
Kiana menghela napas panjang. Ia menatap malas ke arah Azam yang tidak henti-hentinya mengikuti dirinya.
Kejadian ini bermula saat Kiana tiba di rumah di antar Devan. Iya, Kiana memutuskan pulang ke rumah dan akan memberi kesempatan kepada Azam dan itu semua tak luput dari permintaan Mommy Zara. Kiana tak enak hati untuk menolaknya.
Saat tiba di rumah, ia mendapati keadaan rumah yang sunyi. Kata Mang Joko, Papi, Mommy dan Ipin tengah keluar untuk menghadiri acara pertemuan bisnis.
Lima menit kemudian, Azam balik dan langsung mencari keberadaan Kiana. Mulai dari situ, Azam terus mengikuti Kiana dari mulai mau mandi dan juga ke dapur untuk makan.
"Bisa gak sih, berhenti ngikutin gue?" ucap Kiana kesal. Gadis itu bersedekap dada dan menatap tajam ke arah Azam.
Azam mengerutkan keningnya kemudian menggeleng. "Jelasin dulu, tadi lo ngapain aja sama Devan? Dia gak apa-apain kamu kan? Dia gak nyentuh kamu kan? Dan gak lewat bat.."
"jangan kepo deh jadi orang!" ketus Kiana.
"Gue berhak tau, gue adalah suami lo disini asal lo tau!"
"Suami? Lo harus ingat lo nikah sama gue itu terpaksa!" ucap Kiana.
"Iya, itu dulu. Tapi sekarang beda lagi ceritanya. Gue udah cinta sama lo!"
"Gue gak percaya sama semua kata-kata yang keluar dari mulut lo!"
"Gue harus lakuin apa agar lo percaya? Gue tau gue udah nyakitin lo terlalu banyak, dan bahkan gue juga udah kasar sama lo. Jadi gue minta maaf atas semua itu." ucap Azam.
Apa Kiana sedang salah dengar sekarang? Seorang Azam sedang meminta maaf kepada dirinya. Wah wah ini memang hal langka.
"Lo sadar gak sih, maaf lo gak ada gunanya." Ucap Kiana.
Azam menatap Kiana dengan pandangan yang sulit di artikan. Hal itu membuat Kiana membalas menatapnya datar.
"Maaf lo percuma karena lo udah memberikan rasa sakit yang amat luar biasa kepada Angelina dan dia memilih pergi dari dunia ini." batin Kiana sedih.
Kiana berjalan menuju kamar, dirinya ingin beristirahat. Tapi tetap saja Azam selalu mengikuti dirinya.
"Kiana." Panggil Azam dengan mencekal tangan Kiana.
"Apa lagi sih?" tanya Kiana.
"Gue tanya sekali lagi. Devan ngapain lo tadi?"
"Dia nyium gue, puas lo!" jawab Kiana asal. Ia sudah terlanjur kesal dengan Azam yang terus bertanya kayak wartawan. Namun setelahnya Kiana merutuki mulut ceplas-ceplosnya.
"Beneran?" Azam melotot kaget. Tangannya terkepal erat di sisi tubuh. Ternyata musuhnya itu ingin menantang dirinya.
"Eh anu." Kiana gelagapan. Gadis itu berdehem sejenak saat merasakan aura pekat yang menguar dari diri Azam. Merasa jika dirinya terancam, Kiana langsung bergerak mundur dan meraih kenop pintu kamar.
Melawan Azam sekarang sepertinya bukan pilihan yang tepat. Dari tatapan dan auranya, Azam terlihat kayak singa yang kelaparan dan siap menerkam siapapun yang ada di depan matanya.
"Diam di situ Ki!" titah Azam. Matanya menghunus tajam pada Kiana yang sudah mulai memutar kenop pintu.
Emosi Azam tidak bisa ia kontrol lagi. Ia tidak suka jika miliknya di sentuh orang lain, apalagi di sentuh oleh musuhnya sendiri. Dan sial, sepertinya Devan mau mengibarkan bendera perang karena berani mencium istrinya. Bahkan dia saja belum pernah. Jangankan mau mencium, baru mendekat saja Kiana sudah langsung menceramahinya.
"Lo yang diam di situ, gue mau masuk. Udah ngantuk," balas Kiana. Ia melotot kan mata ke arah Azam sembari mulai mendorong pintu. Posisi Kiana masih menghadap ke arah Azam.
Azam menyeringai, ia berjalan mendekati Kiana membuat gadis itu melotot. Alarm bahaya berbunyi untuk memperingati dirinya. Dengan cepat Kiana masuk ke dalam kamar dan menutup pintu, namun ternyata ia kalah cepat dengan gerakan Azam.
"Sial" umpat Kiana.
"Lo gak bakalan gue lepasin," ujar Azam. Bibirnya menyeringai dan menutup pintu dengan keras.
