Kiana Story

Kiana Story
Bab 39



Rayyan menuruni anak tangga dengan santai. Pemuda itu sudah rapih dengan seragam sekolah barunya yang di padukan dengan almamater SMA Garuda.


"Pagi Umi," sapa Rayyan, ia mencium pipi Aisyah yang sedang menyajikan sarapan pagi.


Wanita yang tubuhnya terbalut daster rumahan dan jilbab hitam pendek itu tersenyum kecil, ia menuntun putra semata wayangnya untuk duduk.


"Tunggu Abi dulu ya, baru kita sarapan," ujar Aisyah. Rayyan mengangguk, cowok itu membuka hp untuk mengabari pada sahabatnya jika ia sudah mulai masuk sekolah.


"Umi jam berapa ke toko kue?" tanya Rayyan setelah menutup hpnya.


"Sekitar jam delapan," jawab Aisyah, ia memang mempunyai toko kue yang bisa dibilang terkenal.


Rayyan mengangguk mengerti. Cowok itu melihat ke arah Adnan yang baru saja datang, sudah lengkap dengan setelan formalnya. Adnan El Fatih merupakan pengusaha terkenal di kota, sama seperti perusahaan Nugraha kekayaan mereka setara lah. Adnan juga merupakan Dosen di universitas Islam di kota.


"Assalamu'alaikum Abi," ujar Rayyan, ia berdiri dan mencium punggung tangan Adnan.


Adnan tersenyum dan mengusap kepala Rayyan. Sarapan pagi pun di mulai. Aisyah menyajikan nasi goreng yang tentu saja sangat di gemari anak dan suaminya.


Keadaan meja makan sangat tenang, bahkan suara sendok dan garpu tidak terdengar.


Beberapa menit kemudian, keluarga kecil itu telah selesai menyantap makanan yang paling enak di lidah. Memang masakan orang yang di cinta itu, cita rasanya mengalahkan master chef bintang lima.


Rayyan membuka suara setelah meneguk air putih. Ia menanyakan soal kedatangan gadis kemarin.


"Yang kemarin datang itu, siapa Umi?" tanya Rayyan.


"Dua gadis kemarin? Oh itu anaknya Om Dul temannya Abi, sama sahabatnya yang mau masuk Islam," jelas Aisyah.


"Subhanallah, yang masuk Islam yang mana Umi?" tanya Rayyan lagi.


"Namanya Kiana, orangnya pas saat itu lagi di luar ambil hp yang ketinggalan di mobil."


Rayyan mengangguk mengerti. Luar biasa sekali gadis bernama Kiana itu.


"Berarti gadis yang nggak sengaja Ray tabrak kemarin," ujar Rayyan.


"Loh kok bisa Ray?" tanya Adnan.


"Nggak sengaja Bi, Rayyan gak liat dia karena buru-buru," jelas Rayyan, menceritakan kejadian kemarin dengan gadis bermanik cokelat indah itu. Eh?


"Tapi Kiana gak apa-apa kan?" tanya Umi, ikut khawatir, pantas saja kemarin Kiana mengusap-usap telapak tangannya dan juga lengan, pas ia tanya Kiana bilang tidak apa-apa.


"Ray tidak tau, Umi, tapi Ray udah suruh dia buat minta kotak obat sama Umi kalau dia kenapa-napa," ujar Rayyan lagi.


"Ya sudah, nanti kirimin kue buat ucapan permohonan maaf," ucap Aisyah.


"Suruh antar Rayyan saja, sayang. Sekalian minta maaf lagi." imbuh Adnan membuat Rayyan terkejut.


Aisyah menggeleng. "Untuk sekarang biar Umi aja dulu, kamu tahu seberapa kaku nya anak kita kalau berbicara dengan perempuan?"


Aisyah mengusap lengan Rayyan dengan lembut. Didikan dari ayah dan ibunya pada Rayyan pasti sangat baik, dan mungkin sedikit dalam, hingga membuat Rayyan menjadi kaku jika berbicara dengan lawan jenisnya.


"Ya sudah, tapi kalau ketemu sama gadis itu di sekolah, minta maaf lagi ya, Abi nggak enak kalau dia kenapa-napa." ujar Adnan lagi.


"Iya Abi, nanti Ray minta maaf lagi," ujar Rayyan paham. Setelah beberapa saat, cowok itu memutuskan untuk berangkat ke sekolah barunya.


Rayyan menggunakan motor Vespa putih yang merupakan motor koleksi Adnan, sebenarnya Rayyan punya motor sport hitam, hanya saja ia malas memakainya.


