Kiana Story

Kiana Story
Bab 12



"Ngelak aja terus. Terima takdir aja Zam. Haha gimana pas malam pertama?" tanya Bian bercanda. "Eh btw, itu si Angel cantik juga kalau mukanya polos nggak pake make up gitu, adem banget liatnya." lanjut Abi, langsung mendapat pukulan di bibir oleh Alan.


"Istri orang, Bi." peringat Alan kemudian keduanya tertawa lagi.


Ringga hanya diam kemudian melihat jam di pergelangan tangan. "Cabut, gue masih ada urusan." ucap Ringga, ia mulai berdiri dari duduknya.


"Yoklah, gue juga mau ke markas." ucap Alan.


Azam mengangguk saja, kemudian menoleh pada Elsa yang tadi tampak diam terus saat kepergian Kiana.


"Mau gue antar balik?" tawar Azam.


Senyum Elsa mengembang. "Ma...."


"Dia balik sama gue." potong Ringga menatap Azam intens. " Ingat status sekarang, Zam." Ringga tersenyum tipis, sangat ketara jika si ice prince itu tengah mengejek sahabatnya.


Elsa Berdeham sejenak kemudian tersenyum lagi. "Aku balik bareng Ringga aja. Salam ya, sama istri kamu." ucap Elsa, ia ikut berdiri bersiap untuk pergi.


Saat mereka sudah berdiri semua untuk bersiap pergi, Bian malah rebahan di sofa sambil memainkan handphone.


"Woy, nggak balik lu?" tanya Alan sambil memukul pelan kaki Bian.


"Duluan aja, gue mau nungguin minuman gue dulu." ucap Bian.


Mereka mengiyakan, lalu berpamitan untuk pergi. Azam mengantar mereka sampai depan pintu.


"Daaah Azam." Elsa melambaikan tangan ke arah Azam. " Sampai jumpa besok di sekolah." lanjut Elsa sebelum motor sport hitam milik Ringga keluar dari pekarangan rumah, di ikuti motor Alan.


****


Malam pun tiba. Kiana telah selesai membersihkan dirinya dan kini telah memakai piyama bermotif Doraemon kesukaannya. Ia duduk di kasur Azam, sambil memperhatikan penjuru kamar bercat abu-abu.


Makan malam telah berlalu tiga puluh menit yang lalu tanpa ada Azam. Entah pergi kemana cowok itu. Kiana juga tidak tahu dan tidak mau tahu juga.


"Suram banget kamarnya, kayak pemiliknya." ucap Kiana, sepertinya mengomentari Azam menjadi kebiasaan Kiana. "Ini gue tidur di mana? Ya kali satu ranjang sama dia?" imbuh Kiana.


"Bodoh amat, nanti dia tidur di sofa aja. Gue di sini, nggak mungkin gue yang tidur di sofa." ucap Kiana, ia mulai merebahkan tubuhnya di ranjang. Aroma maskulin memasuki indra penciuman. Antara mint dan juga susu. Dingin dan manis menyatu.


Kiana bersikap bodoh amat, ia mengantuk dan ingin tidur nyenyak. Apalagi besok hari senin, mengingat jika Angel masih anak SMA. Ya sudah pasti Kiana harus bangun cepat untuk berangkat sekolah. Kebetulan juga seragam sekolahnya sudah ada di sini.


Tak lama kemudian, Kiana sudah terlelap hingga mengeluarkan dengkuran halus. Bertepatan dengan itu, Azam masuk ke dalam kamarnya.


Azam memakai celana jeans hitam yang di padukan dengan kaus oblong hitam. Ia tidak menyadari kehadiran Kiana, dan memilih ke kamar mandi untuk membersihkan diri.


Dua puluh menit berlalu. Azam keluar dengan handuk yang melilit di area pinggang sampai lutut. Ia berjalan ke lemari untuk mengambil bokser bergambar kupu-kupu.


Matanya mengarah ke arah jam dinding di dalam kamarnya. "Udah jam sepuluh aja." gumam Azam, ia mulai memakai bokser dan meletakkan handuk di sandaran kursi belajar.


