
Seorang laki-laki turun dari taksi dan tersenyum cerah menatap rumah yang sudah lama ia tinggalkan.
Supir taksi menurunkan kopernya dan langsung di terima oleh pemuda itu, tidak lupa bibir tipis itu mengucapkan kata terimakasih dengan sopannya.
Mobil biru itu beranjak pergi meninggalkan depan rumah sang pemuda.
Di pintu utama rumah putih dua tingkat itu, seorang wanita paruh baya yang tubuhnya di balut gamis hitam yang di padukan jilbab dengan warna senada yang menutupi dada, berdiri sambil tersenyum haru.
"Anak Umi udah datang," ujar Umi Aisyah pada sang putra tunggal, Rayyan El Fatih.
Rayyan tersenyum cerah, ia masuk dengan menarik koper hitamnya.
"Assalamu'alaikum Umi," ucap Rayyan, ia mencium punggung tangan sang Ibu sebelum memeluknya dengan rindu.
"Umi rindu sama Ray," ujar Aisyah.
"Rau juga Umi. Oh iya, Abi di mana?" tanya Rayyan.
"Abi ada urusan di perusahaan. Bentar lagi balik, pasti Abi juga rindu sama Rayyan."
Rayyan tersenyum, ia membiarkan sang Ibu menarik tangannya masuk ke dalam rumah.
Sudah lima tahun Rayyan meninggalkan rumah ini. Karena memang, setelah tamat SD, Rayyan melanjutkan sekolah tingkat menengahnya di Madrasah Tsanawiyah yang ada di Surabaya. Ia tinggal bersama sang Nenek dan juga Kakeknya selama disana.
Dan sebulan yang lalu, Nenek dan Kakeknya meninggal akibat kecelakaan, membuat Adnan sang Ayah menyuruh Rayyan untuk pindah kembali ke kota dan berlanjut sekolah di sini.
Adnan juga sudah mendaftarkan Rayyan di sekolah swasta ternama di jakarta.
"Kamu istirahat dulu ya, jangan lupa sholat zhuhur, sebelum waktunya habis," ujar Aisyah.
Rayyan mengangguk mengerti. "Siap Ibu Negara." Rayyan tersenyum kecil, pemuda itu mengambil air dan duduk di kursi sebelum meneguk air putih.
Setelahnya ia menuju kamar dan membersihkan diri. Tak lupa ia juga bersiap untuk sholat Zhuhur di rumah, mungkin saat Ashar nanti ia akan ke masjid.
Setelah beberapa saat, Rayyan telah selesai dengan hal wajibnya sebagai seorang muslim. Cowok itu memperbaiki tatanan rambutnya dan melipat sajadah.
Suara berisik dari bawah membuat keningnya mengerut. Tak lama kemudian, pintu kamarnya terbuka menampilkan empat cowok ganteng yang tersenyum padanya.
"Bestai guee!" Gerald, atau yang lebih kerap di sapa Gege, cowok tampan dengan kalung berbandul salib itu memeluk Rayyan dengan erat. "Udah besar aja lo, Ray, rindu gue njirr," lanjutnya.
"Ruqyah Ray, Gege kalau liat lo kayak kerasukan dedemit." yang bersuara ini adalah Jordi. Cowok itu tengah menyiapkan kamera untuk meliput mereka semua. "Ngadep sini, perlu gue masukin tiktok nih, pertemuan setelah lima tahun berpisah." Cowok yang perlu di juluki King Of Tiktok.
"Sok-sokan masukin tiktok, fyp aja nggak pernah," ujar cowok yang duduk di kasur Rayyan. Wajahnya datar, namun ia sempat tersenyum tipis pada Rayyan. Dia adalah Atla, cowok yang sangat mager untuk senyum.
"Yaelah At, kena mental nanti hati mungilnya Jojo," ujar Kaino, cowok keturunan Arab yang duduk di samping Atla. Mereka memang suka memanggilnya Jojo. Dan Jordi sendiri merupakan sepupu dari jeje atau Jerry.