Beberapa menit mengendara, Rayyan sampai di SMA Garuda dengan bantuan Google maps, ia memarkirkan motornya dan menyugar rambut.


Rayyan berdeham sejenak setelah beberapa pasang mata perempuan mengarah padanya, bahkan telinganya mulai mendengar beribu kata pujian akan rupanya.


Rayyan menggeleng kecil dan terus beristighfar, ia paling tidak suka menjadi pusat perhatian kaum perempuan.


Sebelum mencari ruangan kepala sekolah, Rayyan menatap bangunan besar tempat menimba ilmu itu. Ia sangat terpukau dengan bangunan sekolah ini yang sangat besar dan interiornya yang megah.


Menarik napasnya sejenak, Rayyan mulai melangkah untuk mencari ruangan kepala sekolah untuk menanyakan di mana kelas barunya nanti.


Tasbih kecil di tangannya terus berputar seiring dzikir dalam hati terus ia ucapkan.


Rayyan berhenti sejenak di depan Mading yang terdapat di luar bangunan sekolah, tepat di samping jalan masuk untuk melihat Denah sekolah mencari tahu di mana letak ruangan yang ia cari.


Suara kendaraan membuat ia menoleh sekilas, banyak motor sport yang masuk juga kendaraan beroda empat. Rayyan hanya menatapnya sekilas sebelum kembali melihat-lihat denah sekolah


****


Kiana berpapasan dengan Alira dan Loli di parkiran. Ketiga gadis itu tersenyum sebelum bertos ria. Seperti biasa, mereka akan menjadi pusat perhatian. Kiana dan Alira hanya memasang wajah tenang, berbeda dengan Loli yang selalu tersenyum dan sesekali melambaikan tangannya pada murid cowok yang menyapa.


"Lo tadi bareng siapa?" tanya Alira pada Kiana. Gadis itu menoleh sekilas ke arah kanan, di mana inti Tiger masih duduk anteng di atas motor. Jangan lupakan Elsa juga berada disitu.


Alira menatap tajam ke arah Elsa yang baru turun dari jok motor Azam. Setelahnya ia menghela napas panjang, Alira sedang malas membuat masalah pagi ini. Jadi biarkan saja dulu, yah Alira hanya membiarkan sejenak, bukan berarty Elsa akan lolos darinya. Tidak akan ada yang bisa lolos dari Queen Devil.


Di parkiran, Bian memukul punggung Azam membuat cowok yang sedari tadi diam itu langsung tersentak.


"Ngapain bengong bro? Masih pagi nih, kesambet penunggu parkiran baru tau rasa lo. Gue mah nggak mau bantuin, cuman mau nonton aja," ucap Bian tertawa.


Azam mendengus kesal. Ia mengabaikan Bian dan masih menatap punggung Kiana yang mulai menjauh. Azam berdecak lagi. Padahal ia sudah bangun pagi dan berencana mengajak Kiana ke sekolah bareng.


Namun sialnya ia malah sakit perut dan harus ke toilet dulu. Dan saat selesai dari kegiatannya di toilet, ternyata Kiana sudah berangkat lebih dulu dengan supir. Azam di buat kesal setengah matang, gagal sudah keinginannya berdekatan dengan istri bunglon nya itu. Dan lebih parahnya, ia tadi pagi malah di tertawakan oleh Zain dan juga Zara. Oh jangan lupakan satu adik laknatnya Ipin. Saat ingin berangkat Azam mendapati pesan dari Elsa yang minta dijemput olehnya. Mau tidak mau Azam harus menjemput Elsa dirumahnya lebih dulu baru ke sekolah.


Kembali pada Kiana cs.


"Gue bareng supir tadi," jawab Kiana seadanya.


"Kenapa nggak bareng Azam aja, Kia? Kan kalian satu arah terus satu rumah juga," tanya Loli ikut nimbrung.


"Lo nggak liat tadi Azam boncengin siapa?" sewot Alira.


"Elsa deh kayaknya," jawab Loli.


"Nah tuh tau, ada si ulet bulu yang selalu nempelin Azam!"


"Lagian gue males aja bareng dia. Kalau gue nebeng bareng Azam, yang ada tu cowok malah kegeeran dan beranggapan kalau gue caper sama dia. Tau lah, tu cowok mulutnya kayak apa." ucap Kiana.


"Kiana sama Alira tau nggak, kalau..."


"Nggak tau."


"Nggak peduli."


Bibir Loli mengerucut saat ucapannya langsung di potong oleh kedua sahabatnya itu.


