
Semua murid yang berada di kantin mencoba mencuri dengar informasi yang berhubungan dengan Devan ketua geng Serigala yang merupakan musuh bebuyutan Azam dan geng Tiger.
Begitu pula dengan Kiana yang sangat penasaran karena yang sedang di bicarakan adalah dirinya.
"Di hianati? Maksud lo apa? Kiana tidak bisa menahan diri untuk bertanya, ia langsung menghampiri Jeje di mejanya.
"Neng Angel, sini deh kita ngegibah bareng." ajak Jeje yang menepuk bangku kosong di sebelahnya.
"Ck! Jawab pertanyaan gue, maksud kalimat lo tadi apa?" bentak Kiana membuat Jeje kicep.
"Oke bentar Neng, inces tarik napas dulu." Jeje menarik napas sejenak. " Jadi menurut informasi yang inces dapat, kalau di hari kecelakaan si Kiana itu, Devan ternyata lagi tunangan sama teman seangkatannya." jelas Jeje membuat Kiana melotot.
"Jangan asal ngomong lo! Devan nggak mungkin tunangan sama orang lain!" teriak Kiana membuat semua orang menatap heran padanya, begitu juga dengan Azam.
Jeje menggeleng. "No! inces nggak asal ngomong." Jeje mengambil lagi hpnya dari tangan Azam dan menyodorkan pada Kiana.
"Inces dapat info dari teman seperjametan inces di SMA Pancasila. Nih, cewek itu yang berdiri di belakang Devan adalah tunangannya. Mereka berdua itu di jodohkan sama bonyok mereka." jelas Jeje lagi.
Kiana langsung memperjelas penglihatan di video itu. Ia mengamati cewek yang berdiri di belakang Devan.
"Sari?" kaget Kiana. Novita Sari adalah ketua ekskul karate di SMA Kencana. Gadis yang terkenal dingin dan juga galak. "Nggak mungkin! Nggak mungkin Devan tunangan sama Sari!" ucap Kiana.
Kiana menggeleng tegas, ia menyangkal kebenaran ini. Namun matanya tanpa bisa di cegah sudah mulai berkaca-kaca.
"Kia, lo kenapa?" Alira menghampiri Kiana dan mengusap bahu sahabatnya.
"Al! Ini berita nggak bener kan? Nggak mungkin Devan hianatin Kia! Dia...Dia nggak mungkin hianatin Kia!" Kiana kacau sendiri.
"Aduh Neng Angel, kalau nggak percaya nih liat." ucap Jeje yang mulai mengutak-atik hpnya hingga menampilkan video yang berbeda.
Di dalam video itu, terlihat dua orang yang tengah bertukar cincin dengan background taman. Dua orang itu adalah Devan dan Sari.
"Acaranya private. Hanya keluarga aja yang hadir." ucap Jeje.
Kiana meremas rambutnya sendiri. Setetes kristal bening mengalir begitu saja di pipi. Ingatannya kini kembali tertuju saat hari dimana ia ingin di nikahkan oleh ibu tirinya. Dan sebuah video ini sudah membuktikan semuanya. Kiana sungguh kecewa dengan Devan sang kekasih.
Bagaimana bisa orang yang sangat Kiana cintai, orang yang menjadi penyemangat hidupnya, malah mengkhianati cinta dan kepercayaan pada dirinya begitu saja.
"Kia kecewa sama kamu Devan!" pekik Kiana, ia membanting hp yang ada di tangannya karena terlanjut kesal dan emosi. "Gue sangat kecewa! Gue udah percaya banget sama dia, tapi dia malah hancurin kepercayaan gue!"
Prakk!
Air mata jatuh begitu deras membasahi pipi. Kiana menutup wajah dengan telapak tangan, dadanya sungguh terasa sakit dan sesak mengetahui sebuah fakta menyakitkan ini. Ia memilih pergi begitu saja dari kantin di ikuti Alira dan Loli di belakang, meninggalkan semua orang yang bertanya-tanya dengan apa yang terjadi pada gadis itu.
