal Mommy mau bangunin kamu tadi." Zara muncul dari arah ruang tamu dan berjalan menghampiri Kiana.
Kiana tersenyum kikuk dan menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Maaf Mom, aku tadi ngantuk banget. Jadi gak sadar udah ketiduran di sini." ucap Kiana.
Zara terkekeh kecil. "Nggak papa. Mommy tau kamu pasti nggak bisa tidur karena ulah Azam tadi malam di rumah sakit. Anak itu emang mau di jewer deh telinganya." gerutu Zara, ia tidak habis pikir dengan jalan pikiran putranya.
Kiana tanpa sadar mengangguk, seolah membenarkan ucapan Zara. "Sekalian di potong aja telinganya, Mom. Kalau cuma di jewer kayaknya gag mempan deh." ucap Kiana, setelah itu kedua perempuan itu tertawa.
Zara menatap Kiana dengan sedikit heran, gadis itu sungguh berbeda setelah sadar dari komanya.
"Nyonya, di depan ada keluarga Budiman." ucap Bi Riri memberi tahu.
Zara langsung menoleh dan mengangguk. "Suruh masuk aja, Bi. Nanti jangan lupa di buatin minum ya." ucap Zara.
Kiana terdiam setelah mendengar kata budiman. Yang sudah pasti itu keluarga Angel. Ia teringat saat berada di rumah sakit, keluarga Budiman tidak ada yang datang menjenguk.
Kiana tidak ambil pusing. Ia juga tidak mengharapkan di jenguk oleh keluarga yang sangat kejam itu. Tapi Angel? Entahlah, Kiana tidak tahu apa Angel mengharapkan kehadiran mereka atau tidak.
Namun saat merasakan perasaan yang membuncah, Kiana yakin jika Angel sangat mengharapkan kehadiran keluarganya.
****
Kiana terdiam dengan wajah datar. Di hadapannya ada tiga orang berbeda jenis dan usia. Satu pria kisaran umur empat puluhan bernama Bram yang merupakan ayah Angel dan di sebelahnya terdapat dua remaja seumuran dengan wajah yang sama.
Damar dan Wulan adalah kakak kandung Angel dan mereka kembar. Jarak umur mereka hanya terpaut satu tahun.
"Udah sehat?" Bram bertanya setelah lama terdiam.
"Udah." jawab Kiana seadanya. Entahlah, mengingat perlakuan mereka terhadap Angel membuat Kiana hilang respect.
Di ruang tamu kediaman Nugraha hanya ada mereka berempat. Di temani minum di atas meja yang sudah di sediakan oleh Bi Sumi. Sedangkan Zara sendiri, ia berada di dalam kamar. Ia memberi ruang untuk keluarga itu berbicara.
Senyum manis terukir di bibir Kiana. "Ck! Sayangnya Tuhan belum mau ambil nyawa gue." jawab Kiana.
Jujur saja, Kiana sebenarnya malas berurusan dengan orang, namun kalau sifatnya seperti mereka. Kiana tidak bisa tinggal diam.
"Berani jawab ucapan gue lo?" Rahang Damar mengeras. Ia sangat tidak menyukai wajah di hadapannya ini.
"perannya mulut apa?" Buat ngomong kan? Hahaha, gue hanya mau menggunakan peran mulut gue aja sih, bukannya mau jawab ucapan lo." ucap Kiana dengan wajah tidak bersahabat.
Kalimat Kiana membuat ketiga orang itu tercengang. Selama ini Angel tidak berani bersikap se sinis ini pada mereka. Karena yang di lakukan gadis itu hanyalah caper dan bicara dengan nada kalem untuk mendapatkan hati dan perhatian keluarga.
Angel dari kecil memang tidak mendapatkan yang namanya kasih sayang keluarga. Karena mereka menganggap Angel adalah dalang dari kematian Ibu kandungnya sendiri.
Ya, Ibu Sani meninggal setelah melahirkan Angel, hal itu membuat Bram sangat terpukul. Ia sangat mencintai dan menyayangi istrinya, di tinggalkan selama-lamanya membuat Bram tidak bisa menerima, maka dari itu ia mulai bersikap acuh pada Angel, bahkan terang-terangan menyakiti perasaan gadis itu.
"Lo..!" Wulan menunjuk Kiana dengan geram. Matanya melotot tajam.
Wulan dan Damar sangat membenci Angel. Karena gadis itu, membuat mereka tidak bisa merasakan kasih sayang dari seorang Ibu. Yah, mereka ikut menyalahkan Angel atas kematian sang Ibu. Tentu saja karena terpengaruh oleh Bram.
"Matanya kondisikan, Mbak. Lompat keluar baru tau rasa lo." ejek Kiana dengan terkekeh sinis.
Hal itu hampir membuat Wulan menggebrak meja jika saja tidak di tahan oleh Damar.
"Tahan, Lan. Ini rumah orang." ucap Damar mengingatkan. "Tunggu besok di sekolah aja." lanjut Damar, ia mengusap bahu Wulan pelan.
Bram menatap wajah Kiana dengan datar.
"Ayo pulang. Papa menyesal datang kesini, apalagi melihat tingkah pembunuh sepertinya. Rasa benci Papa semakin besar." ucap Bram sambil beranjak berdiri dan merapikan kemeja hitamnya.
"Pergi aja, Pa. Aku nggak akan tahan atau ngemis-ngemis kasih sayang lagi sama kalian. Pergi aja, pergi dan jangan pernah temui anak pembunuh ini." Kiana terkekeh miris. "Dan satu lagi, aku udah punya hidup dan keluarga baru. Kalau kalian emang nggak suka sama aku, yaudah aku nggak akan maksa lagi. Karena sekarang, aku udah ada keluarga yang bisa nerima dan sayang sama aku." imbuh Kiana.
Kiana menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga. Matanya menatap ke arah tiga orang itu yang terdiam seperti patung.
"Ayo pulang." Rahang Bram mengeras. Ia menarik tangan Damar dan Wulan untuk keluar dari rumah keluarga Nugraha.
Kiana menatap punggung ketiga orang itu sampai hilang dari pandangan mata. Yang terdengar setelahnya hanyalah suara mobil, yang Kiana yakini jika itu mobil keluarganya.
"Sial, sesak banget sih ini dada." Kiana memukul dadanya yang terasa sesak. "Angel...Miris banget hidup lo, selama ini gue pikir gue orang yang paling miris di dunia karena di tinggal Ibu dan Papa nikah lagi sama titisan Iblis, ternyata gue salah, masih ada orang yang kehidupannya lebih miris, bahkan sangat miris di banding kehidupan gue. Dan.. Kehidupan lo salah satunya Angel."
****