Kiana Story

Kiana Story
Bab 21



Kiana menghela napas sebelum menaruh gelas susu secara kasar di depan Azam. Bahkan susu itu sedikit tumpah hingga mengotori meja.


"Nih minum." ucap Kiana ketus dan langsung meninggalkan Azam yang masih di dapur.


saat sudah di ambang pintu antara dapur dan ruang tengah, suara Azam kembali terdengar di telinga Kiana.


"Kia, lo ada hubungan apa sama Devan?"


Sebuah pertanyaan membuat langkah Kiana terhenti. Raut wajah sudah berubah menjadi datar seketika. Ia kembali berbalik badan, bersandar di ambang pintu sambil bersedekap dada.


Mendengar nama Devan membuat suasana hati Kiana menjadi hancur. Sebuah kesalahan yang tidak bisa di maafkan dan yang paling dia benci adalah penghianat!.


"Kepo banget sih lo jadi orang!" ucap Kiana.


Azam mengepalkan kedua tangannya untuk meredam emosi yang siap meledak kapan saja. Rasa penasaran terhadap gadis di depannya ini sangatlah besar.


"Tinggal jawab apa susahnya sih?" sentak Azam kesal.


"Mau gue ada hubungan apa sama dia, itu bukan urusan lo." ketus Kiana dan berniat pergi meninggalkan Azam di dapur, namun sebelum itu, ia mengucapkan kalimat lagi.


"Jangan kepo sama kehidupan gue sekarang, Zam. Karena gue nggak suka. Dan satu lagi, lo nggak terlalu spesial di hidup gue, sehingga gue harus cerita semua hal tentang gue sama lo."


Setelah mengatakan itu, Kiana berlalu pergi. Walaupun jarak sudah mulai jauh, Kiana masih mendengar suara geraman Azam. Hal itu membuat Kiana terkekeh sinis.


"Ck! Padahal lo sendiri yang selalu bilang, kalau gue itu spesial dan berarti dalam hidup lo." ucap Azam dengan berdecak kesal.


Kiana sama sekali tidak memperdulikan hal itu, karena dia adalah Kiana, bukan si bucin Angelina. Lebih baik dia kembali ke kamar. Ya, walaupun awalnya ia ingin pisah kamar dengan Azam, namun hal itu di tentang keras oleh Zara dan Zain. Bahkan untuk jaga-jaga, mereka sampai mengunci semua kamar kosong yang ada di rumah, agar Azam dan dirinya tidak pisah kamar.


Kedua kakinya melangkah menuju kamar mandi untuk mencuci muka, gosok gigi dan cuci kaki. Kebiasaan jika tidak cuci kaki sebelum tidur, Kiana tidak nyaman dan akan berakhir dengan tidak bisa tidur nyenyak.


Setelah semuanya selesai, ia mengambil selimut di dalam laci dan tak lupa mengambil bantal. Tentu saja dirinya memilih tidur di sofa dari pada ia ngotot tidur di kasur dan malah berakhir cekcok dengan Azam.


Kiana mulai merebahkan tubuhnya, beruntung sofa di kamar Azam sangat besar sehingga membuat ia sedikit nyaman.


Ting!


Kiana meraih handphone kala benda itu berbunyi. Ia membuka aplikasi WhatsApp dan melihat pesan yang masuk.


Alira: besok ke sekolah naik mobil atau pesan taksi online? gw gk mau liat lo naik motor lagi pokoknya itu bahaya buat lo!


Jgn bandel Kia, atau mau gw jemput aja?


Jika Alira itu cowok, mungkin Kiana akan baper dengan pesan yang baru di kirim ini. Alira memang perhatian dan baik pada sahabatnya.


Kiana segera membalas pesan dari sahabat terbaiknya.


Selepas mengirim balasan, Kiana menaruh handphone di atas meja. Gadis itu terdiam dengan pandangan kosong menatap plafon kamar yang di cat warna abu-abu gelap. Di sudut plafon di hiasi lampu merah menyala, seperti kamar dukun, pikir Kiana saat itu.


