Kiana Story

Kiana Story
Bab 68



"Alan sayang!" pekik seorang gadis di depan pintu kelas IPS.


Alan yang sedang makan kentang goreng yang ia ambil dari laci temannya lantas menoleh ke sumber suara.


"Pacar lo lagi?" tanya Ringga pada Alan tanpa menatap cowok itu. Ia nampak sibuk bermain ponsel.


"Lupa, ini masih pacar atau udah mantan ya," gumam Alan bingung sendiri. Jika Bian ada di sini, mungkin cowok itu yang lebih tau mengenai pacar Alan dibanding dirinya sendiri.


Namun sayangnya, Bian belum tiba di kelas, dan saat Alan telepon tadi, Bian bilang jika ia sedang di hukum pak Jamal membersihkan gudang karena ketahuan melompat pagar.


"ALAN KOK INGKAR JANJI SIH SEMALAM? AKU UDAH DANDAN CANTIK, TAPI KAMU GAK DATENG-DATENG! AKU NUNGGU SAMPE TIGA JAM TAU GAK!"


Brak!... Uhuk-uhuk!


Alan tersedak kala cewek bernama Tia itu menggebrak meja dan memukul kepalanya yang saat itu tengah mengunyah.


"Urusin tuh, salah sendiri poligami sana-sini," ujar Ringga terkekeh.


Penghuni kelas yang lain hanya menatap sekilas ke arah Alan dan Tia, Yah pemandangan Alan di labrak pacar-pacarnya di kelas itu sudah hal biasa. Dan berhubung jam pertama mereka free jadi sebagian siswa memilih ke kantin atau perpustakaan dan mungkin juga ke roftoop buat ngapel bareng pacar.


"Maaf Inan, gue semalam ketiduran..."


Brak!


"Aku Tia, bukan Inan!" pekik Tia kesal membuat Alan mengusap dada sabar.


"Tia atau siapapun nama lo, maaf ya cantik, gue semalam ketiduran jadi lupa kalau ada janji sama lo. Nanti next time aja ya, kita dinner bareng," ujar Alan dengan senyuman khasnya yang mampu membuat kaum hawa luluh.


"Beneran ya?" Terbukti kan? Tia langsung luluh.


"Iya sayang, gue janji. Nanti gue jemput, dandan yang cantik jangan lupa."


"Awas ya kalau ingkar janji lagi," ujar Tia melotot tajam.


"Iya cantik, gue gak bakalan ingkar jan- awhh!" Alan meringis saat pinggangnya di cubit. Ia menoleh ke samping, mendapati hantu Alena yang tengah menatapnya cemberut.


"Berhenti jadi cowok bajingan Alan," ujar Alena yang hanya Alan yang bisa mendengarnya.


Alan mendengus sesaat, sebelum mengalihkan pandangan dari Alena dan bersikap normal agar tak ada yang menatapnya curiga.


"Jangan ngatur-ngatur gue," ujar Alan pelan. "Udah sana pergi, awas ya kalau gangguin pacar-pacar gue lagi, gue bakar lo pake ayat kursi."


Alena mengerucutkan bibirnya. Ia berjalan mendekati Tia pacar Alan, mengundang tatapan horor dari cowok itu.


"Jauhin Alan, kalau tidak, aku bakalan hantuin kamu terus."


Suara Alena yang lembut namun menyeramkan berhasil membuat Tia merinding sambil mengusap tengkuknya.


"Ihh kok merinding sih, kelas kalian ada hantunya ya?" tanya Tia menatap sana-sini.


"Ada, dan hantunya itu ada di samping kamu," bisik Alena bagai alunan lagu yang membuat tubuh Tia tambah merinding.


"Ihh Alan, aku ke kelas dulu ya, merinding banget sih di sini," ujar Tia, ia tersentak saat rambutnya terasa di mainkan. "AAA MAMI!" Tia berteriak histeris sambil lari terbirit-birit, sampai tubuhnya terjungkal saat bertabrakan dengan Bian yang baru masuk kelas.


"Anjir ngapain lo ngesot di situ?" tanya Jeje yang baru muncul dari belakang Bian. Ia juga sama baru di hukum bareng Bian.


"Mau ngepel lantai mungkin," imbuh Bian tertawa kecil. "Eh lo Tia kan? Pacar Alan yang ke tiga?" Lihat, Bian lebih mengenal pacar Alan dibanding si pemilik pacar sendiri.


