Kiana Story

Kiana Story
Bab 64



Kiana sudah sampai di bangkunya. Tak lama setelah itu Bu Siska, guru Matematika sudah sampai di kelas dan memulai pelajaran sampai jam istirahat.


"Selamat pagi semua." Bu Siska menyapa muridnya dengan senyum cerah.


"Pagi Bu." satu kelas menjawab, ada yang berekspresi ceria karna menyukai pelajaran matematika ada juga yang berekspresi muram, karna tidak menyukainya. Apalagi pelajaran ini sampai jam istirahat, "Pasrah sajalah." batin mereka.


"Oke, Ibu akan mengadakan kuis dan siapa yang bisa menjawab soal yang Ibu tulis di depan dengan berbagai tingkatan. Ibu akan memberikan poin yang akan membantu kalian di ujian mendatang. Jika poin kalian semakin banyak maka Ibu akan menambahkan nilai kalian di ujian nanti semakin banyak." Bu Siska menjelaskan dengan ceria, sementara muridnya ada yang antusias dan ada yang tidak perduli.


Bu Siska menulis satu soal di papan tulis dengan tingkat rendah. Dimana itu berarti soal yang masih di pelajari mereka.


"Baiklah, siapa yang mau menjawab soal di depan?" Bu Siska bertanya dengan memandang seluruh murid di kelas.


"Saya bu," ucap Alira mengacungkan jarinya, pertanda jika ia ingin menjawabnya.


"Baik Alira, silahkan." ujar Bu Siska lalu memberikan spidol untuk Alira yang sudah berada di hadapannya.


Alira mengambil spidolnya, kemudian langsung menuju papan tulis. Setelah sampai, ia langsung menuliskan jawaban di papan tulis.


"Sudah Bu," ucap Alira, sambil menatap Bu Siska guna mengetahui jawabannya benar atau tidak.


Bu Siska melihat jawaban Alira dan mengamatinya.


"Benar Alira, kamu bisa duduk sekarang dan kamu mendapatkan 20 poin karna benar menjawab soal ini." Bu Siska lalu tersenyum menatap Alira.


Bu Siska lalu menulis soal dengan tingkatan sedang. Dimana soal ini masih di tingkat mereka tapi belum Bu Siska ajarkan.


"Ini adalah soal tingkat sedang jika kalian bisa menjawab. Ibu akan memberi 30 poin." penawaran yang menarik memang tapi murid-murid hanya diam, belum ada yang mengajukan diri.


"Saya Bu." Elsa mengacungkan tangannya tanda berminat untuk menjawab soal di depan.


Kiana yang melihat itu hanya tersenyum penuh arti.


"Silahkan Elsa." ucap Bu Siska mempersilahkan dan memberikan spidol pada Elsa yang sudah berdiri di depannya.


Elsa langsung menjawab soal di papan tulis dengan waktu cukup lama.


"Sudah bu," ucap Elsa sambil menatap Bu Siska. Menunggu apa jawabannya benar atau tidak.


Bu Siska melihat dan mengamati jawaban Elsa, setelah selesai beliau menjawab.


"Benar Elsa, kamu mendapat 30 poin dan kamu bisa duduk sekarang." Bu Siska tersenyum menatap anak didiknya.


Sebagian murid, menatap Elsa dengan ekspresi kagum karna mereka tau. Soal materi itu belum mereka pelajari.


Elsa kemudian langsung menuju bangkunya untuk duduk.


"Baiklah, ini soal terakhir. Ibu akan memberikan dua soal berbeda untuk satu murid yang menjawab, soal ini adalah tingkatan tersulit dan Ibu akan memberikan 50 poin." Bu Siska memberi tahu muridnya lalu menulis soal tersebut di papan tulis.


"Silahkan tunjuk tangan untuk yang mau menjawab soal di depan." ujar Bu Siska kemudian menatap semua muridnya.


Kiana langsung mengacungkan tangannya dengan wajah tersenyum tipis.


Semua murid dan Bu Siska yang melihatnya, menatap tidak percaya. Bu Siska segera mengendalikan ekspresinya, setelah itu langsung berbicara.


"Silahkan Kiana, kamu bisa maju ke depan," semua murid yang mendengar jawaban Bu Siska segera menetralkan wajahnya.


