
Happy reading 🖤
"Apa nggak ada niatan buat batalin pertunangan lo sama Ringga?"
Pertanyaan dari Kiana membuat gerakan Alira yang sedang membaca novel terhenti dan menoleh cepat ke arah Kiana yang tengah membereskan alat tulis.
"Lo nggak ada niatan buat cerai dari Azam?" Alira balik bertanya, membuat kening Kiana mengerut.
"Gue nanya, tapi malah balik nanya." Kiana memukul kepala Alira dengan buku, membuat si empunya meringis sebelum terkekeh kecil.
"Kayaknya enggak deh. Gue sama dia udah dijodohkan saat masih di dalam perut, orang tua gue sama Ringga udah deket banget. Ya, gue pun dekat sama Ringga, walaupun cowok itu cuek banget bahkan nggak segan-segan main tangan." Alira menutup buku novel dan menaruh kembali di dalam laci. "Gue nggak bisa lepasin Ringga gitu aja. Kedengaran bodoh sih emang, tapi ini menyangkut perasaan gue sama dia." lanjut Alira.
"Lo suka sama Ringga? Tapi interaksi lo sama dia kayak saling benci gitu," ucap Kiana. Bukan tanpa alasan ia berucap seperti itu, melihat saat Alira bertemu Ringga, ekspresi keduanya hanya datar-datar saja.
"Kalo di luar ya emang gitu, Ki," Alira terkekeh. Ia menyandarkan punggungnya di sandaran kursi, menatap seisi kelas yang sudah kosong karena bel istirahat telah berbunyi.
"Dia udah keterlaluan loh, pipi lo sampe merah kayak gitu. Makin kesel gue sama Elsa, itu cewek kayaknya titisan Medusa. Tak pikir dia baik, eh, ternyata..." Kiana berdecak kasar dan tertipu dengan sikap Elsa.
Setelah berpindah ke tubuh Angel, ia pikir Elsa adalah gadis yang baik, tapi saat melihat kejadian tadi dan ekspresi wajah Elsa yang dibuat menyedihkan, hal itu membuat Kiana geram. Apalagi karena cewek itu, Alira sampai ditampar oleh Ringga.
"Azam lebih parah dari Ringga kalau lo lupa, Ki." Alira berdecak sambil berdiri untuk pergi ke kantin. " Dua cowok ogeb yang tertipu dengan wajah manis Elsa."
"Lo nggak mau cerai dari Azam? Makin kesini, gue makin nggak suka sama sikap lakik lo." lanjut Alira saat keduanya melangkah keluar kelas.
"Mau cerai sih, tapi lo tau sendiri kan, sekarang gue lagi bertopang hidup sama keluarga Azam. Nggak mungkin gue balik lagi ke keluarga yang udah benci sama gue selama ini. Dan juga, Mommy Zara sama Papi Zain kayaknya nggak setuju kalo gue cerai sama anaknya." keluh Kiana.
Kiana menghela napas panjang, sudah terpikirkan olehnya jika ia ingin berpisah dengan Azam, namun sayangnya hal itu sangat sulit terwujud.
"lo sendiri masih mau bertahan sama Ringga?" tanya Kiana. "Sama, kayak lo yang nggak suka sama Azam, gue juga nggak suka sama Ringga. Udah enek banget sama tingkah Ringga. Rasanya pengen gue tabok itu mukanya. Berani banget dia nampar sahabat gue," ucap Kiana menggebu-gebu.
"Gue cari persediaan dulu deh, maksudnya sedia payung sebelum hujan. Jadi, pas gue batalin tunangan sama Ringga, gue udah punya yang baru." Alira menyelipkan anak rambutnya ke belakang telinga. "Makanya bantu gue cari orang baru yang bisa buat gue nyaman dan lupain Ringga." imbuh Alira.
"Tenang, itu masalah gampang. Nanti gue bantu," ucap Kiana.
Dari arah belakang, Loli berlari dan masuk di antara Alira dan Kiana.
"Ngagetin aja nih permen," gerutu Alira kesal.
"Elah, perkara permen doang, Li," kesal Alira.
"Kehilangan permen itu perkara besar bagi Loli. Alira nggak tau aja, rasanya tanpa permen itu hidup Loli nggak berwarna." ucap Loli dengan dramatis membuat Kiana dan Alira menggelengkan kepalanya.
"Dahlah, malas gue ladenin lo," ketus Alira.
Loli berdecak kesal. "Lomba yuk, kita lari ke kantin. Yang kalah harus turutin kemauan yang menang," ucap Loli dengan antusias.
"Lo aja, gue mager," ucap Kiana sambil menggeleng cepat.
Namun bukan Loli namanya jika tidak merengek. "Ihhh....Ayo! Loli ngambek nih." Loli memegang pergelangan tangan Alira. "Loli hitung ya, Satu.....Dua...Tiga!"
"Loli kampret!" teriak Alira saat Loli menarik tangannya.
Sedangkan Kiana, gadis itu ingin segera berlari, namun tali sepatunya lepas membuat ia berdecak kesal. Saat hendak berjongkok untuk mengikat tali sepatu, sebuah tepukan di bahu membuat ia terkejut dan langsung menoleh.
"Lo?" kaget Kiana, ia bertemu dengan cowok tadi pagi yang bertabrakan dengannya.
Cowok itu hanya mengangguk kecil, kemudian berjongkok di depannya. Hal itu membuat Kiana terkejut.
"Eh, mau ngapain? Nggak usah!" ucap Kiana gelagapan saat cowok itu mengikat tali sepatunya.
"Kancing rok belakang lo kebuka. Kalau lo jongkok, gue yakin...." cowok itu tidak meneruskan ucapannya saat melihat Kiana melotot kaget.
"Sama-sama," ucap cowok itu sebelum berlalu pergi dengan sebelah tangan masuk ke saku celana.
Ia meninggalkan Kiana yang tercengang dengan raut wajah malu. "Sial, malu banget gue," ucap Kiana setelah memperbaiki roknya.
Kiana menatap sekitar, beruntung tidak ada yang melihat kejadian barusan. Dengan segera Kiana berlari ke kantin untuk menyusul Alira dan Loli.
Melihat Kiana telah pergi, seorang pria keluar dari balik tembok sambil bersedekap dada menatap punggung Kiana yang sudah mulai menjauh.
"Sial! Kenapa gue nggak suka liat kejadian tadi?" ucap Azam dengan menyugar rambutnya dan kembali melangkah menuju kantin, di mana teman-temannya sedang menunggu.
Tangan Azam terkepal kuat dengan napas memburu. Murid-murid yang berpapasan dengannya langsung bergidik ngeri saat melihat kemarahan di wajah Azam.