"Lo apain lagi tuh cewek?" tanya Bian pada Alan. Cowok itu duduk di kursinya, sedang Jeje duduk di atas meja samping meja Bian.


"Ulah Alena. Hobi banget tu hantu gangguin pacar-pacar gue," ujar Alan, ia mendelik ke arah Alena yang duduk bersila di atas meja, tepat di depannya.


"Cemburu tuh kayaknya," ujar Jeje. "Hantu zaman now, mah beda ya gak Len?" tambah Jeje, walaupun ia tidak melihat kehadiran Alena, namun Jeje yakin Alena ada di sekitar sini.


Semenjak Alan di tempelin hantu cantik itu, mereka juga ikut terbiasa, yah walaupun awal-awal masih takut.


Alena tersipu dan menutup wajahnya dengan tangan. Alan mendelik sinis melihatnya. "Alay lo Alekun," cibir Alan. Alekun adalah singkatan dari Alena Kunti.


"Azam mana? Tumben jam segini belum ada?" tanya Bian yang tidak melihat kehadiran Azam.


"Kelas Elsa, jemput dia buat ke sini. Elsa chat katanya jam fisika udah selesai dan kelas mereka ikut free, jadi Elsa mau nimbrung bareng kita," jawab Alan.


Bian berdecih sinis. "Nyusahin tuh kera," cibir Bian. Ringga menatapnya dengan kening berkerut. "Lo gak suka sama Elsa?" tanya Ringga.


"Gue sukanya permen, bukan dia," ujar Bian ketus.


"Selera pertemanan gue manusia asli semua, bukan manusia jadi-jadian. Dal Lo, stop tanyain alasannya."


Ringga baru kali ini melihat wajah datar Bian, bahkan penghuni kelas juga ikut bergidik melihat wajah datar Bian. Cowok yang humoris, memang akan terlihat menakutkan jika sedang marah. Dan wajah Bian, ketara banget ia sedang marah saat membahas Elsa. Entah apa masalah mereka berdua.


"Kenapa lo? Babak belur gitu, berantem di mana?" tanta Ringga pada Bian lagi. Ia bisa lihat jika wajah temannya itu penuh lebam.


Bian terdiam sesaat sambil menyentuh lebam di wajahnya. Kemudian ia memukul meja dan memperbaiki posisi duduk.


"Kalian harus dengar cerita membagongkan yang gue alami semalam, setidaknya selali seumur hidup," ujar Bian menggebu-gebu. Ia menggerakkan tangannya seperti memanggil. "Mendekat-mendekat, kalian harus dengar dengan baik, biar kalian gak bakalan ngalamin hal serupa sama gue."


Posisi Bian kini duduk di kursinya, namun menghadap ke arah meja belakang tempat duduk Ringga, jadi kini meja Ringga sudah di kerumuni oleh anak-anak XI IPS yang kepo.


"Cerita apaan?" tanya Azam yang baru tiba. Dan jangan lupakan jika Elsa tengah di peluk seperti Koala oleh cowok itu.


"Setau gue, di larang bawa kera ke kelas deh?" sindir Bian memutar bola matanya jengah.


Azam menatap tajam Bian. "Cerita aja, gak usah ngatain Elsa," ujar Azam.


"Ya Allah, walaupun dosa gue banyak, tapi tolong kabulin doa gue, buat Kiana dan Azam segera bercerai supaya Kiana bisa lepas dari Azam. Walaupun Kiana kelakuannya nauzubillah yang bikin anak orang kena mental, tapi dia cewek baik nggak cocok sama Azam anjing yang di tempelin Medusa. Udah pasangin aja sama Rayyan, gue dukung Ya Allah," batin Bian berdoa penuh harap.


"Udah makan Sa?" tanya Ringga pada Elsa.


"Udah tadi pagi heheh." jawab Elsa yang duduk di pangkuan Azam dengan posisi menghadap Azam.


Ringga mengangguk. Mengusap pelan rambut Elsa yang di kepang. "Nanti makan lagi," ujar Ringga.


"Yan cepat cerita. Buat orang penasaran mulu lo," ujar teman sekelasnya.


"Oke gue mulai." Bian menarik napas sejenak. "Ini membagongkan banget njir. Gue kena tipu dan lihat wajah gue, ini yang gue dapat," ujar Bian, menunjuk wajahnya yang memar.


"Siapa yang nipu lo? Kita serang pulang sekolah. Kumpulin anak-anak," ujar Azam datar.