Tubuhnya terasa letih, dan ingin segera tidur. Ia melangkah menuju ranjang. ia belum menyadari kehadiran Kiana, karena tubuh gadis itu tertutup selimut.Azam merentangkan kedua tangannya dan langsung menjatuhkan diri begitu saja.


"Aaanjir!" Kiana terbangun dan tentu saja terkejut apalagi merasakan sakit di tubuhnya karena di timpa tubuh Azam dari samping.


Azam ikut terkejut, dengan segera beranjak bangun dan menarik selimut.


"Lo!" kaget Azam.


"Itu badan manusia atau gajah? Berat banget deh, tulang gue kayak mau patah." keluh Kiana, bukan hanya perut yang sakit, tapi seluruh tubuhnya.


Mata Azam menajam mellihat kehadiran Kiana. "Ngapain lo di kamar gue?" tanya Azam ngegas.


Kiana memutar bola mata malas. "Bermeditasi." ucap Kiana sewot. "Ya tidur lah Bambang!"


Azam berdecak kasar. Ia menarik tangan Kiana dengan kasar agar segera turun dari ranjangnya.


"Keluar lo! Nggak sudi gue sekamar sama lo!" sentak Azam.


"Gila lo! Tangan gue sakit." ucap Kiana dan menyentak tangan Azam. "Mommy yang nyuruh gue tidur di sini! Kalau lo gamau sekamar sama gue, keluar aja sana! Gue mau tidur." kiana berjalan lagi ke ranjang, ia hendak menjatuhkan diri, namun Azam menahan kain belakang piyamanya.


"Enak banget lo! Ini kasur gue!" sentak Azam, ia melepaskan begitu saja pegangan pada piyama Kiana.


"Aww, sakit njir." ucap Kiana. "Kasar banget sih lo! Udah sana, tidur di sofa aja noh, gue tidur di sini. Ribet banget sih.


Azam tersulut emosi, Ia langsung menarik rambut Kiana yang terurai, membuat gadis itu meringis.


"Ini kamar gue, keluar sekarang!" Suara Azam terdengar pelan namun menusuk.


Kiana di buat ikut emosi. Kemudian ia menatap tubuh Azam di hadapannya. Ia mencubit kecil perut itu dan memutarnya. Wow tidak kebayang bagaimana sakitnya.


"Aww... Sakit setan!" Azam melepaskan rambut Kiana dan mengusap perutnya.


"Setan ngomong setan." gerutu kiana, ia mendorong tubuh Azam untuk bergeser. "Lebih baik ngalah deh sama cewek. Gue ngantuk banget, dahlah lo tidur di sofa aja."


Kiana menjatuhkan tubuhnya ke kasur kembali dengan posisi tengkurap. Hal itu membuat Azam kesal. Ia menarik kaki Kiana hingga tubuh cewek itu hampir jatuh ke lantai jika Kiana tidak berusaha menahan dirinya dengan berpegangan di kasur.


"Setan lo. Azam!" kesal Kiana.


Azam berdecak kasar. "Turun dari kasur, gue nggak mau ketularan virus buruk lo." ucap Azam, ia menarik keras kaki Kiana hingga gadis itu berakhir di lantai.


"Lo lebih buruk dari gue kalau lo tau." ucap Kiana, ia mengusap jidatnya yang menyentuh lantai. Ya Tuhan, bahkan lukanya belum sembuh tapi Azam malah membuat kepala menjadi berdenyut sakit lagi.


"Gue nggak peduli, udah sana lo!" Azam mendorong tubuh Kiana saat cewek itu telah berdiri.


Tersulut emosi, langsung saja tangan Kiana terkepal, dengan marah ia meninju rahang Azam dengan keras.


Bugh!


"Aww ..!


Bukan hanya Azam yang meringis, tetapi Kiana juga. Ia menatap buku-buku jarinya yang memerah setelah menonjok Azam.


"Anjing!" maki Azam, ia menatap Kiana tajam. Tangannya terangkat siap mencekik Kiana, namun sebelum itu terjadi. Kiana sudah menendang lutut Azam dan melompat ke ranjang.


"Rasain tuh." ejek Kiana


Azam mengatur napasnya yang memburu karena kesal. Ia menatap Kiana penuh kebencian dan berjalan kearah Kiana.


*****