"Dimana aja bajingan itu sentuh kamu hah?" Azam berjalan dengan lambat mendekati Kiana yang sudah terjebak di meja rias.
Kiana berdehem, baru kali ini ucapan asal dari mulutnya membuat dirinya dalam bahaya.
"Apaan sih, gue tadi cuma bercanda. Gue cuman ke pantai terus temenin Devan ke makam pacarnya," ucap Kiana jujur. "Dia gak apa-apain gue aelah." gerutu Kiana.
"Lo tadi bilang, kalau Devan cium lo," ujar Azam pelan. Ia sudah mengunci pergerakan Kiana dengan mengurung gadis itu dengan kedua lengan kekarnya berada di kedua sisi tubuh Kiana.
"Udah di bilang gue cuma bercanda. Mana berani dia nyium gue," ujar Kiana jengah. "Lagian lo kenapa sih, sampe kayak gini? Udah ah! Minggir sana gue mau tidur," lanjut Kiana. Ia masih tidak percaya dengan perubahan Azam.
"LO TANYA KENAPA GUE BISA SEMARAH INI? KAMU BODOH ATAU GIMANA HAH? SUAMI MANA YANG GAK MARAH PAS TAU ISTRINYA DI CIUM COWOK LAIN!" teriak Azam sambil mencengkram dagu Kiana kuat. Emosinya tersulut. Matanya semakin menghunus tajam pada Kiana.
Kiana tersentak kaget dengan teriakan Azam.
"Lepasin gue Zam!" Gue masih bisa denger jadi lo gak perlu teriak kayak gitu!"
"Gue lagi marah Ki, lagi marah!" tekan Azam, ia mendekatkan wajahnya pada Kiana membuat gadis itu langsung memundurkan wajahnya.
"Mundurin wajah lo Zam, dan lepasin gue!"
Ucapan Kiana membuat Azam semakin emosi. Ia semakin kuat mencengkram wajah Kiana membuatnya meringis kesakitan.
"Akkh lepasin sialan!" ucap Kiana kesakitan. Dirinya sekarang ini tidak bisa bergerak sedikitpun.
"Lepasin? Gue udah bilang tadi, lo gak bakalan gue lepasin!" ucap Azam dengan tersenyum licik.
Dengan perlahan Azam mendekatkan wajahnya dan sedetik kemudian mata Kiana melotot sempurna saat merasakan benda kenyal dan basah menyentuh bibir ranumnya.
Demi kucing kakinya empat! Azam menciumnya! Sial! Ini adalah first kiss Kiana, bahkan saat masih di tubuhnya dulu dan berpacaran dengan Devan, mereka tak pernah berciuman seperti ini. Devan lebih suka mencium pipi atau keningnya saja.
"Bangsat!" maki Kiana dalam hati. Ia berusaha mendorong tubuh Azam namun sial tenaganya tak cukup kuat untuk melawan Azam. Dan saat ini dirinya kesal dengan dirinya sendiri karena tidak bisa melawan Azam.
Azam yang masih tersulut emosi terus memimpin bahkan tidak memberi jeda bagi Kiana untuk menghirup oksigen. Azam terlanjur kesal, ia sekarang seperti tengah membersihkan bekas Devan dari bibir istrinya. Padahal kenyataannya Devan tidak pernah menyentuh Kiana.
Kiana yang menyadari bahwa Azam sudah mulai hilang kontrol langsung di buat waspada. Ia sudah kehabisan napas namun Azam tidak mau menghentikan aksinya.
Jantung Kiana berdebar kencang saat tangan nakal Azam mulai menyentuh pengait bra nya. Kiana tak tinggal diam, dirinya memutar otak untuk bisa lepas dari Azam.
"Njirr hampir mati kehabisan napas gue," gerutu Kiana
Kiana mulai siap berlari, tapi sia-sia karena Azam kembali mencekal tangannya. Emosinya semakin tak terkontrol saat Kiana berani melawan dirinya.
"Lo berani lawan gue Kia? Semua yang ada di dalam diri lo itu milik gue!"
"Lo jangan kayak gini Zam, plis lepasin gue!" Kiana sudah mulai meneteskan air matanya.
"Gue gak akan lepasin lo!" ucap Azam. Ia menggendong tubuh Kiana dan membantingnya ke kasur.
Azam langsung menindih Kiana dan kembali mencium bibirnya dengan kasar. Kiana berontak dan ingin keluar dari kamar ini. Dirinya sangat takut dengan Azam kali ini.
"Diam Kia, jangan lawan gue!" bentak Azam.
"Dasar pria brengsek! Lepasin gue!''
"Coba aja kalo lo bisa!" ucap Azam dengan senyum misteriusnya.
Didorongnya tubuh Azam dengan sekuat tenaga dan itu berhasil membuat Azam mundur dari tubuhnya. Tapi sedetik kemudian Azam mendorong tubuhnya dengan kasar membuat Kiana langsung jatuh ke lantai dengan cukup keras.
