
"ABIAN, lip tint gue balikin anjir!"
"YAELAH PELIT AMAT LU NUTELLA!"
"KURANG AJAR NAMA GUE NUELA BAGONG, BUKAN NUTELLA!"
"SSB DONG!"
"APAAN TUH SSB?"
"SUKA-SUKA BIAN DONG HAHAHAHA!"
"BIAN ASEM!"
Murid SMA Garuda hanya bisa geleng-geleng kepala melihat tingkah Bian. Sudah menjadi pemandangan biasa di mata mereka dengan tingkah Bian yang absurd.
Nuela gadis yang menjadi korban kejahilan Bian kini berhenti berlari sembari menumpu pada lututnya. Ia mengatur napasnya yang tersengal-sengal.
Bibirnya mencibir kesal pada Bian. Ini bukan pertama kali Bian mengambil liptin perempuan namun sudah berulangkali. Bukan hanya dia saja korbannya, namun semua murid perempuan di kelasnya.
Sedangkan Bian sudah masuk ke dalam kelas dan mengatur napasnya sejenak sebelum mulai membuka penutup liptin dan memakainya di bibir. Hanya tipis saja. Setidaknya bibirnya yang pucat bisa kembali merah.
"Bian!" Suara Nuela kembali terdengar.
Bian nyengir menampilkan lesung pipi yang menambah kesan ketampanannya.
"Tuh! Pelit amat lu jadi cewek," ujar Bian setelah melempar liptin ke arah Nuela.
Dengan sigap gadis itu menangkapnya dan melotot tajam pada Bian. Sedangkan cowok itu hanya mengedikkan bahunya sembari menyugar rambut.
Ia berjalan ke arah bangkunya, kening Bian mengerut kala melihat wajah sahabatnya yang nampak di tekuk.
"Kenapa tu muka? Kusut amat," ujar Bian sembari duduk di meja yang bersebelahan dengan meja Azam dan Ringga. Memang Azam dan Ringga duduk satu meja.
"Kepo lo," balas Azam dingin sembari mengacak rambutnya frustasi.
"Ah gue tau, si Azam badmood kayak cewek pms ini, pasti karena cembokur kan? Ayo ngaku! Bian semakin bersemangat dalam hal ini.
"Pasti karena neng Kia pulang bareng murid baru itu kan? Iya kan? Pasti iya dong!" Bian terus menyeletuk. Memang selepas mengantar Loli pulang, ia tidak sengaja melihat motor Vespa putih yang di kendarai oleh murid baru di kelas XI IPA 1 tengah membonceng gadis yang merupakan istri dari sahabatnya. Bian ingin tertawa saat melihat posisi mereka kemarin seperti suami istri yang sedang bertengkar. Di mana Rayyan yang duduk di ujung. Padahal jarak mereka sudah terbatasi oleh tas.
"Diam Bian, jangan sampai mulut lo gue sumpal pake dollar Papi," ancam Azam yang malah membuat mata Bian makin berbinar dan tidak mau diam.
"Biar gue tebak juga nih, lo habis di depak dari keluarga kan? Ayo ngaku," ucap Bian asal sembari menunjuk Azam. "Yakin gue, pasti Papi sama Mommy marah ke lo, karena udah nonjok Kiana dan lebih bela Elsa."
"Sok tau lo kek dora," sengit Azam.
"Dih. Tapi benar kan yang gue bilang? Makanya Zam, di dalam sebuah hubungan, kepercayaan itu nomor satu. Sok-sokan bertingkah bucin, tapi baru di tes sama kejadian pasaran kayak kemarin, lo langsung ragu dan parahnya, tingkah lo kemarin ke Kiana itu udah termasuk keterlaluan." Bian terkekeh kecil. Ia menyugar rambutnya sesaat sebelum kembali melanjutkan ucapannya.
"Jangan lihat sesuatu dari sudut pandang aja, Zam. Bisa jadi yang lo lihat benar, adalah salah. Begitupun sebaliknya."
Azam menatap Bian tajam sebelum mendengus kasar. "Lo bukan Ustadz, jadi gak usah sok-sokan ceramahi gue," balas Azam. Ia ditambah di buat kesal. Cowok itu memilih menjatuhkan kepalanya di atas meja dengan kedua tangan yang ia letakkan di belakang kepala.