"Bentar gue jelasin kronologinya. Jadi ceritanya gini, gue kan lagi gabut dan pengen kerja biar bisa punya duit sendiri. Awalnya gue mau ngepet, tapi gak tau caranya, jadi gue mutusin buat nyari lowongan di Facebook," ujar Bian mulai menceritakan kejadian yang menimpanya.


"Gue scroll terus dan gue nemu status yang katanya lagi buka lowongan pekerjaan. Syaratnya pas gue baca, gampang dan emang bakat gue juga."


"Syarat pertama, larinya harus cepat. Lah, gue juara umum berturut-turut lari 100 meter tingkat SD dulu, ya jadi udah masuk bakat gue."


Semua tercengo, Bian mengangkat tangan tanda jangan ada yang memotong ceritanya.


"Syarat kedua, harus bisa melihat di tempat gelap. Lah, gue punya mata serigala yang gue dapat dari Almarhum nenek gue. Jadi gue anggap udah bakat gue juga."


"Syarat ketiga, gue harus jago bobol gembok atau pintu gitu. Lah inu emang bakat yang udah mendarah daging bagi gue. Jadi gue semakin semangat buat ngajuin diri."


Mereka semakin serius mendengar cerita Bian.


"Dan yang terakhir, gue harus jago manjat dan jago lompat dari ketinggian. Oho, gue sebagai cowok yang rajin keluar malam diam-diam lewat balkon, udah gak asing lagi masalah kek ginian," ujar Bian menepuk dada bangga.


"Terus?"


"Bentar gue napas dulu." Bian menghirup udara banyak dan menghembuskannya pelan.


"Syaratnya cuman empat itu doang, dan karena sesuai sama gue, jadi gue sepakat buat daftar. Gue chat dah itu nomor yang udah tertera dan tanya-tanya bentar. Dan gajinya, di bayar tiap selesai kerja, tergantung dari pendapatan kata si bapaknya itu."


"Gue gak curiga apa-apa dong awalnya, terus tadi malam gue di suruh datang ke gang kecil samping pabrik tua. Perasaan gue udah gak enak tuh, sampe di sana, gue kaget njir tampang mereka preman semua. Mau lari gue, eh malah di cegat dan gaj di biarin kabur." Bian bergidik saat membayangkan kejadian semalam.


"Lo di gilir di situ?" tanya Jeje ngawur membuat Bian memukul wajahnya.


"Sialan lo! Kagak lah!"


"Canda aelah. Oke lanjut, terus lo di apain?"


"Gue di kasih topeng ninja gitu, njir udah kayak kura-kura ninja yang di TV itu tampilan gue. Singkatnya, kita nunggu sampe jam satu malam sebelum mulai kerja. Ini gue terlalu polos atau gimana, jadi gue ngikut aja.


"Kita berangkat ke rumah mewah dekat gang itu, dengan penampilan yang udah kayak tadi."


"Dan kalian tau lanjutannya?" Bian menatap wajah mereka satu persatu. "Gue hampir nangis dan kencing di celana pas udah di suruh Abang preman buat masuk dan bobol rumah orang. Gue baru nyadar, kalau lowongan pekerjaan yang gue minati adalah lowongan jadi maling! Anjir parah!" pekik Bian yang mengundang tawa mereka.


"Parah lo Yan," ujar Alan.


"Kurang duit minta ke gue Yan," timpal Azam juga.


"Gue jajanin tiap hari aja lo Yan, kasian ngeliat li salah jalan kayak gini." Jeje tergelak, cowok itu tertawa terpingkal-pingkal mendengar cerita Bian.


Bian mendengus saat melihat teman-temannya tertawa di atas penderitaannya.


"Jadi lo lebam gara-gara di gorok warga?" tanya Jeje setelah tawanya reda.


Bian menggeleng. "Ini yang lebih gila, ternyata rumah yang kita rampok itu rumah abdi negara semua anjir. Kepala keluarganya tentara, istrinya polwan dan anaknya polisi. Mampus di dalam kita di gebukin, untung badan gue kecil dan lincah yaudah pas tu rekan gue yang lain pada di gebukin gue udah lari duluan. Nyelamatin diri, ingat masa depan gue kalau masih pelajar. Untungnya pakai penutup wajah, jadi gue rasa gue aman," ujar Bian.


Mereka semua tertawa lagi. Sial banget nasib Bian. Niat ingin cari kerja, sekalinya dapat malah jadi maling.