Kiana Story

Kiana Story
Bab 44



Rayyan berkedip berkali-kali. Ia tercengang melihat kejadian di depannya. Ucok menggandeng bahunya dan ikut melihat kejadian heboh itu. Mereka tadi hendak pergi dari kantin selepas Rayyan bertemu tatap dengan Kiana, namun tertahan saat kantin menjadi ramai setelah kedatangan gerombolan cowok dari SMA Pancasila.


"Itu Azam, galak banget tu cowok. Suka main tangan kalo sama Kiana, pokoknya kisah rumah tangganya itu bagus banget kalau lo dengar," celetuk Ucok.


Keadaan kantin masih ramai menyaksikan kejadian yang terjadi.


"Nah, yang nonjok Azam itu namanya Devan, dia ketua geng Serigala, musuhnya Azam. Gue nggak tau mereka ada masalah apa. Dan tuh, yang di tonjok Azam namanya Davian, dia kakak kelas kita."


Rayyan menggaruk tengkuknya. Ia ingin melerai perkelahian tiga cowok itu, namun Ucok menahannya. Rayyan juga ikut heran saat tahu awal mula perkelahian itu terjadi akibat izin tak masuk akal, yaitu menjadi pebinor di hubungan orang.


"Kita harus lerai Cok, tidak baik hanya berdiri dan menonton seperti ini," ucap Rayyan.


Ucok menggeleng. "Nggak ada yang bisa lerai Ray, nanti juga berhenti sendiri," ucap Ucok. "Tuh, OSIS aja cuman ikutan nonton."


Rayyan menggeleng kecil. Jika di sekolahnya dulu, perkelahian seperti ini sudah berakhir di ruang BK dan juga mendapat hukuman. Jika tidak di jemur sampai pulang sekolah, mungkin di suruh menghapal juz 30 dan juga menulis Surah Al Fatihah sebanyak seratus kali.


"Baru kali ini saya lihat ada pebinor yang terlampau berani." ucap Rayyan. Ia masih ingat saat cowok yang namanya Devan memberi sebuah surat pada Azam berisi tentang izin jadi pebinor.


"Aneh, tapi nyata," celetuk Ucok. Rayyan mengangguk membenarkan.


Rayyan menghela napas dan mengajak Ucok kembali ke kelas saja dari pada ia resah sendiri karena tidak bisa melerai perkelahian tiga pemuda di kantin.


"Lo liat sendiri Ray, mereka bahaya di SMA Garuda ini," ucap Ucok mengingatkan. Rayyan itu baik, Ucok tidak mau jika ia bermasalah dengan anak berbahaya itu.


"Termasuk perempuannya?" tanya Rayyan.


"Hm, Queen Devil. Berani usik mereka, lo dalam bahaya. Sejauh ini hanya Kak Wulan dan Damar yang berani sama Angel eh maksudnya sama Kiana, mereka adalah saudara kandung. Juga Elsa, cewek imut yang dekat sama Azam tadi, bahkan kalau masalah unggul, Elsa lebih unggul di SMA ini, dia pintar dan juga di lindungi Tiger," jelas Ucok, seperti biasa sangat detail.


"Kenapa tu muka?"


"Di lempar botol kecap sama Kiana njirr, gue ketahuan Vidioin dia pas makan."


"Lah, salah sendiri nyari masalah sama Kiana, beruntung cuman botol kecap, bukan air cuci piring."


Kiana, Kiana dan Kiana. Sudah beberapa kali Rayyan mendengar nama itu saat masuk sekolah ini. Dan semuanya hanya membahas sisi negatif gadis itu.


Rayyan menghela napas, ia memijat pangkal hidungnya dan berjalan kembali ke kelas.


**


"Lo... Tunangannya Devan kan?"


Kiana menatap Sari di depannya yang masih memasang wajah datar. Saat ini mereka berada di rooftop sekolah. Tadi saat di kantin, Kiana langsung menarik tangan Sari meninggalkan pertengkaran Azam, Devan dan Davian, yang Kiana yakin pasti sudah pada babak belur.


Karena tadi, Azam langsung menerjang Davian dan Devan setelah dua cowok itu meminta izin mendekatinya, dan akhirnya terjadi pertempuran di kantin.


Bahkan Bian dan Jeje sampai mengambil kardus kosong dan meminta uang pada pengunjung kantin. Katanya sebagai bayaran sudah menonton pertunjukan ketua Tiger dan Serigala serta anak tunggal kaya raya pengusaha terkenal.


Kiana saja di buat tercengang. Wow pebinor yang sangat sopan syekali double D ini.


Dan mengenai Sari, bukannya apa Kiana mengajaknya pergi meninggalkan Kantin, ia hanya sedikit penasaran saja dengan tingkah cewek itu. Awalnya Kiana sudah berpikiran buruk jika Sari akan melabraknya saat Devan bertingkah di luar batas dengan mendekatinya padahal sudah bertunangan. Ya, seperti yang dilakukan Angel dulu pada Elsa saat Kiana belum menempati tubuhnya. Namun saat melihat wajah kelewat tenang Sari, Kiana malah di buat bingung.