Kiana Story

Kiana Story
Bab 51



Kiana menggeleng sembari terkekeh kala melihat Zain, Davian dan rombongan Serigala sudah pergi. Setidaknya ia bisa bernapas lega setelah mereka pergi.


Kiana menghela napas. Ia melirik pergelangan tangannya kemudian menoleh pada Azam yang masih berdiri di sebelah Elsa.


Kiana menghampiri kedua orang itu dengan wajah datar. Bibirnya tersenyum miring sembari membisikkan sesuatu di telinga Elsa. "Kiana is the real Queen."


Elsa terdiam dengan tangan terkepal. Hal itu membuat Kiana tersenyum puas, kemudian ia mengalihkan pandangannya pada Azam.


"Papi suruh lo anterin gue pulang. Gue gak boleh pesan taksi soalnya," ujar Kiana pada Azam. Alira dan Loli sudah pulang lebih dulu.


Azam balik menatapnya. "Gak bisa Ki, gue harua antar Elsa. Lihat keadaan dia sekarang akibat ulah lo dan Alira. Bilangin sama Papi, nanti malam gue baru pulang," ujar Azam.


Kiana berdecak dan menatap tajam Elsa yang balik tersenyum miring ke arahnya. Ia mengedarkan pandangan. Karena kejadian tadi, masih banyak murid-murid yang belum pulang.


"Jadi lo milih antar Elsa dibanding gue?" tanya Kiana datar. Seakan sudah tahu jika Azam akan lebih memilih Elsa dibanding dirinya.


"Ngertiin gue Ki. Atau nggak gini aja, gue antar Elsa dulu baru balik jemput lo," ujar Azam namun Kiana menggeleng.


"Nggak perlu. Lo antar aja tuh Elsa, gue balik bareng dia." Kiana tersenyum miring kala melihat motor Vespa berwarna putih baru keluar dari parkiran. Ia kenal dengan pengendaranya itu.


"Berhenti!" Kiana menahan motor Vespa agar berhenti membuat si pengguna melotot kaget.


"Ya Allah!" pekik Rayyan tertahan. Ia sangat kaget dengan kejadian tiba-tiba itu.


"Kiana!" tegur Azam. "Tunggu gue di sini, lo pulang bareng gue setelah gue antar Elsa."


"No! Gue gak suka nunggu," ujar Kiana, dengan gerakan cepat ia langsung duduk di jok belakang motor dan menyentuh pundak si pengendara. "Ayo jalan Rayyan. Eh nama lo Rayyan kan? Cowok sok jual mahal kalau ketemu gue? Oke sekarang antar gue pulang cuss"


Rayyan melotot kaget dengan tindakan bar-bar Kiana yang menyentuhnya. Dia masih diam karena shock dengan hal ini. Otaknya lemot mendadak, namun setelahnya ia kembali tersadar.


"ASTAGHFIRULLAH HAL ADZIM!" pekik Rayyan saat tersadar. Ia langsung bergegas turun dari motor dengan cepat, namun karena Kiana yang memegang punggungnya, membuat ia tidak siap hingga berakhir tersungkur di atas paving dan yang parahnya, Kiana ikut jatuh di atas punggungnya. Sedangkan Vespa jatuh ke arah berlawanan.


Azam melotot kaget melihat posisi Kiana dan juga murid baru yang ia tahu bernama Rayyan. Dengan cepat Azam mendekati Kiana, setelah ia melepaskan rangkulannya pada Elsa.


Kiana meringis di buatnya, apalagi saat jidatnya kepentok punggung yang sayangnya sangat kokoh itu. Tak jauh berbeda dengan Kiana, Rayyan pun demikian.


Pelipisnya berdarah akibat kepentok paving. Cowok itu mengerjap berkali-kali, punggungnya terasa berat hingga membuat ia kesulitan dalam bergerak.


"Awhh...." Kiana meringis sembari mengusap jidatnya. Setelahnya ia terpekik saat Azam menarik tangannya hingga ia bangun dari atas punggung Rayyan.


"Kiana!" geram Azam, matanya menyorot tajam pada Kiana.


Rayyan yang sudah tersadar kembali mengerjap sebelum ikut beranjak berdiri. Rayyan bingung, otaknya jadi lemot jika bertemu dengan gadis bar-bar bermulut pedas dan berwajah jutek di sebelahnya.


