
Azam sangat malas jika harus membahas soal Kiana. Terlihat jelas di wajahnya yang tidak suka.
"Em, kamu nggak ada niatan buat beliin Kiana makanan? Biasanya sih kalau orang lagi sakit, pengen banget makan yang manis-manis." ucap Elsa sambil meraih sebotol air mineral dan meneguknya perlahan. "Kiana nggak minta di beliin sesuatu gitu?"
Martabak manis. Pikir Azam sejenak.
"Nggak ada. Lagian buang-buang waktu aja beliin dia makanan." ucap Azam yang tengah memainkan kunci motornya.
Elsa kembali menggeleng. "Jahat banget sih sama istri sendiri." ucap Elsa yang telah selesai makan. "Aku bayar dulu." lanjut Elsa sambil beranjak berdiri, tetapi Azam langsung menahan tangannya.
"Tunggu disini aja, biar gue yang bayar." ucap Azam dan langsung menghampiri tukang penjual sate dan membayar makana Elsa.
Elsa hanya tersenyum lebar melihat Azam. Pemuda itu sangat baik padanya.
"Udah, ayo pulang." ajak Azam pada Elsa setelah ia selesai membayar.
Elsa mengangguk dan mengikuti Azam menuju si kuda besi berwarna merah. Banyak pasang mata yang memandang ke arah mereka, mungkin mereka berpikir jika Azam dan Elsa adalah sepasang kekasih.
****
Kiana berdecak kesal sambil menopang dagu. Matanya menatap ke arah ponsel yang kini tengah menampilkan foto martabak manis yang cokelatnya sangat lumer. Ia ngiler melihatnya.
Sudah dua jam berlalu namun Azam tak kunjung kembali. Kiana tidak mengharapkan kehadiran Azam, yang Kiana harapkan sekarang hanyalah martabak manis.
"Tuh cowok kemana sih? Gue udah ngiler banget nih, tapi dia nggak nongol-nongol juga." kesal Kiana, melempar ponsel di atas ranjang begitu saja. Sekarang ini dia sangat kesal.
Kiana mendengus kasar. Ia kembali membaringkan tubuh dan menarik selimut untuk menutupi tubuhnya sampai wajah. Di sini Kiana juga salah, seharusnya ia tidak menyuruh atau meminta tolong pada Azam, sudah sangat jelas jika pemuda itu tidak akan melakukan apa yang Kiana suruh karena ia sangat tidak menyukai dirinya.
"Sialan! Gue sumpahin lo jadi bucin sama gue, Azam Alfarizi Nugraha!"
><
Setelah mengantar Elsa pulang. Azam tidak balik ke rumah sakit, melainkan ke markas geng motornya. Kebetulan di malam Minggu seperti ini, anggota dan juga sahabatnya pasti tengah berkumpul.
Azam memasuki sebuah bangunan tua yang menjadi markas mereka selama ini. Bangunan itu adalah rumah bekas yang sudah tidak terpakai lagi dan kebetulan itu milik keluarga Azam, dan sekarang sudah menjadi markas Tiger dari generasi pertama yang di pimpin Papi Zain hingga ke generasi ke tujuh yang kini di pimpin oleh Azam.
Ya, geng Tiger di dirikan oleh Zain Nugraha saat pria itu masih duduk di bangku SMA Garuda, dan setiap periode pasti ada pergantian ketua.
"Hallo Bos!"
Azam melepas helm dan mengangguk kecil saat mendengar sapaan dari anggotanya.
"Ringga ada?" Azam bertanya pada anggota setelah bersalaman ala gaya geng mereka.
"Belum datang, Bang. Mereka lagi bagiin makanan sama anggota yang lain." ucap pemuda bernama Gerry itu. Dia adalah anggota Tiger kelas sepuluh.
Azam mengangguk mengerti dan masuk ke dalam markas. Terlihat keadaan markas yang sangat berantakan dengan pembungkus snack dan minuman kaleng yang berserakan. Di tambah kulit kacang dan kuaci yang berhamburan di atas meja.
