
Bel istirahat akan berbunyi sekitar lima belas menit lagi, namun Kiana, Alira dan Loli sudah lebih dulu ke kantin saat guru mereka keluar lebih cepat.
Mengenai Loli bagaimana bisa bersama Kiana dan Alira, itu karena dia pindah kelas, ia bosan dan merasa sunyi di kelas IPS 2, maka dari itu ia merengek pada mamanya untuk membuat ia agar bisa satu kelas bareng Alira. Untung anak kesayangan, jadi Bunda Nia langsung menelpon guru dan meminta agar Lolo di pindahkan kelasnya.
"Ayo cepat dong jalannya, lemot banget kayak otak Alira pas pelajaran matematika," ceplos Loli, ia sudah kelaparan namun dua sahabatnya ini sangat lambat sekali berjalan.
Alira mendelik tajam, mulut Loli ini sepertinya mau di sumpal pakai kaus kaki.
"Lo kalau ngomong suka jujur ya, kasian otak Alira jadi tertohok," ucap Kiana sambil tertawa dan merangkul Alira yang tampak kesal.
"Hp lo bunyi terus tuh, nggak di cek? Siapa tau penting." ucap Alira.
"Azam yang chat, tapi nggak gue balas." Kiana menghela napas pelan.
Alira terkekeh. Ia menganggukkan kepalanya. "Hmm, cowok harus digituin biar sadar. Mereka sudah bertindak seenaknya, saat tahu kalau perasaan cinta cewek itu besar. Yang kayak gitu gak jauh-jauh dari kata sampah dunia."
***
Waktu istirahat tiba, Rayyan membersihkan alat tulisnya dan menghela napas panjang. Setelah pelajaran fisika di jam pertama, langsung di lanjutkan dengan pelajaran matematika sampai istirahat.
Namun Rayyan mengikuti pelajaran itu, karena menurutnya hal itu sangat seru dan bisa melatih otaknya.
Rayyan menatap keadaan kelas yang masih ramai. Ia beranjak keluar kelas mencari kantin yang entah di mana letaknya. Ia ingin bertanya pada siswa yang melintas namun ia urungkan saat melihat tiga orang gadis yang bari keluar dari kelas IPA 3.
Sekitar sepuluh meter lagi, hingga mereka tiba di kantin, namun langkah ketiga gadis itu haris berhenti saat cowok berpawakan tinggi menghalangi jalan.
"Kakak kantin yang katanya gay itu ya? Ngapain di situ kak?" Loli nyerocos membuat Alira dan Kiana hanya bisa menggeleng pelan. Mulut si permen memang mulus kayak kata manis crocodile.
Davian berdehem, pandangannya tertuju pada Kiana, membuat yang di tatap langsung mengangkat sebelah alisnya.
"Ada perlu dengan gue?" tanya Kiana langsung.
Davian mengangguk. "Ke kantin bareng gue," ucapnya membuat ketiga gadis itu saling lempar pandang.
"Lo ngajak gue?" Kiana menunjuk dirinya sendiri. Lagi-lagi Davian mengangguk.
"Nggak ada yang gratis di dunia ini," ucap Davian tiba-tiba. "Gue udah bantuin lo hari itu, jadi sekarang gue mau lo ke kantin bareng gue. Anggap aja sebagai balasannya."
"Lo nggak ikhlas bantuin gue?"
"Udah gue bilang, nggak ada yang gratis di dunia ini." Davian tersenyum miring. "Ke kantin bareng gue, kalau lo nolak, jangan salahin gue kalau gue buntuti lo terus." lanjutnya dengan nada mengancam.
Kiana mengerjap. "Lo gila ya?'' Kiana menatap Davian tidak suka, ia memegang tangan kedua sahabatnya dan menariknya pergi. "Udah tinggalin aja, udah nggak waras nih orang."
Ketiganya kembali melanjutkan langkah kakinya menuju kantin. Davian tersenyum, dan pada akhirnya membuntuti ketiga gadis itu, lebih tepatnya mengikuti Kiana.
Kiana menyadarinya, namun ia berusaha untuk tidak memukul kepala Davian.
"Kak Davian kayaknya mau rasain tendangan gue ya Ra," ucap Kiana.
"Udah biarin aja dulu."
Lagi-lagi ada yang menghalangi jalan ketiga gadis itu.
"Lo ngapain ngalangin jalan gue anjir? Mau cari gara-gara hah?" Kalau Rayyan tidak salah, itu adalah suara Kiana, gadis berwajah jutek.
"Maaf Kia, gue cuman mau ngasih ini."
"Dari siapa?"
"Kak Pandu."
Rayyan tidak tahu apa yang di berikan pada Kiana karena posisi mereka membelakanginya.
