
"Hmm." Sari berdehem sejenak dengan memejamkan mata menikmati sapuan angin di wajahnya.
"Lo angelina Kiana kan?" Dengan mata yang masih terpejam, Sari bertanya pada Kiana.
"Iya," balas Kiana.
Alira yang tengah bersandar di pembatas rooftop sembari bersedekap dada dan terus memperhatikan interaksi Sari dan sahabatnya. Sedangkan Loli? Gadis childs itu tengah duduk di atas punggung kaki Alira sembari menikmati permen lolipop Milkita.
Alira membiarkan saja. Dari pada telinganya sakit mendengar ocehan Loli.
Sari tersenyum miring. Ia menatap Kiana uang sama memasang wajah datar sepertinya.
"Lo....Cewek yang di incar bank berjalan gue ya?" Sari terkekeh, ia menyugar rambut sebahunya. "Mau dengar cerita tentang Devan?" tanya Sari membuat Kiana mengerutkan keningnya. Belum juga ia membalas, Sari sudah mulai bercerita saja.
"Devan sebenarnya terobsesi sama lo. Lo tahu mengenai hubungan dia sama Kia? Emh, nama kalian mirip juga ya. Kiana..." Sari manggut-manggut mengerti sebelum ia kembali berujar.
"Beberapa Minggu yang lalu, cewek dia kecelakaan tepat saat hari pertunangan kami. Saat dengar kabar itu Devan hancur banget, dia kayak kehilangan gairah hidup. Saat itu Kiana masih dalam keadaan koma, Devan selalu jagain dia bahkan sampai bolos sekolah.
"Hingga beberapa hari kemudian, Kiana dinyatakan meninggal. Dan itu, pertama kalinya gue lihat ketua Serigala hancur bahkan sangat hancur. Bahkan Devan hampir bunuh diri kalau enggak ada teman-temannya yang cegah."
Sari menghela napas panjang. Entah mengapa ia ingin menceritakan kejadian itu pada gadis di hadapannya.
"Hubungan dia sama keluarganya semakin nggak baik. Perang dingin ayah sama anak pun terjadi. Itu karena Om Wilan nggak mau batalin pertunangan gue sama dia sesuai keinginan Devan. Bahkan Devan sampe keluar dari rumah dan milih tinggal sendiri di apartemen."
Kiana berdehem sembari menggaruk pelipisnya yang tidak gatal. Ia heran mengapa Sari menjelaskan mengenai Devan padahal Kiana tidak bertanya. Namun hal ini sedikit membuat hati Kiana goyah. Ternyata Devan hancur saat kepergiannya.
"Dan ... Devan ketemu sama lo. Gue taunya dari Usman, dia sering ceritain soal Devan sama gue. Kalau gue perhatiin, muka lo sama pacar dia nggak ada mirip-miripnya. Tapi gue heran, gimana bisa Devan tertarik sama lo? Apa karena sifat kalian sama?"
Sari menatap Kiana dengan kening berkerut. Ia tidak menyangka akan bicara banyak hari ini.
Kiana berdehem. "Lo nggak cemburu karena Devan tertarik sama gue? Ehm, maksud gue lo kan tunangannya." Kiana malah balik bertanya, ia menatap Sari intens, penasaran sekali dengan jawaban cewek itu.
Karena yang ia tahu, jika di SMA Pancasila, Sari tidak pernah dekat dengan siapa-siapa. Dan malah langsung tersebar kabar jika ia tunangan dengan Devan.
Hening sejenak, sebelum akhirnya Sari terkekeh.
"Ngapain cemburu? Buang-buang waktu gue aja." Sari mengangkat bahunya acuh. "Kata orang, kalau cemburu itu tandanya cinta. Sedangkan gue? Gue nggak cinta sama Devan, jadi ngapain harus cemburu?"
"Gue juga terpaksa tunangan sama dia. Lagian gue cuman anggap dia bank berjalan gue aja, ya walaupun gue kaya, cuman beda aja kalau belanja pake uang orang lain."
"Lo serius? Lo nggak cinta sama Devan?" tanya Kiana.
Sari menggeleng. "Gue nggak mau jatuh di lubang yang sama dan berakhir buat gue jadi orang bodoh. Cukup dulu aja, sekarang enggak," ucap Sari pelan.
Sari memutar bola matanya malas. "Buang-buang waktu gue aja," balasnya acuh membuat Alira memasang wajah datar.