Kiana segera menulis jawaban dengan raut wajah tenang dan kecepatan menjawab yang singkat. Setelah selesai menjawab Kiana menatap Bu Siska sembari menunggu hasilnya.


Bu Siska melihat dan mengamati jawaban Kiana untuk dua soal di papan tulis.


"Selamat, jawabanmu benar dan kamu mendapatkan 50 poin." ujar Bu Siska dan melihat Kiana dengan binar bahagia. Beliau merasa bangga.


Sekelas yang mendengarnya lagi-lagi di buat tercengang dengan perubahan Kiana soal pelajaran. Sangat mengejutkan bagi mereka mengakui Kiana sekarang cerdas. Kecuali Elsa, ia menatap Kiana dengan pandangan benci dan iri.


"Gila lo Kia, lo sejak kapan pintar matematika." tanya Alira penasaran.


"Gue udah pinter dari lahir kok," balas Kiana seenaknya.


"Ngapain baru nunjukin sekarang bahwa lo pintar?" ucap Alira dengan gemas.


"Ya karna udah males jadi orang gob**," ucap Kiana terkekeh.


"Sekarang, kita lanjutkan materi selanjutnya sampai jam istirahat. Buka halaman 50." Bu Siska lalu mengajar muridnya sampai waktunya habis.


Kring.....Kring...Kring


Bel 3 kali sudah berbunyi, itu artinya waktu istirahat. Bu Siska yang mendengar itu segera mengakhiri kelasnya.


"Baiklah anak-anak bel istirahat sudah berbunyi, Ibu permisi dulu." pamit Bu Siska sambil membawa barangnya.


"Iya, Bu," semua murid menjawab kompak.


Bu Siska lalu berjalan pergi meninggalkan kelas. Sementara para murid yang melihat Bu Siska sudah pergi, segera keluar dari kelas.


"Kuy kantin." ajak Alira kepada Kiana untuk makan bersama di kantin.


"Duluan aja Ra, gue mau ke toilet dulu. Entar gue nyusul." Kiana menjawab lalu tersenyum tipis.


"Oke deh, Loli kita ke kantin dulu." ucap Alira kemudian segera pergi, setelah melambaikan tangannya kepada Kiana.


Kiana segera beranjak dari duduknya untuk pergi ke toilet tapi saat akan keluar dari pintu, tangannya di tarik oleh seseorang.


Kiana mendongakkan kepalanya untuk melihat siapa yang menariknya dan ternyata ia adalah Azam, suami abal-abalnya.


"Jangan sembarangan narik tangan gue, sakit tau!" Kiana berbicara sambil menunjukkan pergelangan tangannya yang memerah.


Azam yang melihat itu lantas menampilkan wajah yang bersalah sekilas, kemudian menampilkan raut wajah datar kembali.


"Apa lagi." ujar Kiana, ia sedang malas untuk menanggapi Azam.


"Apa rencana lo?" tanya Azam dengan raut wajah serius.


"Rencana apa sih?" Kiana bertanya balik dengan raut wajah tidak berminat.


"GUE TANYA SERIUS, JAWAB YANG BENER." Azam membentak Kiana karna ia emosi melihat raut wajah Kiana yang tidak berminat untuk ngobrol dengannya, jelas Azam merasa terhina.


Sementara Kiana yang di bentak memejamkan matanya karna ia kaget. Setelah menetralkan keterkejutannya, Kiana membuka kedua matanya dan menatap Azam tajam.


"Gue gak ada rencana apa-apa." jawab Kiana.


"Kenapa lo milih pisah dari gue? Apa mau lo sebenarnya!" tanya Azam.


"Gue rasa gue gak perlu jelasin, yang pasti lo sendiri tau jawabannya. Jadi tunggu aja, sebentar lagi lo dan gue akan resmi berpisah." ucap Kiana sambil tersenyum puas.


Lalu Kiana melepaskan cengkraman tangan Azam, kemudian ia membuka pintu lalu keluar kelas. tidak akan habis jika ia melanjutkan perdebatan itu.


Sementara Azam hanya terdiam membisu. Ia tidak menyangka Kiana benar-benar sudah tidak mencintainya karna tidak ada sorot maya dengan binar bahagia Kiana ketika melihatnya seperti dulu.


****