Bian berdecih. "Di bilangin malah respon kayak gitu. Lo bakal nyesel dengan sikap lo ke Kiana Zam. Ah, bodo amat dah! Yang penting gue udah menjalani peran gue sebagai sahabat yang ingin membawa lo ke jalan yang benar." Bian mengedikkan bahunya dan menatap jam di pergelangan tangannya. Lima menit lagi bel masuk.
"Nah, kalau Linggis kenapa lagi nih? Coba cerita sama babang Bian, siapa tahu gue gak bisa bantu." Bian nyengir saat Ringga menatapnya tajam.
"Ganti nama gue lagi, bukan cuma pulpen yang gue lempar ke lo, tapi belati!" ujar Ringga dingin dengan tatapan bak predator yang siap menerkam mangsanya.
Bian hanya nyengir sembari mengusap jidatnya. "Mati dong gue kalau gitu."
"Gak peduli gue."
Bian memasang wajah sok tersakiti. "Tega kamu Linggis! Kalau babang Bian mati beneran, gue yakin lo yang paling nangis kencang sampe nangis darah," ujarnya dramatis membuat Ringga berdecak malas. Ia memilih menjatuhkan kepalanya di meja sama seperti Azam.
Azam dan Ringga di buat kesal dengan suara Bian yang tidak bisa diam. Mereka ingin menenangkan diri. Azam dan Ringga menghela napas kasar. Detik berikutnya, suara cempreng Jeje terdengar membuat mood dua cowok itu semakin hancur.
"ANJIR GELI BANGET! AAA INCES GELI BACANYA IHHHH!" Jeje datang sembari mengusap-usap lengannya. Wajah cowok ganteng yang sayangnya bencong itu terlihat jijik dengan mengangkat sebuah kertas.
"Kenapa lu Je?" tanya Bian saat Jeje sudah duduk di sebelahnya.
Jeje memasang wajah ingin mual dulu sebelum menaruh sebuah kertas yang sudah kusut di atas meja Azam.
"Anjim, gila bener tuh yang nulis. Jij*k banget inces bacanya. Bisa-bisanya dia ngajak inces buat pacaran. Ihhh geli geli geli!" Jeje kembali mengusap lengan dan tengkuknya yang terasa meremang.
Bian yang penasaran langsung saja mengambil kertas dan membaca tulisan tersebut.
**Hai Inces..
Gue tahu ini gak normal. Tapi gue beneran suka sama lo. Lo mau kan jadi pacar gue? Gue harap lo mau jalin hubungan sama gue. Kalau lo malu, tenang aja, kita berdua bakalan pindah sekolah ke luar negeri.
Ttd
Cowok yang mengagumimu**.
"Pftth....Hahaha!" Tawa Bian pecah seketika saat membaca deretan kata itu.
Jeje mendengus kesal dan bergidik ngeri. "Jij*k beneran gue. Sumpah no bohong-bohong."
"Jadi lo gak terima?" tanya Bian pada Jeje.
"Ya kali inces terima, baru baca aja udah kayak orang hamil. Mual terus bawaannya."
"Lah bukannya harapan lo jalin hubungan kek gini? Hubungan perbatangan," celetuk Bian sembari memukul punggung Jeje dengan tawa yang belum berhenti.
"Ihhh amit-amit jabang bayi deh." Jeje mengetuk kepalanya kemudian ganti mengetuk meja berulangkali.
Bian menghentikan tawanya. Ia mengusap sudut bibirnya yang berair. " Lo kan banci Je, jadi bersyukur dong kalau ada yang suka sama lo kayak gini."
"Amit-amit deh, amit-amit." Bian tertawa melihat respon Jeje. Ia kenal dengan sahabatnya ini.
Walaupun kelakuannya banci, Jeje paling anti jika di dekati cowok apalagi sampe menyatakan perasaan kayak di surat tadi. Ia akan jijik sendiri, ya walaupun Jeje sadar jika sifatnya memang sedikit membuat orang jijik, tapi bukan berarti ia akan mendapatkan hal paling menakutkan tadi.
"Makanya jadi cowok normal. Percuma tuh muka tampan lo nganggur," ujar Bian. "Yakin gue, kalau lo normal, pasti banyak cewek yang kecantol."
"Tunggu hati kecil Jeje tersentil, baru Jeje coba jadi cowok normal."
Azam dan Ringga menggeleng kecil. Keduanya ikut terkekeh geli melihat hal memalukan yang di alami Jeje.