"Apaan sih!" Kiana menyentak tangan Azam yang mencengkram pergelangan tangannya. Gadis itu balik menatap Azam tajam.


Kiana berdecak malas. "Udah gue bilang, gue nggak suka nunggu, Zam! Dan juga gue nggak mau bareng lo yang udah habis nganterin Elsa. Sorry aja, gue gak suka bekasnya dia," sinis Kiana menatap malas pada Elsa.


"Kiana lo... Argh!" Azam mengacak rambutnya frustasi. Ia kesal dengan tingkah Kiana. "Jadi mau lo apa sekarang? Pulang bareng dia?" Azam menunjuk Rayyan yang sedari tadi diam menyaksikan pertengkaran mereka.


Kiana ikut menoleh sekilas pada Rayyan, sebelum tanpa ragu mengangguk. "Iya, gue pulang bareng dia," jawabnya yang kini berdiri di sebelah Rayyan.


"Gue gak izinin!" sentak Azam. "Lo pulang bareng gue setelah gue antar Elsa, gue gak nerima penolakan, Ki!"


"Bodo, gak peduli gue." Kiana mengedikkan bahunya acuh. Ia memilih menoleh pada Rayyan.


"Pelipis lo luka," ujar Kiana kaget. "Gini aja, antar gue balik, terus nanti di rumah gue bantu obatin."


Rayyan spontan menghindar saat Kiana ingin menyentuh luka di pelipisnya. "Tidak perlu, saya bisa mengobatinya sendiri," ujar Rayyan cepat dengan bola mata yang bergerak kesana kemari. Menghindari bertemu tatap dengan Kiana.


"Gue paling gak suka di bantah ya!" Kiana melotot tajam. Kesal sekali dengan cowok itu yang tidak mau menatap matanya. "Ayo balik."


"Astaghfirullah, tolong, kita bukan muhrim." Rayyan melepaskan secara pelan tangan Kiana yang menyentuh lengannya.


Kiana berdecak pelan seraya mencibir. "Yaudah kalau gitu antar gue pulang, kalau enggak, gue gak segan-segan peluk lo di sini," ancam Kiana. Sebenarnya ia bisa saja menelepon supir, namun untuk sekarang Kiana hanya ingin membuat Azam kesal.


Kalau Azam bisa sesuka hati pulang bareng Elsa, kenapa Kiana tidak? Hei, Kiana cantik bahkan termasuk primadona SMA Garuda, tentu saja banyak yang mengantri untuk bersanding dengannya. Namun sayang, Kiana sudah punya suami.


"Tapi..." Belum juga Rayyan menolak, sebuah jari lentik sudah mendarat di bibirnya.


"Hustt... Gue paling gak suka di bantah," tekan Kiana dengan wajah datar.


Azam melotot saat melihat tingkah Kiana. Ia langsung menarik tangan Kiana dengan kasar.


"Berani banget lo nyentuh cowok lain di depan gue!" sentak Azam.


Kiana terkekeh sinis dan menyentak tangan Azam. "Beranilah. Satu hal yang perlu lo tau Zam, Gue hak pernah takut sama apapun kecuali Tuhan. Apalagi takut sama lo, walaupun lo suami gue," sinis Kiana, ia menatap Azam dan Elsa secara bergantian, sebelum kembali menghampiri Rayyan.


Kiana melotot saat melihat Rayyan yang tengah mendorong Vespanya pelan-pelan, dari gelagatnya Kiana paham jika cowok itu ingin melarikan diri.


Rayyan ingin melarikan diri saja. Gadis bernama Kiana itu ternyata benar-benar berbahaya.


"Cowok aneh," batin Kiana. Dengan cepat ia langsung melompat ke jok motor membuat Rayyan menghela napas gusar.


Baru masuk di sekolah ini, ia sudah berurusan dengan gadis yang kata Ucok sangat berbahaya. Dan ya, Rayyan mengakui perkataan Ucok.


Hari ini, di siang hari yang terik ini, Rayyan menandai Kiana sebagai manusia yang harus di jauhi. Kiana berbahaya untuk dirinya dan juga kesehatan otaknya.