Rayyan terus menatap punggung ketiga gadis itu, ah lebih tepatnya adalah punggung Kiana dengan kening berkerut. "Apa gadis itu memang menyeramkan?" batinnya.
"Berhadapan dengan Kiana ngeri banget coy, kalau gak di suruk kak Pandu, ogah gue ketemu Kiana."
"Ngeri banget tatapan Kiana tadi, eh Alira juga natap tajam lo pas ngasih paper bag tadi, gue pikir lo bakalan jadi korban Queen Devil, untungnya kagak."
"Nah untungnya kagak. Lagian ya Kiana dan Alira namanya masih tertulis besar di otak gue, sebagai muris yang harus gue hindari, biar tenang sekolah di sini."
Rayyan tersadar, ternyata dari tadi ia menguping pembicaraan dua gadis itu. Ia kembali beristighfar dan menjernihkan pikirannya lagi.
Mengapa nama Kiana seperti mengerikan di telinga Rayyan?
"Woy Ray! Kantin bareng kita!" Ucok tiba-tiba muncul langsung menggandeng bahu Rayyan.
Rayyan tentunya terkejut. Ia sampai beristighfar dan mengusap dadanya. "Ucap salam dulu Cok, bukannya datang tiba-tiba seperti itu," ucap Rayyan. Apakah Allah memudahkan rencananya untuk menyesuaikan diri di sekolah ini melalui perantara Ucok?
Jujur saja, saat masuk Rayyan sedikit grogi, ia takut jika tidak bisa berinteraksi dengan siapapun, apalagi tidak ada yang ia kenali.
Ia sampai bertanya di grup khusus bersama para sahabatnya, namun Gege dan Jojo malah mengejeknya dan menyuruhnya untuk pindah sekolah saja agar bisa bersama.
"Haha sorry Bro. Assalamu'alaikum." Ucok langsung mengucapkan salam. Entah mengapa dari awal bertemu Rayyan, Ucok ingin menjalin pertemanan dengan cowok itu. Ia bisa lihat jika Rayyan adalah murid yang baik.
"Wa'alaikumsalam warahmatullahi wabarakatuh," jawab Rayyan.
"Lo jadi pusat perhatian Bro, nasib jadi murid baru," ujar Ucok, cowok berambut kribo dan berkulit gelap itu masih terus menggandeng bahu Rayyan.
"Mereka melihat saya karena mereka mempunyai mata," ucap Rayyan, ia tersenyum kecil.
"Haha formal amat lo ngomongnya. Kebiasaan dari kecil ya?" celetuk Ucok.
"Iya, lingkungan keluarga saya yang mengajarkannya."
"Oh iya, lo pindahan dari mana? Kenapa pindah? Penasaran gue," tanya Ucok beruntun.
Keduanya masih terus melangkah. Sebenarnya, Rayyan hanya mengikuti Ucok saja, Ia tidak mengetahui letak kantin di sekolah besar ini. Sekali lagi, ia sangat bersyukur bertemu dengan Ucok.
"Saya pindahan dari Madrasah Aliyah Surabaya. Kenapa pindah? Karena di panggil Umi sama Abi untuk tinggal bersama lagi setelah nenek saya meninggal," jelas Rayyan.
"Ouhh gitu, eh duduk sana aja kuy, untuk sekarang gue yang pesenin lo okayy?" Ucok menuntun Rayyan untuk duduk di kursi pojok kantin.
"Syukron, dari awak kamu sudah banyak membantu saya," ucap Rayyan setelah Ucok memberikan makanannya. Rayyan hanya memesan bakso dan air mineral saja.
"Haha lo bersyukur di bantuin gue? Santai, lagian gue seneng kok, aura lo beda, bikin nyaman kalau jadi bestai gue," celetuk Ucok yang sudah duduk di samping Rayyan.
Rayyan mengerutkan keningnya mendengar balasan Ucok, cowok kribo itu menyadari raut wajah Rayyan langsung kembali bertanya.
"Syukron artinya syukur kan?" dengan pedenya Ucok bertanya.
Rayyan terkekeh kecil." Syukron artinya terima kasih dalam bahasa Arab," ucap Rayyan. Ucok hanya nyengir.
"Njirr nggak tau gue," celetuk Ucok malu-malu.
Ucok hendak memakan nasi gorengnya namun Rayyan menahan tangannya. "Baca do'a dulu sebelum makan," ucap Rayyan.
Ucok tercengo sebelum kembali nyengir. Ia membaca do'a makan dan sesekali melirik Rayyan. Sepertinya Rayyan bukan tipe cowok urakan sepertinya. Ucok saja makan langsung hap, tanpa bismillah dulu.