Azam menghela napas kasar, sebelum mata tajamnya tertuju pada pemuda yang tengah berbaring di sofa panjang. Itu adalah sahabat sekaligus anggota inti Tiger. Pria itu bernama Abian.
"Bi?" panggil Azam sambil duduk di single sofa.
"Zam-zam!" ucap Bian kaget. Itu adalah panggilan khusus Bian pada Azam. Memang ia suka sekali mengganti nama sahabatnya.
Azam mendengus, menjulurkan kedua kaki dan di letakkan di atas meja.
"Bersihin markas cepat! Gue mau tidur. Awas aja pas gue bangun, markas masih kotor." ucap Azam, ia sangat tahu jika penyebab markas kotor adalah ulah pemuda itu.
Bian melotot. "Loh, kok gue yang di suruh sih, zam?" protes Bian tidak mau di suruh.
Azam yang sudah memejamkan mata, kini kembali membukanya. Ia menatap tajam ke arah Bian. "Bersihin atau gue nggak beliin jajan lagi?" ancam Azam membuat Bian spontan beranjak bangun dan menuju sudut ruangan, mulai mengambil tong sampah dan juga sapu.
"Iya-iya, nih gue bersihin. Awas aja ya kalau gue nggak di beliin makanan lagi." ucap Bian mulai memungut sampah yang berserakan di lantai. "Woy anaknya Bambang! Bantuin gue nih, lo juga yang kotorin markas tadi." panggil Bian pada cowok yang tengah asik bermain ponsel.
Cowok itu adalah Gerry.
"Bersihin sendiri aja, Bang. Gue lagi main game nih. Adoh, tuh kan gue kalah. Bang Abi sih." kesal Gerry saat ia kalah dan menyalahkan Bian.
Bian melotot dan melempar tong sampah yang ia pegang hingga mendarat ke kepala Gerry.
"Sialan lo malah nyalahin gue, sini bantuin gue njir!" ucap Bian menatap tajam ke arah Gerry.
Gerry mendengus kesal. Ia menyimpan ponsel di saku celana dan mengambil tong sampah yang di lempar tadi. Sebelum menghampiri Bian, dan membantu cowok itu untuk bersih-bersih markas.
Azam hanya menatap mereka tanpa ekspresi, sebelum mengambil dompet dan mengeluarkan black card sebelum menaruhnya di atas meja.
"Tuh kartu gue, habis itu belanja makanan. Sekalian sama mie instan persediaan di sini." ucap Azam mengalihkan pandangan Bian dan Gerry.
Kedua mata cowok itu berbinar senang saat melihat kartu yang Azam keluarkan.
"Gue yang pegang." ucap Bian, hendak mengambil kartu hitam itu, tetapi Gerry menahan baju bagian belakangnya.
"Bang, biar gue aja. Biar gue bisa rasain gimana rasanya pegang kartu sultan." ucap Gerry dan mulai melangkah untuk mengambil kartu itu namun kali ini, Bian yang menahannya.
"Enak aja, gue yang pegang. Lo nanti ikut gue aja pas ke supermarket." ucap Bian, tetapi Gerry menggeleng tanda tak mau. Berakhirlah aksi tarik menarik untuk memperebutkan kartu Azam.
"Bang gue aja, yang pegang."
"Ngalah sama yang lebih tua, biar gue aja yang pegang."
"Yang ada ngalah sama yang lebih muda Bang."
"Nggak ada rumus ngalah sama yang lebih muda di kehidupan gue."
"Tega banget sih, Bang. Gue aduin Papa Bambang nih."
Azam memijat pelipisnya kesal melihat pertengkaran Bian dan Gerry. Niatnya ke markas untuk mencari ketenangan, namun sepertinya ini bukan tempat yang tepat.
Azam menghela napas panjang sebelum beranjak berdiri. Ia mengambil kembali kartu yang di atas meja dan memasukkan kembali ke dalam dompet. Hal itu terlihat oleh Gerry dan Bian.
*****