"Auu--" ringisnya pelan.
Azam langsung berdiri tegak dan menghampiri Kiana. Dan lagi, emosi menghampiri dirinya saat Kiana terus saja melawannya.
Azam membuka bajunya. Kiana mulai ketakutan.
"Azam apa yang lo lakukan? Kiana langsung berdiri tapi kakinya langsung terserang sakit dan nyeri akibat dorongan keras yang di lakukan Azam tadi. Namun, Kiana tidak memperdulikan itu. Kiana mundur beberapa langkah. Mencoba untuk menjauhinya.
"Tentu saja melakukan apa yang seharusnya kita lakukan sayang."
Kiana mengerutkan kening dan bingung. "Melakukan apa?". Rasa takut langsung menyerang kedalam diri Kiana.
Azam langsung menarik tubuh Kiana dengan kasar dan di bantingnya dengan kuat ke arah sofa yang ada di dalam kamar.
"Azam!" pekik Kiana ketika tubuhnya di banting dengan kuat.
Azam semakin emosi mendengar bentakan itu. Azam tidak suka di bentak ataupun di bantah.
"Jaga bicaramu sayang." ujar Azan dengan nada dinginnya. "Buka bajumu." Titah Azam.
Kiana menggeleng.
Azam semakin emosi. "Buka bajumu sekarang!" bentak Azam dengan suara menggelegar.
"Gue gak mau!"
"Masih berani melawan?" kata Azam dengan nada dinginnya. Wajahnya menggelap dengan tangan terkepal kuat.
Dengan kasar Azam langsung mencengkeram leher putih itu. Seperti akan meremukkannya. Hal itu membuat Kiana kesulitan untuk bernafas.
"Azam lepas!" ujar Kiana kesakitan. Sungguh rasanya sakit sekali. Azam seperti menggunakan seluruh tenaganya untuk mencengkram lehernya.
Azam langsung mencium bibir ranum itu. Kiana langsung menggigit bibir Azam dengan kuat membuat Azam langsung menyudahi ciumannya.
"Shitt!" umpat Azam. Cengkeramannya langsung lepas dari leher Kiana. "LO BERANI NOLAK GUE KIA?!" bentak Azam dengan kasar.
Didorongnya tubuh Azam dengan sisa kekuatannya. Membuat Azam memundurkan beberapa langkahnya. Hal itu semakin membuat amarahnya memuncak ketika dirinya ditolak seperti itu.
Azam langsung menarik tubuh Kiana hingga menabrak badannya. Kiana yang merasakan tangan Azam mulai bergerilya nakal, ia langsung menginjak kaki Azam dengan kuat.
Azam langsung melepaskan tubuh Kiana.
Kiana yang melihat ada celah untuk lari, langsung bangkit dan berlari menuju pintu yang tak jauh darinya.
"Beberapa langkah lagi Kia..."
Namun sayang, tangannya langsung di cekal oleh Azam. Kiana kalah cepat dengan Azam.
"Mau coba untuk kabur?" ujar Azam dengan tersenyum miring. "Lo gak akan bisa lari!" bentak Azam dengan keras. Emosi menguasai dirinya.
Azam menyeretnya dengan kasar. Namun Kiana langsung memberontak sekuat tenaga. Kiana tidak mau diperlakukan seperti ini. Dengan keberaniannya, Kiana menggigit tangan Azam dengan kuat hingga tangan itu berdarah. Azam lagi-lagi melepaskan Kiana.
''SIALAN! BERANI SEKALI MENGGIGITKU HAH?!" wajahnya menggelap. Aura menakutkan keluar dari tubuh Azam.
Tubuh Kiana menggigil takut. Buliran kristal jatuh membasahi kedua matanya. "Kenapa lo lakuin ini Zam? Lepasin gue biarin gue pergi dari sini." ucap Kiana dengan isak tangis.
Namun, Azam seakan tuli dengan perkataan Kiana. Dengan kasar Azam langsung menggendong tubuh Kiana seperti karung beras. Membuat Kiana memberontak.
"Azam turunin gue! Lo bener-bener bajingan!" jerit Kiana.
"Lo yang memintanya." ucap Azam dengan dingin. Dengan penuh amarah Azam langsung melempar kuat tubuh Kiana ke kaca besar yang ada di dalam kamarnya.
"AAAAA." Teriak Kiana ketika tubuhnya terlempar.
Prang
Kaca itu pecah. Tubuh Kiana langsung terbentur kaca dengan kuat. Jatuh tak berdaya dengan darah yang mulai keluar dari beberapa bagian tubuhnya. Pandangannya mulai mengabur.
Kiana merasakan sakit yang amat luar biasa. Kedua mata yang telah basah dengan air mata itu perlahan mulai menutup.
Azam terdiam. Tubuhnya menegang. Melihat Kiana yang tak sadarkan diri dengan darah yang mulai keluar dari tubuhnya.
"KIANA,"
******