Kiana Story

Kiana Story
Bab 63



"ARGHH **** KIANA!" Azam meraung keras, suaranya menyatu dengan dentuman musik DJ yang mengisi ruangan besar yang padat akan wanita-wanita seksi.


Azam meneguk alkohol dengan kadar tinggi. Cowok itu terlihat sangat emosional dengan kejadian di rumah Kiana tadi. Dimana Kiana sudah tidak mau berbaikan lagi dengannya dan memilih berpisah dengannya. Pikirannya di penuhi dengan Kiana juga tatapan mata Kiana padanya.


Kedua orang tua Azam tidak bisa berkomentar apapun, itulah yang di pilih Kiana maka mereka akan mendukungnya dan segera mengurus perceraian Kiana dan Azam.


Tidak jauh dari tempat Azam yang sudah limbung di sofa club, Elsa dengan pakaian seksinya tersenyum lebar. Ia tidak akan menyia-nyiakan kesempatan ini untuk mendapatkan Azam seutuhnya.


Elsa menghampiri Azam, mengusap punggung cowok itu dengan sensual.


"Tenang boy, semuanya akan baik-baik saja," ujar Elsa.


Azam mengerjap dan menatap Elsa. Wajahnya memerah saat melihat keindahan tubuh Elsa di depannya. Tanpa pikir panjang sebuah ciuman mendarat di bibir Elsa.


Elsa kesusahan menyeimbangkan ciuman kasar Azam. "Zam jangan di sini, kita ke kamar aja," ujar Elsa.


"Okey, sesuai keinginanmu sayang."


Dan terjadilah sesuatu yang Azam tidak pernah bayangkan selama ini. Ia menghabiskan malam panas dengan Elsa, cewek yang selama ini menjalin kasih dengannya secara diam-diam di belakang Kiana. Dan cewek yang selalu di nomor satukan di banding Kiana.


Tanpa sepengetahuan Azam dan Elsa ada seseorang yang merekam kejadian itu dari awal sampai akhir.


"Sangat menjijikan!" umpatnya sambil bergidik ngeri.


***


Di pagi hari yang indah suara burung berkicau tapi tetap tidak mengusik seorang gadis yang masih asik bergelung di dalam selimut.


Hingga suara jam weker berdering nyaring mengganggunya. Sontak ia langsung duduk dan mematikannya.


"Aduh ganggu aja." Kiana bergumam sambil merenggangkan tangannya lalu melihat ke arah jam weker, pukul berapa sekarang.


"Ah masih pukul 6, berarti gue masih punya waktu satu jam lagi buat berangkat sekolah. "Aduh santai ajalah, sekolah juga dekat." Ia lalu beranjak ke kamar mandi, kemudian berencana untuk berendam di dalam bathup. Emang santuy banget hidup Kiana tuh.


Setelah mandi, Kiana berganti seragam yang di belinya kemarin. Lalu memakai skincare dan make up tipis kemudian mengurai rambutnya. Tidak lupa memakai sepatu boots baru warna hitam. Setelah itu memakai jam tangan rolex di tangan kirinya.


"Oke ini sentuhan terakhir, tentu memakai liptint." ucapnya.


Kiana mencari tasnya yang baru di beli kemarin. Kemudian melihat dirinya di cermin full body.


"Sempurna." Kiana memuji pantulan bayangannya sendiri.


"Oke, saatnya membuka lembaran baru." ujarnya sambil tersenyum cerah. Dirinya sangat senang karena akan terbebas dari suami abal-abalnya.


"Pagi Kiana," ucap Bram.


"Pagi." balas Kiana dengan senyum kaku.


Baru kali ini Bram menyapanya. Apa mungkin karna perkataan sang nenek kemarin membuat pintu hatinya terbuka? Entahlah Kiana pusing sendiri.


"Sini duduk, kita sarapan bersama." ucap Bram sambil menatap Kiana penuh dengan kerinduan.


Kiana hanya menganggukkan kepalanya kemudian duduk di sebelah Wulan.


Setelah selesai sarapan Kiana hendak berdiri namun di urungkan niatnya saat mendengar kata Papanya.


"Maafkan Papa nak, selama ini Papa salah paham sama kamu." ucap Bram dengan kedua mata berkaca-kaca.


Bram kemudian beranjak berdiri menghampiri Kiana dan langsung memeluknya. Sebuah pelukan yang belum pernah di rasakan oleh Angel. Tangan Kiana terangkat untuk membalas pelukan Bram. Kiana memeluk Bram tak kalah eratnya. Damar dan Wulan yang melihat itu ikut menitikkan air matanya. Kemudian mereka ikut memeluk Kiana dan meminta maaf.


Kiana tersenyum lebar. Inilah keinginan Angel supaya keluarganya kembali utuh dan menyayanginya.


"Mari kita mulai buka lembaran baru dan lupakan masa lalu. Kia sudah maafin kalian." ucap Kiana membuat keluarganya tersenyum bahagia termasuk nenek yang baru saja datang dari arah tangga.


"Nah, gini kan enak di pandang." ucap nenek sambil tersenyum bahagia.


"Baiklah nek, Kia sekolah dulu ya udah mau telat." ucap Kiana sambil salim kepada Bram dan Asri.


"Kita berangkat bareng aja ke sekolah dek," ucap Damar. Kiana hanya mengangguk menyetujui.


"Jagain adik kalian, kalau Azam berulah lapor sama Papa ya." ucap Bram.


"Tenang aja Pa, dia gak akan berani macam-macam. Damar akan jagain Kiana." ucap Damar sambil mengacak rambut Kiana gemas.


"Jangan di acak-acak dong, kan jadi berantakan nih!" ucap Kiana sewot.


"Yaudah maaf deh, nih gue benerin rambutnya." ucap Damar membuat Kiana tersenyum hangat.


"Woy cepat kita udah telat nih!" teriak Wulan dari luar rumah.


"Iya." jawab Kiana sambil berlari.


Selepas semua anaknya telah pergi ke sekolah, Bram menyuruh salah satu anak buahnya untuk menjadi pelindung bayangan untuk Kiana. Bram tidak mau anaknya kembali celaka.


*****