"Ihh... Jahat banget sih. Denger Loli ngomong dulu, nanti deh, Loli kasih permen stoples buat kalian, tapi denger Loli ngomong dulu, jangan di potong-potong."


Alira dan Kiana terkekeh.


"Yaudah ngomong aja," pasrah Alira. Dari pada Loli merengek dan berakhir membuat telinganya sakit mendengar ocehan sepupunya itu.


"Jadi gini, Loli kan baca novel. Kalian tau novel kan? Ituloh yang nampung banyak cogan, tapi sayang nggak bisa dimiliki." Loli mulai bercerita. "Jadi gini, Loli itu baca cerita dan karakter ceweknya itu, namanya Milkita. Ihh, Loli jadi baper bacanya, Karena Loli ngerasa kalau yang jadi ceweknya itu Loli."


Kiana dan Alira menjadi pendengar ocehan Loli sepanjang koridor.


Terus bisa-bisanya Loli jatuh cinta sama tokoh utamanya. Jatuh cinta banget ihh, Loli sampe kepikiran terus sama dia. Tapi sayang, dunia kita berbeda, Loli kesel mikirnya. Menurut kalian Loli harus gimana?"


Sepertinya ini bukan ocehan lagi, melainkan curhatan dari seorang gadis yang mencintai tokoh Fiksi.


"Ya sadar lah. Li, yang nyata aja susah di gapai, gimana sama yang fiksi? Lagian, seharusnya lo mencintai tokoh itu sewajarnya aja, jangan sampai bucin akut kayak gini. Jujur ya, gue udah malas dengernya, ini bukan pertama kalinya lo curhat mengenai tokoh fiksi yang membuat lo jatuh cinta."


"Sadar Li, lo sama dia itu beda jauh. Jauh banget malah. Dia itu fiksi ciptaan author, dan lo? Lo nyata Li dan lo ciptaan Tuhan. Gini deh, lo pernah dengar kisah cinta beda agama? Rumit banget kan? karena harus memilih antara cinta dan Tuhan. Terus gimana sama yang beda dunia? Asli rumitnya ngalahin rumus matematika."


Alira menatap sepupunya itu dengan tenang. "Jadi gue saranin, cintai karakter itu sewajarnya aja. Jangan sampai terbawa-bawa ke dunia nyata kayak gini, nggak baik. Perjuangin yang di depan mata aja susahnya nauzubillah, lah gimana mau perjuangin yang hanya sekedar tokoh fiksi? Alira menepuk pipi Loli. "Moga cepat sadar ya beib."


Loli semakin mengerucutkan bibirnya. Ia merentangkan tangannya dan memeluk Kiana. "Ihh.... Alira nggak paham sama perasaan Loli, Kia. Alira nggak tau aja, Loli udah berupaya buat mencintai sewajarnya tapi, tapi Loli nggak bisa. Apalagi pas ada adegan uwuwnya, huaaaa! Makin jatuh cinta."


Kiana terkekeh kecil, ia mengusap bahu Loli yang tengah memeluknya. Alira hanya berdecak pelan melihat Loli. Sudah ia duga, sepupunya itu tidak akan sadar.


"Menurut psikologi, seseorang cenderung menyukai sesuatu yang sulit di miliki. Lo contohnya, menyukai karakter fiksi yang nyatanya nggak akan pernah nyatu sama lo," ucap Kiana membuat Loli murung.


"Loli berasa tertampar, tapi nggak bisa sadar. Udah jatuh terlalu dalam, dan ciri-ciri tokoh utamanya juga terasa familiar di mata Loli."


"Terserah lo aja, gue cuman ngasih peringatan aja sih. Cintai karakter fiksi itu sewajarnya," ucap Kiana lagi.


Loli diam sambil melepaskan pelukannya dari Kiana, ia tidak mengangguk ataupun menggeleng.


"Bentar guys." Kiana menahan tangan Alira dan Loli agar berhenti. Matanya tertuju pada satu titik.


"Ra, itu bukannya cowok yang di rumahnya ustadz Adnan kemarin?" tanya Kiana, ia menunjuk pada cowok berseragam rapih, tangannya terlihat tengah membawa tasbih berukuran kecil.


Alira ikut menatap ke arah cowok yang di maksud Kiana, kemudian ia menggeleng. " Gue gak kenal. Ini pertama kalinya gue liat dia," balas Alira jujur.


Kiana mengerjap. "Murid baru di sini?" gumamnya. Ia di buat penasaran. "Samperin yok!" ajak Kiana menarik tangan kedua sahabatnya untuk menghampiri cowok yang terdiam di depan Mading itu.


