
Azam menghela napas panjang dan mengambil kartu yang di atas meja dan memasukkan kembali ke dalam dompet. Hal itu dilihat oleh Gerry dan Bian yang saat ini sudah saling tindih di lantai, dengan posisi Bian tengah tengkurap di lantai dan Gerry menduduki punggung Bian.
"Loh, Zam. Itu kenapa di simpan lagi?" tanya Bian yang masih pada posisi tengkurap.
"Iya bang, itu kartu horang kayanya kenapa di simpan lagi." ujar Gerry ikut-ikutan.
Azam mengangkat sebelah alisnya dan mendengus. "Siapa suruh kalian lama ngambilnya, jadi gue simpan aja." ucap Azam sambil memainkan kunci motor di ujung jari telunjuk. " Gue balik dulu." lanjutnya kembali melangkah keluar daru markas dan menuju motor.
Bian dan Gerry menampilkan wajah sedih, sebelum kembali saling beradu pandang dan saling menyalahkan.
"Salah bang Abi tuh, padahal gue mau banggain Papa Bambang kalau gue udah pernah megang kartu sultan." ucap Gerry, memukul kepala Bian. Tidak keras tetapi mampu membuat Bian meringis.
"Kurang ajar! Bangun lo, punggung gue sakit nih." kesal Bian memukul kaki Gerry yang ada di sebelah wajahnya.
Gerry mengerucutkan bibirnya kesal dan beranjak bangun dari punggung Bian. Ia masih kesal dengan kakak kelasnya itu.
Berbeda dengan pertengkaran Bian dan Gerry, kini Azam sudah mengendarai motor membelah jalanan yang masih ramai. Padahal sekarang sudah jam sepuluh malam.
Azam berpikir sejenak untuk balik kemana, awalnya ia mau balik ke apartemen. Namun ia urungkan niatnya saat mengingat kembali ancaman Zara dan Zain yang berhasil membuat decakan lolos dari bibirnya.
Beginilah isi chat ancaman Zara dan Zain yang di kirim pada Azam.
Mom: [Kalau kamu nggak balik lagi buat jagain Kiana, jangan salahkan Mommy kalau nama kamu sudah nggak ada di list ahli waris keluarga.]
Itu adalah ancaman dari Zara, sedangkan dari Zain berisi seperti ini.
Papi gaul: [Kecebongnya gue, jgn lupa balik ke RS ya, awas aja kalo gak balik, papi sita semua fasilitas kamu.]
Azam menghela napas setelah mengingat ancaman kedua orangtuanya. Azam tidak habis pikir kenapa bisa Zara dan Zain sangat menyayangi Angel sebesar itu. Padahal menurutnya cewek seperti Angel sangat tak pantas mendapatkan perlakuan baik.
Setelah beberapa menit mengendara, mata Azam mulai menangkap bangunan besar di ujung sana. Rumah sakit. Ya, Azam kembali je rumah sakit untuk menjaga istri abal-abalnya.
Sebelum memasuki halaman bangunan rumah sakit, netra Azam tertuju ke arah penjual martabak manis yang ada di depan. Ia kembali berdecak sebelum menghentikan motornya di depan gerobak.
"Mas, martabak manisnya satu." ucap Azam pada sang penjual.
Mas penjual mengangguk mantap. "Mau rasa apa Mas?" tanyanya.
Azam bingung dan tidak tahu rasa apa yang Kiana suka. Entah setan apa yang merasukinya hingga menuruti keinginan gadis itu.
"Cokelat aja." ucap Azam.
Penjual martabak itu mengangguk dan mulai membuat pesanan Azam. Malam minggu seperti ini memang ia menjual martabak sampai jam sebelas malam, walau sudah larut malam begini masih ramai pembeli.
Setelah lama menunggu, akhirnya pesanannya selesai. Azam mengambil sekotak martabak yang di taruh di dalam kantong dan segera membayarnya. Setelah itu kembali mengendarai motor ke halaman rumah sakit.
Di lain sisi, Azam baru saja membuka pintu ruangan Kiana sebelum masuk dan mengangkat sebelah alisnya saat melihat Kiana yang anteng di ranjang.
Dengan pelan Azam menutup pintu dan berjalan menuju tempat Kiana. Di taruhnya box martabak di atas nakas.
Mata tajamnya menatap wajah polos Kiana yang tertidur. Decakan kecil kembali lolos dari sela bibirnya. Entah mengapa Azam sangat membenci wajah ini. Wajah gadis yang selalu mengejar dirinya tanpa kenal lelah setelah kejadian itu.
Pandangan Azam kini tertuju ke arah perban yang melilit kepala Kiana dan juga luka gores di bagian pipi sebelah kanan. Luka yang di sebabkan oleh dirinya setelah ijab qobul.
"Gue pengen bunuh lo, Ngel. Enek banget gue lihat muka lo." ucap Azam, menekan luka di pelipis Kiana hingga kembali berdarah, merubah warna dari perban putih itu.
Hal itu membuat Kiana meringis dan membuka matanya. Kepalanya kembali terasa perih, nyeri jadi satu.
"Lo!" Kiana mendelik saat melihat Azam. Ia menyentak tangan cowok itu dari wajahnya.
"Lo apa-apaan sih!" kesal Kiana dengan tindakan Azam.
Azam mendengus dan bersedekap dada. "Kenapa lo nggak mati aja sih, Ngel? Kenapa lo harus hidup dan jadi benalu di hidup gue?" tanya Azam, matanya menatap penuh dendam.
Kiana berdecak kesal saat mendengar ucapan Azam. Masih dengan posisi berbaring, Kiana membuang pandangan ke samping dan menghela napas panjang. Berusaha untuk kembali tenang dan tidak menghajar pria itu saat ini.
Azam ikut menghela napas sebelum menjulurkan tangan dan memegang tangan Kiana dan menarik gadis itu hingga tubuhnya berubah posisi menjadi duduk.
"Lo kasar banget sih!" kesal Kiana menyentuh punggung tangannya yang terdapat selang infus. Tangan yang di tarik oleh Azam tadi.
"Kasar adalah nama belakang gue." jawab Azam tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Demi Tuhan, kenapa gue harus punya takdir kayak gini sih? Ya Tuhan, gue janji deh bakalan rajin ke Gereja, tapi rubah takdir gue kali ini." mohon Kiana yang sudah tidak tahan dengan takdirnya. Ini baru satu hari ia bertemu dengan Azam, tapi rasa kesal terhadap cowok itu sudah mendarah daging.
"Gereja? Sejak kapan lo pindah agama?" tanya Azam heran.
Kiana mengerjapkan matanya berkali-kali saat mendengar pertanyaan Azam. Gadis itu gelagapan karena keceplosan. Iya, di kehidupan sebelumnya, Kiana penganut agama non muslim, sedangkan Angel seorang muslim.
"Emm, a-anu....Gue" mata Kiana liar menatap sekeliling untuk mencari jawaban yang tepat, hingga pandangannya tertuju ke sesuatu yang ada di atas nakas.
Kiana segera mengambilnya dan menaruh di atas paha. Bau khas martabak memasuki indra penciuman. Seketika matanya berbinar dengan senyum yang perlahan terukir di bibirnya.
Martabak manis rasa cokelat adalah makanan favorit Kiana. Dan lihat sekarang, hanya karena makanan manis itu, Kiana melupakan jika ia sedang kesal pada Azam.
"Lo beliin gue?" tanya Kiana, tangannya mulai bergerak dan membuka kotak martabak itu.
Kini Kiana sudah mencomot satu potong dan memakannya. Dan merasakan manis yang sangat pas di lidahnya.
****