"Awas aja sampe lo punya niatan buruk sama Kiana. Lo bakalan berhadapan sama gue," ucap Alira dingin
"Tenang aja." Sari terkekeh. "Yang harus lo waspadai itu perasaan sahabat lo sendiri. Jangan sampe luluh sama Devan. Jangan salah paham dulu sama ucapan gue. Maksudnya gini, kalian tahu sendiri, Devan hanya terobsesi sama Kiana bukan cinta. Cinta Devan itu cuman buat pacar dia yang udah meninggal, dia deketin Kiana karena belum bisa menerima kepergian pacarnya."
Sari menatap Kiana dan menepuk bahunya pelan. "Kata Usman ke gue, kalau sifat lo itu mirip sama mendiang Bu Bos mereka. Dan itu yang buat Devan tertarik dan mulai terobsesi sama lo. Gue cuman mau peringati aja, jangan sampe perasaan lo terlibat hingga akhirnya cuman sakit yang lo dapat. Ya walaupun gue yakin sih, kayaknya lo nggak bakalan tertarik sama Devan, terlebih lo udah nikah." Sari tersenyum tipis.
"Lo tahu, nggak ada cewek yang mau di jadiin pelarian. Di deketin sampai jalin hubungan, namun pada akhirnya terkuak fakta jika tujuan dia deketin lo karena lo mirip orang yang dia sayang. Dan juga selama jalin hubungan, dia anggap lo sebagai orang lain, yaitu dia yang sebenarnya di cintai cowok itu."
Sari dengan cepat membuang pandangan, tangannya terkepal menahan sesuatu. Emosinya tiba-tiba meluap saat ia mengatakan kalimat itu. Rasa sakit itu, ternyata belum hilang.
Kiana mengernyit melihat perubahan mimik wajah Sari. Cewek tomboi itu terlihat menyimpan rahasia besar dalam hidupnya yang ia tutupi dengan tembok yang kokoh, yang sekuat tenaga ia jaga agar tidak runtuh.
"Gue pergi dulu." Sari beranjak berdiri dan meninggalkan Kiana beserta sahabatnya. Wajahnya kembali datar, ia benci sekali mengingat kejadian menyakitkan itu.
Sari dan Devan mempunyai kisah yang sama. Mereka masih terjebak dengan masa lalu.
Saat ingin membuka pintu, ia ternyata kalah cepat saat pintu sudah lebih dulu terbuka, menampilkan sosok Azam dengan wajah babak belur. Di belakang Azam ada para sahabatnya dan juga cewek imut berada di sebelahnya dan juga Devan yang penampilannya tak jauh berbeda dari Azam. Hanya Davian yang tidak ada, entah kemana perginya cowok itu.
"Minggir," suruh Sari dingin. Mereka langsung memberi Sari jalan hingga gadis itu bisa lewat.
"Ha..halo Kak," sapa Elsa saat Sari hendak melewatinya.
Sari menatapnya datar sesaat sebelum berlalu pergi tanpa membalas sapaan Elsa, membuat gadis itu malu.
"Lo pulang sama Usman gue...."
"Cabut!''
Devan terpekik saat Sari menarik kerah belakang bajunya membuat ia berjalan mundur menuruni anak tangga. Untung saja tak ada drama memalukan di mana ketua Serigala jatuh menggelinding di tangga.
"Apaan sih!" sentak Devan, ia ingin mencari Kiana namun tunangan abal-abalnya ini malah menariknya.
"Balik, jangan ganggu Kiana dulu, dia sibuk sama suaminya," ucap Sari dingin.
Ia hanya ingin cepat balik dan melampiaskan amarahnya di suatu tempat. Awalnya ia hanya akan balik sendiri dan bodoh amatan sama Devan, namun ia kembali ingat jika di depan ada bodyguard suruhan Papinya yang di tugaskan memantau Devan dan dirinya. Sari hanya ingin cari aman saja, dan juga ingin menyelamatkan bank berjalannya dari amukan Wilan. Nggak lucu jika uang jajan Devan di potong oleh Wilan, kalau begitu, bagaimana bisa Sari memanfaatkan Devan lagi?
Dengan kesal, Devan berdecak sembari menyugar rambutnya. Sedikit berat hati ia pergi meninggalkan SMA Garuda. Dalam hati ia berharap, semoga ia bisa bertemu dengan Kiana lagi.