"Woy, lo cowok yang nabrak gue kemarin kan?" tanya Kiana langsung saat tiba di depan cowok tampan itu.


Rayyan menatap Kiana sebentar, sebelum matanya melotot dan langsung memalingkan wajahnya.


"Gadis bermanik cokelat itu" gumam Rayyan.


"Kamu gadis kemarin? Maaf, saya minta maaf sekali lagi untuk kejadian kemarin. Demi Allah, saya tidak sengaja. Kemarin saya terburu-buru hingga tidak memperhatikan jalan," jelas Rayyan tanpa menatap Kiana. Yah, ia ingat jika Umi dan Abinya mengatakan nama gadis itu adalah Kiana.


Kiana mengangkat sebelah alisnya. Cowok itu terlalu formal dan tak sopan menurutnya.


"Gue di sini. Kalau ngomong natap gue, bukan natap ke arah lain. Nggak sopan," cibir Kiana yang langsung di cubit lengannya oleh Alira.


Rayyan menggeleng, walaupun memang terlihat tidak sopan di mata Kiana, namun ia tidak berani, apalagi menatap yang bukan muhrimnya. "Maaf, saya takut," ungkapnya membuat Kiana melotot.


"Lo pikir gue setan hah?" Kiana mengamuk kesal. Alira menggeleng di sebelahnya. Sahabatnya ini suka ngegas.


"Saya tidak bilang begitu. Kamu sendiri yang bilang." ucap Rayyan.


Cowok itu membuat Kiana kesal di pagi hari seperti ini.


Alira mengamati wajah cowok itu, kemudian menarik tangan Kiana yang hendak menghampiri cowok itu. Alira tahu, pasti Kiana akan memberi pelajaran pada cowok itu yang telah berani dengannya. Yah, Queen Devil di SMA Garuda ini memang tidak pandang bulu.


"Dari pada marah-marah gak jelas, mending tanyain dulu namanya. Apalagi kayaknya dia murid baru, jadi belum kenal seluk beluk SMA ini, termasuk muridnya yang berbahaya dan nyeremin melebihi setan and the geng," ucap Loli.


Alira terkekeh. Loli itu cerewet dan suka bicara ceplas-ceplos.


Kiana menghela napas. Menatap malas pada cowok itu yang tidak mau menatap ke arahnya maupun sahabatnya.


"Lo anaknya ustadz Adnan kan? Siapa nama Lo?" tanya Kiana beruntun pada akhirnya.


Mereka menjadi pusat perhatian sekarang, banyak bisikan mulai terdengar. Dari kata pujian mengenai ketampanan cowok yang merupakan murid baru itu, dan juga bisikan mengenai Kiana yang masih pagi namun sudah mencari gara-gara.


"Iya, saya putranya," balasnya dan tidak menatap ke arah Kiana, cowok itu memilih menatap pohon mangga yang tumbuh subur sekitar sepuluh meter dari tempatnya berdiri. "Nama saya Rayyan. Rayyan El Fatih."


"Namanya bagus," ceplos Loli. "Nama Loli ya Loli eh, bukan-bukan. Maksudnya nama Loli? Loh? Ihhh Lira gimana cara Loli ngenalin diri?" Mata gadis itu berkaca-kaca.


Alira tertawa. "Ya gitu aja," balas Alira membuat Loli semakin cemberut.


Kiana mengamati Rayyan, dari pertemuan pertama kemarin sampai saat ini, cowok itu enggan menatap wajahnya.


"Dasar cowok prik," ucap Kiana, ia menatap Rayyan sinis sebelum menarik tangan Alira dan Loli untuk pergi.


Rayyan menghela napas lega, ia menatap punggung Kiana yang mulai menjauh.


Aura gadis itu juga temannya bernama Alira itu sangat berbeda.


"Kiana," gumam Rayyan. Cantik sekali namanya, pikir Rayyan sejenak, sebelum kembali menggeleng untuk menghempas pikiran gilanya.


Semoga kalian gak bosan dengan cerita ini, terimakasih banyak yang sudah dukung Kia selama ini..... Jangan lupa like dan koment ya, next part lebih seru lagi pokoknya...


Bucinnya anak ustadz Adnan mana nih? Bucinnya Rayyan El Fatih?


Babay mau ngilang lagi heheh πŸ€­πŸƒβ€β™€οΈπŸƒβ€β™€οΈπŸƒβ€β™€οΈπŸƒβ€β™€οΈ