Kiana Story

Kiana Story
Bab 75



Dua minggu telah berlalu, ulangan akhir semester pun sudah berakhir hari ini. Kini Kiana maupun yang lain tengah berkumpul di kantin.


"Al, pulang sekolah kita kumpul di kafe depan sekolah ya, ada yang mau gue omongin," ucap Kiana, Alira mengangguk membalasnya.


"Loli gak di ajak?" tanya Loli.


"Gimana Kia?" tanya Alira pada Kiana.


"Boleh, kita bertiga aja," ucap Kiana membuat Wulan yang duduk di sebelahnya angkat bicara.


"Kok cuman bertiga, kita gak di ajak?" tanya Wulan.


"Kak Wulan boleh ikut, tapi Abang gak boleh," ucap Kiana.


"Gak asik lo, gak mau ajak gue!" ketus Damar.


"Udah nurut aja napa sih," ucap Wulan.


"Kok gitu sih," ucap Damar cemberut.


Kiana mengabaikan Damar dan memilih memakan bulatan terakhir bakso di mangkok sambil menatap sekitar. Hingga pandangannya berhenti pada satu titik di bangku kantin paling pojok.


Cowok di sana tengah menatapnya sambil tersenyum. Tangannya melambai dengan kedipan mata mengarah padanya. "Davian," gumam Kiana. Ia teringat dengan orang yang menerornya belakangan ini. Apakah Davian orang misterius itu?


"Ki..."


"Kia..."


"KIANA!"


"Uhuk-uhuk!" Kiana tersedak saat Wulan berteriak memanggil namanya dengan intonasi yang kuat. Wulan sama terkejutnya, ia bergegas meraih botol air dan ia sodorkan pada Kiana.


"Maaf Ki, lagian lo sih di panggil-panggil malah bengong, jadi gue teriak." ucap Wulan merasa bersalah.


"Untung gue gak mati keselek njir," ucap Kiana membuat Wulan terkekeh.


"Lagian liatin apa sih, sampe bengong gitu." Damar mengikuti arah pandang Kiana. Ia berdecak kasar saat ternyata tau jika itu adalah Davian.


Davian terkekeh di tempatnya dan beranjak pergi entah kemana.


****


Tak lama kemudian, seorang pria yang sudah berumur matang ikut keluar sambil memperbaiki resleting celana kain hitamnya dan berdiri di samping Elsa.


"Pak, janji yah buat nilai saya bagus semua. Dan harus peringkat satu lagi," ucap Elsa pada pria di depannya.


Pria yang merupakan salah satu guru di SMA Garuda itu tersenyum nakal. Ia mencolek dagu Elsa.


"Tenang saja, selagi kau masih melayaniku, aku akan mengatur semuanya," ujarnya.


Elsa tersenyum lebar, mengusap dada bidang gurunya itu. "Tenang saja, selagi nilai saya bagus semua. Bapak akan puas."


"Wanita nakal," desis pria itu. Elsa terkekeh saja, sebelum akhirnya mereka memilih pergi sebelum ada yang melihatnya.


Setelah kepergian mereka, seseorang berjalan dari tempat persembunyiannya.


Ia berdecih. "Menjijikkan," ujarnya bergidik. Buru-buru orang itu mengambil sesuatu yang terletak di fentilasi gudang. Sebuah kamera berukuran kecil.


Ia mengeceknya sebentar. Hampir saja ia mual melihat aksi tak senonoh itu.


"Njir merinding gue lihatnya," gumamnya tertahan. Ia cepat-cepat menyimpan kamera di tas kecil yang ia bawa sebelum berlalu pergi.


****


Di tempat lain Ningsih mengepalkan tangannya mengingat perlakuan Kiana padanya saat bertemu beberapa hari yang lalu. Ia mengalihkan pandangannya pada ponselnya yang ia taruh di atas kursi. Dengan cepat ia mengambil ponselnya dan membaca pesan dari nomor asing.


+6285xxxxx: "Awal permainan dari si cantik, selamat menunggu kehancuranmu."


Nomor asing itu mengirimkan sebuah video. Video yang mampu membuat Ningsih terkejut. Video itu menampilkan rahasianya yang tidak di ketahui siapa-siapa. Di dalamnya menampilkan ia yang tengah memberi racun pada istri dari Wijaya, yang merupakan Ibu dari Kiana di kehidupan sebelumnya, hingga wanita itu meninggal.


+6285xxxxx: "Woahh, bagaimana jika video ini tersebar? Umm tapi tidak. Tunggu pemeran utamanya yang bertindak dan semuanya selesai."


Tubuh Ningsih menegang. Posisinya sekarang terancam.


Sedangkan di pojok ruangan, ada seorang perempuan yang tersenyum miring sambil meneguk sirup berwarna merah di gelasnya.


"Kalah kan, kami di lawan." ejek wanita itu, ia menatap ke arah laki-laki yang ikut menatapnya.


Mereka berdua sama-sama menyeringai tanpa di sadari siapapun.