"Atla ganteng, tapi masih gantengan gue, mending nggak usah ngomong ya, diam aja udah," ujar Jojo.
Atla mengedikkan bahunya.
Rayyan tersenyum kecil. Tingkah sahabat-sahabatnya tidak pernah berubah. Mereka berlima bersahabat dari TK sampai SD, namun harus berpisah saat Rayyan harus pindah ke Surabaya. Namun, komunikasi mereka tidak pernah putus.
"Kebiasaan nggak salam kalau masuk ke ruangan orang," ujar Rayyan. Membuat mereka terkekeh.
"Gue ngucap dalam hati loh tadi," ucap Gege.
"Gue juga, jadi nggak ada yang dengar," timpal Jojo.
"Gue udah salam juga, tapi nggak kedengaran," imbuh Kaino tak mau kalah.
"Udah, di chat." Atla berujar. Sebelum masuk ke dalam kamar Rayyan, ia sempat mengirim pesan pada Rayyan.
Rayyan lagi-lagi tersenyum. Ia juga sangat merindukan tingkah sahabat-sahabatnya ini yang tidak pernah berubah, sebab selama lima tahun ini mereka LDR-an.
"Gercep ya datang kesini. Padahal saya ngabarin empat puluh menit yang lalu," ujar Rayyan. Memang saat tiba tadi ia langsung mengabari mereka berempat.
"Masih formal aja lo ngomongnya Ray, sekali-kali gitu ngomong bahasa gaul," ujar Jojo.
Rayyan menggeleng pelan. "Saya sudah terbiasa berbicara seperti ini."
"Nggak berubah ya lo," imbuh Kaino. "Pasti masih sama kayak dulu, nggak mau deket-deket sama cewek? Bener kan gue?" tebak Kaino.
Rayyan tersenyum kecil. "Bukannya tidak mau dekat-dekat, saya hanya menjaga batasan saja."
"Lo nggak pernah pacaran selama di Surabaya Ray?" tanya Gege penasaran.
"Pernah," jawab Rayyan membuat mereka melotot.
"Seriously?"
"Na'am. Saya pacaran sama Buku. Sangat menyenangkan, dia tidak membuat saya dosa saat saya sentuh, namun sebaliknya, dia memberi banyak manfaat bagi saya," jawab Rayyan, membuat mereka menatap Rayyan tidak percaya.
Ah, sampai lupa, jika Rayyan di didik oleh keluarganya yang sangat taat pada agama. Bahkan mereka berempat pernah merasa tidak pantas berteman dengan Rayyan, namun cowok itu selalu meyakinkan mereka untuk tidak berpikir seperti itu.
"Semoga lo bisa suka sama perempuan asli ya Ray, biar lo ngerasain gimana jantung lo dag dig dug serr saat lihat dia," ujar Jojo.
"Kenapa malah bahas pacaran sih? Ada-ada saja." Rayyan menggeleng kecil. Baru bertemu namun pembahasan mereka tidak ada yang jelas.
"Oh Iya, lo pindah sekolah kan? Masuk SMA Mahardika aja Ray, biar bisa bareng kita semua." ujar Kaino mengalihkan pembicaraan. Ia tahu, jika Rayyan tidak suka membahas soal pacaran.
"Ah, soal sekolah baru, maaf, saya pindah di SMA Garuda. Awalnya mau di sekolah Mahardika, tapi Abi sudah mendaftarkan saya di SMA Garuda," ujar Rayyan merasa tidak enak.
"Kok gitu? Pindah lagi aja, Ray, biar bareng lagi," ujar Gege.
Rayyan menunduk. "Saya tidak mau merepotkan Abi. Lagi pula, kita bisa bertemu setelah pulang sekolah kan? Dan itu tidak akan menjadi masalah," ujar Rayyan.