Begitu juga dengan Azam yang hanya menatap bingung dengan semua yang di katakan oleh Kiana. Dirinya sangat kebingungan melihat Kiana menangis dan terlihat sangat berantakan.
"Njir, itu si Angel kayak orang habis patah hati karena di khianati pacarnya." ucap Alan tiba-tiba saat melihat Kiana tadi.
"Emangnya Angel pernah dekat sama Devan atau nggak pacarnya Devan ya? Kok dari responnya tadi, seakan-akan Angel yang di khianati si Devan." ucap Bian.
Tidak jauh berbeda dengan mereka, Azam pun ikut bingung dan bertanya-tanya.
"Mereka ada hubungan apa?" batin Azam dalam hati.
****
Angin berhembus pelan hingga menerbangkan anak rambut Kiana. Gadis itu menunduk dengan air mata menetes membasahi pipinya. Di sebelahnya, Alira dan Loli terus saja mengusap bahu sang sahabat berusaha menenangkan. Walaupun di benak Alira sangat begitu penasaran dengan apa yang terjadi pada Kiana.
"Kia, lo kenapa sih? Coba ngomong sama gue, jangan kayak gini dong, gue ikut sedih nih." ucap Alira yang memang tidak tega melihat sahabatnya dalam kondisi seperti ini.
"Gue kecewa aja sama dia, Al. Dia udah khianati kepercayaan gue. Bahkan sampai sekarang aja gue masih inget dia terus, khawatirkan dia, tapi apa balasannya? Dia malah tunangan sama orang lain! Gue sayang banget sama dia." racau Kiana. Ia sungguh kecewa dengan Devan. Bisa-bisanya cowok itu tunangan di saat mereka masih menjalin hubungan.
"Maksud lo siapa sih? Gue nggak ngerti. Lo jadi kayak gini pas denger kabar si Devan itu kan? Emang lo punya hubungan apa sama dia? Deket aja, gue yakin lo nggak pernah." ucap Alira yang masih tidak mengerti.
Ucapan Alira membuat Kiana terdiam. Ia terlalu larut dalam kesedihannya, sampai dirinya tidak sadar jika ia terlihat aneh di mata semua orang, termasuk di mata Alira dan Loli.
"Gue punya satu rahasia, Al. Nanti gue ceritain sama lo berdua. Tapi tidak sekarang, gue masih butuh waktu. Gue harap lo ngerti dan bisa nerima semuanya." ucap Kiana sambil menatap Alira dan Loli. "Makasih ya, udah care sama gue, pasti gue kelihatan aneh ya?" Kiana meringis saat menyadari tingkahnya tadi.
Semua itu karena hatinya dibuat patah sama Devan. Siapa yang nggak sakit hati saat di khianati oleh pacar yang sangat begitu di cintai? Ah, ingin rasanya Kiana mencakar wajah Devan saat ini juga yang sudah berani membuat dirinya menangis di depan semua orang dan kelihatan sangat aneh.
"Nyadar juga lo." Alira menyentil kening Kiana sebelum menarik sahabatnya itu untuk di peluk. "Gue tunggu sampe lo mau cerita semuanya, jangan sedih lagi ya, apalagi sampe kayak tadi di kantin. Anak-anak lain pasti ngira lo udah nggak waras." ucap Alira.
Loli yang melihat kedekatan Kiana dan Alira langsung ikut nimbrung dan ikut memeluk tubuh sahabat barunya itu.
"Jangan sedih lagi ya, nanti Loli kasih permen deh, Loli punya banyak di rumah. Kia bilang aja mau berapa, nanti Loli bawain. Sekalian pabriknya kalau perlu." ucap Loli membuat Kiana terkekeh sedangkan Alira menggeleng cepat.
"No! Dia nggak bisa makan permen, nanti giginya bisa rusak. Pokoknya nggak boleh, kalau lo masih sedih, mending kita shopping aja gimana? Gue bayarin deh nanti berhubung Papi gue nyuruh buat habisin uangnya, katanya sih biar uangnya cepat berkurang"
*****