Kiana mulai memejamkan mata berniat untuk tidur, apalagi sekarang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Namun sial, dia tidak bisa tidur. Pikirannya hanya tertuju pada Devan cowok yang menduduki tahta tertinggi di hati Kiana.


Devan adalah cowok yang sudah menjadi pacarnya hampir dua tahun. Namun apa yang Kiana dapat akhirnya? Kiana mendapat pengkhianatan! Dia sangat benci dengan penghianat. Hal itu mengingatkan ia pada pengkhianatan Ayah dan Ibunya.


Kiana sungguh tidak suka. Hal yang seperti ini membuat ia lemah, namun untuk sekarang Kiana enggan menangis. Cukup tadi saja dia nangis Bombay karena Devan, tidak dengan sekarang. Penghianat tidak pantas untuk di tangisi.


"Kata si banci tadi, dirinya meninggal kemarin. Bagaimana bisa? Sedangkan jiwa gue udah lama pindah ke tubuh Angel." Kiana bergumam heran, ia masih bingung dengan ucapan Jeje di kantin tadi.


Banyak pertanyaan yang bersarang di benaknya mengenai dirinya dan Angelina. Tentu saja Kiana masih ingin tahu, di mana jiwa Angelina yang sebenarnya. Atau jangan-jangan ia dan Angel tukar tubuh, dan jika benar adanya, maka yang meninggal kemarin adalah Angel?


Ah sial! Kiana bingung dengan semua ini. Ia memaksa memejamkan matanya kembali berusaha untuk tidur. Kebanyakan berpikir membuat Kiana cepat sekali lelah.


Beruntung kesadarannya tidak bawel, hingga ia bisa menyelam ke alam mimpi. Berbarengan dengan itu, pintu kamar terbuka menampilkan sosok cowok bertubuh atletis dengan membawa gelas susu yang isinya tinggal separoh.


Azam menatap ke arah Kiana yang telah tertidur lelap sambil menutup pintu kembali. Ia mulai meneguk susunya hingga tandas, matanya terus fokus menatap wajah tenang Kiana.


"Lo berubah." gumam Azam.


Sungguh perubahan dalam diri Kiana membuat Azam penasaran dan juga merasa kehilangan? Ah, bahkan Azam sendiri tidak bisa menjabarkannya.


***


Pagi ini Kiana mengikuti kata Alira untuk tidak naik motor lagi. Maka dari itu ia memesan taksi online untuk berangkat ke sekolah.


Sekarang masih pukul 06:20 pagi. Kiana sudah tiba di SMA Garuda, hal itu mengundang tatapan heran dari para siswa lain yang sudah tiba.


Kiana menyadari tatapan heran mereka, namun ia memilih bersikap bodoh amat dan mulai menyumpal telinganya dengan earphone.


Kiana menyetel lagu yang di nyanyikan oleh Kim Seok Jin. Suara dari member BTS itu sungguh membuat suasana hati Kiana menjadi tenang kembali. Apalagi makna dari lagi yang sedang ia dengar sekarang, membuat Kiana semakin menyadarkan dirinya, jika dirinya paling berharga dan paling berhak untuk di cintai.


Terlalu larut dalam menikmati suara merdu biasnya, Kiana sampai tersentak saat menabrak tubuh seseorang. Ia berdecak kesal, kemudian melihat siapa yang sedang menghalangi jalannya.


"Lo ngapain di situ? Mau cosplay tembok penghalang?" sinis Kiana dengan bersedekap dada. Ia menatap malas ke arak kakak kembar dari Angelina itu. Wulan dan Damar.


"Ngomong apa lo barusan?" Wulan melorot marah, ia tidak suka dengan sikap Kiana yang sekarang.


"Gue tau telinga lo masih normal. Jadi ucapan gue pasti udah dengar dengan jelas." Kiana mengedikkan bahunya. "Atau....Lo beneran nggak dengar karena udah ketutup sama kotoran ya? Makanya rajin di bersihin, bukan cuma wajah yang lo urus!"


****