Mereka mengiyakan. Kelima cowok itu masih terus berbagi cerita dan membahas kejadian masa lalu yang sesekali membuat mereka tertawa.
***
Waktu ashar sudah tiba, Rayyan menyuruh Kaino, Jojo dan Atla untuk pergi lebih dulu ke masjid yang kebetulan tidak jauh dari rumahnya, karena Rayyan ingin buang air besar terlebih dahulu.
Gege? Cowok itu ikut bersama ketiga sahabatnya. Ia akan menunggu di depan masjid, hitung-hitung menjaga sendal orang biar nggak ilang. Dari pada ia berdiam diri di rumah Rayyan.
Setelah selesai dengan aktivitasnya, Rayyan bergegas untuk ke masjid. Suara adzan juga sudah berkumandang. Ia berlari kecil, melewati ruang tamu yang ternyata ada Uminya bersama seorang gadis cantik di situ.
"Abi mana Umi?" tanya Rayyan, ayahnya Adnan El Fatih sudah pulang.
"Abi lagi mandi, kamu duluan aja ke masjid," ujar Umi Aisyah.
"Baik Umi, Ray pergi dulu ya Assalamu'alaikum," ucap Rayyan ia kembali berlari karena azan akan segera selesai di kumandangkan.
Mungkin Rayyan terlalu terburu-buru hingga tidak fokus, hal itu membuat ia tidak sengaja menabrak tubuh seseorang yang berjalan berlawanan arah dengannya.
"Astaghfirullah, maaf-maaf, saya nggak sengaja. Tadi buru-buru mau ke masjid," ujar Rayyan panik.
Ia menatap gadis cantik yang tengah meringis itu dengan perasaan bersalah.
"Boleh berdiri sendiri? Maaf sekali lagi, saya benar-benar tidak sengaja," ujar Rayyan lagi, saat gadis itu belum beranjak berdiri.
Gadis itu mengerjap berkali-kali saat melihat Rayyan yang tubuhnya terbalut gamis pria berwarna hitam tak lupa dengan peci di kepalanya.
"O..oh iya, lain kali kalau jalan liat-liat, untungnya gue nggak luka parah," ujarnya sambil berdiri kembali. Ia membersihkan pakaian belakangnya dan menatap Rayyan lagi.
Rayyan bisa melihat manik cokelat milik gadis itu, membuatnya tersentak pelan dan langsung mengalihkan pandangan. Dalam hati, kalimat istighfar terus ia ucapkan.
"Mohon maaf sekali lagi, saya buru-buru, adzan sudah berkumandang. Kalai ada yang luka, kamu boleh masuk dulu ke dalam, dan bisa minta tolong Umi mengambil kotak obatnya. Maaf saya tidak bisa membantu mengobati, karena saya tidak bisa menyentuh kamu," ujar Rayyan sopan. Apa gadis ini teman perempuan yang bersama Uminya tadi?
Gadis itu mengerutkan keningnya saat menatap Rayyan. Mungkin dia adalah anak Umi Aisyah yang ingin sholah ashar di masjid. Pikir gadis cantik itu.
"Saya pamit dulu, sekali lagi saya minta maaf. Assalamu'alaikum." Rayyan memilih berlalu pergi dengan buru-buru karena ia sudah ketinggalan rakaat pertama.
Sebelum pergi, Rayyan bisa melihat dari ujung matanya jika gadis yang ia tabrak tadi terus menatap dirinya, membuat Rayyan menggeleng pelan.
Selama perjalanan ke masjid, ia terus beristighfar saat tatapan mata tajam beriris cokelat itu tiba-tiba melintas terus di pikirannya.
"Astaghfirullah hal adzim, Ya Allah... Maafkanlah hambamu yang lemah ini," gumam Rayyan.
Familiar sama part ini? wkwkwk sedikit menceritakan tokoh baru yah semoga kalian suka...