
Semua orang menunggu di depan kamar dengan raut wajah khawatir begitu pula dengan Zara yang tidak henti-hentinya berdoa untuk Kiana.
Sudah satu jam lebih mereka menunggu di depan pintu. Tapi, Dokter tak kunjung keluar juga. Membuat Azam menahan diri untuk tidak mengumpat dan berkata kasar. Azam sekali-kali melampiaskan itu semua dengan memukul dinding berulang kali. "Sialan. Sialan. Sialan." umpatnya pelan, tapi masih terdengar oleh Bian dan kedua orang tuanya.
Bian hanya diam menatap Azam. Tanpa berniat menenangkan sahabatnya itu. Namun sebuah pertanyaan muncul di benaknya. "Apa lo cinta sama Elsa?" tanya Bian secara tiba-tiba. Membuat tubuh Azam langsung berbalik menghadapnya.
"Apa maksud lo tanyain hal ini?" kata Azam sambil menatap tajam kedua mata sahabatnya itu. Azam tidak suka jika ada yang mengusik hal pribadinya.
Bian tersenyum tipis. "Gue rasa lo emang jatuh cinta sama Elsa. karena sikap lo aja udah ketara banget, lo lembut sama Elsa tapi ke Kiana enggak. Bahkan lo sering sakitin Kiana."
Rahang Azam mengeras ketika nama Elsa perempuan yang memang selama ini ia cintai di sebut oleh Bian." Jangan sangkut pautkan Elsa dengan hal ini Yan! Elsa tak ada hubungannya!'' Bentak Azam keras.
"Gue bukan ingin ikut campur urusan kalian, tapi satu hal yang harus lo tau. Kalau penyesalan selalu berada di belakang bukan di depan. Lo harus pilih salah satu antara Elsa atau Kiana!"
Bugh
Satu pukulan mendarat di wajah Bian dan pelakunya adalah Azam.
"Brengsek, gue lakuin ini karena Devan berani cium Kiana dan itu buat gue hilang kontrol. Jangan sangkut pautkan ini dengan Elsa."
Zara dan Zain yang melihat itu hanya diam tanpa berniat memisahkan keduanya. Mereka sudah teramat kecewa dengan tingkah anaknya.
Bian hanya diam di tempatnya sambil menyeka darah yang keluar dari sudut bibirnya.
Ceklek
Pintu terbuka. Dokter menghela napas melihat Azam dan Bian sedang bertengkar. Melihat pintu terbuka membuat Azam langsung mendorong kasar tubuh Bian dan menghampiri dokter.
"Bagaimana kondisi istriku?" tanya Azan dengan khawatir.
Dokter mengambil napasnya dalam-dalam membuat semua orang cemas dengan keadaan Kiana.
"Ada beberapa luka yang memerlukan untuk di jahit dan kondisinya sekarang sedang tidak baik-baik saja. Baiklah, mungkin dia akan sadar besok. Jadi kau bisa memberinya obat yang telah aku resepkan untuk istrimu." ujar dokter sambil menepuk bahu Azam.
"Baiklah kami permisi." pamit dokter yang diikuti oleh lima perawat yang lain dengan membawa alat-alat medisnya.
Bian bernapas lega, setidaknya Kiana masih terselamatkan. Begitu pula dengan Zara dan Zain.
"Zam, setelah Kiana sembuh ada hal yang ingin Papi sampaikan."
"Baik Pi." jawab Azam sambil menunduk.
***
Setelah itu, Azam berjalan mendekati tempat tidur. Kiana, masih tertidur pulas. Di usapnya pucuk kepala Kiana dengan pelan.
"Pagi." ucap Azam.
Dengan perlahan kedua bola mata Kiana mulai terbuka. Dengan sigap, Azam langsung menggenggam tangan Kiana.
"Sudah bangun?" ucap Azam dengan kedua bola mata berbinar senang. Perasaan bahagia menyelimuti dirinya ketika melihat adanya pergerakan dari Kiana.
Kiana mengerjapkan kedua matanya beberapa kali. Mencoba untuk menyesuaikan cahaya di kamar itu.
"Ayah, bunda." lirihnya pelan.
"Ini gue Azam." di kecupnya tangan itu dengan sayang.
Kiana yang mendengar suara Azam langsung terdiam, ia langsung menegakkan tubuhnya dan melepaskan genggaman tangan Azam dari tangannya.
Azam yang melihat itu langsung terdiam. Azam mencoba sekali lagi untuk menggenggam tangan Kiana. Namun bukan respon baik yang Azam terima. Tapi tepisan kasar langsung ia dapatkan. Hal itu langsung memancing emosinya.
"Jangan sentuh gue." ujar Kiana dengan amarah yang terpancar di wajahnya. Tidak terpengaruh dengan tatapan tajam Azam yang seperti akan memakannya hidup-hidup.
"Kenapa gue gak boleh? Gue berhak sentuh lo kapanpun." kata Azam dingin.
Kiana yang mendengar perkataan itu langsung tersenyum remeh. "Suami gue? Hahaha lucu sekali." jawab Kiana tanpa rasa takut. Meskipun badannya masih terasa sakit karena insiden semalam.
"Gue adalah suami lo. Bersikaplah sopan padaku seperti seorang istri yang bersikap sopan pada suaminya." ucap Azam dengan menatap tajam Kiana.
Kiana yang mendengar itu langsung tertawa. Sungguh lucu sekali. "Hahaha, suamiku? Yang benar aja." ucap Kiana sambil menatap tepat dua bola mata itu. Tidak berpengaruh sama sekali dengan tatapan intimidasi itu. "Tidak ada yang namanya suami melempar tubuh istrinya ke kaca."
Deg
"Lo udah berubah Kiana, mana lo yang cinta mati sama gue?" tanya Azam frustasi.
"Iya gue berubah, Kiana yang dulu sudah mati. Dan Kiana yang sekarang sangat benci lo Zam, ingat itu!" ucap Kiana dengan nafas menggebu-gebu.
"Hahaha, benci sama cinta itu beda tipis. Gue tau lo masih ada perasaan sama gue!" ucap Azam percaya diri.
"Pergi lo dari sini Zam, jangan pernah nunjukin muka lo di hadapan gue. Gue benci sama lo!" teriak Kiana histeris dan melempar barang-barang yang ada di dekatnya. Bahkan selang infus yang terpasang di tangannya pun sampai terlepas.
*****